
Hai gaes. Aku up nih, lebih cepat dari perkiraanku. Alhamdulillah aku bisa ngerjain tugas dan selesai lebih cepat. Makanya aku buru buru up. Semoga suka yaπ€
Selamat membaca!
Maaf jika ada salah kataπ
βββ
Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku..
Hari ini adalah hari yang ku nanti nantikan..
Dan hari ini aku dan mas Abi akan saling terikat dengan janji suci pernikahan..
Deg..deg..deg..detak jantungku berdegup dengan sangat kencang. Mama dan bunda sedari tadi terus memegang tanganku yang saat ini sedang duduk di belakang mas Abi seraya menenagkan agar aku tak terlalu gugup. Sejak tadi aku terus memikirkan mas Abi.
Aku takut, bagaimana jika mas Abi tak bisa mengucap ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Apalagi bunda sempat memberi tahuku jika mas Abi saat ini sedang batuk dan suaranya agak sedikit menghilang. Hal itu membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.
Sholawat, dzikir serta doa terus kulantunkan di dalam hati.
Sah
Sah
Sah
Terdengar suara riuh dari semua orang. Aku bernafas lega. Alhamdulillah. Aku tak menduga, padahal kata bunda tadi suara mas Abi memghilang. Tapi, ini apa? Dia bisa melakukannya dengan lantang. Kehendak Allah tak ada yang tahu. Terimakasih ya Allah, batinku.
Air mata sudah mengalir dipipiku. Ku peluk bunda dan mama dengan erat. Setelah itu kucium telapak tangan mereka. Aku benar bener bahagia!
"Selamat ya, nak!" Bisik bunda
Aku mengangguk
Mama dan Bunda mengantarku ke hadapan sang penghulu, terukir senyum indah di wajah mas Abi.
Disana aku dan mas Abi menandatangani buku nikah. Setelah selesai, mas Abi memasangkan cincin di jari manisku begitupun aku.
Ku cium telapak tangan pria yang sedang duduk di sampingku, yang saat ini sudah sah menjadi suamiku. Dia meraih kepalaku dan mengecup halus keningku. Terdengar suara tepuk tangan dari semua orang.
π π π
"Nak ajak Abi ke kamar mu untuk istirahat" pinta papa setibanya kami semua di rumah. Aku mengangguk dan meraih tangan mas Abi untuk ku tuntun masuk ke dalam kamar. Acara resepsi akan dilaksanakan nanti malam setelah sholat maghrib di gedung xx
"Mas istirahat lah. Pasti lelah" ku dudukkan mas Abi di tepi kasur. Ketika aku ingin beranjak pergi tiba tiba dia menarik tanganku bola matanya menatapku lalu di alihkannya ke sebelahnya, mengisyaratkan bahwa aku harus duduk di sebelah mas Abi. Aku faham akan maksudnya dan duduk.
"Mas perlu sesuatu?" Ku lihat dia sangat begitu lemas namun, dia menutupinya dengan senyum yang manis. Baru kali ini aku melihat mas Abi sakit. Bulir bening yang ada di mataku sudah mulai jatuh.
"Kenapa menangis?" diusapnya air mataku, Dengan suara berat dia menanyakan itu.
"Apa mas sakit?" Ku tatap wajahnya.
Mas Abi hanya diam!
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang? Apa mas tahu, dari tadi aku mencemaskan, mas"
Dia tersenyum
"Jangan khawatir. Mas baik baik saja. Mas bantu membuka hijab mu, ya?" Di raihnya jarum jarum yang melekat di hijabku. Lagi lagi dia tak menjawab pertanyaanku.
"Aku bisa sendiri mas" ku pegang pergelangan tangannya
"Tidak apa apa. Ini sangat banyak jarumnya"
Ku lepas pegangan tanganku dan menurut. Hingga hijab terlepas ku tundukkan kepala, mas Abi menarik ikat rambutku hingga rambut ini tergerai.
"Jangan biarkan orang lain melihat rambutmu" dia mengangkat daguku untuk menatap wajahnya. Seketika kami saling beradu pandang.
"A..a..aku akan mandi" aku berdiri namun tiba tiba mas Abi menarikku kembali sampai terduduk lagi di sebelahnya.
"Mas sangat lelah" dia membaringkan kepalanya di atas pahaku. Disitu aku benar benar kaget dan jantungku sudah mulai berdisko.
Ku tatap wajahnya yang ada di pangkuanku. Dia terpejam. Sepertinya dia benar benar lelah. Tak apalah, toh dia sudah sah menjadi suamiku.
Melihat tak ada penolakan dariku mas Abi meraih tanganku lalu diletakan di atas kepalanya, dia membuka mata dan menatapku seolah memberiku kode agar aku mengusap kepalanya. Aku tersenyum dan kulakukan apa yang dia inginkan.
Tidak lama kulihat mas Abi sudah tertidur pulas di pangkuanku. Aku tersenyum, tanganku masih mengusap kepalanya dengan lembut. Setelah ku rasa dia sudah benar benar nyenyak ku angkat kepala mas Abi dan ku tidurkan di atas bantal.
