
Anzel yang ikut terlelap tiba tiba di kaget kan dengan suara rintihan sang istri yang kesakitan kembali, Di lihat nya angel sedang memegangi perut besar nya yang menggantung.
"Sakit lagi sayang?" Tanya anzel mengusap usap perut angel.
"Sakit banget yang ini, Ayo kerumah sakit kita." Ajak angel pelan.
"Baik lah."
Sigap anzel menggendong istri nya keluar dari ruangan nya, Setelah naik lift ia pun berlari menuju mobil.
Keadaan kantor telah sepi karena sekarang pukul satu malam, Perlahan ia meletak kan angel di kursi belakang.
"Tahan ya sayang, Kita pergi sekarang." Ujar anzel.
Hanya anggukan yang angel berikan, Rasa sakit membuat tenaga angel serasa hilang entah kemana.
"Hah ahah."
Nafa angel terengah engah ketika rasa sakit kembali melanda perut dan pinggang nya, Baru pertama ini ia merasa kan sakit yang luar biasa.
Bluup.
"Aakhhhh."
Angel kaget ketika terdengar seolah ada balon yang meletus dari bagian intim nya, Air langsung mengalir deras.
"Kenapa sayang?!" Panik anzel juga.
"Tidak! Kamu fokus saja nyetir." Jawab angel takut jika anzel malah nyetir nya tidak karuan karena cemas.
"Hujan pun deras sekali." Rutuk anzel.
Memang hujan tidak berhenti sejak sore tadi, Tentu saja jalanan tampak sedikit mengabut karena tertutup hujan.
"Eeggghh, Eegghhh."
"Tunggu ngel, Sabar ya." Bujuk anzel.
Sebenar nya angel tidak niat untuk mengejan, Namun entah kenapa itu tiba tiba bisa sontak terjadi. Seolah ada dorongan dari dalam.
"Agak cepet nzel, Udah mau keluar ini." Teriak angel ketika meraba bagian bawah nya.
"Iya ini aku cepat sayang." Sahut anzel gemetaran karena panik.
"Eeggghh, Eegghh."
Kembali lagi rasa dorongan angel rasakan dari dalam, Kali ini rasa nya campur aduk karena bagian bawah nya terasa perih juga.
"Eegggh, Aarrkkhhh!"
"Oeeek, Oeeek."
"Anak ku!" Teriak angel kaget dan juga lemas mengambil anak nya yang keluar.
"Astaga! Bagai mana ini ngel?" Anzel malah menghentikan mobil nya.
"Udah lanjut jalan, Bahaya kalau kedua nya lahir di sini." Suruh angel.
Syok dan juga kagum melihat istri nya yang menurut anzel sangat lah hebat, Di lirik nya sang bayi yang menangis di atas perut sang istri.
__ADS_1
"Itu tali apa nya ngel?" Tanya anzel melihat ada tali dari tubuh baby nya.
"Tali pusat lah sayang." Jawab angel lemas sembari memeluk anak nya.
Tiba lah mereka di rumah sakit yang tampak sepi karena sudah malam, Hanya suster yang berlalu lalang karena pengunjung tidak di perboleh kan.
"Tolong istri saya!" Teriak anzel memanggil suster.
"Apa yang terjadi tuan?" Suster bertanya sambil mendorong kursi roda.
"Jangan ini, Dia mau melahir kan." Ujar anzel.
"Ini bisa tuan."
"Tidak bisa istriku duduk! Bayi nya sudah keluar satu." Kesal anzel.
Akhir nya suster pun mengambil ranjang emergency, Angel di baring kan di atas dan langsung menuju ruang persalinan.
Untung tadi angel sempat mengabari dokter nur yang akan menangani nya, Sehingga sang dokter pun sudah stand by di sana.
"Waah pintar nya sudah keluar dedek." Kagum dokter nur.
"Tidak sengaja dok, Dia seolah mendorong dari dalam." Jawab angel.
Segera baby pertama di urus oleh suster untuk di bersih kan, Tak lama angel mulai kesakitan lagi.
"Sshhh sakit lagi." Keluh angel memegang tangan suami nya.
