Arsitek Dan AL

Arsitek Dan AL
Mas Abi marah


__ADS_3

Dengan semangat 45 ku awali pagi ini. Hari ini, aku resmi menjadi seorang manager. Ah, senangnya. Tapi, aku masih merasa sangat begitu kesal dengan kejadian semalam. Aku bahkan belum membuka ponselku sampai sekarang. Aku tahu, pasti mas Abi mengirim banyak pesan WA.


"kak Ani, ica ikut ya" kata ica saat aku sedang sarapan.


"hem..." sahutku


setelah ku rasa cukup aku pamit kepada papa dan mama tidak lupa mencium tangan mereka.


"selamat pagi ibu manager!" sapa Rangga setibanya aku di kantor


"ish..jangan gitu dong, Rang. Aku tetap Ani yang seperti biasa" sahutku


"tapi, bener kan sekarang udah jadi ibu manager?" tanyanya yang terus menggoda


"iya. Tapi, jangan berlebihan gitu ah. Ngomong ngomong Nana mana?" tanyaku


"nggak tahu nih, telat kali"


"yaudah, aku ke ruangan dulu ya" pamitku


"siap ibu Ani!" serunya


Aku tersenyum dan berjalan menuju ruangan baru yang tidak jauh dari meja kerjaku dulu. Ku lihat dan ku pandang setiap sudut ruangannya sangat bagus dan besar di atas meja juga sudah tertulis namaku. Manager perancangan Ani Lutfia, ST. Begitu.


Ku dudukkan tubuhku di kursi kerja, ku raih dan ku nyalakan ponselku. Saat sudah menyala terlihat banyak pesan masuk dari mas Abi disertai dengan panggilan suara. Aku memutuskan untuk melihat chatnya.


๐Ÿ“žWA:


๐Ÿ“žmas Abi


"kok dimatiin telfonnya?"


"mas belum selesai ngomong"


"sayang?"


"sekarang malah nggak aktif"


"mas cuman bercanda sama adek kamu"


"nggak ada maksud apa apa"


"masa sih cemburu sama adek sendiri? Nggak lucu sayang"


Apa? Masa iya aku cemburu dengan ica? Ah, sudah lah ngapain difikirin aku harus fokus kerja.


tok..tok..tok...!! (suara ketukan pintu)


"masuk" sahutku


"maaf bu mengganggu, pak Andi minta desain yang baru untuk proyek di Bandung" kata Luna salah satu staf di kantor.


"ooo iya. Ini desainnya bisa kamu kasihkan ke beliau" kataku sambil menyerahkan kertas gambar.


"baik bu, saya permisi"


Aku mengangguk dan setelah itu dia keluar.


tring..tring..tring! (panggilan masuk dari mas Abi) jujur, aku sangat malas untuk mengangkat telfonnya. Tapi, aku berfikir sejenak jika tidak ku angkat pasti akan membuat masalah jadi semakin besar.


๐Ÿ“ฒmas Abi


"assalamualikum?"


๐Ÿ“ฒaku


"waalaikumusallam"


๐Ÿ“ฒmas Abi


"sibuk ya?"


๐Ÿ“ฒaku


"lumayan. Ada apa?"


๐Ÿ“ฒmas Abi


"nggak ada apa apa, cuman mau denger suara kamu aja. Sayang, video call yuk?"


๐Ÿ“ฒaku


"boleh"


langsung ku alihkan panggilan ke video call.


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"hai๐Ÿ‘‹ sayang๐Ÿค—"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"๐Ÿ™‚"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi

__ADS_1


"kok gitu banget sih mukanya?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"kenapa?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"ya kamu yang kenapa?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"nggak papa. Emang kenapa?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"aku udah minta maaf loh. Aku nggak mau ribut ribut gini ah"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"iya..aku juga minta maaf" (aku sadar kalau marah ku ini nggak jelas. Sudah seperti anak anak, jujur aku memang merasa sedikit cemburu dengan ica)


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"๐Ÿ˜Š. Iya, nggak papa"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"โ˜บ. Yaudah, aku sambil tinggal kerja ya?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"iya, arahin kameranya ke muka kamu"


Kuletakkan ponselku dihadapanku agar mas Abi bisa melihat wajahku. Dan aku mulai bekerja. Mas Abi terus memperhatikan wajah ku dengan senyum manisnya. Jujur, aku merasa agak sedikit risih diperhatikan seperti ini.


Namun, tiba tiba pak Andi masuk ke ruanganku. Aku yang melihat itu langsung berdiri memberi hormat.


"kamu sibuk?" tanyanya


"sedikit pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"hem...ada waktu buat makan siang bareng?"


deg....******! Mas Abi pasti denger karena telfonnya masih nyambung. Bagaimana ini?


