Anda Jodoh Saya?

Anda Jodoh Saya?
Episode. 54


__ADS_3

Pukul sembilan kurang lima menit, Khafi membunyikan peluit pendek berulang, tanda harus kembali berkumpul ke lapangan utama. Seluruh santri lalu bergegas menuju lapangan utama, seluruhnya, tanpa terkecuali.


Khafi dan Zize pun sudah bersiap di lapangan, siap untuk memandu acara satu hari penuh. Khafi menoleh pada gadis disampingnya, ia seakan sadar ada sesuatu yang kurang padanya.


"Topi antum mana Zize?, nanti kepalanya panas loh" tanya Khafi.


Gadis itu menoleh, meraba atas kepalanya, lalu diam sebentar.


"Masa ana belum pake sih?, tadi udah pake tauu, apa jatuh ya?" Balas Zize.


"Bentar-bentar" ucapnya.


Ia lalu berjalan cepat menuju arah tenda, ia juga sesekali mengedarkan pandangannya, berharap topi coklatnya ketemu.


"Kebiasaan, barang sendiri suka teledor"


Suara tegas yang ia kenali membuatnya terhenti, terkejut melihat Damar yang berada didepannya sambil memegang topi yang mirip dengan miliknya, atau mungkin memang miliknya.


"Pake ni, buruan balik nge-MC, ditunggu Khafi tuh, aku gak nerima pertanyaan" ucap Damar tanpa jeda sambil memakaikan topi itu ke kepala sepupunya. Setelah itu ia langsung berlari kecil menuju lapangan, ikut berbaris bersama regunya.


Zize hanya diam saat Damar memakaikan topi, ia juga malas bertanya mengenai kenapa topi itu berada ditangannya, emang dasar anaknya kepedean aja ngarep ditanyai.


"Aneh" batin Zize, gadis itu lalu berbalik menuju tempat ia seharusnya bertugas, tidak menghiraukan Damar yang bisa mendapatkan topinya entah darimana.


Setelah partner nya kembali ketempat semula, Khafi lalu memberikan aba-aba pada Ustadz Fahmi, tanda upacara siap dilaksanakan. Upacara pun dimulai, seluruh santri berbaris dan mengikuti kegiatan tersebut dengan khidmat, Zize dan Khafi dapat meng-handle acara dengan sangat baik.


.


.

__ADS_1


.


"Oke, Kak Khafi, ada kegiatan apa lagi nih setelah ini?" ucap Zize, membuka kegiatan yang kini akan diambil alih oleh keduanya, ia sedikit basa-basi selagi menunggu seluruh teman seangkatannya mencari tempat dan posisi duduk yang nyaman.


Mengenai upacara yang telah dilaksanakan, kegiatan tersebut berjalan lancar, tidak ada kesalahan bahkan pembina serta panitia sepertinya berani untuk memberikan angka sepuluh pada kegiatan tersebut, Khafi dan Zize langsung mengambil alih acara setelah dipersilahkan oleh Ustadz Fahmi selaku ketua kegiatan sekaligus panitia camp, tepuk tangan meriah langsung terdengar ketika dua MC itu mulai beraksi.


"Oke oke, santai kak Zize, setelah ini bakal ada kegiatan, serta games yang gak kalah seru dan menarik, tapi tetap mengedukasi" balas Khafi tak kalah asik, berusaha menetralkan rasa gugupnya.


"Siap kak Khafi, eh tapi kak gimana kalau sekarang kita nyebutin peraturan apa saja yang boleh dan gak boleh dilakukan di area camp" sahut Zize sambil menebar senyum.


"Boleh-boleh, tapi sebelum itu kita kenalan dulu gak sih?, kenalan gak nih?" pancing Khafi.


"Kenalan aja, kenalan"


"Gak usah, udah bosen"


"Udah kenal"


Berbagai respon terdengar, mengundang senyum keduanya, hingga tak sadar jika perbuatan kedua MC kondang itu reflek membuat peserta camp ikut tersenyum.


