
Saat ini aku sudah berada di dalam mobil untuk menuju pulang ke rumah. Rasanya benar benar lelah setelah hampir seharian mempersiapkan segalanya. Make up tebal masih melekat di wajahku saat ini. Huh! Aku
benar benar sangat risih.
"bisakah kita mampir di supermarker dulu, mas?" aku berniat ingin membeli micellar water untuk menghampus make up ini. Aku sudah tidak tahan.
"bisa" dilihatnya wajahku
"kenapa?" aku mengernyit heran
"cantik!" tampak senyum di bibirnya
Setibanya di supermarket...
"mas bisa minta tolong?" tanyaku saat kami masih berada di dalam mobil.
"apa?"
"mas turun ya beliin aku micellar water sama kapas, buat hapus make up udah nggak tahan ini!" pintaku dengan wajah memelas. Aku enggan turun karena malu! Di bilang apa aku nanti kalau turun. Ondel ondel? Pengantin kabur? Pasti akan banyak mata yang melihatku.
"baiklah, sayang tunggu disini" di lepasnya seatbelt dan beranjak masuk ke supermarket.
tidak lama mas Abi datang membawakan pesananku. Dengan cepat ku raih itu dan perlahan lahan menghapus make up nya, sedangkan dia kembali menyetir menuju rumah ku.
Aku menggunakan ponsel untuk bercermin namun, tiba tiba ada panggilan masuk dari Rahmah, aktifitas membersihkan make up langsung ku hentikan.
📲Rahmah
"assalamualaikum, Ani!"
Ku pegang kuping kananku karena merasa agak sedikit sakit. Kenapa dia berteriak membuat kuping ku sakit saja, batinku
📲aku
"waalaikumusallam. Santai aja dong, semangat banget!"
📲Rahmah
"hehehe..maaf"
📲aku
"ada apa?"
📲Rahmah
"nanti malam datang ke rumah ya ajak Abi"
📲aku
"ngapain?"
📲Rahmah
"nanti malam ada acara pertunanganku sama Bayu"
📲aku
"oh ya? Congratulation babee. Tapi, kok mendadak?"
📲Rahmah
"iya. Aku seneng banget. Sebenarnya, nggak mendadak sih. Cuman, akunya aja yang kasih tahu kamu mendadak, hehe"
📲aku
__ADS_1
"biar apa gitu?"
📲Rahmah
"surprise!"
📲aku
"yaudah sekali lagi selamat ya. Pasti aku dateng nanti sama mas Abi. See you"
📲Rahmah
"see you too"
tut! Panggilan berakhir. Aku kembali membersihkan make up yang masih menempel di wajahku.
"kenapa sayang?" tanya mas Abi sembari melirik aku sekilas.
"nanti malam kita diundang Rahmah sama Bayu. Mereka mau tunangan" mataku terus fokus pada layar ponsel dan tangan yang berisi kapas tak berhenti mengelap wajah.
"kok Bayu nggak kasih tahu mas, ya"
"sudah diwakilin sama Rahmah barusan" jawabku.
......
Malam harinya selesai sholat isya aku dan mas Abi langsung jalan menuju rumah Rahmah. Saat ini aku mengenakan baju batik kebaya berwarna ping dengan wajah di make up sederhana, sedangkan mas Abi mengenakan kemeja batik berwarna coklat senada dengan rok yang ku kenakan.
"kok masih sepi, mas?" aku belum melihat para tamu berdatangan sesampainya kami di sana
"ya mana mas tahu sayang" jawab mas Abi sambil melepaskan seatbeltnya.
Kamipun memutuskan turun dari mobil. Kedatangan kami disambut hangat oleh kedua orang tua Rahmah.
"Rahmah dimana tante?" saat ini aku dan mas Abi sudah berada di ruang tamu namun, aku sama sekali tidak melihat keberadaan Rahmah.
"boleh tante"
"mas ditinggal sendirian disini, sayang?" mas Abi tiba tiba menarik tanganku sehingga aku terduduk kembali padahal aku sudah sempat berdiri.
"siapa ini, Ani?" tanya tante Sri(mama Rahmah) saat dia melihat mas Abi menarik tanganku
"oh iya, Ani lupa kenalin ke tante dan om. Ini Abi calon suami Ani" senyum terukir di bibirku
Mas Abi mengulurkan tangan pada kedua orang tua Rahmah seraya memperkenalkan diri dan di sambut ramah oleh tante Sri dan om Eri (bapak Rahmah).
