
Setelah mendapatkan berbagai kekuatan dari orang orang terdekat semakin hari aku semakin kuat dan bisa ikhlas tentang apa yang sudah terjadi sebelumnya. Aku juga berfikir karir ku belum sepenuhnya hancur, Aku masih bisa mendaftar pekerjaan di lain perusahaan. Aku yakin masih banyak orang yang ingin menerimaku bekerja. Jadi, untuk apa aku berlarut larut dalam kesedihan.
Hari ini aku berencana akan pergi ke butik untuk memesan baju pengantin bersama mas Abi. Setelah itu kami juga akan melaksanakan foto priwedding di sebuah gedung.
Beberapa minggu lagi kami juga akan mengurus surat pengajuan nikah di kantor mas Abi. Setelah pengajuan diterima 2 minggu setelahnya akan ada acara akad nikah ku dan dia.
Rasanya sangat tidak percaya diusiaku yang masih terbilang muda 23 tahun bisa menikah secepat ini. Tapi, aku senang. Ini adalah pilihanku dan inilah kehidupan sesungguhnya yang akan kujalin bersama mas Abi.
"Ani jam berapa kamu mau ke butik?" tanya papa tiba tiba datang menghampiriku yang sedang menonton tv di ruang tamu.
"nunggu mas Abi dateng, pa" mataku tetap fokus pada layar tv mendengarkan berita gosip yang sedang viral di dunia selebritis.
"sebaiknya siap siap aja dulu. Jadi, nanti kalau Abi datang tinggal berangkat" saran papa karena melihatku masih menggunakan baju tidur dan kepala di baluti hijab panjang seperti mukena
"iya sebentar lagi, pa" jawabku
Papa mendenggus keras. Dan berlalu pergi ke kamar.
"Assalamuakaikum!" salam seseorang yang suaranya sudah tak asing bagiku siapa lagi kalau bukan mas Abi.
"waalaikumusallam, masuk aja mas!" sahutku
"kok belum siap siap sih, sayang?" tanyanya kemudian mendudukkan diri di sebelahku.
"kamu kepagian" jawabku santai
"sana mandi. Bau tahu!" serunya
Aku langsung mengendus tubuhku. Nggak kok, batinku.
"aish...masih jam delapan lo?" aku menyandarkan kepala ke punggung sofa. Mager banget rasanya!
"eh..ada nak Abi" mama tiba tiba datang dari dapur.
"iya, ma. Ini Ani belum siap siap" mas Abi mengadu. Langsung ku tatap sinis wajahnya.
"sana mandi Ani!" di tarik mama tanganku agar berdiri namun, aku berpegang erat di pinggir sofa agar tidak bisa ditarik oleh mama. Sekuat tenaga mama menarik ku namun akhirnya menyerah juga, wkwkwk..
"benar benar anak ini tidak tahu malu, Abi sudah rapi begini kamu nya kusut kayak daun habis di injek injek!" omel mama
"mas Abinya aja yang ke pagian!" aku tak mau kalah dong
"mandi nggak!" kali ini mama membawakanku sapu dan siap untuk memukulku, melihat itu aku langsung berdiri dan berlari menuju kamar. Mas Abi tertawa bukan main.
"nggak usah ketawa ya mas!" teriakku kesal
......
__ADS_1
Saat ini aku sudah berada di dalam mobil bersama mas Abi. Tidak ada pembicaraan diantara kami. Yang terdengar hanyalah suara kenalpot, mesin serta kelakson dari pengendara lain.
"kenapa diem? sariawan, ya?" tanyanya memecahkan keheningan
"nggak!" jawabku
"kita mau foto priwedding dulu atau ke butik?"
"sesuai perjanjian kemarin gimana" jawabku
"hm..berarti ke butik dulu, nih?" diliriknya wajahku namun, tak sedikit pun aku melihatnya.
"hm...!" jawabku singkat.
"kita mau nyiapin acara nikahan loh, masa kamu kayak gini?" di raihnya tanganku dan seperti biasa dia mengecupnya.
"iya maaf" kataku.
Sekali lagi di kecupnya, kali ini agak sedikit lama. Aku yang menyadari itu langsung menarik paksa tanganku dari bibirnya namun, nihil tenaganya sangat kuat.
"ish..jangan gitu dong, mas!" protesku
"kenapa?" tanyanya seraya menggenggam tanganku.
"jijik!" aku mulai kesal.
Bukannya melepaskan setelah mendengar jawabanku dia malah menghujani tanganku dengan ciuman bertubi tubi.
Mas Abi tertawa terbahak bahak.
