Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
Takut


__ADS_3

Jangan lupa like, vote dan favorite ya.


Selamat membaca!


Maaf jika ada salah kata.


........


Aku sudah mulai merasa kram dibagian paha karena sudah hampir 2 jam mas Abi menidurinya. Aku mencoba memindahkan kepalanya ke atas bantal namun, usahaku gagal. Sangat berat, aku tak kuat ditambah kondisiku yang belum sepenuhnya vit sehingga aku kekurangan tenaga. Ku goyangkan tubuhnya mencoba membangunkan namun, nihil tak ada tanda tanda mas Abi akan bangun. Aku menyerah!


15 menit kemudian akhirnya, mas Abi bangun dan memindahkan kepala dengan sendirinya dari pangkuanku. Aku langsung meluruskan kaki yang sudah mati rasa.


"Kenapa kamu sayang?" Dia mengernyit heran menatapku.


"Pahaku ku mati rasa. Gara gara mas tindihin!" Kesalku


"Kenapa nggak bangunin mas?"


"Udah di bangunin nggak bangun bangun. Kayak kebo!" Aku meninggikan nada bicara. Bagaimana bisa dia bilang aku tak membangunkannya? Mas Abi beranjak duduk dan memijit kaki ku.


"Maaf ya. Mas lelah sekali" aku jadi merasa bersalah memarahinya.


"Nggak papa mas. Justru aku yang minta maaf sudah membuat mas lelah beberapa hari ini" dia menyudahi kegiatan memijit kakiku dan mencium keningku tiba tiba. Mendapatkan perlakuan itu aku tersenyum malu.


"Mas sholat zuhur dulu ya. Sudah mau habis waktunya" aku mengangguk, dia beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu, sholat.


⏲⏲⏲


Aku tertwa terbahak bahak melihat video rekaman mas Abi yang sedang tidur tadi. Mukanya sangat polos ditambah dengkuran itu membuatku semakin tak bisa menahan tawa. Ya ampun kenapa bisa selucu ini kamu mas, batinku. Mas Abi yang tengah asik dengan ponselnya menyudahi itu karena melihatku sedang tertawa terbahak bahak menatap layar ponsel.


"Kamu kenapa?" Dengan polosnya dia bertanya. Aku yang melihat wajahnya itu kembali tertawa. Wajah heran tak bisa ia tutupi. Mas Abi bangun dari tempat duduknya dan memegang jidatku.


"Normal. Kamu kesurupan ya?"


"Hahahaha...aduh perutku sakit sekali hahahaha..." tawaku semakin pecah sehingga membuat air mataku jatuh.


"Kenapa sih anak ini?" Ku perlihatkan layar ponselku padanya. Betapa kagetnya mas Abi melihat video dirinya yang sedang tidur sambil mendengkur di dalam ponselku.


"Lucu bukan?" Ledekku. Dengan cepat mas Abi merebut ponselku namun, gagal! Aku menjauhkan itu dari jangkauan dirinya. Tapi, dia tak menyerah. Hingga saat ini posisinya sudah menindihiku dan itu membuatku sangat kaget. Kami saling beradu pandang, mas Abi terus mendekatkan wajahnya ke wajahku namun, tanpa sepengetahuan dariku tangannya mengambil ponsel yang ada dalam genggaman tanganku.


"Berhasil!" Dia duduk dan langsung menghapus video itu. Aku dikerjainya lagi!


"Usil sekali kamu ya" diserahkan ponsel itu padaku dan ku raih dengan sinis.


"Ih. Kok dihapus, mas?" Kesalku


"Jelek sekali mas di situ. Kalau mau video sekarang aja. Udah ganteng" hem narsis!


"Diliat dari sedotan" lirih ku pelan tapi, masih terdengar di telinganya.


"Apa? Kamu bilang apa?" Aku menggeleng menahan tawa. Tiba tiba mas Abi mendekat dan menggelitiku. Aku tertawa terpingkal pingkal menahan geli.


"haha...ampun mas..ampun. Cukup..cukup..hahaha" Mas Abi menyudahinya. Sekarang posisi kami saling duduk berhadapan.


"Mas aku mau cari oleh oleh buat keluarga di rumah" tiba tiba hal itu terbesit dalam fikiranku. Mas Abi kaget mendengar apa yang ku ucapkan.

__ADS_1


"Kamu kan nggak bisa jalan, sayang"


"Siapa bilang?" Aku langsung berdiri dan jalan mondar mandir. Entah kenapa, tubuhku sudah tak merasa lemas lagi setelah mengingat hal itu, jiwa wanitaku mulai keluar, wkwk.


Selama aku di sini satu haripun tak pernah jalan jalan memanjakan mata menelusuri kota ini dan besok kami sudah harus kembali ke kota S karena lusa mas Abi akan berlayar untuk terakhir kalinya sebelum dipindah tugaskan di sini menjadi pasintel di lanal A.


Dia melongo tak percaya dengan tingkahku.


"Beneran ini?" Tanyanya ragu. Dan aku menjawab dengan anggukan tanpa ragu.


"Baiklah demi istri tercintaku" mendengar hal itu aku langsung berlari kecil ke arah mas Abi dan memeluknya kuat.


"Terimakasih, mas"


🏠🏠🏠


Pukul 14.50 aku sampai di rumah dengan selamat setelah menempuh penerbangan satu setengah jam dan perjalanan dari bandara ke rumah sekitar dua jam. Semua keluarga menyambut kedatangan kami dengan senang, tak lupa ku serahkan oleh oleh yang sempat aku dan mas Abi beli kemarin malam kepada mereka.


"Wah kalian repot repot sekali" terlihat raut wajah bahagia papa saat ini. Aku yang melihat itu juga turut senang.