"Abi disini aja dulu sama om. Biar Ani nemenin Rahmah di kamar" kata om Eri pada mas Abi. Mas Abi tersenyum dan mengangguk.
"aku tinggal sebentat ya, mas" bisikku
"jangan lama lama!"
Aku mengangguk dan beranjak pergi mengikuti langkah tante Sri.
"ini kamar Rahmah masuk aja. Tante mau ke dapur dulu ya" kata tante Sri saat kami sudah ada di depan pintu kamar Rahmah. Aku mengangguk dan masuk.
"Ani?" Rahmah langsung memelukku erat setibanya aku di dalam kamarnya. Ku sambut pelukan Rahmah dengan senang.
"Abi mana?" di lepasnya pelukan itu dan dia menduduk kan diri di ujung kasur
"ada di luar. Lagi ngobrol sama om Eri" akupun ikut mendudukkan diri.
"gugup ya, mah?" tanyaku karena melihat wajah rahmah sangat begitu tegang.
"banget" di raihnya tanganku, aku merasakan betapa dinginnya tangan Rahmah saat ini.
__ADS_1
"inshaallah lancar" aku mencoba menenangkannya sembari mengusap halus tangan Rahmah.
"makasih ya, Ani"
Aku mengangguk.
"ciee, sebentar lagi statusnya bukan lagi pacaran tapi, calon istri orang" candaku mencoba mencairkan situasi agar dia tidak terlalu gugup. Rahmah memukul halus lenganku.
"bisa aja kamu" dia tersipu malu
Acara pertunangan Rahmah berjalan dengan lancar. Aku turut senang melihatnya senang. Dia terus memancarkan senyum serta raut wajah kebahagianya. Tak lupa aku berfoto bersamanya, Bayu dan mas Abi di hari bahagia ini. Ini akan menjadi kenangan termanis di dalam hidup kami.
Aku tidak menyangka acara pertunangan Rahmah dan Bayu akan seramai ini. Di hadiri oleh keluarga masing masing serta rekan kerja satu kapal dari Bayu serta mas Abi.
"sayang aku lapar" kata mas Abi tiba tiba
Saat ini aku dan mas Abi sedang duduk di kursi jajaran tamu.
"ya tinggal ambil makan disana" jawabku
"suapin ya?" di tatapnya wajahku dan seketika wajahnya langsung memelas berharap aku mengiyakan.
"nggak!, mas nggak lihat apa banyak orang. Malu tahu!"
"yaudah mas nggak jadi makan!" dia mendadak ngambek.
Seperti anak kecil, batinku
"terserah!" jawabku acuh
"nggak ada romantis romantisnya banget sih kamu" protesnya
"biarin! Udah sana makan" suruhku
Mas Abi tak menjawab perkataanku. Huh! Merepotkan. Aku beranjak pergi mengambilkan dia makan.
"nih makan, nanti sakit" ku serahkan sepiring berisi makanan yang ku ambil tadi.
"aaa..." dia malah membuka mulut
"untung aku sayang ya!" akhirnya aku menyuapinya, mas Abi langsung tersenyum sembari mengunyah makanan yang ku masukkan ke dalam mulutnya. Benar benar seperti bayi! Gumamku.
"coba deh lihat. Pak Abi kalau bersama calon istrinya seperti itu"
"iya, seperti anak kecil. Hahaha.."
"betul, manja sekali!" omongan itu terdengar sangat jelas di telingaku.
"hei! Kalian bicara apa?!" mas Abi menyadari bahwa dia telah menjadi bahan pembicaraan dari anggota TNI AL yang melihat kejadian ini.
Kedua pemuda yang membicarakan mas Abi langsung terdiam saling pandang satu sama lain.
"siap salah, pak!" hormat kedua pemuda itu secara berbarengan pada mas Abi.
"beraninya kalian membicarakan saya!" mas Abi mulai emosi
"kenapa kamu memarahinya. Apa yang mereka katakan memang benar" timpalku
"kenapa kamu membela mereka?" mas Abi menatapku dengan tatapan kesal. Ku raih pergelangan tangannya dan ku usap halus agar dia tak jadi marah.
"jangan menggoda mas!" dia sadar bahwa tangannya ku usap mengandung arti. Aku tersenyum
"sudah tidak usah di dengarkan mas, mau lanjut makan lagi atau sudah?" makanan yang ku bawakan tadi masih tersisa sedikit.
"sudah, terimakasih sayang" di usapnya kepalaku. Aku tersenyum.
__ADS_1
.....
Hai semua! Jangan lupa like dan vote ya❤. Mohon maaf jika ada salah kata. See you