
Jangan lupa like, vote dan favorite ya.
Selamat membaca!
Maaf jika ada salah kata.
π₯π₯π₯
Suara adzan subuh terdengar jelas di telingaku, ku buka mata perlahan, tampak gelap diluar mungkin, karena cuaca agak sedikit mendung. Senyum mengembang di bibirku ketika melihat mas Abi masih tertidur pulas di sebelahku dengan posisi terlentang.
Aku beranjak duduk perlahan karena perutku masih sangat sakit, ku usap kepalanya mencoba membangunkan. Dia menggeliyat manja. Kepalanya diletakkan di atas pahaku dengan tangan mengusap perutku. Seolah tahu bahwa perut ini masih sakit. Aku tersenyum.
"Sholat mas, udah adzan" ku usap halus kepalanya. Dia tersenyum dan beranjak pergi.
"Kenapa balik lagi?" Baru sampai di depan pintu kamar mandi dia berbalik arah menghampiriku dan mencium pipiku sekilas. Lagi lagi dia membuatku kaget.
"Morning kiss, sayang" katanya dengan sedikit berteriak sambil melangkah pergi. Aku kembali merebahkan diri di atas kasur, menahan sakit yang menjadi jadi bahkan rasa sakit ini sudah menjalar ke pinggang. Hal ini, terus ku rasakan setiap bulannya, membuatku tersiksa!
π«π«π«
"Mau kemana sayang?" Baru melangkahkan kaki ingin keluar kamar eh, dia bertanya. Aku membalikkan badan menghadap ke arahnya
"Dapur, bantu bunda sama mbok masak"
"Perut kamu masih sakit, kan? Nggak usah ke bawah. Naik turun tangga nanti tambah sakit" Mas Abi menghampiriku dan menarik tubuhku hingga terjatuh di atas kasur.
"Disini saja sama, mas" dia memelukku
"Hm..maunya kamu. Nggak enak mas sama bunda, aku nggak mau jadi menantu tidak tahu diri hanya ongkang ongkang kaki" dia langsung menatapku
"Tidak tahu diri? Siapa bilang? Kamu itu lagi sakit jangan memaksakan diri, bunda ngerti kok" dia mengusap lembut kepalaku
"Terserah mas sajalah".
"Sampai kapan mas harus menunggu?" Bisiknya di telingaku
"Menunggu apa?" Aku mengernyit heran
"Menunggu tamu kamu pulang"
"1 minggu"
"Lama sekali? Jangan mencoba membohongi mas!" Dia tampak kaget
"Hahaha...siapa yang membohongi? Kalau tidak percaya mas bisa browsing di google atau tanya dokter sekalipun"
__ADS_1
Dia membuang nafas dengan kasar.
"Kenapa tamu mu itu tidak peka sekali. Kurasa dia bersekongkol dengan Ica" garutunya.
πππ
Sesuai janji mas Abi kemarin malam, dia akan mengantarku ke apotik untuk membeli obat pereda nyeri haid sekalian ingin membeli pembalut juga. Karena mas Abi hanya memintakan 2 buah pembalut saja pada bunda. Dan sekarang sudah habis!
"Sayang, kamu nggak mau beli oleh oleh untuk keluarga mu?" Di sela sela perjalanan mas Abi bertanya, mata nya terus fokus menatap jalan.
"Nanti sajalah mas. 1 hari sebelum pulang" ku raih ponsel mas Abi yang tergeletak di sampingku. Aku bahkan belum pernah mengecek ponselnya selama ini. Sedangkan dia, setiap kali bertemu selalu mengecek ponselku.
"Apa paswordnya, mas?" Ku lirik dia sekilas
"Sini pakai sidik jari mas saja" dia mengadahkan tangan padaku
"Nggak! Sebutkan saja" ku tepis tangannya. Dia tersenyum.
"Tanggal pernikahan kita" ku masukkan pasword tanggal pernikahan ku dengannya dan ternyata berhasil! Langsung saja hal pertama yang ku buka adalah whatsapp. Ku periksa setiap isi chat dari siapa pun. Hal ini kulakukan demi menghindari hal hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Kenapa mas save nomor Astrid?" Aku kaget saat mendapati ada nama Astrid di kontak WA mas Abi.
"Ya, nggak papa. Sulaturahmi sayang" di liriknya aku sekilas
"Oh"
Aku diam menahan kesal.
"Sesama tentara mas tidak bisa membawa bawa hal pribadi ke dalam tempat kerja. Apalagi dia akan satu lanal nanti dengan mas" mendengar hal itu aku kaget dong. Satu lanal, berarti satu kantor, dan satu kantor berarti mereka akan bertemu setiap hari!
