Angel Dan Anzel

Angel Dan Anzel
Epa48


__ADS_3

Deprian mendekat kan bibir nya dengan bibir angela, Serba salah angel untuk mengambil keputusan saat ini. Jika ia menolak ciuman deprian, Maka pria ini akan curiga pada nya.


"Angela!"


"Ayah."


Big muncul di waktu yang tepat, Deprian memaling kan wajah nya karena malu. Big datang karena cemas dengan putri nya.


"Siapa yang melakukan ini padamu angel? Ayah akan membalas nya." Geram big memeriksa luka angel.


"Dia sudah mati ayah." Sahut angel tenang.


"Haish! Ada saja masalah yang datang, Sena juga belum ketemu." Big benar benar pusing memikir kan cucu nya.


"Sebentar lagi pasti akan ketemu tuan big, Anda tenang saja." Deprian berkata sambil membenar kan celana nya.


"Dari mana kau tahu?" Big menatap deprian tajam.


"Eem maksud ku sebentar lagi ketemu karena semua orang sudah mencari nya, Pasti akan segera ketemu." Jelas deprian gugup.


"Aku akan membunuh bajingan yang berani menyakiti cucuku." Geram big mengepal kan tangan.


"Namun mereka bukan cucu kandung mu tuan! Ku rasa anda tidak perlu berlebihan seperti itu." Deprian berkata sambil tersenyum.


Darah big mendidih ketika mendengar ucapan deprian yang sangat keterlaluan, Untung saja angel memberi nya kode agar tetap diam.


"Deprian benar ayah, Kita bahkan tidak memiliki darah yang sama." Cetus angel membuang muka.


"Waah! Aku sungguh merasa sangat bahagia hari ini."


Usai berkata demikian big membanting pintu paviliun dengan sangat keras, Ia masuk kedalam mansion dengan wajah yang garang.


"Heiish bangsat kurang ajar!" Maki big mengendur kan dasi nya.


"Kenapa kau marah marah big?" Bianca heran karena big datang langsung marah.


"Dokter sialan itu berani mencela ku! Aku ingin sekali merobek mulut nya." Big geram bukan kepalang.


"Deprian?!"


"Yah! Berani sekali dia mengatakan jika aku bukan kakek kandung sena." Geram big menghempas kan diri.


"Aku merasa deprian jauh berubah, Sial nya angel malah seolah membela dia." Sesal bianca.

__ADS_1


Big terdiam mendengar ucapan bianca, Ia tidak bisa menjelas kan sifat angel yang sekarang membela deprian.


Sengaja big melampias kan emosi nya di mansion ini, Karena ia ingin deprian mendengar semua nya. Entah berapa puluh alat penyadap yang deprian pasang.


"Aku akan menyuruh angel bercerai saja dari anzel." Ucap big mengaget kan bianca.


"Apa yang kau pikir kan big?!" Sentak anyelir tiba tiba.


"Hormati aku, Panggil aku uncle." Big berkata dingin pada mantan istri nya.


"Big sekarang bukan waktu nya untuk bercanda, Kenapa pula kau ingin menyuruh angel dan anzel pisah?" Bianca gemetar menahan emosi.


"Aku tidak ingin anak ku terus menderita jika bersama anzel selama nya, Apa kau tidak sadar jika anzel sangat lah menjadi beban? Kalian merestui angel menikah dengan nya, Hanya karena ingin angel mengurus parasit itu." Ujar big.


Air mata bianca menetes karena sangking sakit hati nya mendengar sang putra di hina, Namun hinaan ini adalah fakta.


"Namun angel mencintai anzel sepenuh hati big." Lirih bianca.


"Kelihatan nya sekarang tidak! Mungkin saja angel sudah sadar." Tukas big.


"Namun kau tidak bisa egois begini uncle! Mereka sekarang hanya sedang kacau." Protes anyelir.


"Sampai kapan kalian ingin terus memanfaat kan anak yatim itu, Dia bukan hanya ingin mengurus suami dan memanjakan nya saja! Angel pun butuh untuk di beri perhatian." Big berkata sambil melangkah pergi.