"Kamu kuat ya sayang, Aku bangga sama kamu." Ujar anzel mencium kening istri nya yang berkeringat.
"Ikuti arahan saya ya nona, Agar robekan nya tidak semakin lebar." Ujar dokter nur.
Robekan angel sudah terjadi saat ia mengejan di mobil tadi, Karena angel juga mengangkat pantat nya.
"Ayo dorong sekarang nona." Ujar dokter nur.
"Eeghhh! Eggghh."
"Oeeek, Oeeekk."
Berbeda dengan yang pertama tadi, Bayi kedua hanya cukup dua kali dorongan dan sudah keluar.
Plasenta pun juga dalap dekapan baby kedua, Sehingga dokter nur berdecak kagum melihat kehebatan ibu dan anak ini.
"Perempuan dan laki laki ya tuan baby nya." Beritahu dokter nur.
"Iya."
Anzel hanya sanggup bilang iya karena tubuh nya sudah lemas melihat darah istri yang menggenang, Hemophobia anzel seketika kumat.
"Sayaaang, Maaf ya mommy telat."
Bianca berlari menghampiri anak nya yang sudah selesai, Walau pun pucat angel masih tersenyum bahagia.
"Tolong anzel tuh mom." Ujar angel menunjuk suami nya yang terduduk di lantai.
"Loh anzel! Kamu lihat darah ya nak?" Bianca merangkul putra nya.
"Anzel takut darah juga mom? Homophobia dia." Ujar angel pelan.
__ADS_1
"Hemophobia ngel!" Ralat bianca.
Dokter nur tersenyum mendengar percakapan mereka, Kini tiba waktu nya menjahit robekan di bagian segi tiga bermuda milik anzel.
"Gigit kain ini ya jika sakit." Ujar dokter nur.
Angel hanya mengangguk pelan, Tenaga nya sudah terkuras habis. Anyelir yang datang juga langsung memegangi tangan sahabat nya.
"Selamat ya, Hebat banget sih kamu." Bisik anye membenahi rambut angel yang kewajah nya.
"Nona?"
"Iya."
Dokter nur mengecek kesadaran nya angel karena tidak ada suara sedikit pun saat di jahit, Angel yang sadar pun menyahut pelan.
"Kuat sekali anak anda nyonya." Puji dokter nur.
"Dia anak ku yang paling hebat." Bangga bianca.
"Emang tidak sakit ngel?" Tanya anyelir penasaran karena angel sama sekali tidak merintih saat di jahit.
"Sakit, Perih juga." Jawab angel.
"Kok kamu enggak nangis atau teriak?" Heran anye.
"Apaan sih lebay banget." Sahut angel.
Melongo anye karena menurut angel kesakitan saat di jahit adalah hal yang lebay, Lima belas menit kemudian dokter nur selesai.
"Terima kasih dokter." Ujar angel sopan.
"Sama sama nona."
"Terima kasih sudah menolong anak dan cucu ku ya dok." Ujar bianca juga.
"Iya nyonya, Saya malah senang karena bisa menolong nona angel." Jawab dokter nur.
"Berapa jahitan yang di dapat angel dok?" Tanya anye.
"Dua puluh nona, Karena robekan nya sampai anus." Jelas dokter nur.
"Hah?!"
Anye melongo karena banyak nya jahitan yang angel rasakan, Anzel yang mendengar pun semakin lemas membayang kan rasa sakit yang di alami oleh istri nya.
Tak lama kemudian angel di pindah keruangan rawat inap, Tentu saja ruang VIP.
"Mom aku lapar." Rengek angela karena kehabisan tenaga.
"Mau makan apa nak? Baru jam tiga malam ini." Ujar bianca.
"Tenang saja, Aku tadi bawa makanan." Ujar anye menenteng paper bag.
"Makanan apa nye?" Tanya angel.
"Nasi uduk langganan kita itu loh, Kan enak di makan malam gini." Ujar anye.
Bianca mengambil satu bungkus untuk di suap kan pada menantu nya, Karena sekarang anzel masih ketakutan dan menutupi kepala nya dengan selimut tebal.
__ADS_1