"liur ku bau melati" katanya
"serem dong!" sahutku
.......
Setibanya di butik aku dan mas Abi langsung menemui tante Sari beliau adalah teman dari bundanya mas Abi. Bunda sudah menghubungi tante Sari sebelumnya jadi, itu akan memudahkan kami.
Setibanya disana kami langsung merapatkan konsep apa yang akan kami pakai di acara akad, resepsi dan upacara pedang pora nanti.
Setelah beberapa jam rapat akhirnya, aku dan mas Abi memutuskan. Untuk acara akad kami memakai konsep berwarna putih, sedangkan untuk resepsi dan upacara pedang pora akan kami jadikan satu waktu. Untuk gaun aku memutuskan memakai baju berawarna biru laut sedangkan mas Abi tentunya memakai baju PDU.
Setelah rapat selesai, tubuhku dan mas Abi di ukur oleh tante Sari. Aku meminta agak sedikit di lebihkan dari ukuran badanku yang sekarang, takutnya nanti badanku membesar dan gaunnya menjadi tidak muat.
......
Saat ini kami sedang berada di sebuah gedung yang masih saparo jadi. Kata mas Abi sih aku dan dia akan foto priwedding di sini.
__ADS_1
"apa benar ini mba, Ani?" tanya seorang wanita muda yang tiba tiba menghampiriku dan mas Abi saat baru turun dari mobil.
"iya benar" jawabku ramah
"mari ikut saya mba. Mba akan kami make up dan setelah itu berganti pakain" katanya sembari tersenyum.
"saya gimana?" tanya mas Abi
"untuk mas nya bisa langsung ganti baju di ruang ganti. Untuk ruang gantinya mas bisa lurus terus belok kanan" jelasnya. Mas Abi mengangguk faham. Dia langsung melangkahkan kaki menuju ruang ganti. Sedangkan aku menuju ruang make up.
Setelah selesai make up aku di bantu oleh mbanya berganti pakaian. Saat ini, aku mengenakan gaun berwarna silver. Sumpah ini gaun berat banget! Batinku setelah selesai berganti baju. Di tuntunnya aku menuju ruang pemotretan. Terlihat sudah mas Abi disana dengan mengenakan jas berwarna biru navy. Tampan, batinku.
Langsung saja kami melakukan sesi foto. Aku masih sangat begitu kaku. Jantungku rasanya ingin loncat dari tempatnya. Mas fotoghrafer terus membimbingku dengan berbagai gaya. Hingga, akhirnya menghasilkan foto yang diinginkan.
Rasanya bibirku sudah lelah menebar senyum sedari tadi.
"aku capek!" lirihku pelan pada mas Abi. Saat ini kami masih melakukan sesi foto dengan posisi ku dan mas Abi berhadap hadapan, sangat begitu dekat bahkan aku bisa mendengar aturan nafas pria yang ada dihadapanku saat ini.
"ini belum seberapa, kita masih harus ganti baju lagi setelah ini" bisiknya di telingaku. Mendengar itu mataku langsung melotot.
"mba senyum...." pinta sang fotoghrafer setelah melihat ekspresiku berubah. Mas Abi tertawa, langsung saja ku cubit pinggangnya dengan begitu keras.
"auw, sakit sayang" diraihnya tanganku yang masih mencubit keras pingangnya.
"mas kita istirahat dulu ya" kata mas Abi pada fotoghrafer.
Akhirnya, batinku.
Mas Abi membawaku ke sebuah sofa agar aku bisa beristirahat di sana.
"kamu mau minum?" tanyanya
"boleh" jawabku
Mas Abi beranjak pergi meninggalkanku untuk mengambil minuman. Tidak lama dia datang membawa sebotol air mineral. Di serahkannya itu padaku dan langsung saja ku teguk hingga separuh habis.
"capek banget ya?" tanyanya sambil mendudukkan diri di hadapanku. Aku mengangguk dan melepas high
heels yang melekat di kaki ku. Pegal sekali!
"sini mas pijitin" di raihnya kaki ku lalu mas Abi memijitnya pelan. Aku tersentak kaget.
"nggak usah mas!" ku tarik kaki ku pelan. Mas Abi tersenyum dan mengusap halus kepalaku.
"mba, mas. Mau lihat hasil fotonya?" fotoghrafer tiba tiba datang menghampiri kami dengan membawa kamera yang ia gunakan untuk memotret aku dan mas Abi tadi. Dengan semangat aku mengiyakan.
.......
__ADS_1
Hai semua! Semoga suka, ya:)
Jangan lupa like dan vote. See you di bab selanjutnya🤗. Mohon maaf jika ada salah kata.