
Pintu kamar jasson angel buka dengan perlahan, Di ujung sofa sana anzel menangis dalam kegelapan. Bahkan tangis nya nyaris tanpa suara.
"Anzel."
"Aku mau sendiri, Kamu pergi saja sana." Suruh anzel pelan.
"Mana bisa aku ninggalin kamu sendirian kayak gini." Angel memeluk tubuh suami nya.
Isak tangis anzel hilang karena terbenam dalam dekapan angel, Walau pun angel berusaha menguat kan suami nya. Jujur angel pun merasa terluka.
"Kenapa daddy pergi ngel? Aku tidak bisa di tinggal kan begini." Keluh anzel meratap.
"Kamu yang kuat dong, Lihat aku yang kuat seperti ini." Sahut angel.
"Kamu juga menangis." Cetus anzel.
"Cuma nangis doang kan, Aku kuat kok sayang." Hibur angel.
"Aku tau kamu juga hancur ngel, Jangan berpura pura kuat terus!" Lirih anzel balas memeluk istri nya.
Pecah juga tangis angel jika sudah begini, Jasson yang di anggap seperti ayah kandung sendiri pun kini sudah tidak ada.
"Kita masih punya ayah big kan." Ujar anzel mengelus kepala istri nya.
Hanya anggukan kecil yang angel berikan, Entah bagai mana untuk menjabar kan perasaan nya kini.
Lama mereka bertangisan dalam kamar jasson, Apa lagi anzel yang memang mental nya lemah lembut.
"Yang tenang ya, Supaya daddy bisa tenang juga." Hibur angel.
Nafas anzel yang semula memburu kini perlahan teratur normal, Lelah menangis membuat nya terlelap.
"Aku bawa kekamar saja lah." Gumam angel menggendong suami nya.
"Aduuh berat juga ternyata mahluk imut ini." Keluh angel.
Anzel yang terlihat imut itu sebenar nya banyak memiliki otot karena sering olah raga bersama deprian, Angel sedikit kesusahan membawa nya apa lagi postur tubuh anzel yang tinggi.
"Anzel pingsan ya?" Tanya joana panik.
"Tidak grandma, Dia tidur lelah menangis." Sahut angel pelan.
"Kamu kuat enggak sayang? Tolong dong ini di bantu." Pinta joana pada bodyguard.
"Tidak usah, Angel bisa kok sendiri." Tolak angel cepat.
Mana rela ia jika tubuh suami nya di sentuh oleh pria lain, Bagi angel hanya dia yang boleh memegang tubuh suami cute nya
*******
__ADS_1
Acara penguburan jasson pun sudah selesai, Bianca masih menangis dalam pelukan joana. Bagi bianca ini terlalu cepat jasson meninggal kan dia, apa lagi sakit jasson yang mendadak.
"Sabar ya nak, ini takdir tuhan." Hibur joana pada putri nya.
"Aku tidak sanggup jika dia tidak ada di sini mom." Rintih bianca lemas.
"Enggak boleh ngomong gitu, Kan ada mereka dan juga mommy yang selalu ada untuk kamu." Sahut joana.
"Mommy!"
Pekikan anzel membuat bianca tersadar, Kini sang putra hanya punya diri nya dan angel. Dengan mata yang sembab anzel memeluk kaki nya dan duduk di lantai.
"Daddy sendirian di sana mom, Pasti di sana gelap." Isak anzel.
"Tidak sayang, Cahaya kebaikan akan menerangi daddy." Sahut bianca.
"Tapi daddy sering menyuruh angel untuk membunuh orang, Apa itu tidak menghilang kan kebaikan nya?!" Tanya anzel.
"Hah?!"
Yang hadir di sana di buat melongo dengan mulut ceplos nya anzel, Suasana sedih jadi berubah sedikit canggung.
Plaak.
Anyelir menepuk pundak kakak nya dengan keras, Ia emosi karena anzel malah mengungkit masalah itu.
"Sakit nye!" Teriak anzel keras.
"Salah sendiri mulut mu itu tidak di jaga! Baru di pukul gitu saja sudah sakit." Rutuk anyelir marah.
