
tepat 10 hari sudah aku menganggur, berdiam diri di rumah, merenung, berfikir kenapa takdir tidak berpihak kepadaku kali ini. Aku sudah bercerita pada keluargaku tentang masalah yang ku alami.
Papa dan mama terus memberikan semangat mereka tidak menyalahkanku tentang apa yang terjadi. Meski begitu, aku melihat kekecewaan di wajahnya. Hal itu yang aku tidak bisa tahan, hal itu yang membuat air mataku terus menetes.
Aku tidak menyesal dengan pilihan yang sudah ku ambil. Aku hanya membenci kenapa aku bisa bekerja dengan orang seperti pak Andi yang begitu mudahnya dia menjatuhkanku dan menghancurkan karirku, Karir yang ku bangun bertahun tahun dan dengan mudahnya dia memecatku bahkan tanpa diberi pesangon sedikitpun dengan kerja keras yang ku lakukan selama ini demi perusahaannya.
...........
Malam ini aku berada di sebuah cafe
bersama Rahmah. Entah kenapa, tiba tiba dia mengajakku makan malam. Ku terima ajakannya karena ingin mengadu kepada Rahmah tentang masalah yang kualami saat ini. Aku menangis dalam pelukannya. Rahmah tampak bingung, tapi dia terus menenangkan ku.
"Hiks...hiks..hiks..." isak tangisku. Seolah tahu perasaanku Rahmah mempererat pelukannya. Di usapnya punggungku dengan halus.
"menangislah jika akan membuatmu tenang" Dia terus memelukku membiarkan pundaknya basah karena air mata ini.
"sudah tenang?" tanyanya setelah ku lepas pelukan itu.
Aku mengangguk.
"makasih ya, mah" kataku
"sama sama, ni. Coba deh sekarang kamu cerita" pintanya
"aku dipecat dengan sebelah pihak, mah. Bahkan aku tidak diberi pesangon sedikit pun. Hiks..hiks.." jawabku.
Di raihnya tanganku. Rahmah menggemnya seolah memberi kekuatan lebih padaku.
"alasannya apa? Kalau aku boleh tahu" tanyanya
Akupun menceritakan kejadian awal hingga akhirnya, aku dipecat. Mendengar itu Rahmah sangat kaget.
"benar benar tidak waras pak Andi itu!" kata Rahmah emosi
Lagi lagi tangisku pecah.
"sabar, Ani. Ada hikmah di balik semua ini" kata Rahmah sambil memeluk dan mengusap punggungku.
"sayang?" panggil seseorang tiba tiba dari arah belakang. Ku lepas pelukan Rahmah dan ku palingkan wajah menatap sang pemilik suara. Mas Abi, batinku. Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia masih berlayar?
Aku sungguh kaget dibuatnya, dia datang bersama Bayu masih dengan pakain dinas lengkapnya, mereka membawa sebuket bunga dan coklat.
Menyadari itu langsung ku palingkan wajah ke arah lain dan segera ku seka air mata yang deras mengalir saat ini. Namun, sia sia mas Abi menyadarinya. Di tariknya wajahku dan di tatapnya lekat.
"kamu nangis? Kenapa?" tanyanya
__ADS_1
Ku tepis tangannya dan menunduk.
"ada apa ini, sayang?" tanya Bayu pada Rahmah. Namun, dia membisu tidak menjawab pertanyaan Bayu.
"Hei, lihat mas" pinta mas Abi padaku
Aku menggeleng. Tiba tiba mas Abi berlutut dihadapanku.
"lihat mas" pintanya sekali lagi dengan begitu lembut.
Akhirnya, aku memberanikan diri menatap wajahanya. Dia tersenyum. Melihat itu aku langsung memeluk tubuhnya erat. Aku tahu di dalam hatinya banyak sekali pertanyaan.
"ada apa?" bisiknya di telingaku. Aku masih diam, didekapnya aku dalam dadanya. Aku merasakan sebuah kecupan halus mendarat di kepalaku.
"jangan buat mas panik" bisiknya lagi.
"aku hanya merindukan mas" kata ku masih dalam pelukannya. Di lepas pelukan itu. Mas Abi menatap mataku lalu seketika mengernyit.
"kamu bohong" katanya. Aku terdiam.
"Rahmah, pasti kamu tahu sesuatu kan?" tanya mas Abi pada Rahmah. Namun, dia
diam menatapku.
"ceritakan saja, sayang" pinta Bayu pada Rahmah. Akhirnya, Rahmah menceritakan hal yang terjadi padaku. Aku melihat raut wajah kekesalan di mata mas Abi.
Aku mengangguk.
"kurang ajar!" Aku melihat mas Abi mengepalkan tangannya. Melihat itu ku raih tangan mas Abi dan ku usap halus, dia menatapku.
"jangan menangis. Sekarang sudah ada mas" di usapnya sisa sisa air mata yang masih membasahi pipiku. Aku mengangguk dan tersenyum.
"kenapa kalian bisa ada disini?" tanyaku
"tanya saja pada Rahmah" sahut bayu sembari merangkul Rahmah mesra.
"maksudnya?"
Rahmah nyengir.
"aku sebenarnya mau kasih tahu kamu tapi, Abi ngelarang. Katanya mau kasih kamu surprise. Makanya, aku ajak kamu makan. Eh ternyata situasi kamu sedang tidak baik. Maaf ya" jelas Rahmah
Hem, ternyata mereka punya rencana di belakangku. Pantas saja mas Abi
seharian tidak ada kabar.
__ADS_1
"untuk mu, sayang" mas Abi menyodorkan sebuket bunga dan coklat, ku raih itu dan tersenyum
"terimakasih mas" kataku
Bayu tidak mau kalah dong dia juga membawakan hal yang sama untuk Rahmah.
"terimakasih kak" kata Rahmah
......
Saat ini aku sudah berada di dalam mobil mas Abi. Karena malam semakin larut aku memintanya untuk mengantarkanku pulang. Rahmah dan Bayu pulang menggunakan taxi. Padahal, mas Abi sudah menawari tumpangan tetapi, mereka menolak. Mungkin ingin berduaan. Wkwk..
"jangan terlalu difikirkan, ya" kata mas Abi sambil mengusap kepalaku.
"iya mas" jawabku
"kapan kamu siap untuk foto priwedding?" tanyanya tiba tiba sambil terus fokus pada jalan.
"foto priwedding? Untuk apa?" tanyaku kaget
"untuk kita lah sayang" jawabnya
"tidak usah berlebihan mas"
"apanya yang berlebihan? Hanya foto!" serunya
"tidak pakai itu tidak jadi masalah, bukan?" tanyaku
"tapi mas ingin" di rainya tanganku lalu di kecupnya sekilas.
"ish..selalu begitu" Aku tahu itu cara dia merayuku agar mau.
"hahaha...mau ya?" masih tetap menggenggam tanganku
"ikut saja lah aku" jawabku pasrah
mas Abi tersenyum puas.
"nggak usah senyum begitu. Ku pukul mukamu lama lama!" kataku agak sedikit emosi
"galak betul!" lirihnya pelan tapi, masih terdengar di telingaku, dengan cepat ku pukul lengannya. Dia mengaduh.
"jahat sekali kamu" wajahnya seketika memelas. Aku yang melihat itu merasa tak tega.
"maafkan aku, mas" ku usap lengannya dengan lembut. Dia tersenyum.
__ADS_1
.......
Hai semua! Jangan lupa like dan vote ya. See you. Maaf jika ada salah kata.