
POV SEAN
(Sean: Srigala berbulu Domba)
Sean memilih pergi dari bukit indah dimana Asyfal dan Ainun tengah berpelukan. Ia pergi membawa Dendam di hati. Dan api cemburu yang tiada ujung.
Setelah sampai di tempat tinggal paman dan bibinya.
Kebetulan tante sedang membaca majalah di ruang tamu. Ia melihat Sean seperti orang yang sedang marah. Bagaimana tidak wajahnya terlihat memerah. Mimik muka nya terlihat sangat seram dan garang.
"Sean Kamu kenapa?" Tanya tantenya setelah meletakkan majalah yang belum ia baca seluruhnya.
"Nggak papa Tante! ini bukan urusan tante" Ucap Sean datar. Tapi masih terlihat jelas percikan api amarah menghiasi wajahnya.
Kemudian Pemuda yang tengah diliputi kemarahan yang amat sangat besar itu masuk ke dalam kamarnya.
Ia terlihat tengah mencari sesuatu. Dengan sangat tergesa. Ia menemukan Ponsel dan menggenggam nya. Ternyata yang Ia cari adala ponselnya.
Ia menekan beberpa tombol yang tertera kemudian Ia menempelkan di telinga kanan nya.
Tak perlu menunggu lama. Ahirnya Ia mengeluarkan suara.
"Steven! kamu kesini dengan Bob sekarang! Sebelum hari esok kalian sudah harus sampai Desa ini!" Perintah Sean datar.
Ia mematikan sambungan telepon sebelum mendengar jawaban dari seseorang yang Ia telfon. Sean seorang Bos yang tak mau ditolak permintaannya. Kalau sampai Ia menerima penolakan maka hal yang buruk sudah pasti akan Ia berikan.
Kemudian Ia melempar ponsel nya ke kasur.
Sean menjambak rambutnya ke belakang dengan kasar. Air matanya kembali jatuh.
"Ainun! Ternyata kau belum melupakan Asyfal ya! Akan Aku buat Kau melupakan nya! Aku sangat mencintaimu! Hanya aku yang bisa memilikimu! " Ucap Sean diiringi seringaian serigala.
*****
Pukul sepuluh malam. Akhirnya anak buah Sean datang juga.
Kring...
Ponsel Sean berbunyi.
"Tuan, Kami sudah sampai di markas" Ucap Seseorang di sebrang sana.
"Jemput Aku sekarang" Jawab Sean. Seperti biasa Ia slalu mematikan sambungan telvon sebelum mendapat jawaban dari sana.
Tak lama kemudian datang lah kedua anak buah Sean.
Sean berjalan menuju mobil yang di bawa mereka.
Salah satu anak buah Sean membukakan pintu untuknya.
"Silahkan Tuan" Ucap anak buah Sean sembari membuka pintu mobil untuk nya.
Setelah Sean masuk. Kemudian pintu mobil di tutup oleh anak buah nya.
"Ada apa Tuan memanggil Kami kesini?" Tanya salah satu anak buah Sean yang bernama Steven dengan penuh hormat.
"Aku mau kalian melakukan sesuatu untukku" Ucap Sean yang di iringi dengan seringaian tipis.
"Baik Tuan" Ucap Boy
Sampailah mereka di markas milik Sean. Tempat itu sebenarnya adalah rumah yang ditempati Sean dan anak buahnya kalau Sean sedang ada sesuatu di Desa.
Markas itu berbentuk rumah huni. Namun terdapat gerbang. Jadi tidak sembarang orang bisa sembarang masuk ke markas itu.
Tidak ada seorang pun yang tau kalau rumah tersebut adalah markas milik Sean.
Kemudian mereka masuk ke dalam untuk membicarakan pembicaraan yang terpotong tadi di mobil.
Mereka tengah duduk di sofa.
"Aku akan balas dendam dengan Asyfal dan Ainun" Ucap Sean seraya mengepalkan tangan.
"Maksud Tuan? Ainun itukan tunangan Tuan! Kenapa Tuan ingin menyakitinya?" Tanya Bob seraya mengerutkan dahinya.
