Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
Ica Nggak Peka


__ADS_3

Hai Author up lagi nih. Jangan lupa like, vote dan favorite.


Selamat membaca!


Mohon maaf jika ada salah kata di dalamnya


πŸŒ›πŸŒ›πŸŒ›


Suasana gedung tampak ramai. Aku dan mas Abi sudah bersiap untuk melalukan upacara pedang pora. Tampak gagah mas Abi mengenakan seragam PDU, ku rapikan sedikit bajunya yang agak lecek. Sempurna!


Para prajurit sudah berjejer rapi di hadapan kami dan saatnya upacara pedang pora dilakukan. Aku berjalan di tengah tengah mereka. Ku ikuti langkah mas Abi dengan perlahan.


Author nggak terlalu tahu tentang upacara pedang pora. Jadi, skip aja ya! Takut salah.


(Beberapa saat setelahnya)


"Ya allah, Ani. Selamat ya" Rahmah memelukku dengan kencang. Saat ini aku dan mas Abi sudah berada di atas panggung duduk di kursi pelaminan.


"Doain aku biar cepat nyusul" bisiknya.


"pasti" aku tersenyum dan membalas pelukannya


"Selamat ya, pak!" Bayu menepuk pundak mas Abi


"Terimakasih, cepat halalin Rahmah" bisik mas Abi pada Bayu namun, masih terdengar jelas di telingaku dan Rahmah.


🌻🌻🌻🌻


Sudah hampir satu jam aku berdiri rasanya kaki ku sangat begitu penat, belum lagi high heels yang ku pakai cukup tinggi.


"Kamu kenapa?" Bisik mas Abi melihat tingkahku yang sedari tadi ingin mencoba memegang kaki


"Kaki ku sakit mas" ku tatap wajahnya denga muka melas


"Bilang kek dari tadi. Mas carikan sandal dulu"


"Eh! Nggak usah. Nggak papa kok" ku tarik lengan mas Abi yang sudah ingin pergi


"Yakin?"


Aku mengangguk


"Bukannya mas sakit?" Ku lirik dia sekilas


"Tadi. Sekarang sudah sangat baik. Apalagi kita sudah menikah" dia tersenyum penuh arti yang tak bisa ku artikan.


Ada ada saja!


"Kakak mu mana, sayang?" dia tampak bingung mencari sosok kak Fajar matanya terus menelusuri setiap sudut berharap menemukannya.


Ya, memang seharusnya kak Fajar duduk di atas panggung tepatnya di sebelah kananku dimana papa, mama dan Ica duduk.


Sedangkan, keluarga mas Abi duduk di sebelah kiriku disitu ada ayah, bunda dan Anisa.


"Dia ada tugas dari kantor yang benar benar urgent yang tak bisa ditinggalkan. Dua hari sebelum acara kak Fajar sudah bilang dan aku mencoba mengerti keadaan dan situasinya" jelasku


"Tumben nggak marah?"


"Sebenarnya marah. Cuman itu sudah jadi, tugasnya, menjalankan perintah atasan. Aku nggak bisa maksa kak Fajar untuk tetap di sini mengingat apa pekerjaannya. Yang penting pada saat akad tadi kak Fajar udah usahain dateng buat aku" Mas Abi tersenyum mendengar perkataanku.


🏠🏠🏠


Sudah hampir pukul 00.00 akhirnya kami sampai di rumah. Aku langsung membersihkan diri karena sudah sangat begitu lelah. Selesai mandi aku masuk ke dalam kamar, ku dapati mas Abi masih memakai seragam PDUnya, duduk di tepi kasur dengan mata menatap layar ponsel.


"Mas mandi dulu. Mumpung kamar mandi nganggur" ku tarik ponsel mas Abi.

__ADS_1


Dia kaget. Dan langsung menatapku intens.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Batinku


"Sayang mau menggoda mas?" Dia menarik pinggangku sehingga kepalanya menempel di perutku.


Deg...apa apaan dia?


"Kenapa kau memakai baju seperti ini? Hem?" Di peluknya perutku dengan kencang.


"Aku selalu seperti ini jika tidur"


Malam ini seperti malam malam sebelumnya aku memakai baju piyama lengan pendek dan celana pendek. Tak ada yang menggoda!


"Hem begitu? Tapi mas tergoda, bagaimana?" Dia mendongakkan kepala menatapku sedangkan aku menundukkan kepala menatapnya. Pandangan kami saling beradu


"Mandi sana loh! Kita belum sholat isya" aku mencoba melepas tangannya yang melingkar di pinggangku


"Mas!" teriakku karena dia telah menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya


"Jangan teriak. Nanti yang lain ngira mas ngapa ngapain kamu" bisiknya


"Emang di apa apain ini!" Seruku


mas Abi malah mengeratkan pelukannya!


"Mandi sana mas" Ku pukul lengannya.


"Aish, sakit sekali!" Dia meringis


"makanya mandi, bau tahu!" Seruku


"Bantu mas melepaskan baju" di angangkatnya tubuhku hingga berdiri


Dengan senang hati ku bantu. Ku lepas satu persatu kancing baju seragamnya yang dalamnya terlapis baju kaos putih polos. Setelah selesai, ku ambilkan handuk serta baju ganti untuknya.


