
Semakin malam suasana camp makin terasa sepi, dan tentunya semakin dingin, membuat beberapa panitia memilih berada di dalam tenda, namun ada juga sebagian yang masih beraktivitas di luar tenda.
"Dingin gak sih" ucap Fira yang terus menerus menggesekkan kedua tangannya.
Keduanya saat ini tengah duduk di depan tenda yang beralaskan rumput alami, tidak kotor, sebab rumput yang mereka duduki kering.
"Gak, biasa aja" balas Zize tak peduli, pikirannya saat ini jauh kearah lain.
"Eh, besok angkatan kita datang, gak sabar banget gak sih pengen main bareng, pasti seru banget main sama Dhita..." cerocos Fira yang terus terdengar, namun Zize tak dapat merespon apapun saat ini, pikirannya sedang berkelana entah kenapa, buyar begitu saja.
"Jadi besok mereka datang jam berapa?" tanya Fira membuat pikiran gadis disampingnya kembali fokus.
"Sekitar jam delapan kurang atau mungkin lebih cepat dari itu" jawab Zize.
__ADS_1
"Ana mau bikin teh dulu ya sebentar, antum mau nitip gak?" ucap Zize.
"Gak, ana udah ngantuk, mau tidur cepet, sana bikin teh, tapi ana gak bisa nganter ya" jawab Fira.
Zize hanya mengangguk, ia lalu berdiri dan berjalan menuju saung, ingin membuat minuman hangat yang sudah disediakan oleh panitia, seperti teh, kopi dan masih ada beberapa lagi minuman instan, malam itu memang lumayan dingin dibandingkan dengan suhu di siang ataupun sore hari, ia malam itu memakai jaket biru kesukaannya, memasukkan kedua tangannya kedalam sisi saku jaket.
"Lu bisa gak jangan sering interaksi sama dia disini"
Zize yang tengah mengisi gelasnya dengan air panas tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, ia lalu membalikkan badannya ingin melihat langsung siapa yang tengah berbicara dengannya.
"Kurangi interaksi sama Abian" tegas Leo.
"Lu tau kan, Abian bentar lagi mau nikah, tolong lu bantu dia juga, jangan sering interaksi, lu harus tau batas Zize, lu cuma orang yang pernah singgah doang gak lebih, gue tau kalian dulu pernah bareng, gak perduli siapa yang nyimpen perasaan Abian atau lu, gue gak peduli, sekarang tolong lu minimalisir interaksi lu sama Abian karena gue gak mau tempat ini jadi alih fungsi, bukannya tempat camp malah tempat CLBK, lu juga perempuan, pasti ngerti gimana rasanya, gue rasa cukup jelas penjelasan gue" ucap Leo yang langsung berjalan kembali ke tendanya, ia sebenarnya juga ingin membuat kopi tapi setelah melihat Zize, keinginan itu seketika menghilang.
__ADS_1
Zize menggenggam gelas plastik ditangannya erat, ia kini sudah tidak peduli dengan panas nya air yang sudah mulai mengenai tangannya, ia juga sebenarnya tidak mau hal ini terjadi.
"Sini gelasnya" ucap Fawwas yang tiba-tiba muncul dihadapannya tanpa ia sadari.
"Ana lihat semuanya, ana paham ini juga bukan kemauan antum, sudah jangan terlalu dipikirkan, sekarang kembali ke tenda" ucap Fawwas namun gadis itu masih saja diam ditempatnya.
"Tapi Ustadz, ini semua bukan kemauan ana, ana bukan mau ngerebut, tapi kenapa Kak Leo marah banget, ana juga tau batasan kok" ucap Zize frustasi, masih terbayang ucapan Leo serta raut wajahnya yang sangat terlihat tidak ramah seperti biasanya.
Fawwas menghembuskan nafas mengerti, ia sangat tidak sanggup jika gadis ini harus memikirkan ucapan Leo dan akan membuatnya tidak fokus selama kegiatan camp, ia lalu mengambil gelas baru, mengisi dengan air hangat lalu teh celup yang Zize ingin buat.
"Udah ya, minum teh nya di tenda saja, ini sudah malam, ana percaya sama antum kok" ucap Fawwas menenangkan gadis itu yang akhirnya menuruti perintahnya untuk kembali ke tenda.
"Mau pake gula gak?" tanya Fawwas yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Zize lalu menerima teh buatan Fawwas, tanpa berkata apapun ia lalu bergegas menuju tenda, tak ingin air matanya jatuh di depan Fawwas.
-