"Nggak kok pa. Iyakan sayang?" Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Yasudah kalian sebaiknya istirahat pasti capek" mendengar ucapan mama aku dan mas Abi pamit masuk ke dalam kamar.


Terdengar samar samar suara adzan ashar ditelingaku. Ku buka mata perlahan sambil menyadarkan diri. Terdapat tangan mas Abi yang memeluk pinggangku dari belakang, saat ku lirik ternyata dia masih tertidur pulas. Ku balikan badan menghadap ke arahnya.


"Mas bangun udah adzan ashar" lirihku pelan sambil mengelus lembut pipinya yang sudah mulai di tumbuhi rambut rambut halus. Aku bergidik geli memegang itu!


"Sebentar sayang" dia mengeratkan pelukannya. Aku diam dan menurut.


"Mas?"


"Nanti cukur rambut ini ya. Aku geli melihatnya" sambil mengusap pipi serta dagunya. Bukannya menjawab dia malah menghujani wajahku dengan ciuman sehingga, membuatku semakin geli.


"Jangan cium cium kalau belum dicukur!"


"Iya cerewet banget" mas Abi beranjak dari kasur dan keluar menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu, sholat.


πŸ•–πŸ•–πŸ•–


"Jadi besok layar, bi?" Tanya papa di sela sela kegiatan makan malam kami.


"Iya pa. Sekalian perpisahan"


"Terus Ani kapan periksa ke rumah sakit?" Tanya kak Fajar.


"Besok. Sebelum aku layar, mau nemenin Ani periksa dulu" kak Fajar mengangguk.


"Berapa hari nak Abi layar?" Kali ini mama yang bertanya.


"Cuman 3 hari, ma. Dan 3 hari setelahnya Abi sudah harus ada di kota Y untuk bertugas" jelasnya.


"Yasudah. Cepat makan biar besok semangat kerja" kata mama.


Setelah makan malam selesai aku menonton tv di ruang keluarga bersama Ica dan mas Abi. Papa dan mama sudah masuk kamar untuk istirahat sama halnya dengan kak Fajar. Kusandarkan kepalaku di bahu mas Abi dengan mata fokus meatap layar tv.

__ADS_1


"Mas?"


"Hm..?"


"Kamu bakal ketemu mantan dong di sana" entah kenapa aku ingin membahasnya lagi.


"Ya..iya" santai sekali jawabannya!


"Kamu nggak takut?" kubenarkan posisiku menjadi duduk dengan normal.


"Takut? Kenapa?" Ditatapnya mataku namun, tak sedikitpun ku balas.


"Jatuh cinta lagi sama dia" mas Abi malah tertawa mendengar ucapanku.


"Kamu lagi cemburu ini?"


"Bukan cemburu tapi was was" mas Abi tersenyum dan meraih tanganku untuk digenggamnya.


"Percaya sama mas. Mas tidak akan pernah macam macam. Mas tahu bagaimana rasanya dikhianati" dia memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Aku tahu kemana arah pembicaraannya. Tampak sekali bahwa mas Abi masih kecewa dengan mantannya itu. Kenapa dada ku sesak sekali melihat respon mas Abi yang seperti ini.


"Sudah ah. Nggak usah dibahas, sekarang masa depan mas itu kamu sampai maut nanti" entah kenapa aku ragu dengan ucapannya. Aku tersenyum palsu.


πŸ›πŸ›πŸ›


Setelah membersihkan diri ku rebahkan tubuhku di samping mas Abi.


"Kamu kenapa kok diem aja dari tadi?" Di peluknya aku dengan kuat. Aku tersenyum kecut dan membalikkan badan membelakanginya.


"Loh. Kok mas di belakangin sih?"


"Aku ngantuk mas. Mau tidur!" Kupejamkan mata. Sebenarnya sih, aku belum mengantuk.


"ada masalah ya?" Sepertinya dia mulai sadar dengan sikapku yang diam ini. Aku menggeleng tanpa suara.


"Tuhkan nggak mau jujur" mas Abi melepas pelukannya dari tubuhku.


"Mas masih menyimpan rasa ya sama Astrid?" Akhirnya ku beranikan diri bertanya padanya. Dengan posisi masih membelakanginya


"Itu lagi. Berapa kali sih mas harus bilang sayang?" Aku diam tak tahu harus menjawab apa.


"Sini lihat wajah mas. Apa ada kebohongan di mata mas ketika bilang bahwa mas sudah tak lagi memcintai nya dan hanya ada kamu di hati mas. Sini lihat" Apa sikap ku ini salah? Apa aku salah mengkhawatirkan suami ku akan kembali kepada mantannya? Wajar bukan!.


"Aku hanya takut mas" mas Abi membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Di dekapnya aku dalam dada bidangnya itu.


"Percayalah mas tidak seperti itu"


"Terlihat sekali wajah kekecewaan mas tadi saat mengingat masa lalu. Apa mas masih menyimpan rasa padanya?" Ku dongakkan wajah menatap matanya.


"Nggak sayang. Mas hanya muak saja ketika mengingat itu. Bodoh sekali mas telah mencintai wanita seperti dia!" Aku menangkap raut wajah kekesalan disana.


"Baiklah aku percaya" semakin ku pererat pelukannya.


"Mas minta tolong ya, jangan bahas dia lagi" Aku mengangguk.


"Maaf ya mas. Aku terlalu takut" mas Abi tersenyum dan memberiku kecupan di pucuk kepala. Dan akhirnya aku tertidur pulas tanpa ada rasa kecurigaan.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


Hai semua! Jangan lupa like, vote dan favorite. See youπŸ‘‹


__ADS_2