Bianca menatap nanar langkah big yang semakin jauh meninggal kan mansion, Rasa nya takut di hati bianca semakin besar jika angel sungguh meninggal kan suami nya.


Deprian membaring kan angel keranjang nya dengan hati hati, Angel tersenyum agar tidak terlihat kaku mendalami peran nya.


"Kamu istirahat ya, Aku akan pergi mengambil motor mu sekalian mencari info keberadaan sena." Pamit deprian.


"Aku tidak ingin sendirian deprian, Temani saja aku di sini." Angel memasang wajah memelas.


"Nanti aku akan menemani mu, Hanya sebentar kok." Deprian mengusap kepala angela.


Melihat deprian yang kekeh ingin keluar meninggal kan nya, Angel tidak punya pilihan lain. Di tarik nya leher deprian dan bibir mereka bertemu.


Sesaat deprian hanya mematung karena kaget dengan serangan yang tiba tiba, Lidah angel menyapu lembut bibir deprian yang kenyal.


"Hhmm."


Lenguhan angel membuat deprian tersadar, Ia membalas ciuman angel yang sudah sangat lama ingin ia rasakan.


"Temani aku saja ya, Biar sena menjadi tanggung jawab anzel." Bujuk angela tidak ingin deprian meninggal kan nya.

__ADS_1


"Hhmm, Baik lah." Deprian tersenyum girang dan ikut berbaring.


Deprian merebah kan kepala nya di dada angela, Degup jatung angel pun bisa ia dengar.


"Kenapa kau tidak pernah melihat ku sekali saja angela?" Deprian bertanya lirih menikmati elusan di kepala nya.


"Aku bodoh karena tidak bisa menyadari cinta mu." Jawab angel.


"Lalu sekarang apa ada cinta untuk ku?" Tanya deprian.


"Akan sangat cepat jika aku mengatakan ada! Namun ku rasa dari dulu memang ada cinta untuk mu, Hanya saja tertutup cinta yang untuk anzel." Angel berkata lembut.


"Aku mencintai mu angela...


Suara deprian hanya terdengar samar samar, Ia tertidur dalam pelukan wanita yang sangat ia cintai.


"Untung dia tidur." Desah angela lega.


Angel tahu jika deprian pergi mengambil motor hanya untuk alasan saja, Karena pasti lah deprian ingin mencelakai anzel yang kini sedang berusaha mencari keberadaan sena.


"Semoga kamu baik baik saja." Batin angel memikir kan suami nya.


Membayang kan tadi wajah anzel yang sangat kecewa pada ucapan nya, Hati angel remuk tidak karuan.


Mata angel menatap sekeliling pavilun deprian, Tidak ada tanda ruangan tersembunyi yang untuk menaruh sena.


"Di mana bajingan ini menyembunyikan anak ku!" Geram angel dalam hati nya.


Deprian melenguh dan semakin mempererat pelukan nya pada tubuh angela, Muak dan marah yang kini angel rasakan pada sikap deprian.


*****


Sepanjang jalan anzel mencari keberadaan anak nya, Jalanan sepi pun ia datangi jika seandai nya orang tersebut membuang sena kesini.


Bangunan gedung tua pun anzel datangi, Walau sejujur nya anzel ketakutan setengah mati saat masuk kedalam.


"Kemana aku harus mencari mu lagi nak?!" Anzel menangis putus asa.


Tiga hari ini sena menghilang, Anzel ketakutan dan juga mulai ragu jika putra nya masih hidup. Leta yang hilang beberapa jam saja di temukan sudah tidak bernyawa.


"Senaaa!"


Jerit putus asa anzel mengundang iba para bodyguard yang ikut mencari sena, Namun mereka tidak berani mendekat walau selangkah pun.

__ADS_1


"Aku harus menemukan anak ku." Tekad anzel kembali berdiri.


Langkah yang sempoyongan karena hati gundah, Anzel keluar dari gedung tua untuk menyusuri tempat lain nya lagi.


__ADS_2