Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
Ternyata Membesar


__ADS_3

Jangan lupa like, vote dan favorite ya.


Selamat membaca!


Maaf jika ada salah kata.


☉☉☉


Dengan memakai seragam doreng layar lengkapnya mas Abi siapa mengantarku ke rumah sakit. Entah kenapa, aku sangat bangga setiap melihatnya memakai seragam kebanggaan itu. Tampan dan gagah itu lah kata yang terbesit dalam kepalaku.


Dia sangat bertanggung jawab padahal, pagi ini mas Abi juga harus berangkat berlayar menuju Balikpapan tapi, dia menyempatkan waktu yang sedikit itu untuk mengantarkanku. Sungguh, beruntung aku bisa mendapatkan pria seperti dirinya. Semoga pernikahan kami selalu dalam lindungan dan ridho Allah aamiin.


🏥🏥🏥


"Pagi dok" sapa kami setibanya di ruangan dokter Brian, dokter yang akan menanganiku di sini.


"Pagi. Dengan mba Ani?" Senyum terukir di bibir sang dokter.


"Iya, dia istri saya" mas Abi langsung menyahut seperti itu dengan raut wajah datar. Ada apa dengannya? Dokter tersenyum dan mempersilahkan kami duduk. Di bacanya hasil tes pemeriksaan ku dari dokter yang sempat menanganiku sebelumnya.


"Menurut hasil tes sebelumnya kista kamu ini masih kecil, ya?" Matanya terus terfokus pada kertas itu. Aku mengangguk.


"Baiklah mari kita melakukan tes lagi. Apakah kistanya membesar atau tidak"


"Hasil tesnya akan keluar 3 jam lagi. Rumah sakit akan memghubungi kamu nanti" kata dokter setelah tes CT-scan selesai.


"Loh. Nggak langsung keluar hasilnya?" Tanya mas Abi


"Tidak pak. Butuh proses" Mas Abi membulatkan mulut dengan wajah datarnya itu. Kenapa sih orang ini? Batinku.


"Terimakasih dok. Kalau begitu saya dan suami permisi dulu" ku ulurkan tangan pada sang dokter. Dia menerima uluran tangan ku ramah dengan senyum memgembang. Sangat begitu manis!


"Ehem!" Mas Abi berdehem tiba tiba. Aku mengernyit heran. Why?


🚘🚘🚘


"Mas nggak bisa temenin kamu ngambil hasil tesnya dong sayang" kata mas Abi di sela sela perjalanan menuju pelabuhan.


"Nggak papa, mas. Aku bisa sendiri kok. Nanti kalau ada apa apa pasti aku kasih tahu"


"Mas akan suruh Anisa menemanimu nanti. Mas tidak suka dengan cara dokter itu menatapmu!" Perasaan biasa aja deh, batinku.


"Apa mas?"


"Iya, coba kamu perhatikan dari awal kita datang sampai mau pulang bagaimana tatapannya ke kamu, sangat menjengkelkan!" Oh, aku faham. Pantas saja tadi mas Abi bersikap dingin saat di rumah sakit ternyata karena itu.

__ADS_1


"Biasa Aja perasaan" dia langsung menatapku tajam. Kenapa?


"Pokoknya kamu harus ditemani Anisa, titik!" Aku menghela nafas panjang. Ya, mau tidak mau aku harus menurutinya. Dia suamiku, aku tak mau menjadi istri durhaka karena membantah perkataannya.


🚢🚢🚢


Ku peluk mas Abi sebagai tanda perpisahan karena selama 3 hari kedepan kami akan LDR aku pasti akan sangat merindukannya.


"Mas masuk kapal ya" aku mengangguk tak lupa ku cium punggung tangan suamiku, di raihnya kepalku lalu dia mendaratkan kecupan hangat di pucuk kepala ini.


"Mobil kamu bawa aja" sekali lagi aku mengangguk.


