
Pukul 07.25 aku sampai di kantor, aku berjalan menuju ruanganku. Kantor masih sangat begitu sepi karena aku berangkat cukup pagi. Sengaja, agar bisa lebih santai di kantor.
Setibanya di ruangan terlihat sebuket bunga yang tergeletak di kursi kerjaku. Kuraih bunga itu dan ada sebuah surat kecil yang bertulis "to Ani Lutfia :)". Untuk ku? Dari siapa?
Aku keluar ruangan mencoba mencari seseorang, aku menemukan pak Agus OB perusahann. Aku bertanya padanya apakah dia tahu siapa yang mengirimkan bunga ini, ternyata dia baru datang dan otomatis tidak tahu.
Hem...sudah dua kali aku mendapatkan kiriman. Pertama kopi dan kedua bunga. Siapa sebenarnya yang mengirim semua ini?
.....
"kalian tahu nggak beberapa hari ini aku dapat kiriman dari seseorang. Pertama kopi dan kedua bunga. Entah dari siapa" kataku bercerita pada Rangga dan Nana. Saat ini kami berada di cafe dekat kantor kerena sudah masuk jam makan siang.
"oh ya? Jangan jangan kamu punya penggemar rahasia" sahut Nana
"idih..jaman sekarang masih ada kayak begituan, norak!" timpal Rangga
"kenapa sih kamu Rang, kalau aku ngomong ngegas terus?" tanya Nana padanya
"siapa yang ngegas?! Kamu nggak jelas!" seru Rangga
"kalian ini, bukannya bantuin kek nyari orangnya eh, malah berantem!" sahutku agak sedikit kesal.
Seketika mereka langsung terdiam.
"tapi, tunggu! Kemungkinan besar semua itu dari cowok, kalau menurut aku" kata Rangga tiba tiba.
"kenapa kamu bisa nebak begitu?" tanyaku
"ya fikir aja, ni. Masa ada cewek yang ngirimin kamu begituan" jawab Rangga
Aku mengangguk faham. Ada benarnya juga sih, apa yang dikatakan Rangga.
.....
jam menunjukkan pukul 16.45 pertanda sudah waktunya pulang. Ku naiki lift menuju lantai 1. Namun, tidak ku sangka ternyata ada pak Andi di dalamnya. Sebelumnya aku tersenyum sambil memberi hormat lalu, masuk ke dalam lift.
"Ani?" panggilnya memecahkan keheningan
"iya pak" sahutku
__ADS_1
"kamu sudah terima bunga pemberian saya?" tanyanya yang membuatku kaget.
"i..itu dari bapak?" tanyaku
"iya dari saya. Kamu suka?"
Tiba tiba aku teringat kopi itu.
"apa jangan jangan kopi kemarin dari bapak juga?" tanyaku
"iya" jawabnya santai.
Aku terdiam. Tiba tiba ting...lift terbuka. Aku enggan berlama lama di dalam lift bersama pak Andi. Dengan cepat ku langkahkan kaki keluar dari lift tanpa pamit dan berkata kata apapun lagi.
Untuk apa pak Andi melakukan semua itu?
"Ani!" panggil seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah pak Andi. Aku menoleh ke arahnya.
"iya pak. Ada apa?"
"kamu kenapa tidak menjawab pertanyaan saya?" tanyanya sembari mengahampiriku.
"bunganya apa kamu suka?"
"untuk apa bapak memberi saya semua itu?" tanyaku
"karena saya menyukai mu"
Deg...
Apa dia kalau bicara tidak difikir dulu? Ku tarik nafas dalam dalam mencoba rilex. Aku benar benar tidak percaya dengan ucapan pak Andi barusan.
"kamu keberatan?" sambungnya
"bapak tahu kan saya sudah bertunangan dan sebentar lagi saya akan menikah? Untuk apa bapak lakuin semua itu"
"saya tahu. Saya bisa kasih kamu semua hal yang kamu inginkan. Jadi, batalkan pernikahan kamu" pintanya
Apa dia tak salah bicara?! Benar benar tidak waras!
__ADS_1
"sayangnya saya bukan wanita seperti itu" sahutku kesal
"coba buka hati kamu sedikit untuk saya, Ani"
Sejenak aku terdiam dan kehabisan akal untuk menjawab semua perkataannya.
"nampaknya kamu sangat mencintai kekasihmu itu, ya?" tanyanya
"sangat" jawabku tanpa ragu.
"baiklah saya tidak akan memaksamu. Tapi, kamu tahu bukan disini saya siapa"
Aku mengernyit tak faham dengan ucapannya.
"maksud bapak?" tanyaku
"saya kasih kamu dua pilihan. Yang pertama terima saya, dan jabatan kamu akan naik menjadi. Yang kedua, kamu bisa tolak saya tapi, detik ini juga kamu saya pecat. Pilihan yang menarik bukan?"
Deg..
Kali ini aku benar benar kaget dibuatnya. Apa lagi ini? Aku tak habis fikir dengannya.
"bagaimana bisa bapak mencampuri urusan kantor dengan urusan pribadi!" kataku protes
"saya direktur utama. Jadi, saya yang berkuasa. Pilih lah, satu atau dua?" tanyanya lagi
Ini benar benar pilihan yang sulit. Bagaimana bisa karir yang ku bangun bertahun tahun rusak begitu saja karena pria macam dia?!
"keputusan saya bulat. Saya tidak akan pernah mau menghianati calon suami saya. Meskipun, nyawa saya yang harus di korbankan, bapak faham?!" kataku penuh amarah
Aku mencoba menahan air mata agar tidak menetes dihadapan pak Andi. Aku tidak ingin dia berfikir bahwa aku mengambil keputusan dengan terpaksa.
"baiklah, ternyata kamu tidak sepintar yang saya kira. Kemasi barang barang kamu sekarang juga dan jangan pernah injakan kaki kamu di perusahaan ini lagi!" katanya penuh penekanan, lalu beranjak pergi dari hadapnku.
Kali ini aku tidak bisa lagi menahan air mata. Karir ku saat ini hancur bahkan tidak ku duga akan hancur seperti ini, di hari ini dan di tengah tengah kebahagiaan ku yang akan segera menikah.
......
Hai semua! Maaf up nya lama. Jangan lupa terus like dan vote. Dan maaf kesalahan di bab sebelumnya.
__ADS_1
Author akan lanjutkan cerita ini jika kalian selalu like dan vote. Tq☺