Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
jalan bareng Rahmah


__ADS_3

Mengingat kejadian kemarin rasanya benar benar menyenangkan aku tidak menyangka ayah, bunda dan adiknya mas Abi meresponku sangat begitu baik. Padahal, ini kali pertama kami bertemu. Tapi, aku bersyukur semua berjalan sesuai apa yang kuharapkan. Doakan kami sampai ke pelaminan ya teman teman😁.


Hari ini adalah hari terakhirku libur kerja. Jadi, aku memutuskan untuk pergi jalan jalan bersama Rahmah karena sudah lama kami tidak hangout bareng.


Aku sudah meminta ijin pada mama dan papa akan pergi jalan jalan bersama Rahmah. Kali ini aku meminta ijin untuk pergi lebih lama bahkan sampai malam. Awalnya mama tidak membolehkanku tapi, dengan bujuk rayuku akhirnya mampu meluluhkan hati mama sehingga diberi ijin. Dengan syarat asal tidak lupa sholat, katanya begitu.


.....


"ni, kamu kok tega nggak undang aku di acara lamaranmu" kata Rahmah saat kami di dalam mobil. Ya, tadi aku menjemputnya di rumah.


Kali ini kami jalan hanya berdua tanpa memberi tahu pasangan masing masing. Dan kami sengaja menonaktifkan ponsel agar bisa menikati waktu bersama.


Mas Abi bilang kepadaku bahwa hari ini dia dinas tapi, bukan layar. Aku sempat bertukar pesan WA padanya sebelum pergi dan di pesan terakhirnya dia bilang begitu.


"acaranya juga dadakan, mah" jawabku sambil tetap fokus menyetir.


"lihat dong cincinnya" dia langsung menarik tangan kanan ku dan melihat cincin yang melingar di jari manisku.


"ya allah bagus banget" sambungnya


Aku tersenyum dan menarik tanganku kembali.


"makanya cepet suruh pacarmu ngehalalin. Paling nggak lamaran aja dulu kayak aku biar ada kepastian" saranku


"bener juga ya. Nanti deh aku suruh"


"ngomong ngomong siapa aja yang dateng kemarin?" tanyanya


"cuman keluargaku sama keluarga Abi aja" jawabku


"berarti nggak ada acara besar besaran dong?"


"nggak ada, kan aku udah bilang acaranya dadakan banget. Aku aja nggak ada niat sampe kesitu. Eh tahu tahu kemarin dia ngajak aku ke toko perhiasan buat beli cincin" jelasku


"so sweet banget sih, Abi"


Aku tersenyum. Sepertinya si Rahmah udah kebelet banget nih.


Kami memutuskan untuk pergi ke mall. Kami ingin manghabiskan waktu dengan bermain timezone, menonton film, makan di restoran dan berbelanja. Sepertinya ini akan sangat menyenangkan sekali.


Sesampainya di sana kami langsung menuju timezone aku bermain banyak hal disana hingga ku kumpulkan tiket hasil permainanku dan aku menukarnya dengan boneka beruang kecil yang sangat begitu lucu. Ah, senang sekali aku hari ini.


Seusai puas bermain, kami melanjutkan menonton film yang baru baru ini tayang yaitu mariposa. Jadwal tayangnya sekitar jam 14.00 dan sekarang masih jam 12.30 akhirnya, aku dan Rahmah memutuskan untuk sholat zuhur terlebih dahulu setelah itu baru membeli makanan untuk dibawa ke dalam ruangan.


Sekitar jam 15.58 kami keluar dari ruangan. Karena sedari tadi belum makan akhirnya, aku dan Rahmah berniat mengisi perut di restoran yang berada di dalam mall lalu setelah makan kami sholat ashar karena sudah masuk waktunya.


Ya, sudah berjam jam kami di mall sampai sholat zuhur dan ashar disini. Tapi, tidak apa apa sekali kali apa salahnya, bukan?


Saat ini kami berada di dalam toko baju. Aku melihat lihat jika sekira ada yang cocok.


"ni, kamu mau beli yang mana?" tanya Rahmah


"nggak tahu nih, nggak ada yang cocok" kataku


"iya nih. Mending kita beli ice cream aja" saran Rahmah


"ide yang bagus!" seruku


Setibanya di abang ice cream (masih di dalam kawasan mall ya).


"bang, ice cream rasa vanilanya satu ya" kataku memesan


"saya campur bang" kali ini Rahmah yang memesan


"siap ditunggu neng" jawab si abang.