"Oke deh, pada gak mau kenalan Zize, katanya udah kenal, terus tadi ana denger katanya ada yang udah bosen sama kita, parah sih" ucap Khafi mendramatisir keadaan.


"Parah sih emang, padahal kita nya mau kenal lebih dekat gak sih Kak Khafi" balas Zize yang tak kalah drama.


"Oke dah, ana bacain yaa, semuanya harap menyimak, nanti di akhir akan ada sesi tanya jawab mengenai peraturan yang sekiranya belum dimengerti" ucap Khafi serius.


Keduanya mulai membacakan dan menjelaskan peraturan penting yang harus di jalani oleh seluruh peserta, satu persatu dengan teliti, serta menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.


"Baik, ada yang mau ditanyakan?, apa cukup jelas disini?" tanya Zize yang lagi-lagi mengumbar senyum manisnya.

__ADS_1


"Kak Zize ana mau nanya" seorang laki-laki seumurannya mengangkat tangan kanannya, mengundang seluruh atensi yang tengah duduk diam.


"Silahkan"


"Maaf kalau ini agak melenceng dari topik, tapi Kak, emang boleh ya MC nya bikin kita susah kayak gini?"


Pertanyaan tersebut membuat Zize serta peserta camp lain bingung, terlebih Khafi yang masih tidak mengerti letak mereka membuat susah peserta lain dimana.


"Kami buat susah dimana ya?, bisa dijelaskan lebih detail?" ucap Zize.


"Buat susah kita dari awal acara Kak, soalnya senyum dua-duanya sama-sama manis, kalo kita diabetes gimana?" ucap peserta tersebut lagi, yang sontak membuat pipi gadis itu merah seketika. Khafi yang berada di sampingnya sontak tertawa terbahak, ia dapat melihat dengan jelas rona pipi Zize saat itu.


"Oke oke, balik lagi ke acara ya, Bara kalo mau nge gombal kasih aba-aba dulu, kasian partner ana merah itu muka nya" ucap Khafi.


Gadis disampingnya itu memukul lengan nya pelan, tak kencang namun cukup membuat Khafi meng-aduh.


"Oke, selanjutnya, akan ada Kak Abian yang sudah stand by di arah jam sembilan, yang sudah siap mengajak kalian bermain games, baik, hitungan ke tiga seluruh nya sudah tidak ada yang berada dihadapan kami, satu..., dua..., tiga..."


Seluruh santri lalu bergegas menuju hadapan Kak Abian dan partner setianya Leo, serta beberapa rekan pembina lainnya yang sudah stand by dengan alat-alat yang akan dipakai games nantinya, Kak Abian menyambut dengan semangat, sedangkan ke-dua MC yang akan melanjutkan tugasnya duduk sejenak untuk minum beberapa teguk air, mengisi kekosongan tenggorokan masing-masing yang rasanya hampir kering.


"Gak usah cepet-cepet kek Zize, ana masih mau minum" keluh Khafi saat melihat partner nya itu berdiri.


"Ya udah, terserah, ana mau ke sana duluan, kasian Kakak-kakaknya harus teriak kayak gitu" balas Zize.


Gadis itu lalu bergegas menuju kerumunan yang diciptakan Abian, ia lalu memberikan instruksi pada salah satu temannya untuk mengoper mic untuk diberikan kepada Abian, ia tau berbicara dengan intonasi tinggi tersebut dapat membuat tenggorokan terasa sakit.


"Tes...tes.., oke lanjut yaaa" Abian terus memberikan penjelasan mengenai permainan yang akan dilakukan nanti.


Netra gadis itu yang terus memperhatikan pergerakan Abian, namun ia tak sadar jika ada sepasang obsidian lain yang memandang tak suka, tak ingin jika pemilik netra tersebut nantinya akan merasakan sakit untuk kedua kalinya.

__ADS_1


-


__ADS_2