Anda Jodoh Saya?

Anda Jodoh Saya?
Episode.46


__ADS_3

Kegiatan di pondok berjalan seperti biasanya, satu persatu kegiatan berjalan dengan baik, mari kita bergeser sedikit pada Mia yang tengah menghukum dua orang santriwati yang bertugas menjaga bagian penerimaan tamu, dimana santriwati tersebut lalai dalam menjalankan tugasnya sehingga ada walisantri yang hampir berhasil masuk kedalam area asrama.


"Antunna* ngapain aja selama empat jam disini?, bercanda?, cuma main-main?, gak serius?, menganggap remeh tugas ini?, ngira ana gak bakal marah kalau kalian gak menjalankan tugas dengan baik?, hampir aja loh ada walisantri yang masuk kedalam area asrama, apa gak cukup dispensasi yang nanti ana kasih sampe tugas kayak gini aja dianggap remeh, tadi juga ana lihat ada beberapa santriwati yang berhasil lolos bawa masuk makanan dari luar, antunna bisa dikasih amanah gak sih?" omel Mia, gemas karena dua santriwati yang kini mempunyai masalah dengannya tak bisa menjalankan tugas dengan baik.


*antunna\= Jamak kamu dua perempuan dalam bahasa Arab


Pondok pesantren tempat Mia bisa dibilang sangatlah luas, yaitu memiliki gerbang utama sebagai tempat keluar masuk utama pondok, jika masuk kedalam lagi kita akan disuguhkan dengan area luas yang terdapat tiga gedung yang sangat besar, yaitu gedung pertama untuk acara gabungan, gedung kedua untuk perkumpulan anggota OSIS, juga terdapat gudang besar tempat keperluan ekstrakurikuler, dan gedung ketiga tempat perpustakaan dengan buku-buku yang selalu di update setiap satu tahun sekali, serta di gedung itu juga di gunakan sebagai kegiatan belajar mengajar, khususnya untuk anak yang ikut olimpiade. Sedangkan area santriwati putra dan putrinya berjarak cukup jauh. Dan di setiap area terdapat gerbang lagi untuk masuk kedalam.


Saat itu, jam baru menunjukkan pukul lima sore, namun amarah Mia sudah tidak bisa tertahankan ketika mengetahui kesalahan yang dibuat oleh kedua santriwati yang bertugas pada shif kedua itu.


"Antunna sekarang pergi ke gedung OSIS, berdiri disana sampai azan Maghrib, setelah itu tulis surah at-taubah sampai selesai batas waktu dikumpulkan besok, itu baru hukuman karena-"


"Mia Mikayla" panggil sebuah suara membuat ucapan gadis itu terputus.


Mia lalu menoleh sekilas, ia lalu kembali fokus pada santriwati yang tengah ia beri hukuman.


"Kerjakan sekarang" perintah Mia yang langsung dilaksanakan tanpa bantahan sedikitpun.


Setelah kedua santriwati tersebut sudah pergi dari pandangan matanya, ia lalu kini membalikkan tubuhnya sempurna menghadap Fatih, laki-laki seumuran dengan nya yang masih setia menunggu Mia menyelesaikan pekerjaannya.


"Kenapa sih manggil-manggil" ketus Mia.


"Taukan ana tadi ngehukum, kenapa malah manggil sih, kan jadinya belum selesai ngejelasin hukumannya" ucap Mia dengan emosi yang belum stabil.


"Ikut ana" ucap Fatih.


"Kemana?" tanya Mia.


"Ikut aja" Balas Fatih.


Mia awalnya tidak ingin mengikuti perkataan Fatih, selain tidak dekat dengan Fatih, ia juga tak mau berurusan dengan teman dekat Abimanyu yang selalu saja berusaha mencari perhatiannya, namun ia entah mengapa gadis itu menurut begitu saja.


.

__ADS_1


.


.


Sepuluh menit yang lalu...


Fatih baru saja menyelesaikan tugas hafalannya, ia lalu memutuskan ingin meminjam buku dari perpustakaan, sekaligus diam disana sebentar sambil membaca beberapa buku yang tak dapat ia pinjam, mungkin sambil meminum minuman dingin enak pikirnya, oleh karena itu setelah menaruh Qur'an di rak yang telah disediakan, ia lalu segera ke kantin dengan membeli dua buah minuman dingin, mengapa dua? entahlah tenggorokannya kali ini sepertinya meminta banyak asupan hidrogen.


Laki-laki itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari area putra, segera berjalan menuju tujuannya yaitu perpustakaan yang berada di gedung nomer tiga. Namun siapa sangka jika pandangannya sempat teralihkan pada gerbang area asrama putri, ralat, bukan gerbangnya namun pada seorang gadis yang sering disebut namanya oleh salah satu sejolinya, yaitu Mia Mikayla. Ia sampai menyipitkan matanya hanya memastikan jika yang tengah marah-marah itu adalah Mia.