Tidak lama pesanan kami datang, dengan cepat ku lahap hingga habis. Benar benar nikmat.


Kami berkeliling mall lagi, entah apa lagi yang ingin kami lakukan disini, kami juga bingung.


Saat asyik berkekiling aku melihat sepasang gelang, indah sekali.


"Mah, itu lihat deh gelangnya bagus kan. Kita beli yuk couplelan" kataku sambil menunjuk ke arah sang gelang.


"wah..iya. Ayo lihat dulu"


Kamipun masuk ke toko melihat gelang yang dimaksud. Aku dan Rahmah merasa cocok dengan gelangnya sehingga kami memutuskan untuk membeli.


Kami lanjut berjalan jalan lagi.


"oh, ternyata kalian disini?!" kata seseorang ditengah tengah perjalananku dan Rahmah. Mataku melotot saat ku lihat sang pemilik suara. Seketika ku balikkan tubuhku untuk membelakanginya.


"kok mereka tahu kita disini?" tanyaku pada Rahmah dengan berbisik. Ya, mereka adalah mas Abi dan Bayu.


"aku juga nggak tahu" jawab Rahmah


Aku membalikkan badan menatap orang yang ada di hadapanku, siapa lagi kalau bukan mas Abi. Bayu yang melihat Rahmah langsung menariknya entah akan dibawa ke mana Rahmah saat ini.


Tinggal lah aku dan mas Abi. Jujur, aku sangat begitu takut menatap matanya, terlihat jelas sekali raut wajah marah saat ini.


"ka..kamu kenapa disini?" tanyaku dengan gugup

__ADS_1


Dia hanya diam menatap ku tajam. Matilah aku saat ini, batinku.


"a..aku mau ke toilet" kataku lalu melangkah namun, langkahku tertahan karena tanganku langsung ditarik olehnya dan dibawa keluar mall.


"mana kunci mobil kamu?" kata mas Abi dingin. Akupun menyerahkannya.


Saat ini kami sudah berada di dalam mobil tidak ada percakapan di antara kami. Aku yang mengahadapi situasi ini merasa risih karena memang mas Abi tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


"mas?" kataku


Tak ada jawaban darinya.


"ish...diajak ngomong juga" sambungku


"apa?" sahutnya tanpa sedikitpun melihatku


"mas marah?" tanyaku


Lagi lagi dia hanya diam matanya terus fokus pada jalan, dengan diamnya itu aku tahu jawabannya.


"maaf mas, aku.."


"diem!" sambungnya agak sedikit membentak


deg...bentakannya langsung menusuk ke hatiku, aku merasakan perih. Ku palingkan wajah kearah jendela tak bisa lagi aku membendung air mataku hingga jatuh lah butiran bening ke pipi ini.


Baru kali ini mas Abi membentakku. Kenapa dia semarah ini padaku? Bahkan aku hanya jalan jalan dengan Rahmah bukan kepergok berduaan dengan pria lain, tega sekali dia.


Tiba tiba mobil menepi di sebuah cafe.


"ayo turun" katanya


Aku hanya diam seolah tidak mendengar perkataannya. Air mataku terus menetes tanpa henti.


"kamu nangis?" tanya mas Abi memiringkan badannya menghadapku.


Aku masih diam.


"yang salah siapa? yang nangis siapa?" tanyanya pada diri sendiri


Di tariknya tubuhku agar menghadap ke arahnya. Namun, semua itu ku tepis dengan kasar. Dia menghembuskan nafas.


"ayo lihat mas" suruhnya


aku masih diam.


"kamu denger mas ngomong apa?"


Tiba tiba dia menarik paksaku dan di dekapnya aku dalam pelukannya. Aku memberontak namun, nihil mas Abi begitu kuat. Ku pukul pukul dada bidangnya dengan kencang sambil menangis.


"pukul lah sesukamu jika itu bisa mengurangi rasa kesal di hati kamu" katanya. Mendengar hal itu aku melemas, ku balas pelukannya dengan kencang, di usapnya punggungku dengan halus.


"hiks...hiks..hiks...maafkan aku mas hiks.." kataku


Di lepasnya pelukan itu. Aku menunduk. mas Abi mengangkat daguku agar aku melihat wajahnya.


"maafkan mas sudah membentak mu" katanya sambil mengusap air mataku


Aku mengangguk. Dia tersenyum.


