
Asyfal dan Ainun di masa kecil.
Ainun dan Asyfal tinggal di Desa yang asri. Daerah pegunungan yang terkesan dingin dan sejuk.
Penduduk yang masih jarang.
Dengan hamparan sawah yang luas. Pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Menambah sejuk udara pedesaan.
Sungai yang masih jernih, belum tercemari. Bukit yang indah serta hijau menambah indah pemandangan Desa. Di tambah suara deru air terjun. Dan gemercik air sungai yang mengalir di bawahnya. Membuat udara di sekitar menjadi dingin dan segar.
Para penduduk pun masih banyak yang setia menggunakan sepeda ontel. Sehingga motor pun jarang ada yang memiliki. hingga polusi tak akan mencemari Desa asri itu. Desa itu memiliki udara yang sehat.
Kehidupan pun masih sangat jauh berbeda dengan suasana di 'Kota'.
Kehidupan Desa yang sangat kental dengan ajaran 'Agama Islam'.
Hingga penduduknya aman dan tentram.
Jangan tanya bagaimana kehidupan percintaan anak muda Desa itu.
Mereka saling kirim surat. Jika ada yang sedang jatuh cinta. Disana belum begitu mengenal Handfone. Jika pun ada pasti keadaan ekonominya yang memadai.
Tersebutlah sepasang anak kecil lelaki dan perempuan.
Sedari kecil Asyfal dan Ainun selalu bersama pergi dan pulang ke Madrasah Ibtidaiyah atau setara 'SD' (Sekolah Dasar)
Bermain dan bergembira bersama.
Mereka kekasih kecil yang tak terpisahkan.
Tak ada yang bisa melarang mereka bertemu. Jika sampai itu terjadi, maka tidak mustahil jika mereka akan sakit.
Jadi, mereka akan terus bersama sedari kecil. Tak ada yang bisa memisahkan mereka.
'Rindu' sedari kecil sudah sangat melekat di diri mereka. Hingga jika mereka tidak bertemu pun 'Rindu' akan membuat mereka 'Sakit'.
Jika Ainun 'Sakit' maka Asyfal pun akan merasakan 'Sakit'. Begitupun sebaliknya. Seperti sebuah ikatan batin yang kuat. Itulah mengapa tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Mereka mempunyai tempat bermain khusus .Terletak di atas bukit desa. Mereka menamai taman itu 'Asy-Ai' Gabungan nama mereka Asyfal dan Ainun.
Sungguh masa kecil yang penuh kebahagiaan.
Setiap sore mereka slalu datang berdua. Rutinitas setelah pulang ngaji sore. Hanya mereka berdua.
__ADS_1
Menikmati suasana senja yang indah.
hingga suatu hari Asyfal memberikan sebuah gelang pada Ainun. Gelang itu ia dapat dari paman nya yang saat itu sedang melaksanakan 'Haji'.
Sebelum paman Asyfal pergi Haji ia meminta oleh-oleh berupa Dua buah gelang yang sama persis dengan manik indah berlambang "A".
"Ainun, pakailah gelang ini" Pinta Asyfal, sembari menggenggam tangan Ainun. Setelah itu ia memakaikan gelang itu.
"Wahh bagus kak gelangnya. Aku suka trima kasih ya" Ucap Ainun girang. Tanpa sadar Ainun mengecup pipi Asyfal.
"Iya dek, pakailah gelang itu . Kamu satu dan Aku satu" Ucap Asyfal sembari menunjukkan gelang satunya lagi. Dan akan segera ia pakai.
Tapi sebelum Asyfal memakainya.
Asyfal sedikit kesulitan.
Melihat Asyfal yang kesulitan memakai gelanh itu. Ainun menawarkan diri.
"Sini kak, aku pasangin" Tawar Ainun sembari mengambil gelang itu. Dan memakaikan pada tangan Asyfal.
