
Permainan sekaligus edukasi yang di ketuai oleh Abian selesai pada pukul sebelas, satu jam cukup menguras tenaga beberapa santri, saat ini seluruh santri diberikan waktu bebas, ada yang memilih ke tenda untuk baring sebentar, dan ada yang tersebar di penjuru camp sekedar duduk dan bercanda satu sama lain.
"Adem banget, coba di pondok suasana nya kayak gini" batin Dhara.
Dhara tengah duduk sendiri sambil mencabut asal rumput didepannya, meskipun cahaya matahari mulai berada di atas kepala, namun entahlah, ia merasa tidak gerah ataupun merasa kepanasan, ia justru sedang menikmati suasana camp dengan tenang, ia sebenarnya ingin kembali ke tenda, tapi kakinya seakan menahannya untuk pergi. Ia lalu menutup matanya perlahan, menghirup udara segar membiarkan udara tersebut mengalir di penciumannya.
"Jagain ya bocahnya"
Dhara membuka matanya dan menoleh pada asal suara, memperhatikan dengan ekspresi aneh, lalu mengerutkan dahinya ketika sang lawan bicara kini malah ikut duduk di depannya.
"Damar? ngapain kesini?" batin Dhara, ekor matanya masih memperhatikan Damar yang tengah mencari posisi duduk paling nyaman.
"Kenapa deh?" tanya Damar.
"Antum ngomong sama ana?" tanya Dhara memastikannya.
"Ya iyalah, sama siapa lagi, emang disini ada orang lagi kah selama Adhara Celestial?" balas Damar yang kini juga ikut mengerutkan keningnya.
"Heran loh, antum tiba-tiba ngobrol sama ana?, soalnya kata orang-orang sih Damar gak mau ngomong kalo gak penting banget, orangnya males ngomong, kalo ngomong singkat, terus pelit" jelas Dhara.
Damar tertawa mendengar penuturan sejoli sepupunya, ia benar-benar heran mengapa orang lain bisa menilainya seperti itu, padahal ia kadang bisa berperilaku sama seperti yang lain. Ya... tergantung orangnya sih sebenarnya.
__ADS_1
"Lucu, tapi kayaknya yang pelit itu bukan kata orang-orang ya?" curiga Damar.
"Yap, anda benar seratus, untuk itu, informasi saya dapatkan dari sepupu anda sendiri, yaitu saudara Izeta" canda Dhara.
Hening.
Damar hanya diam, mungkin kalau perkataan orang-orang tentang "orang ganteng pasti garing" mungkin memang benar, sebab saat ini keduanya hanya diam, Dhara yang malu, dan Damar yang malas mencari topik pembicaraan, ia sebenarnya juga hanya ingin "menitipkan" sepupunya, berbincang lama dengan Dhara juga untuk apa?.
"Eh, bentar-bentar, tapi maksudnya jagain tuh, jagain apa Damar?" ucap Dhara yang mencoba memancing lebih banyak topik pada Damar.
"Itu, Abian, jagain dah pokoknya, antum tau kan Abian yang pernah Zize ceritain sampe dia sakit seminggu, dia orang nya" jelas Damar singkat, tanpa ada niat memperpanjang obrolan.
Dhara hanya mengangguk sambil memberikan jari jempol, tanda ia akan dengan senang hati menjaga Zize dari Abian, sekaligus menyerah dengan tingkah Damar yang memang benar susah diajak ngobrol apalagi didekati. Damar lalu beranjak, membuat gadis itu lagi-lagi dibuat heran.
"Ke tendanya Aslan" jawab Damar singkat.
"Kenapa?, masih mau ngobrol sama ana kah?" tanya Damar murni tanpa ada unsur bercanda.
"Gak gitu, yaudah deh sana" balas Dhara kikuk sendiri.
"Kalo masih mau ngobrol sih, ayuk" ucap Damar yang kembali duduk didepannya.
__ADS_1
Dhara mati kutu sekarang, ia memang mau berlama-lama dengan Damar, namun untuk ngobrol?, di benaknya bahkan tak pernah terpikirkan jika suatu saat akan berbincang dengan sepupu Zize. Mahluk langka.
"Antum sama Zize pernah berantem kah?" tanya Dhara.
Damar memusatkan perhatian pada lawan bicaranya, siapapun itu, pasti tidak akan kuat jika harus kontak mata lama-lama dengan Damar, dan saat ini Dhara sedang rasakan, namun ia menahan sekuat tenaga agar salah tingkah nya tak terlihat.
"Em..., pernah" balas Damar lagi-lagi singkat.
"Ya ampun, singkat banget" batin Dhara frustasi.
"Kenapa tuh?, boleh tau?, siapa yang mulai?, terus Zize pasti nangis ya?" tanya Dhara tanpa jeda.
"Kata Zize sih Dhara orangnya kalem, diem gitu, tapi kok sekarang gak yakin ya?" balas Damar dengan topik berbeda.
"Bohong berarti dia, ana juga cerewet kok, eh jangan ngalihin topik, cepet jawab dulu yang tadi" ucap Dhara.
"Oke oke"
Damar lalu menceritakan tentang Zize yang kadang selalu memancing emosinya ketika keduanya sedang berlibur bersama, seperti Zize yang kadang menyembunyikan kunci motor miliknya, membuatnya saat itu harus terlambat nonton film kesukaannya. Ada juga ketika makanan kesukaan Damar dihabiskan tanpa sisa, Damar ceritakan semua yang ia ingat, mengalir begitu saja.
"Kenapa gak dari dulu sih ngobrol nya"
__ADS_1
-