Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
Melepas Rindu


__ADS_3

Jangan lupa like, vote dan favorite ya.


Selamat membaca!


Maaf jika ada salah kata.


πŸŒƒπŸŒƒπŸŒƒ


"Assalamualikum!"


Suara itu? Aku yang sedang memasak di dapur menghentikan aktivitasku sebentar. Ku temui pemilik suara di balik pintu utama.


"Mas Abi?" Aku langsung berlari ke dalam pelukannya. Akhirnya, kamu pulang juga. Ku fikir dia tak jadi pulang karena seharian ini tak ada kabar. Mas Abi membalas pelukan ku dengan erat, di kecupnya keningku dalam untuk membayar kerinduan yang terpendam beberapa hari ini.


"Kangen banget, ya?" Aku mengangguk masih dengan posisi yang sama. Tanpa ku sadari beberapa pasang mata tengah mengawasi kami.


"Ehem! Suami datang itu diajak masuk, ni. Bukan dipeluk peluk di depan pintu kayak gitu. Nggak lihat ini sudah malam?" Aku yang mendengar ucapan kak Fajar langsung melepas pelukan itu. Malu sekali rasanya. Soalnya, bukan mas Fajar saja tapi, ada mama dan papa juga.


"Hehe..maaf! Yuk mas ke kamar" ajakku


"Agresif banget sih ceweknya. Langsung ngajak ke kamar. Nggak tahu apa suami mu masih capek" lagi lagi aku dibuat malu dengan kata kata kak Fajar. Ingin sekali ku tendang dia sekarang!


"Fajar! Suka sekali kamu menggoda adikmu itu!" Yes, papa membelaku.


Saat di kamar..


"Sayang bisa bantu mas buka baju?" aku mengangguk. Perlahan demi perlahan kancing baju terbuka. Perut kotak kotak mas Abi nggak kelihatan ya, karena terlapis kaus doreng yang masih melekat di tubuhnya. Ku letakkan baju kotornya di sebuah keranjang. Lalu aku beranjak ke dapur melanjutkan acara masak memasak yang terhenti.


Ku letakkan berbagai masakan yang sudah matang di atas meja makan. Tinggal horeng ayam, batinku. Ketika sedang asyik menggoreng tiba tiba sebuah tangan melingkar dipinggangku. Kalian pasti tahulah siapa pelakunya. Ya, mas Abi. Dia meletakkan dagunya di atas bahuku dan mendaratkan beberapa ciuman di sana. Sehingga, membuatku geli.


"Ish, jangan gini mas. Nanti dilihat yang lain. Aku malu!" Tak ada respon sedikitpun darinya.


"Mas, lepas!" Kali ini aku berkata dengan nada tinggi.


"Sebentar saja. Mas sangat merindukanmu" kata kata itu terlontar dari dalam mulutnya sehingga membuatku luluh.


"Cie..kak Abi sama kak Ani..cie.." suara cempreng Ica mengisi seisi dapur. Dengan cepat dia melepas pelukannya dari pinggangku.


"Tuhkan dibilangin juga apa!" Kesalku. Dengan santainya dia duduk di meja makan tanpa ada raut wajah bersalah. Sedangkan Ica terus menggodaku. Hingga membuatku merasa sangat begitu kesal.


Bruk!

__ADS_1


Ku letakkan tumpukan piring dengan kencang ke atas meja sehingga, membuat seisi rumah mencari dimana asal suara itu.


"Ada apa?" Tanya mama.


Aku meringis dan menggeleng. Mama membuang nafas lega.


"Mama fikir gas meledak"


Semua orang sudah berkumpul di meja makan dan saatnya makan malam dimulai. Ku sendokkan nasi ke piring mas Abi.


"Mau pake lauk apa, mas?" Mas Abi menunjuk pada sayur cahkangkung dan ayam goreng.


"Makasih sayang" aku tersenyum. Kini giliranku yang mengambil makanan.


"Mama tahu nggak. Tadi kak Abi sama kak Ani pelukan di dapur" aku yang mendengar perkataan Ica tersedak tiba tiba. Air putih yang sempat ku tuang tadi ku minum hingga habis. Anak ini benar benar!


