Anda Jodoh Saya?

Anda Jodoh Saya?
Episode.47


__ADS_3

Dhita, Dhara, Zeo, dan Mia kini sedang duduk berdampingan, yang duanya sibuk mendengarkan arahan dari koordinasi Pramuka, sedangkan duanya lagi malah asik bercanda.


"Zeo, Mia, udah dulu bercanda nya, dengerin itu loh" ucap Dhara kesal.


"Iya, maaf" balas Mia yang langsung mengubah posisi duduknya.


Seluruh anggota kelas sebelas tengah berkumpul disebuah lapangan kecil yang biasanya dipakai olahraga oleh santriwati, seluruhnya berkumpul untuk briefing mengenai acara besok.


Salah satu koordinasi Pramuka yang belum pergi tengah memberikan instruksi, serta daftar barang yang harus dibawa, ia juga menjelaskan kapan waktu pergi ke lokasi camp hingga perkiraan sampai di lokasi, Dhita mencatat, dan Dhara, ia juga tengah mengingat-ingat dengan baik ucapan Hanah, sedangkan kedua sahabatnya yang lain pastinya akan menjadi bagian mencontek.


"Udah jelas semuanya ya, kalau gitu semuanya boleh kembali ke kamarnya masing-masing buat nyiapin barang yang bakal dibawa besok, SEMANGAT DAN MAKASIH SEMUANYA" ucap Hanah selaku bagian koordinasi.


"Jelas Han, makasih ya..." balas seluruh kelas sebelas dengan kompak.


Dhita lalu bangkit dari duduknya diikuti oleh ketiga gadis yang berada disampingnya, saat itu waktu baru menunjukkan pukul delapan malam, waktu santai yang sengaja dikosongkan untuk persiapan santriwati kelas sebelas yang besok akan berangkat ke lokasi camp pukul empat pagi.


"Oh iya, ana belum punya tali Pramuka yang warna putih itu, mau beli di koperasi pasti udah tutup" ucap Mia.


"Lagian kenapa gak teliti banget sih Mia, Fira kan juga udah ngasih tau kita duluan apa aja yang harus dibawa" ucap Dhara.


"Terus gimana dong?" ucap Mia pasrah.


"Ah, besok tanya Fatih aja deh, dia bawa tali lebih gak, soalnya kan tadi dia bilang kalo dia kemana-mana pasti bawa barang nya lebih" lanjut Mia yang seketika membuat ketika sejolinya menatap curiga.

__ADS_1


Semuanya juga tau, meskipun Mia adalah gadis paling murah senyum namun untuk urusan dengan santri putra Mia itu benar-benar cuek, tidak peduli, tidak pernah cari perhatian, bahkan melirik aja Mia tidak mau, ini tiba-tiba dirinya bilang tanya kepada Fatih, laki-laki yang satu kelompok dengan Abimanyu, si sekretaris yang selalu mencari cara agar dekat dengannya.


"Kok tiba-tiba Fatih sih?" tanya Dhara penasaran.


"Ya... emangnya kenapa?, Fatih tadi cerita banyak dan salah satunya bilang kalo dia pasti selalu bawa barang lebih" jelas Mia yang belum mengerti tatapan ketiga sahabatnya.


"Fatih? tadi bilang?, kalian ketemu?, ngobrol berdua?" tanya Dhita yang tak dapat menyembunyikan ekspresi wajah nya.


"Apaan sih kalian?" tanya Mia ketika tatapan ketiga nya makin menjadi.


"Udah yuk balik kamar, ana masih belum lengkap isi tasnya" ucap Mia yang kini memimpin jalan.


Keempatnya lalu mulai berjalan menuju kamar, namun tetap saja Dhara, Dhita, dan Zeo masih penasaran dengan kisah Mia dan Fatih.


"Antum sama Fatih kapan deketnya?, udah lama?" tanya Zeo.


"Eh, kok malah diem sih" Ucap mua ketika menyadari jika ia tengah berjalan sendiri.


"Mia, antum sama Fatih di perpustakaan berdua?" ucap Dhara shok ketika mengetahui hal baru tentang Mia.


"Bentar-bentar, ini gak bener, belok sebentar ana butuh penjelasan lebih" ucap Dhara sambil menarik tangan gadis polos itu menuju tempat yang lebih sepi.


Mia hanya mengerutkan keningnya, ia benar-benar heran mengapa seorang Dhara begitu penasaran dengan fakta bawah ia baru saja berduaan dengan Fatih. Padahal itu hanyalah hal biasa, tidak seperti cerita Aslan dan Zize.

__ADS_1


"Ceritain sekarang, yang lengkap, yang bener, jangan ditambah atau dikurangi" ucap Dhara.


"Kenapa disini sih, kan dikamar bisa" gerutu Mia.


Sekarang keempatnya berada di kelas IPA 1, kelas Dhara. Posisinya saat ini ialah Mia yang tengah dikelilingi oleh ketiga sahabatnya yang tengah penasaran dengan cerita lengkapnya.


"Kenapa sih penasaran banget, gak ada apa-apa tau, sumpah gak bohong" ucap Mia, namun tidak ada respon dari ketiganya, membuat Mia mau tak mau harus tetap bercerita.


"Yaudah deh kalo masih penasaran, jadi gini..."


Mia mulai menceritakan tentang keluh kesahnya sejak tidur siang, dimana iya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak sampai mendapatkan antrian kelima terakhir saat setoran hafalan, hingga kejadian santriwati yang lalai dalam menjalankan tugasnya, lalu dilanjutkan cerita dimana Fatih tiba-tiba datang dan membawanya ke perpustakaan yang saat itu sedang sepi, hingga cerita-cerita konyol Fatih.


"Itu serius?" ucap Dhara yang lagi-lagi tak percaya dengan ucapan Mia.


"Ya ampun Mia, ngapain coba ni anak bohong, emang pernah dia bohong ya, ngarang cerita buat bahasa Indonesia aja dia kayak mau disuruh keliling dunia" ucap Dhita.


"Soalnya ini Fatih Dhita, ana kenal dia dari kelas sepuluh, diem banget, gak asik kecuali sama makhluk sejenis sama dia, terus anaknya nya pelit banget kali soal minuman atau makanan rasa matcha, ini bisa-bisanya si Mia cerita Fatih ngasih minuman favorit nya dengan senang hati, sambil senyum lagi" jelas Dhara.


"Emang segitu nya ya?, berarti ana sejenis sama dia gak sih?" ucap Mia polos.


"Bisa jadi sih, soalnya kan Fatih emang bagian informasi, tapi dia tuh ya gak banyak ngomong juga, bahkan kemarin waktu rapat aja dia cuma ngomong beberapa kali" tambah Zeo.


Mia hanya diam dengan pendapat Dhara, ia sebenarnya tak ambil pusing soal sikap Fatih terhadapnya, tapi kenapa Dhita, Dhara dan Zeo yang malah pusing.

__ADS_1


"Aneh nih bertiga, orang gak ada apa-apa" batin Mia.


-


__ADS_2