Anda Jodoh Saya?

Anda Jodoh Saya?
Episode. 52


__ADS_3

Mari kita bergeser pada area putra, tak berbeda jauh dengan area putri, area camp putra justru terlihat lebih simpel dan tidak banyak barang, suasananya juga terlihat lebih sejuk karena posisinya yang dekat dengan hutan kecil.


Seluruh santri putra tengah menghabiskan waktunya dengan bersantai, mengobrol, keliling sekitar tenda, dan tak sedikit menghabiskan waktu sebelum upacara dengan tidur.


"Damar, antum sama Zize pake sepatu samaan lagi kah?" tanya Aslan yang sedang berkunjung ke tenda Aslan, yang kebetulan satu regu dengan Abimanyu dan Nazril.


Damar yang tengah duduk bersantai itu otomatis memicingkan matanya, kesal dengan pertanyaan yang selalu sama.


"Kayak gak tau aja sih jawaban ana, ya pastilah, yang ngerti soal fashion dan aksesoris itu mama nya Izeta, pastinya mamanya yang akan beli, umi ana tinggal kasih uang terima jadi" jelas Damar penuh penekanan.


Nazril dan Abimanyu yang tengah menyaksikan hanya dapat tertawa pelan, mengerti jika Aslan masih saja cemburu dengan sepupu gadis incarannya itu.


"Lucu banget tau kalian tuh sebenernya, bukan kakak adek, tapi barangnya banyak yang samaan" ucap Abimanyu.


"Iya lucu, tapi temen antum nih wawancara ana mulu" balas Damar pada Aslan.


"Antum satu tenda sama siapa aja Aslan? Khafi kah?" tanya Nazril berusaha mengganti topik pembicaraan.


"Iya, Khafi sama koordinasi Pramuka yang lain, tapi kadang ditawarin juga sih kalo mau tidur di tenda Kak Abian, jadinya ana kadang tidur nya pindah-pindah, soalnya di tenda koor kadang barang nya banyak" jelas Aslan.


Atensi Damar langsung tertuju pada nama yang baru disebut Aslan, ia merasa pernah mendengar nama itu, tidak asing.


"Kak Abian?, siapa itu?" tanya Damar.

__ADS_1


"Ada, Kakak pembina dari bumi perkemahan ini, jadi mereka nanti yang bakal ngasih pemainan sama pengetahuan kepramukaan, kepemimpinan, pokoknya banyak deh, orangnya asik" jelas Aslan.


"Orangnya yang mana sih?, emangnya dia gak bakal lewat kah?" tanya Damar.


"Nanti, pas pembukaan upacara pasti ada kok baris paling depan bareng ustadz dan ustadzah" ucap Aslan.


"Kenapa deh Mar?, mukannya gitu banget " tanya Nazril.


Damar hanya diam dan menggeleng sebagai jawabannya.


.


.


.


"Khafi mana deh, tadi katanya mau kesini sepuluh menit lagi" batin Zize.


Gadis itu lalu duduk kembali di batu besar yang berada di lapangan utama, ia sudah membuat kesepakatan dengan Khafi jika akan bertemu kembali disini, namun laki-laki itu tak kunjung datang. Ia lalu membuka kertas berisi susunan acara beberapa hari kedepan, membacanya dalam hati, hingga sebuah bayangan menutupinya, membuat nya menoleh, mengira bahwa bayangan tersebut adalah orang yang ia tunggu-tunggu.


"Khafi antum..."


Ucapannya terhenti ketika melihat yang menghampiri nya bukan lah Khafi, namun sepupunya Damar, iya Damar.

__ADS_1


"Ngapain deh, minggir kamu, ngalangin aku, tulisannya gak kebaca ini" omel Zize.


Damar hanya diam, ia masih menatap sepupunya itu.


"Kenapa sih?" tanya Zize tak paham dengan tingkah aneh Damar.


Sepupunya itu tak berbicara, ia hanya menghembuskan nafasnya kasar dan duduk di samping Zize.


"Geser sih mau duduk juga"


Suara Damar yang terdengar beda membuat Zize patuh begitu saja, ia paham jika sepupunya ini ingin berbicara sesuatu.


"Mau ngomong apa?" tanya Zize.


"Kenapa gak bilang kalo ada Abian disini?" tanya Damar langsung pada intinya.


"Kan kamu baru dateng Damar, aku gak mungkin langsung cerita, jangan konyol deh, lagian juga aku jaga jarak" balas Zize.


"Terserah mau jaga jarak atau apapun itu, tapi kalau tadi aku gak cepet kesini, si Abian itu udah nyusulin kamu sambil bawa minuman, untung aku cepet dateng ke sini jadi dia paham" jelas Damar membuat sepupunya itu spontan menoleh.


"Kalau Aslan, Ustadz Fawwas masih aku izinin Ci deketin kamu, tapi untuk orang itu, aku bakal jadi orang pertama yang selalu nolak dia, kamu gak bisa Ci, jatuh cinta dua kali sama orang yang sama, itu namanya kamu bodoh" lanjut Damar yang lagi-lagi membuat sepupunya itu tak mampu membalasnya.


"Udah ah sana, balik ke tenda siap-siap bentar lagi upacara mau dimulai" ucap Zize.

__ADS_1


Damar lalu berdiri, tak ingin berbicara lebih banyak mengenai kejadian yang membuat Zize benar-benar jatuh saat itu, ia lalu meninggalkan sebotol air mineral dan kembali menuju tenda, memilih pergi daripada terus membuat Zize ingat dengan kejadian menyakitkan itu.


-


__ADS_2