Mas Abi melambaikan tangannya saat Kapal Republik Indonesia (KRI) jalan. Perlahan demi perlahan kapal itu menghilang dari penglihatanku. Akupun memutuskan naik ke dalam mobil untuk pulang sambil menunggu kabar dari rumah sakit.


Tring..tring..tring..! (Panggilan masuk dari Anisa). Ku sandarkan ponsel di atas speedometer lalu ku speaker.


📲Anisa


"Hallo, kakak ipar. Apa kabar?"


📲Aku


"Assalamaulaikum dulu, nis"


📲Anisa


📲Aku


"Waalaikumusallam. Kabar ku baik. Kamu gimana?"


📲Anisa


"Alhamdulillah kalau kamu baik. Aku juga baik kok"


📲Aku


"Alhamdulillah. Ada apa, nis. Kok telfon?"


📲Anisa


"Kak Abi barusan telfon aku nih. Katanya nanti disuruh nemenin kamu ke RS. Memang ada apa? Kamu sakit ya?" Aku pun menceritakan tentang kista ku padanya.


📲Anisa


"Ya ampun. Aku turut prihatin ya sama kamu"

__ADS_1


📲Aku


"Iya, nis. Makasih"


📲Anisa


"Sama sama kak. BTW, Kita ke rumah sakitnya setelah makan siag aja ya, kak?"


📲Aku


"Iya nis, santai aja. Yaudah ya, aku lagi di jalan nih. Asaalamualaikum"


📲Anisa


"Oke. Waalaikumusallam"


Tut...panggilan berakhir.


🏥🏥🏥


Aku dan Anisa sudah sampai di rumah sakit. Kami langsung menuju ke ruangan dokter Brian. Sekitar Dua jam yang lalu, pihak rumah sakit sudah menghubungiku dan mengatakan bahwa hasil tes CT-scan sudah keluar.


Terlihat dokter sedang membaca hasil tes terbaruku. Menyadari kehadiran kami dokter meletakkan kertas itu dan mempersilahkan aku dan Anisa duduk. Disitu dia menjelaskan tentang hasilnya, ternyata kistaku membesar 1 cm. Memang masih kecil tapi, dokter menyarankanku untuk melakukan operasi secepat mungkin. Karena ditakutkan akan semakin membesar dan berdampak buruk bagi kondisiku nanti.


Aku berfikir sejenak tentang keputusan apa yang akan ku ambil. Anisa menyarankanku untuk melakukan operasi saja agar kedepannya tidak semakin memburuk. Sebelum memgambil keputusan, kuputuskan menelfon mas Abi terlebih dahulu. Aku ingin berunding dengannya.


Ku serahkan ponselku pada dokter Brian karena mas Abi ingin berbicara padanya. Ku dengar sedikit pembicaraan mereka lewat ponsel. Jika aku menyetujui, operasi akan dilakukan minggu depan, begitu lah kata dokter Brian berbicara pada mas Abi.


Setelah bertimbang timbang dengan Anisa, dokter serta mas Abi (lewat ponsel) akhirnya, aku mengambil keputusan untuk melakukan operasi itu di rumah sakit ini. Aku juga sempat berdebat dengan mas Abi, karena dia menyuruhku melakukan operasinya di kota Y (Yogyakarta) mengingat jadwal operasi itu minggu depan Mas Abi tak ingin jika operasi nanti dia tak mendampingiku karena harus bertugas di sana.


Aku menolak keinginannya yang menyuruhku melakukan operasi di Yogya. Aku ingin melakukannya di sini karena ingin dekat dengan mama dan papa. Mesikpun ku tahu, pada saat operasi dia tak bisa mendampingiku karena tugas barunya itu.


"Baiklah. Mas menyetujui jika kamu operasi di sana" kata kata itulah yang mas Abi ucapkan sebelum memutus panggilan telfon.


.


.


Bersambung


.


.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Hai semua! Jangan lupa like, vote dan favorite. See you👋


__ADS_2