
Tidak terasa 1 minggu lagi aku akan pengajuan nikah. dan itu berarti tersisa waktu kurang lebih 3 minggu sebelum menuju akad, Persiapan pun belum 50% jadi. Gedung belum di booking, katering belum di pesan, undangan juga belum dipilih apalagi di cetak, dan souvenir belum di beli. Ah, kepalaku benar benar sakit!
"sudah sampai mana persiapan nikahan kamu, ni?" kak Fajar duduk dihadapanku dan meraih piring. Saat ini kami sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama.
"50% pun belum ada, kak" seketika aku menjadi lesu
"terus rencana kamu hari ini apa?" sendok yang berisi makanan di masukan ke dalam mulutnya
"rencana sih mau booking gedung dulu kak, terus urus undangan" ku raih segelas susu hangat dan ku minum. Kak Fajar mengangguk.
"kak Ani, Ica boleh nggak sekolah diantar sama kakak" kata Ica yang duduk di sebelahku.
"kak Ani hari ini sibuk, ca. Jadi, kamu berangkatnya bareng kak Fajar aja" sahut papa
Ica mengangguk.
Tring..tring..tring..! ponselku yang berada di meja makan berdering. Tertulis nama si penelfon, mas Abi.
📲mas Abi
"assalamualaikum, selamat pagi sayang?"
📲aku
"waalaikumusallam, pagi juga mas. Ada apa?"
📲mas Abi
"maaf mas hari ini nggak bisa temanin kamu, ya. Mas berlayar lima hari sayang"
📲aku
"loh kok gitu?!"
📲mas Abi
"jangan emosi dulu dong"
📲aku
"ya gimana nggak emosi. Inikan nikahan kita masa iya aku nyiapin sendiri! Mikir kek!"
📲mas Abi
"mas kan nggak bilang kamu yang nyiapin sendiri. Mas cuman bilang nggak bisa temenin kamu aja"
📲aku
__ADS_1
"udah deh nggak usah berbelit belit"
📲mas Abi
"nanti kamu ditemenin Anisa untuk ngurusin gedung dan undangan. Nggak papa ya, sayang?"
📲aku
"hmm!"
📲mas Abi
"nanti mas telfon lagi ya. Asaalamulaikumu"
📲aku
"waalaikumusallam"
Mood ku mendadak berubah. Aku kesal dengan mas Abi bisa bisanya dia berlayar di saat saat seperti ini. Huh!
tapi kalau ku fikir fikir ini juga bukan sepenuhnya salah dia, mas Abi hanya menjalankan perintah dari komandannya. Ya, tapi, kan dia bisa mengambil cuti nikah. Ah, entahlah!
Sudah resiko ku menjalin hubungan dengan seorang abdi negara. Semoga aku selalu diberi kesabaran lebih.
"kenapa, ni?" mama penasaran karena melihat raut wajahku kesal setelah mendapat telfon dari mas Abi
"mau kak Fajar temenin?" sahut kak Fajar
"nggak usah, kak. Nanti adeknya mas Abi yang temenin aku"
.....
"kakak ipar umurnya berapa?" saat ini aku dan Anisa sudah berada di dalam mobil
"23. Kamu?" mataku terus fokus pada jalan. Kali ini aku yang menyetir mobil mas Abi.
Oh iya, aku lupa memberi tahu. Mobil pemberian kantor sudah ditarik tepat malam harinya setelah kejadian itu.
"22. Berarti kita cuman beda satu tahun dong!" serunya sambil menatapku.
"iya. Jadi kita kalau ngomong santai aja." ku lihat balik wajahnya.
"anggap aja kita teman" sambungku
"akhirnya, aku punya teman" dipeluknya lenganku.
"kok kamu mau sih sama kak Abi? Aku kalau jadi kamu udah mikir dua kali" tanyanya tiba tiba sambil melepas pelukannya
__ADS_1
"loh kenapa? Kakak mu itu baik, ganteng, bertanggung jawab dan rajin sholat lagi"
"ya tetap aja. Dia itu, galak, nyebelin, suka marah tapi, kalau sama aku sih" seketika wajahnya berubah menjadi cemberut. Aku tertawa.
"kenapa kamu ketawa?" dia mengernyit heran
"kamu sama banget kayak aku, suka jelek jelekin kakak sendiri"
"kamu punya kakak?"
Aku mengangguk
"kakak ku lebih tua 1 tahun dari mas Abi" sambungku seraya melihat kearahnya. Dia terkejut dan langsung menatap ke arahku.
"tapi kok waktu lamaran kakak kamu nggak ada?"
"hem..dia lagi jaga di kantor" ku palingkan lagi wajahku menghadap jalan. Anisa mengangguk faham.
"BTW, kamu kenal sama kak Abi dimana sih?" dia memiringkan posisi duduknya sehingga menghadap ke arahku.
"kami kenal di sosmed" aku meliriknya sekilas
"kok bisa? Yang chat duluan siapa, kamu atau kak Abi?" rasa penasaran Anisa mulai membara.
"ya kakak mu lah. Aku ini orangnya gengsian. Jadi, mana mungkin chat duluan" jawabku jujur
"ceritain dong!" di pegangnya lenganku sambil memohon. Akupun menceritakan semua kejadian saat pertama kali kenal mas Abi hingga akhirnya sampai menjadi seperti ini.
"ooo, jadi awalnya gara gara follow followan" Anisa mengangguk faham setelah aku selesai bercerita. Aku mengangguk.
"kita mau ke gedung mana ini?" tanyaku
"lah kamu nggak dikasih tahu kak Abi?" dia heran. Bagaimana mau dikasih tahu orang tadi kami berdebat, batinku.
Aku menggeleng.
"jangan bilang kamu lagi berantem sama kak Abi?" dia menunjuk mukaku dengan menyipitkan matanya
"dalam hubungan udah biasa kali berantem" jawabku. Dia menurunkan jari telunjuknya dari hadapanku.
"nih alamatnya. Tadi kak Abi sempat kirimin ke aku" dia menyodorkan ponselnya padaku. Langsung saja kami menuju ke alamat itu.
.......
hai, jangan lupa vote vote vote. Like like like. Rate rate rate. Favorite favorite favorite. Tq☺
see you👋
__ADS_1