"Jadi mas sengaja pindah ke lanal yang ada dianya?" Ku lepas tanganku dari genggamannya
"Tidak sayang, awalnya mas juga tidak tahu bahwa dia ada di lanal **** juga. Mas tahu setelah surat pengajuan pindah di ACC dan itupun Astrid sendiri yang memberi tahu mas bahwa dia ada di lanal ****" jelas mas Abi
Ya, Astrid adalah kowal bintara tni al. Cerita awal mereka bertemu ya, melalu pekerjaan mereka itu. Hingga mas Abi dan Astrid LDR karena beda penempatan tugas. Setelah satu tahun LDR mas Abi mengetahui bahwa Astrid telah berselingkuh darinya denga rekan kerjanya sesama bintara. Dari situlah hubungan mereka hancur dan putus. Dan sekarang Astrid menyesal karena telah meninggalkan mas Abi, bahkan dia berusaha merebut mas Abi dariku.
Aku diam tak bergeming sedikitpun. Kesal sekali rasanya, bayangkan saja sebentar lagi aku akan satu kota dengan mantan pacar suamiku yang sampai sekarang masih mengejar ngejarnya. Iyuh banget!
"Yasudah. Mau apa lagi? Udah terjadi, kan. Jalani aja. Aku nggak ikut mas tugas lah ke sini, males" kataku
"Loh kok gitu? Nggak bisa dong, mau nggak mau kamu harus dampingin mas di sini. Sebagai seorang istri, ngerti? Nggak ada penolakan"
"Tahulah!" Ku buang pandangan keluar jendela
Aku benar benar kesal sampai sampai rasa sakit di perut serta pinggang ku tidak berasa. Setelah sampai di apotik aku langsung turun membeli barang barang yang ku butuhkan.
__ADS_1
"Sudah?" Tanya mas Abi yang berada di dalam mobil sekembalinya aku dari apotik
"Hm.."
Mobil berjalan kembali.
Ku raih ponsel yang ada di dalam tas. Ternyata ada chat masuk dari Rahmah. Kami saling bertukar cerita satu sama lain, hingga aku benar benar terhibur saat ini. Seketika rasa kekesalan ku berkurang.
"Chattingan sama siapa, seru banget?" Mas Abi mulai penasaran. Hm, aku kerjain ah! Terlintas ide licik di kepalaku.
"Temen" jawabku acuh
"Lihat?" Menodong tangannya meminta ponselku
"Nggak boleh!" Ku jauhkan ponselku darinya. Dia menatapku tajam. Yes, sepertinya berhasil, ahahahaha!
"Kenapa? Katanya temen?" dia semakin penasaran
"Ya nggak papa. Kataku nggak boleh ya berarti nggak boleh. Rahasia" aku semakin membuatnya panas
"Siniin nggak hp kamu!" Dia mulai kesal dan terus berusaha meraih ponselku
"Nggak akan" semakin ku jauhkan ponselku darinya. Hingga, mas Abi menepikan mobil dan merebut paksa ponselku. Senang sekali aku bisa membuatnya kesal. Aku tertawa terbahak bahak ketiak dia mulai membaca dan memeriksa satu persatu chat yang ada di dalam ponselku.
"Kamu mengerjai, mas? Hem?" Dia tampak kesal
"Hahaha...lucu sekali wajah mas. Merah!" Aku semakin tertawa
"Puaskan lah tertawamu itu" dia benar benar kesal. Seketika aku terdiam. Apakah aku keterlaluan?
"Ingin rasanya mas makan kamu sekarang" dia kembali melajukan mobilnya.
π°π°π°
Saat ini rumah tampak sepi karena bunda harus ke salon dan restorannya mengurus beberapa pekarjaan di sana. Sedangkan ayah, dia sudah pasti berada di perusahaannya. Ya, mereka berdua adalah seorang pembisnis. Tapi, anak anaknya lebih memilih karir sendiri yaitu menjadi seorang abdi negara. Mas Abi dan Anisa tidak tertarik menjadi seorang pengusaha. Entah apa yang ada di dalam fikiran mereka. Padahal pendapatan seorang pengusaha lebih besar!
Ku hempaskan tubuhku ke atas kasur. Ah, lelah sekali. Setelah 5 menit cukup meregangkan otot otot aku duduk dan meraih obat yang tadi ku beli untuk diminum. Kenapa tiba tiba kepalaku menjadi sangat pusing. Mungkin kelelahan.
Setelah berganti baju dan membersihkan diri aku memutuskan untuk tidur.
(Pukul 16.30 aku terbangun)
Kenapa rasanya kepalaku semakin pusing, aku mencoba berdiri namun pandanganku tiba tiba kabur. Aku kembali duduk dan mencoba tenang. Kenapa ini?
Ku raih air mineral di meja kecil yang berada di sebeleh ranjang dan ku minum. Aku mencoba berdiri dan berjalan perlahan. Ku turuni anak tangga satu persatu sembari memanggil nama mas Abi namun tak ada jawaban. Pandanganku sudah mulai pudar dan menghitam. Kaki ku gemetar dan tubuhku semakin lemas. Hingga. Bruk! Aku terguling dsri tangga hinggs ke lantai.
__ADS_1
πππ
Hai semua! Jangan lupa like, vote dan favorite. See youπ