"jangan buat mas cemas lagi"


"memang supaya apa kamu nonaktifkan hp setelah itu hangout dan lupa waktu?" sambungnya


Ku tepis tangannya dari daguku dan langsung ku palingkan wajah ke luar jendela. Ku hapus air mata yang tersisa di pipi.


"tuh kan ditanyain nggak jawab"


"supaya bisa berduaan aja sama Rahmah" jawabku sambil mengusap air mata yang tersisa


"sedeket itu kamu sama dia?"


Aku mengangguk. mas Abi meraih tanganku lalu setelah itu dikecupnya dengan begitu halus, aku tersenyum entah kenapa aku suka dengan perlakuannya yang seperti ini. Seketika emosiku meredam.


"berapa lama kamu nggak ketemua dia?" tanyanya masih dengan menggengam tanganku.


"udah lama. Terakhir ketemu pas perpisahan kelulusan SMK"


"ehm..lama juga ya"


Aku mengangguk.


"yaudah, temenin mas makan di dalam yuk"


"nggak, mas makan aja sendiri"


"ayo lah sayang, mas sangat lapar" pintanya


"nggak mau. Pesen aja, terus makan di mobil kalau mau aku temenin"


"suapin ya?"

__ADS_1


"nggak!"


"ayolah.." rayunya


cup


cup


cup


dikecupnya tanganku berkali kali sampai membuatku sangat begitu risih. Ku tarik tanganku dengan paksa.


"yaudah!" kataku


Mas Abi turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe untuk memesan makanan. Tidak lama dia datang sambil membawa sekantong plastik.


Dia membuka kursi belakang dan duduk disana.


"sayang sini pindah" pintanya


Akupun menurut. Ku buka plastik yang berisi makanan itu. Dia membeli ayam bakar.


"nggak ada sendoknya?" tanyaku


"nggak ada" jawabnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"terus pake apa nyuapinnya?"


"pake tangan dong sayang"


"nggak ada air buat cuci tangan mas"


"ada tuh di dalam plastik aku beli air mineral juga"


Saat ku lihat ternyata benar, ada. Ku cuci tanganku menggunakan air mineral.


Mas Abi fokus kepada ponselnya karena saat ini dia sedang main game online.


"mas, aaa...." kataku


Dia membuka mulut matanya terus fokus pada ponsel. Laki laki kalau sudah main game sampe segitunya, ya.


"aku berasa nyuapin ica waktu kecil" kataku


Dia tersenyum


"udah habisa sayang, aaa...." pintanya. Ku masukkan lagi nasi ke dalam mulutnya. Benar benar manja.


"Bi, jangan kesitu mati kamu nanti" teriak seseorang dari ponsel mas Abi.


Mungkun teman main game onlinenya.


"sayang, minum dong"


Akupun mengambilkannya minum dan ku berikan padanya.


"aku nggak bisa minum sendiri, tolongin lah" katanya


"ish..makanya kalau makan, makan aja dulu taro tuh hp" kataku kesal


"sebentar aja sayang. Aaa...kasih aku minumnya" katanya sambil membuka mulut. Akupun memberikannya minum yang tadi sempat dia beli juga.


"kamu nggak makan?" tanyanya


"udah tadi di mall" jawabku


"makan apa?" tanyanya lagi sedangkan matanya terus fokus pada layar ponsel


"makan jantung!"


"hah?"


"ya makan nasi lah, gitu aja tanya. Aneh, ayo aaa...sekali lagi" kataku. Diapun membuka mulutnya lalu di kunyahnya sampai habis


"kenapa sih marah marah. Tadi nangis, sekarang marah. Nggak jelas!" serunya


"udah habis nih, ayo pulang! Bentar lagi maghrib" kataku


"tunggu! Sebentar lagi, masih seru nih" sahutnya dengan jari jari sangat begitu lincah memencet layar ponsel.


Akupun mencuci tangan dengan sisa air meneral tadi.


"yaudah, kamu duduk disitu aja sampe puas mainnya, biar aku yang nyetir" kataku


Mas Abi langsung mematikan ponselnya dan duduk di belakang kemudi. Seolah tidak ingin membiarkanku menyetir mobil.


.....


Hai semua! Maaf ya upnya lama, jangan lupa vote dan like ya🤗. Tunggu bab selanjutnya❤.


Gimana puasa kalian lancar?

__ADS_1


stay at home ya, sambil baca novel aku😊.


__ADS_2