
tok tok tok (suara ketukan pintu)
"Ani, bangun cepet udah subuh!" teriak mama dari balik pintu kamar ku.
"ouh...!" uap ku
"iya, ma. Udah bangun"
Kulangkah kaki ku menuju dapur untuk mengambil air wudhu. Mataku benar benar masih sangat mengantuk. Ini godaan setan astaghfirullah.
Setelah selesai sholat subuh, aku langsung mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 06.05.
"kak, anterin ica ya kesekolah" kata adikku sesampainya aku di meja makan untuk sarapan pagi.
"kalau mau ikut aku cepetan makannya. Jangan kayak artis!" seru ku
Selesai sarapan, aku langsung berpamitan ke mama dan papa untuk berangkat kerja tapi, sebelum ke kantor aku mengantar adik ku dulu ke sekolahnya.
"pagi Ani!!" sapa Rangga setibanya aku di kantor, dia adalah teman kerja satu ruangan ku yang meja kerjanya berada di depanku.
"pagi!" balasku
"hem...aku tadi dateng nggak di sapa tuh" timpal Nana di sampingku yang sedang duduk di meja kerjanya.
"sewot aja luu!" sahut Rangga
"pagi pagi udah berantem. Nanti lama lama kalian jatuh cinta loh" kataku usil
"amit amit naudzubillah himindzalik!" teriak Nana
"hiiiii...siapa juga yang mau sama kamu" timpal Rangga
Aku hanya tersenyum melihat perkelahian kedua teman ku ini. Ya, mereka berdua terbilang akrab dengan ku jika berada di kantor kami sering menghabiskan waktu makan siang bersama kadang kadang jalan jalan sepulang kerja.
__ADS_1
Tiba tiba ketika kami sedang asyik mengobrol dan bercanda gurau datang seorang pria berprawakan tinggi, kulit putih, gagah dengan balutan jas nya dan tampan. Dia datang dengan di kawal berbagai orang termasuk para manager dan direktur. Siapa dia, kenapa sampai dikawal dengan orang orang itu, sepenting itu kah dia? Batinku.
Seketika kami langsung terdiam dan memberi hormat kepada mereka. Ku pasang senyum terbaik.
"Ani, ikut saya" pinta pak Kevin (Direktur).
Aku yang mendengar itu sontak kaget. Ada apa ini? Kenapa aku jadi gugup? Apakah aku membuat kesalahan?
"Ani! itu pak kevin ngomong. Kamu denger nggak" bisik Nana
"i-iya pak" jawabku gugup. Dengan segera aku mengikuti langkah kaki pak kevin menuju ruangan yang tidak pernah ku masuki di lantai paling atas. Jujur, jantungku ingin loncat rasanya, karena disini hanya ada orang orang penting.
"silahkan duduk" kata pria yang tak ku kenal itu kepada kami semua.
Kamipun mendudukkan diri di sofa. Wajahku benar benar tegang, tangan dan kakiku pun sudah mulai dingin.
"Ani, beliau itu adalah pak Andi direktur utama perusahaan ini. Beliau baru datang dari Amerika tadi malam. Beliau ingin kenal sama kamu karena saya sering menceritakan kinerja kamu kepada beliau. Jadi, itu alasan saya mengajak kamu ke sini" terang pak kevin.
Seketika aku menjadi lega, ku fikir aku telah membuat suatu kesalahan dan ingin dipecat. Aku tersenyum menatap pak Andi.
Alangkah senangnya aku mendengar semua itu tampak mengembang senyum di bibirku.
"sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih atas pujian yang bapak berikan. Saya tidak menyangka bahwa bapak menyukai cara kerja saya. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa pak" jawabku
Dia tersenyum.
"maka dari itu dihadapan mereka semua detik ini kamu saya angkat menjadi seorang manager perancangan. Dan saya akan menaikkan gaji kamu. Kamu mau?" ujar pak Andi
Benarkah ini? Apakah aku sedang bermimpi? Ku cubit sedikit lenganku ternyata sakit. Berarti aku tidak sedang bermimpi. Ya Allah terimakasih, batinku.
"bagaimana? Apakah penawaran saya tidak menarik? Atau kurang?" tanya pak Andi
"ti-tidak pak. Saya hanya kaget, iya saya mau pak. Terimakasih banyak" kataku dengan senangnya.
__ADS_1
.......
"Ani, ada apa? Kenapa kamu dipanggil?" tanya Nana sekembalinya aku dari ruangan itu. Aku tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagia ini.
"Ani. Aku tanya, kenapa kamu senyum senyum sendiri? Jangan buat aku panik dong?" tanya Nana lagi
"jangan jangan dia gila, na. Gara gara dipecat mungkin. Atau dia depresi tidak menerima kenyataan" sambung Rangga.
"bisa jadi, Rang. Atau jangan jangan dia kerasukan setan yang ada di lantai atas. Ihhh, kok aku jadi berinding!" seru Nana
Aku yang mendengar itu seketika langsung melotot dan memukul lengan Rangga
"kurang ajar kamu ya ngatain aku gila, depresi. Kamu juga na, masa bilangin aku kerasukan"
"wah...ternyata dia sadar" kata Rangga
"hehehe...cerita dong, ni. Kamu ngapain di dalam sana?" tanya Nana yang mulai penasaran. Akupun menceritakan tentang semua yang terjadi di dalam ruangan itu.
"wah, serius? Ya ampun, aku ikut seneng" kata Nana sambil memelukku.
"selamat ya, ni. Aku ikut bahagia dan bangga sama kamu🖒" kata Rangga sambil mengacungkan jempol
"terimakasih. Ini semua berkat kalian juga. Jadi, sebagai rasa terimakasih, aku akan teraktir kalian makan siang. Dimanapun!" seruku.
"wah..bakalan makan gratis nih" canda Rangga.
"berarti kita pisah dong meja kerjanya" timpal Nana
"lebay amat kamu, na. Ani cuman pindah kedalam kita juga bisa lihat dia dari kaca itu" sahut Rangga
"hehehe...." tawa Nana.
.......
__ADS_1
Hai! Gimana seru nggak? Kalau ada saran atau masukan bisa komen ya 😊. Jangan lupa terus dukung aku dengan cara vote dan like supaya aku semnagat nulisnya❤.