"Ya jangan main fisik gitu lah, Lihat nih merah." Tunjuk angel menyingkap kaos suami nya.
"Aduuh ngel! Kamu jadi ketularan lebay kayak dia." Sentak anye.
Rasa sedih anye membuat nya mudah emosi, Apa lagi menurut nya angel sekarang jadi lebih banyak membela anzel.
"Bukan lebay, Tapi ini emang sakit lah." Kekeh angela.
"Sudah sayang, Jangan ribut ya." Pinta joana.
Angel akhir nya diam mengalah sambil menggosok gosok bekas cap tangan anyelir, Melihat angel yang sangat peduli pada suami nya. Bianca sedikit lega.
...****************...
Sudah dua minggu ini jasson pergi meninggal kan mereka semua, Juno pun menurut ketika bianca menyuruh nya resign dari perusahan milik big. Sehingga ia bisa mengurus perusahaan milik mertua nya.
Karena seina juga sudah besar, Anyelir pun bisa membantu juga. Seharus nya anzel lah yang mengurus perusahaan daddy nya sesuai dengan wasiat yang di tinggal kan, Namun keadaan anzel tidak memungkin kan.
"Kamu kan juga dulu kuliah nzel walau pun di rumah, Ayo dong pasti bisa bantu mommy." Rayu angel pada suami nya.
__ADS_1
"Aku enggak mau ngel! Stop kamu maksain aku." Kesal anzel.
"Bukan gitu nzel, Aku cuma kasihan lihat mommy yang sekarang sibuk banget ngurus perusahaan." Ujar angel.
"Kamu saja sana." Sahut anzel.
"Aku mau ngapain di perusahaan? Mau bunuh tuh orang semua." Gurau angel.
"Kan kamu juga kuliah jurusan bisnis dulu sama anyelir." Jawab anzel.
"Masih saja ingat kamu." Lirih angel yang bahkan sudah lupa jika ia pernah kuliah.
"Makka nya jangan bunuh orang terus, Kan jadi pelupa." Cetus anzel.
"Nih manusia kalau ngomong pedes banget." Batin angel.
Tatapan anzel menajam seolah tahu isi hati istri nya, Angel yang di tatap jadi nyengir malu merasa katahuan.
"Besok lah aku coba datang keperusahaan, Apa yang bisa di bantu." Jawab angel.
"Kenapa tidak sekarang, Kan lagi enggak ada kerjaan juga." Ujar anzel.
"Emang enggak masalah datang udah jam sepuluh ini?" Tanya angel.
"Ya enggak lah! Kan cuma mau lihat saja dulu." Sahut anzel.
"Tapi aku pengen." Angel mengedip kan mata genit.
Anzel tersenyum malu melihat tingkah istri nya, Memang mereka baru melakukan nya sekali.
Angel meraba perut suami nya yang six pack, Sedang kan yang di raba memejam kan mata menikmati nya.
"Uuh geli ngel." Rintih anzel pelan.
Jika biasa nya yang memegang kemudi adalah sang pria, Kini malah angel yang memimpin kendali.
"Ngapain kamu?!" Kaget anzel langsung bangun.
"Mau coba kayak yang di film itu loh, Penasaran rasa nya." Cengir angel.
"Film apa?" Bingung anzel.
"Film b*k*p lah sayang." Sahut angel.
"Gila ya kamu! Jadi sering kamu nonton film begituan ngel?" Anzel melotot tidak percaya.
"Sebagai idukasi nzel, Kamu kan enggak banyak tahu juga tentang hal ini." Jawab angel pelan.
"Tapi kan aku juga bisa memuas kan kamu! Kemarin saja kamu terus ngomong, Enak nzel! Ayo terus nzel."
__ADS_1
"Heh! Ngapain ngungkit itu lagi." Teriak angel malu bukan kepalang.
Anzel tertawa kencang melihat istri nya yang merona karena malu, Angel tersenyum karena bahagia. Setidak nya anzel bisa terhibur dan lupa pada kesedihan nya.