Selesai sholat ku cium telapak tangan mas Abi di raihnya kepalaku lalu dia mendaratkan kecupan halus d keningku. Aku tersenyum. Rasanya masih tidak percaya bahwa aku sudah menjadi istri dari seorang Abi! Bahkan ini seperti mimpi.


Kulipat mukena serta sajadah yang tadi ku pakai. Aku duduk di meja rias mengoleskan lotion serta memakai liptint tipis.


"Sayang?" Mas abi tiba tiba merangkulku yang sedang duduk di kursi meja rias.


"Ya" ku dongakkan kepala menatapnya


"Mas lapar"


"Bukannya mas sudah makan tadi?" ku alihkan pandangan ke kaca. Terdapat pantulan kami di sana.


"Iya. Tapi laper lagi. Gimana dong" di kecupnya rambutku


"Yaudah. Aku buatin nasi goreng aja, ya?"


Mas Abi mengangguk. Aku langsung beranjak pergi ke dapur membuatkan nasi goreng untuknya.


Beberapa saat kemudian..


"Masih lama?" Sebuah tangan tiba tiba memelukku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan mas Abi pelakunya.


"Sudah jadi. Mas lepas dulu aku mau ambil piring" Dia melepas pelukannya dan duduk di meja makan.


"Nih, mas" ku serahkan piring berisi nasi goreng. Dia pun memakannya dengan lahap. Sepertinya mas Abi benar benar lapar, batinku.


"Pelan pelan mas. Nanti keseretan. Nggak ada yang ambil" ku tuangkan segelas air putih untuknya


"Ini masakan pertama istri mas. Jadi, mas harus memakannya dengan lahap" diraihnya air putih pemberianku dan diteguknya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Kak Ani?" Ica tiba tiba datang menghampiri kami di dapur. Kulihat jam sudah pukul 00.47


"Loh, Ca. Kenapa belum tidur?" Tanyaku yang merasa kaget


"Ica nggak bisa tidur, kak" dia ikut bergabung dengan ku dan mas Abi di meja makan


"Ica boleh ya tidur sama kakak?" Sambungnya


"Uhuk...uhuk..uhuk.." mas Abi tiba tiba tersedak. Segera ku beri dia minum


"Boleh ya, kak?" Di tatapnya wajahku.


Aduh! Bagaimana ini? Aku sih tidak masalah yang jadi masalah mas Abi. Aku takut mas Abi keberatan. Ku tatap wajahnya, dia tampak bingung menatapku.


"Ca, kak Ani sekarang tidurnya udah nggak sendiri lagi. Ada kak Abi yang nemanin kak Ani sekarang" jelasku


"Kak Abi Ica tidur bareng kalian ya? Plis" kali ini Ica memohon pada mas Abi dengan wajah melasnya. Mas Abi tersenyum tipis dan mengangguk.


"Yeeey...!" Serunya


"Yaudah sekarang Ica masuk kamar duluan" pintaku. Dia mengangguk.


"Maaf ya, mas" lirihku pelan setelah Ica pergi


"Iya, nggak papa sayang" di usapnya kepalaku. Aku tahu dia pasti kecewa. Mengingat malam ini adalah malam pertama kami sebagai pasangan pengantin baru.


"Udah makannya?" Tanyaku


Mas Abi mengangguk, akupun mengambil piring itu dan ku letakkan di washtafel


πŸ›πŸ•(di kamar pukul 01.30)


"Sayang?" Bisik mas Abi dibelakangku. Aku tahu sedari tadi dia belum tidur, tubuhnya terus bergerak kesana kemari sehingga membuat tidurku terganggu.


"Hm.." sahutku namun, mata terus terpejam


"Hadap sini dong" lirihnya pelan. Aku pun membalikkan badan mengahadap ke arahnya.


"Kok belum tidur, mas?" Ku usap pipinya dengan lembut


"Nggak bisa!" Dia memelukku hingga tak ada jarak diantara kami


Aku tersenyum.


"Kok senyum. Seneng ya, nggak kasih hak mas?"


"Apaan sih mas. Udah tidur! Besok pagi kita ke bandara kan, nanti kesiangan" Ku tenggelamkan kepalaku di dadanya.


Aku dan mas Abi berencana ikut ayah dan bunda ke rumah mereka yang ada di kota Y. Mumpung, mas Abi masih cuti.


"Adek kamu ini benar benar nggak peka sama kaka ipar sendiri" gerutu mas Abi


"Ya mana dia tahu" sahutku dengan mata masih terpejam


"Mas benar benar nggak bisa tidur ini" dia menghujaniku dengan ciuman. Aku mulai risih dibuatnya


"Ish, mas!" Kali ini mataku melotot menatapnya. Dia tampak lesu.


"Kalau mas nggak bisa diem. Tidur di luar!" ancamku


"Nggak mau"


"Yaudah tidur sekarang!"


"Awas kamu ya!" Dia mulai memejamkan mata hingga kami benar benar tertidur pulas.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hai semua! Jangan lupa like, vote dan favorite. See youπŸ‘‹


__ADS_2