Sedangkan mas Abi yang mendengar itu ya, biasa saja. Tak ada raut wajah malu ataupun bersalah.


"Kalian sudah menodai mata suci Ica" kata kak Fajar sinis.


"Sirik, ya?" Ledekku


"Nggak! Ngapain sirik, aku nanti bakal ngerasain juga"


"Apa? Ku doakan matamu loncat sekarang juga!" Emosiku.


"Kalian ini apa apaan coba. Nggak malu apa sama umur. Udah tua juga masih pada ribut" seketika kami langsung terdiam mendengar ucapan papa. Mas Abi yang sedang duduk di sebelahku senyum senyum sendiri melihat perkelahian singkat ku dengan kak Fajar.


Ku letakkan piring piring kotor ke dalam washtafel untuk di cuci. Lalu setelah itu, ku bersihkan sisa sisa makanan tadi. Sekiranya yang masih tahan dan tidak basi sampai besok ku letakkan ke dalam kulkas. Selesai pekerjaan di dapur aku membersihkan diri mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya. Karena adzan isya sudah berkumandang sedari tadi.


"Kamu udah selesai sayang?" Tanya mas Abi setelah aku selesai sholat. Aku mengangguk dan berbaring di sampingnya.


"Berarti bisa, dong?" Tanyanya sambil memelukku. Hm..aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Kasihan juga sih suamiku ini. Berminggu minggu sudah menunggu, batinku.


"Boleh?" Aku mengangguk.


(Dan selanjutnya hanya mereka berdua dan Allah yang tahu).


.....


Suara adzan subuh berkumandang dengan jelas di telingaku. Telihat mas Abi masih tidur dengn pulas sambil memelukku erat. Ku usap pipinya seraya terus membangunkan. Namun, nihil. Bukannya bangun dia malah mendengkur keras. Huft, benar benar kok mas Abi ini!

__ADS_1


"Mas, bangun!" Ku goyangkan tubuhnya dengan kencang hingga dia bergerak. Mas Abi mengerjap ngerjapkan matanya mencoba mengumpulkan nyawa.


"Udah subuh ya sayang?" Aku mengangguk lalu menyandarkan tubuh ke punggung kasur. Lelah sekali rasanya tubuhku seperti, habis di gebuki oleh orang satu kampung.


"Capek, ya?" Diletakkan kepalanya dipangkuanku. Masih saja dia bertanya, batinku.


"Hm.." mas Abi tersenyum puas. Kenapa lagi dia tersenyum begitu? Menyebalkan!


"Sana mandi, mas. Kamu ditungguin papa mau ke masjid" dia langsung beranjak mengambil handuk lalu keluar kamar menuju kamar mandi.


.....


"Mas udah pulang?" ku salami punggung tangan mas Abi yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia mengangguk dan meletakkan sajadah serta pecinya ke atas meja.


"Mau aku buatin teh atau kopi?" Bukannya menjawab dia malah mendorongku hingga terjatuh ke atas kasur. Apa apaan? Melihat ekspresi kagetku mas Abi malah menjatuhkan tubuhnya di sampingku lalu memeluk ku kuat.


"Apaan sih mas?" aku memberontak. Namun, dia malah mendekapku dengan kencang.


"Melepas rindu seperti tadi malam, mau?"


"Nggak! Udah ya, aku capek!" Aku berdiri namun tanganku langsung ditarik oleh mas Abi sehingga jatuh ke atas tubuhnya.


"Sebentar saja" bujuknya.


"Nggak ya mas!" Kini mataku sudah membulat.


"Apa? Iya. Yaudah ayo" Mas Abi langsung mebalikkan tubuhnya sehingga posisi kami berbalik. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan dan ekspresi ku saat ini.


(Dan terjadi lagi). Jangan terlalu difikirkan ya, author adain adegan gitu supaya nggak hambar ceritanya. Author masih kecil juga sebenarnya, nggak bagus mikir kayak gitu. Cuman disini Author pengen menghibur pembaca supaya yang baca nggak bosan. Maaf ya :).


.


.


Bersambung


.


.


πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


Hai semua! Jangan lupa like, vote dan favorite. See youπŸ‘‹


__ADS_2