
Zize dan Perbedaannya
Dhara tengah menemani sahabatnya yang tengah terbaring lemah di ruang kesehatan pondok, iya, Zize Izeta tengah terlihat pucat dan tak bersemangat, tidak seperti biasanya yang penuh energi. Sebenarnya teman dekatnya yang lain juga menemani Zize bergantian, dan saat ini adalah jadwal Dhara menemani Zize di malam ke tujuh.
"Zize sembuh dong, udah seminggu antum sakit" ucap Dhara pada sahabatnya yang tengah terbaring lemah di ruang kesehatan, sementara yang fisiknya tengah lemah itu hanya bisa tersenyum.
"Kenapa deh tumben banget sakit gini, biasanya juga aktif, ngomong terus" ucap Dhara yang masih setia menemaninya, ikut menghabiskan makanan pemberitahuan dari orang-orang.
"Gak mau pulang kah?, pasti diizinin kok" ucap Dhara, namun sahabatnya itu tetap menggelengkan kepalanya menolak.
"Mau cerita boleh?" tanya Zize yang saat itu masih sangat lemah.
"Boleh, boleh banget, bosen kali kalo diem terus" balas Dhara bersemangat.
"Cerita apa kalau boleh tau?" tanya Dhara penasaran sambil membantu Zize yang mencoba duduk dan menyenderkan punggungnya di headboard.
"Sebenarnya ini cuma cerita biasa, tapi jangan nyebar ya" ucap Zize yang diajak bicara hanya mengangkat jari kelingkingnya, tanda berjanji.
Zize lalu mulai menceritakan tentang kejadian yang terjadi sekitar seminggu yang lalu, saat ia izin pulang karena acara keluarga.
Cerita dimulai...
.
.
.
Jam menunggu pukul delapan malam, waktu normal untuk anak muda zaman sekarang masih main dan nongkrong di luar rumah. Dan saat itu Zize yang tengah pulang karena ada acara keluarga memutuskan pergi kesebuah cafe yang tengah hits belakangan ini, menemani Abian untuk mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan gadis yang baru tahun kedua SMA itu hanya sibuk memakan ice cream yang tak kunjung habis karena isinya yang lumayan banyak, sebenarnya keduanya juga sekalian makan malam.
__ADS_1
"Besok aku balik pondok" ucap seorang gadis pada laki-laki yang sedang mengerjakan tugas-tugas yang tak pernah berkurang, yang diajak bicara hanya menoleh berhenti mengeluarkan aktivitasnya.
"Hmm? gimana tadi?" tanya balik laki-laki yang kini menaruh penuh atensi nya pada gadis cantik dengan senyum yang paling manis yang pernah ia lihat.
"Besok aku balik pondok Kak" ulang Zize lagi.
Laki-laki yang diajak berbicara itu hanya mengangguk mengerti.
"Oh iya, btw tadi kamu ada acara keluarga juga ngapain?, soalnya kayak serius aja kamu di suruh pulang tiba-tiba" tanya Zize, membuat Abian menghembuskan nafas kasar, ia sebenarnya tak ingin memberitahu gadis itu, namun cepat atau lambat pada akhirnya Zize juga akan tau.
"Aku mau cerita, tapi kamu jangan kaget ya" balas Abian, membuat gadis itu makin penasaran.
Nada bicara laki-laki berpostur tubuh tegap itu terdengar serius, di tambah suara berat dan tatapan mata yang seakan menatap dalam gadis manis yang tengah sibuk dengan ice cream ditangannya.
"Kenapa Kak Bian?"
"Aku dijodohin Zize, dan pertunangannya akan dilaksanakan secepatnya, maksudnya se siapnya aku" jelas Abian, singkat, tak ingin membahas perjodohan yang tiba-tiba itu, gadis disampingnya diam seribu bahasa, ia benar-benar diam, tak banyak omong seperti biasanya, jantung nya seakan berhenti berdetak, jauh di lubuk hatinya ada rasa sakit yang sangat, rasa sakit yang belum ia pernah rasakan, rasanya sakit, benar-benar sakit.
"Zize"
"Apa sih"
"Zize"
"Mana fotonya?"
"Zize Izeta denger gue dulu"
"Maaf" ucap Abian pelan, ia benar-benar mengatakan maaf yang sangat tulus, kedua mata laki-laki itu tak dapat berbohong, ia tahu jika fakta yang baru ia beritahu pada Zize membuatnya sedih.
__ADS_1
"Ngapain minta maaf coba, kan Kakak dijodohin, bagus dong, gak perlu repot-repot nyari lagi" balas Zize.
"Tapi aku-"
"Gak, aku gak mau denger, aku gak mau denger permintaan maaf Kakak sekarang atau kata-kata penenang lain" Balas Zize cuek, memotong pembicaraan Abian, ia takut tidak kuat menahan air matanya, ia ingin segera pergi dari sini. Momen kali ini benar-benar rusak.
"Bawa aku pulang, please" mohon Zize.
"Zize, ini bukan kemauan aku juga, tolong ngerti" ucap Abian meyakinkan gadis yang kini sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Gak, aku mau pulang, gak mau denger apapun, Kak aku benar-benar gak mau denger" balas Zize dengan cuek, ia benar-benar bersikap dingin, tak seperti biasanya.
Abian mengusap wajahnya kasar, ia mulai membereskan tugas-tugasnya.Keduanya lalu meninggalkan cafe, lalu berjalan menuju mobil, tak ada yang berbicara semenjak Zize meminta pulang.
Hening
Tak ada yang memulai pembicaraan semenjak Abian memberitahu Zize bahwa dirinya dijodohkan, tidak ada yang tau dengan masa depan, Zize sebenarnya juga tidak berharap dirinya akan bersama dengan Abian selamanya, namun mengapa rasanya sakit, sakit sekali, dan dia benci rasanya.
.
.
.
Zize menceritakan tentang Abian dengan detail kenapa Dhara, dari awal mengenal Abian sampai saat Abian memberitahu jika dirinya dijodohkan dengan perempuan yang satu kampus dengannya.
"Ya ampun Zize, jadi antum sampe sakit gara-gara mikirin ini?" ucap Dhara sambil memeluk sahabatnya itu, sedangkan Zize hanya mengangguk dalam dekapan Dhara.
Dhara tak bisa seratus persen menenangkan Zize, karena saat ini hati Zize masih susah untuk menerima kata penenang, oleh karena itu, Dhara hanya dapat memeluk sejoli nya itu, berharap jika Zize akan sedikit lega setelah berbagi cerita dengannya.
__ADS_1
"Mana sih yang namanya Abian, berani-beraninya dia bikin sahabat ana sampe sakit kayak gini, kalo ketemu ana bakal pukul" omel Dhara sambil mengelus lembut puncuk kepala Zize.
-