
"Baik, ini adalah gambar perancangan untuk desain perumahan yang akan kita kerjakan dalam proyek bulan ini, Untuk Anggaran Biaya bisa kita lihat sendiri di layar. Rumah ini bertype 45 dengan ruangan yang tersedia 2 kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang tamu beserta teras. Bagaimana menurut bapak dan ibu sekalian untuk model, perencanaan, dan RABnya? Apakah ada masukan?" terangku.
Ya, kali ini kami sedang mengadakan meeting bersama rekan rekan kantorku beserta direktur. Aku bekerja di salah satu perusahaan kota S Jabatanku di perusahaan sebagai staf di bagian perancangan. Alhamdulillah, dengan kerjaku ini aku bisa meningkatkan perekonomian keluarga dan bahkan lebih dari cukup dibandingkan sebelumnya.
Terdengar riuh tepuk tangan dari para karyawan. Itu tandanya preaentasiku sukses. Semua puas akan penjelasanku. Aku tersenyum bangga. Alhamdulillah.
Selesai meeting aku kembali ke meja kerjaku, ku letakkan dokumen dokumen dan laptop yang tadi ku bawa untuk meeting ke atas meja. Ku daratkan tubuhku ke kursi kerja dan menyenderkan tubuhku ke punggung kursi. Rasanya, sangat lelah karena semalam aku mempersiapkan diri untuk presentasi ini tapi, aku bersyukur karena usahaku membuahkan hasil yang bahagia.
tring..tring..tring..!! (suara ponsel) kucari sumber suara yang berada di dalam tas saat ku lihat ternyata panggilan masuk dari mas Abi (kekasihku) senyum mengembang di wajahku dan segera ku angkat.
📲mas Abi
"assalamualaikum, kamu lagi di kantor?"
📲aku
"waalaikumusallam, mas. Iya, ada apa?"
📲mas Abi
"ada waktu nggak buat makan siang bareng. Sebelum mas layar mau nyempatin waktu dulu buat kita"
📲aku
"iya mas bisa. Jadi, mas mau layar lagi, ya?"
📲mas Abi
"iya. Sedih ya?"
📲aku
"ya, mau gimana lagi. Nggak papa kok aku ngerti"
📲mas Abi
__ADS_1
"makasih ya. Emang mas nggak salah pilih ini. Yaudah see you di cafe biasa. Assalamualaikum"
📲aku
"iya. Waalaukumusallam"
Ku letakkan kembali ponsel ke dalam tas. Baru juga dateng 3 hari yang lalu udah mau layar lagi, batinku.
Oh iya, kita belum kenalan. Hai! Namaku Ani Lutfia. Aku anak ke 2 dari 3 bersaudara, aku mempunyai kakak laki laki dan adik perempuan. Papaku seorang pensiunan tentara sedangkan mama hanya ibu rumah tangga. Sekarang, yang menjadi tulang punggung keluarga aku dan kakak laki laki ku.
Aku sengaja, membiarkan papa dan mama tidak bekerja. Karena aku kasihan melihat mereka, sekarang anak anaknya sudah besar dan sudah sepantasnya kami menggantikan mereka sebagai tulang punggung keluarga. Aku hanya ingin melihat mereka menikmati hasil uang kami, yang di dapatkan dari kerja keras mereka juga untuk menyekolahkan kami hingga menjadi seorang sarjana.
Kakak ku seorang sarjana jurusan listrik. Tapi, dia lebih memilih menjadi seorang bintara TNI AL mengikuti jejak papa. Sedangkan, adikku masih kelas 5 sekolah dasar.
Waktu makan siang tiba. Dengan segera aku langsung menuju cafe menggunakan motor yang ku pakai setiap hari untuk pergi ke mana mana. Saat sampai disana aku melihat mas Abi sedang duduk di meja nomor 4. Dia sudah memakai baju dinas lengkap dengan membawa tas ransel. Ku hampiri dia dan langsung memeluknya. Karena selama 3 hari dia disini baru hari ini kami bertemu dan aku akan di tinggal lagi.
Di usapnya kepalaku dengan lembut. Disana kami cukup menyita perhatian para pengunjung cafe lainnya. Aku tak perduli dengan semua itu, aku benar benar rindu padanya.
"kenapa sayangku ini jadi sangat manja, hah?" bisiknya di telingaku. Aku menggeleng menahan tangis. Di lepasnya pelukanku dan dituntunnya aku untuk duduk.
"mas pesanin minum, ya?"
"gimana kerjaannya, lancar?" tanyanya
"alhamdulillah, mas beneran layar lagi? Bahkan setelah satu bulan lalu di tambah tiga hari, kita baru ketemu hari ini. Dan aku mau ditinggal lagi" tuturku
"kan sudah biasa mas tinggal. Kenapa jadi begini?"
"ish..nggak ngertiin perasaan aku banget. Aku masih kangen tahu"
lagi lagi dia tersenyum.
"kamu fikir mas nggak kangen apa? Mas lebih kangen dari kamu. Tapi, mau gimana lagi. Mas menjalankan perintah. Sayang tahu kan kerjaan mas dimana?"
"iya aku tahu. Mas kali ini mau layar kemana?" tanyaku
__ADS_1
"ke kalimantan"
"jauh banget. Kali ini berapa lama?"
"dua minggu mas sudah kembali"
Aku tersenyum girang dan kembali memeluk tubuh gagahnya itu. Tiba tiba pelayan datang membawakan pesanan minum yang mas Abi pesankan untukku. Aku masih belum mau meminumnya. Aku terus bergelayutan manja di lengan mas Abi. Aku melihat raut muka heran di wajahnya. Ya, aku tidak biasanya bersikap manja seperti ini aku juga tidak tahu kenapa aku jadi begini.
"diminum tuh, mas udah pesenin. Kamu ini kenapa, sih?"
ku lepas tanganku dari lengannya dengan kasar. Dan segera ku minum, minuman itu. Dia tersenyum melihat sifat anehku ini. Aku juga bingung, kenapa aku jadi sangat manja padanya padahal, aku terbilang jarang sekali bersikap semanis ini.
"sekangen itu kamu sama aku, hah?" tanyanya
"entahlah, mas. Kamu mau berangkat jam berapa?"
"satu jam lagi. Kamu bisa anterin mas ke pelabuhan, kan?"
Aku mengangguk.
.....
Sesampainya di pelabuhan!!
"yaudah mas mau masuk dulu, kamu balik gih sana ke kantor" suruhnya
"jangan lupa kabarin ya mas. Awas macem macem di sana atau bahkan di kapal genit genit sama para kowal kowal itu" kataku
Dia tersenyum dan lagi lagi mengelus halus pucuk kepalaku, ditariknya tubuhku hingga jatuh ke pelukannya. Kali ini, dia memelukku sangat erat.
"yaudah mas masuk dulu ya, assalmualaiku" pamitnya
"waalaikumusallam" jawabku
Ku tatap punggungnya yang semakin menjauh dari hadapanku. Saat itu, aku ingin menangis rasanya sangat begitu sedih. Tapi, aku tahu setiap resiko menjadi pasangan seorang abdi negara. Aku senang dan bangga melihatnya menjalanka tugas dengan baik. Semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan, batinku.
__ADS_1
.......
Hai! Bagaimana tentang ceritaku ini? Mohon dukungannya ya semua, jangan lupa like dan vote. Tq❤