"Mia marah-marah?, tumben?" pikir Fatih ketika melihat gadis yang tengah memarahi dua santriwati sampai menunduk takut padanya.


"Wah, gak bisa nih anaknya lagi gak beres" batin Fatih yang tanpa ragu langsung menghampiri Mia, tak ingin jika gadis itu kelewat batas dalam memberikan konsekwensi.


.


.


.


Keduanya kali ini sudah berada di dalam perpustakaan yang terletak di dalam gedung nomer tiga, Fatih membawa gadis yang marah-marah tadi ke sebuah kursi yang telah disediakan oleh perpustakaan, kali ini posisi keduanya adalah duduk berhadapan dengan meja sedang di tengahnya.


Mia awalnya hanya diam, namun ia makin tak bisa memendam kekesalannya ketika Fatih memberikan minuman berwarna pink, minuman dengan rasa strawberry yang menurutnya aneh.


"Ana kesel banget Fatih, tadi siang ana tidur siangnya gak nyenyak, mana bablas lagi sampe gak bisa murajaah hafalan, terus ana lupa kalau hari ini tuh setoran hafalannya dua juz, mana gak lancar, dapet antriannya kelima terakhir, jadinya mepet bell, terus tadi juga dapet laporan kalo ada santriwati yang lolos bawa makanan dari luar, mana tadi pas ana baru kelar dari kelas tahfizh ada walisantri yang hampir masuk area asrama, kan kalau ketauan sama Ustadzah pengasuhan bisa gawat Fatih, ini lagi antum ngasihnya minuman strawberry, padahal kan mau yang matcha juga" kesal Mia yang dengan nafas memburu, membuat lawan bicaranya hanya dapat tersenyum.


"Udah?" tanya Fatih yang dibalas anggukan Mia.


"Oke-oke, maaf ya kalau salah ngasih minuman, ini deh ana tuker" ucap Fatih sambil menukar minumannya dengan minuman Mia, tak lupa ia membukanya terlebih dahulu.


"Makasih" balas Mia.


"Boleh ana bicara sekarang?" tanya Fatih yang lagi-lagi dibalas anggukan Mia.

__ADS_1


"Mia, ana tau antum lagi marah, lagi kesel, moodnya juga lagi jelek, tapi alangkah baiknya tidak melampiaskan kepada santriwati lain, sebab bisa saja mereka nanti kewalahan dengan hukuman yang antum kasih, bisa jadi nanti malah tugas sama kewajiban keseharian mereka kacau, dan juga antum belum denger penjelasan dari mereka loh, jadi lain kali jangan gini, oke?" ucap Fatih lembut, sangat lembut.


Mia nampak mendengarkan ucapan Fatih dengan baik, ia lalu menundukkan kepalanya sedikit menyesal dengan perbuatannya.


"Iya, gak lagi" ucap Mia setuju.


"Btw, kenapa gak suka rasa strawberry deh? padahal enak tau seger" tanya Fatih berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar gadis itu tidak merasa terlalu bersalah.


"rasanya aneh tau, kayak asem sepet gak jelas lah pokoknya" jelas Mia.


"Itu mah antumnya yang aneh, bisa-bisanya mikir kayak gitu" balas Fatih.


"Oh iya, antum ngapain ke perpus jam segini?" tanya Mia.


"Bosen di kamar, yaudah ana kesini aja deh" jawab Fatih seadanya.


"Antum suka baca buku apa emangnya?" tanya Mia lagi.


"Buku apa aja, entah itu ensiklopedia, buku sejarah, politik, novel" jawab Fatih.


"Novel?, ana juga sebenarnya suka sih baca novel, cuma kadang keburu males pas lihat ketebalan novelnya, jadinya udah males duluan deh, jadinya lebih suka kalo orang yang udah baca itu cerita" ucap Mia.


Fatih hanya tersenyum, sebenarnya sih semenjak Mia berkeluh-kesah, laki-laki itu selalu memasang senyumnya, tak pudar ataupun hilang sedikitpun.


"Mau ana ceritain tentang novel karya Tere Liye yang pernah ana baca?" tanya Fatih.


"Boleh, judulnya apa?" tanya Mia.


"Hmmm judulnya, Pulang" jawab Fatih.


"Oke oke mau" ucap Mia antusias.


Fatih lalu mulai menceritakan cerita novel yang ia baca itu, Mia juga mendengarkan cerita yang disampaikan Fatih dengan baik, tak jarang Mia bertanya mengenai beberapa istilah yang baru ia dengar dari cerita Fatih, keduanya nampak saling melengkapi satu sama lain, dan itu terjadi begitu saja, seakan keduanya sudah berteman akrab. Seketika Mia lupa dengan dirinya yang malas berhubungan dengan teman dekat Abimanyu, dan seketika pula Fatih lupa dengan fakta bahwa dirinya ingin berbagi matcha dengan orang lain, dimana itu merupakan minuman favoritnya.

__ADS_1


-


__ADS_2