Aku beranjak pergi ke meja rias untuk mengahapus make up. Setelah itu aku mandi.
"Abi dimana, nak?" Tanya bunda sekeluarnya aku dari kamar mandi
"Tidur bunda. Sepertinya mas Abi sangat lelah" aku berjalan mendekati bunda dengan tangan kanan masih menenteng handuk.
"Bunda hanya haus" jawabnya sambil mendudukkan diri di meja makan. Aku berjalan menuju kulkas dan membuatkan bunda minuman segar.
"Ini bunda" ku serahkan secangkir sirup pada bunda
"Terimakasih, nak"
Aku tersenyum
"Bunda Ani pamit ke kamar ya. Bunda istirahat lah"
"Iya, nak"
Saat sampai di dalam kamar aku masih mendapati mas Abi tertidur pulas. Ingin sekali aku membangunkannya tapi, tak tega. Tapikan dia belum mandi dan juga sholat zuhur. Bangunkan tidak ya? Aku berfikir sejanak. Ah bangun kan saja!
"Mas, bangun" lirihku pelan di telinganya
"Mas..bangun.." kataku sekali lagi namun dia tak bergeming
"Aih, susah sekali!" Aku mulai kesal
"Mas, bangun dong" kali ini agak lebih kencang dan dia masih tak bangun juga
"Mas... bangun..!" Ku goyangkan tubuhnya dengan kencang. Dan berhasil! Mas Abi langsung bangun.
__ADS_1
"Bangunin suami kok kayak gitu" Dengan lesu dia mendudukkan diri. Aku menjadi tak enak hati
"Maaf mas. Habisnya di bangunin lembut lembut nggak bangun bangun. Yaudah pake cara kasar" ku dudukkan tubuhku di sampingnya
"Aku bantu lepasin jasnya ya" aku berdiri dan mulai membuka jas yang mas Abi kenakan sewaktu ijab qobul tadi. Ya, bahkan dia belum berganti pakain.
Selesai, kuletakkan jasnya di atas kasur. Dia beranjak pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi kami melaksanakan sholat zuhur berjamaah.
Ini kali pertama kami sholat berjamaah. Aku benar benar bahagia. Selesai sholat ku cium telapak tangan mas Abi dan dia mengecup kepalaku. Aku tersenyum menatap wajahnya, tiba tiba dia mendekatkan wajahnya ke hadapanku. Aku sangat gugup dan kaget.
Mau apa dia? Bagaimana ini? Hatiku terus bertanya tanya. Melihat kepanikanku itu membuat mas Abi terus mendekat.
"M..mas mau apa?" Ku jauhkan tubuhku darinya. Dia terus mendekat hingga tak ada jarak diantara kami. Ku tutup mataku karena takut.
"Ani! Ayo keluar, makan siang bareng" teriak mama dari balik pintu kamarku. Mendengar itu aku langsung membuka mata. Dan ku dorong tubuh mas Abi hingga menjauh.
"I..iya ma" sahutku sambil berdiri. Ku lipat mukena dan sajadah, lalu kuletakkan di atas meja
"A..aku keluar duluan ya, mas" kataku
"Tunggu mas sebentar" katanya sambil membuka kancing baju
"Mas mau ngapain?" Tanyaku kaget
"Ganti baju"
"Ja..jangan disini"
"Kenapa?" Dia mendekatiku dengan kancing bajunya sudah terlepas 3 dari atas. Terlihat jelas dada bidangnya. Itu membuatku semakin gugup
"Mas mau apa?" Ku mundurkan tubuhku sedangkan mas Abi terus maju mendekat hingga aku terpojok di tembok dan dia mengunci tubuhku dengan tangannya. Bahkan saat ini aku bisa mendengar nafasnya.
"Ja..jangan seperti ini, mas" aku tak berani menatap wajahnya. Dia memegang daguku dan kami saling beradu pandang. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Aku memejamkan mata. Tiba tiba aku merasa ada sesuatu yang menyentuh bibirku karena penasaran akhirnya, aku memberanikan diri membuka mata. Betapa kagetnya, ternyata mas Abi menciumku.
"Ambilkan mas baju" pintanya. Aku masih kaget dan mematung.
"Sayang? Kamu dengar mas?" Dia menaikkan alisnya sebelah
Aku diam. Benar benar tak percaya apa yang terjadi barusan.
"Kenapa? Mau lagi?" Bisiknya di telingaku. Mendengar itu aku langsung mendorongnya.
"Apaan sih mas!" Ku buka koper yang sempat mas Abi bawa dan kuraih baju kaos berwarna hitam.
"Nih" ku serahkan padanya
Aku benar benar heran. Bukannya tadi dia sakit, kenapa sekarang dia bisa sesegar ini? Kekhawatiranku sia sia ternyata!
"Terimakasih sayang" di raihnya baju itu
"Aku keluar duluan" aku langsung berlalu pergi keluar sebelum hal hal tak terduga terjadi lagi.
πππ
__ADS_1
Hai semua! Masih suka sama cerita ini? Semoga selalu suka ya. Jangan lupa like vote karens itu gratis kanπ€. See you next episode yaπ.