"sepertinya tidak bisa, pak"


"kenapa?"


"kerjaan saya masih banyak" jawabku berbohong.


"inshaallah pak"


"baikalah Kalau begitu saya kembali keruangan"


Aku mengangguk. Kulirik ponsel yang berada di atas meja. Aduh, bagaimana jika mas Abi marah, batinku.


Ku ambil ponsel itu dan disitu terlihat wajahnya begitu datar tidak sama seperti sebelumnya.


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"mas?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"hem..."


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"maaf, yang tadi"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"siapa?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"direktur utama tadi mas"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"ada hubungan apa kamu sama dia?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"nggak ada apa apa mas. Aku juga nggak tahu kenapa dia ngajak makan. Baru juga kenal kemarin"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"aku nggak suka kamu deket deket sama dia. Jangan terima ajakan makannya"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"tapi kalau dia maksa gimana mas"

__ADS_1


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"kamu kan bisa cari alasan. Bila perlu kasih tahu dia kalau kamu sudah punya pacar"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"mas marah ya?"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"ya iyalah, marah. Kamu aja marah aku cuman bercanda sama adek kamu. Fikir aja sekarang gimana perasaan aku"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑaku


"yaudah maaf. Jangan marah gitu dong"


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ฑmas Abi


"hem...yaudah mas ada kerjaan, assalamualaikum"


tut..! video call berakhir. Ku hembuskan nafas dengan kasar. Bagaimana ini, mas Abi sangat marah. Kenapa juga pak Andi ngajak aku? Ah, entahlah.


Kuputuskan untuk mengirim pesan WA padanya.


๐Ÿ“žWA:


๐Ÿ“žaku


"mas?"


"jangan marah dong :("


"demi allah, aku nggak tau kenapa dia ngajak makan"


"kalau kamu udah baca wa aku telfon ya:)"


lama aku menunggu tapi tidak ada balasan. Mungkin ku biarkan dulu emosinya meredam.


.....


Sampai sekarang bahkan tidak ada balasan dari mas Abi, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya aku terus menunggu hingga jam sudah menunjukkan pukul 16.30 (waktunya pulang). Ku bersihkan barang barangku yang masih berada di atas meja. Setelah itu aku keluar ruangan. Ku lihat Rangga masih asyik mengerjakan sesuatu.


"Rang udah sore loh. Kok belum pulang?" tanyaku


"eh..kamu, ni. Iya nih kayaknya aku lembur"


"semangat dong"


"udah di semangatin sama ibu manager langsung semangat nih" candanya


"bisa aja kamu!"


"Nana kemana kok dari tadi nggak kelihatan?" tanyaku


"nggak tahu. Ku telfon juga nggak di angkat"


"kok tumben ya, yaudah deh aku duluan ya. Assalamualaikum" kataku, Rangga memabalas salam lalu setelah itu aku beranjak pergi.


Saat aku sampai di lantai satu tiba tiba salah satu karyawan memberi tahuku bahwa aku di panggil oleh pak Kevin dan disuruh ke ruangannya sekarang juga.


"permisi, ada apa bapak memanggil saya?" tanyaku pada pak Kevin setibanya aku di ruangannya.


"silahkan duduk dulu, Ani" kata pak Kevin. Aku pun mendaratkan diri di kursi kosong tepat di depan meja kerja pak Kevin.


"ini untuk kamu" sambungnya sambil menyerahkan sebuah kunci yang ku tahu sih ini kunci mobil.


"apa ini pak?" tanyaku sambil meraih kunci itu.


"ini adalah mobil untuk kamu"


"untuk saya?"


"iya. Sekarang kamu sudah menjadi seorang manager dan sudah sepantasnya saya memberikan ini. Ini atas perintah pak Andi juga" jelasnya


"tapi, apa ini tidak terlalau berlebihan?"


"tidak..ini sudah menajdi hak kamu"


"tapi pak..."


"ada masalah?" sambunya


"sebenarnya tidak ada. Cuman, saya tidak bisa menyetir mobil pak" kataku jujur


"hahaha....begitu, baiklah saya akan kasih waktu kamu libur 3 hari untuk belajar menyetir mobil"


"wah..beneran pak?"


"ya.."


"baiklah pak. Terimakasih banyak" kataku dengan senangnya. Jujur, aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Terimakasih ya Allah, batinku.


"nanti biar orang kantor yang mengantar mobil ini ke rumah kamu"


"baik pak. Sekali lagi terimakasih, kalau begitu saya permisi".

__ADS_1


......


hai? Gimana seru nggak? Jangan lupa like dan vote yaโค


__ADS_2