"Aku akan menjaga gelang ini sampai kapan pun. Aku janji kak" Janji Ainun pada Asyfal.
Mereka mempunyai sebuah gelang yang sama. Dengan label huruf 'A'.
Nama mereka Asyfal dan Ainun.
(Alam seakan menyetujui hubungan Asyfal dan Ainun.
Hingga pasang mata menyorot tajam ke arah mereka.
Cemburu akan kebahagiaan mereka.
Sangat tidak rela jika Ainun bersama Asyfal.
Slalu berusaha merebut 'Ainun' dari 'Asyfal'. Seorang pemuda egois bernama "Sean wijaya kusuma")
Pada awalnya Ainun dan Asyfal menganggap kasih sayang itu sebagai kakak beradik.
Tetapi seiring dengan kedewasaan yang tumbuh, tumbuh pula perasaan lain di antara keduanya.
Meski tak pernah saling terucapkan.
Perasaan itu amat sangat dalam menusuk hati. Tapi hanya terpendam dalam relung hati.
__ADS_1
Meski tak pernah terucapkan. Seiring berjalannya waktu, lambat laun perasaan itu pun terlihat.
Meski tak pernah terucapkan, Ibu Asyfal bisa mengetahui apa yang dirasakan putra semata wayangnya terhadap Ainun.
Ibu Asyfal selalu menasehati Asyfal agar tidak meneruskan perasaan cintanya pada Ainun. Entah apa alasan di balik larangan ibu Asyfal terhadapnya. Asyfal tidak pernah mengetahuinya. Dan Ibunya tidak pernah menceritakan alasan mengapa ia melarang Asyfal berhubungan lebih jauh dengan Ainun.
Tak berbeda dengan Ibu Ainun.
Ibu Ainun merasa tak se banding dengan keluarga Asyfal.
Serta telah banyak berhutang budi kepada Ayah dan Ibu Asyfal.
"Hapuskan perasaan cintamu pada Asyfal nak, jangan di tambahkan perasaan itu. Ingat nak engkau tidak se banding dengan keluarga Asyfal" Pinta Ibu Ainun. Begitulah nasihat Ibu Ainun pada anak Gadisnya.
Yang sampai sekarang masih saja terngiang di telinga Ainun. Gadis itu tidak bisa melawan kehendak Ibunya. Walaupun cintanya pada Asfal melebihi segalanya.
Entah apa alasan yang 'Jelas' mereka para Ibu sehingga melarang Asyfal dan Ainun menumbuhkan perasaan cinta di antara keduanya.
Akhirnya mereka beranjak remaja.
Hingga tidak bisa melanjutkan kebahagiaan masa kecil mereka.
Lambat laun 'Kemesraan' mereka memudar. Bergantikan perasaan cinta yang sesungguhnya.
Tapi Ainun tidak melupakan sebuah 'Gelang' yang diberikan kekasih kecilnya Asyfal.
Ia simpan dan menjaga dengan baik sama seperti ia menjaga perasaan cintanya pada Asyfal.
Begitu pun dengan Asyfal. Ia pun menjaga dengan baik gelang yang sama persis dengan yang ia berikan pada Ainun.
Cinta yang terbentuk sedari kecil.
Tak akan pernah musnah begitu saja.
Walapun tidak ada satupun dari Ainun ataupun Asyfal mengungkapkan rasa 'Cinta' itu.
Cinta tak pernah menghadirkan kasih sayang. Tapi kasih sayanglah yang dapat menghadirkan cinta itu sendiri.
Cinta yang terbentuk oleh Kasih sayang antara Asyfal dan Ainun. Mereka saling menyayangi sedari kecil. Hingga terbentuklah rasa cinta di antara keduanya.
Rasa cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Semakin bertambah dari waktu ke waktu.
'Cinta dalam diam'
__ADS_1
Diam-diam saling mendoakan.
Ikatan cinta yang akan bertambah seiring bertambahnya waktu