"Tidak! bukan itu maksudku. Aku ingin balas dendam tanpa harus menyakiti Ainun!" Ucap Sean seraya berfikir.
"Tapi kenapa Tuan ingin membalas dendam? Apa yang Ainun perbuat pada Tuan?" Tanya Steven seraya menatap intens Tuannya.
"Gadis brengsek itu telah berpelukan dengan bedebah Asyfal tadi pagi dan aku melihatnya" Ucap Sean penuh amarah.
"Kenapa nggak Tuan balas dengan hal yang sama Tuan?" Tukas Bob.
Brak!
Sean menggebrak meja setelah menerima jawaban dari Bob.
"Dasar bodoh! Ainun itu tidak mencintaiku! Jadi percuma saja Aku melakukan itu!" Ucap Sean yang naik pitam.
"Maafkan Saya Tuan" Ucap Bob.
"Aku mencintai Ainun dan aku tetap ingin memiliki Ainun. Aku ingin memisahkan Ainun dengan Lelaki brengsek itu! " Ucap Sean penuh dendam.
"Ohh! Bagaimana kalau kita balas dengan cara yang halus Tuan? " Ucap Bob lagi.
"Cepat katakan apa ide yang kau miliki" Ucap Sean tak sabar.
"Kita fitnah mereka saja Tuan" Ucap Steven.
Sean terdiam setelah mendengar usulan dari Steven. Jujur Sean belum menemukan solusi untuk masalahnya.
"Kita jebak saja Asyfal dan Ainun" Ucap Bob.
"Betul Tuan apa kata Bob. Kita jebak Asyfal dan Ainun" Ucap Bob menimpali saran Stev.
"Kalian Bodoh! Kalau mereka di jebak otomatis mereka akan segera di nikahkan oleh kepala Desa seperti yang terjadi di Desa sebelah! Apa kalian *****! Hah?!" Umpat Sean.
"Tunggu dulu Tuan, jangan emosi dulu. Bukankah Tuan ingin segera menikahi Ainun bukan? " Ucap Steven.
"Iya, jelaskan maksud kalian! " Tanya Sean.
"Tidak mungkin mereka menikah Tuan. Karna Ibu Asfal tidak akan menyetujui hubungan mereka. Nah setelah rencana ini berhasil. Tuan datang menyelamatkan Ainun " Ucap Bob.
"Aku tidak mengerti apa maksud kalian" Ucap Sean.
"Tuan serahkan saja sama kami Tuan. Biar saya sama steven yang urus ini " Ucap Bob di iringi seringaian.
__ADS_1
"Tentu! lakukan yang terbaik! jangan kecewakan Aku! Kalian harus secepatnya memberikan solusi untuukku! Aku tak mau menunggu lama! Kalau tidak?! kalian akan tau akibatnya!" Ucap Sean penuh penekanan.
"Baik Tuan" Ucap Steven dan Bob bersamaan.
Kemudian Sean meninggalkan anak buah nya yang masih duduk di sofa.
"Dasar bodoh Kau stev! Kenapa Kau membuat kita berada dalam kesulitan!" Ucap Bob seraya menoyor kepala Steven.
"Sudahlah jangan menyalahkan Aku. Kau juga salah! Kau juga memberikan saran untuknya bukan!?" Ucap stev tak kalah marah.
"Apa! Aku?! Sudah jangan saling menyalahkan! lebih baik kita cari solusi. Kau tau watak Sean bukan!" Ucap Bob menengahi.
"Besok kita cari informasi" Ucap Steve.
"Oke! Aku ikuti saranmu! " Ucap Bob.
Jam menunjukkan pukul Dua belas malam. Mereka memutuskan untuk tidur.
"Bob!" Tanya Steve yang sama sekali belum mendapat rasa kantuk.
"Hembh!" Jawab Steve.
"Heh! Gue gak bisa tidur bodoh! " Ucap Steve.
"Sudahlah Stev! lo gak usah mikirin itu! Besok saja kita pikirkan! " Ucap Bob.
*****
Keesokan harinya.
"Steve bangun Stev!" Ucap Bob seraya mengguncang badan Steve yang masih tertidur pulas.
"Iya iya Gue bangun! " Ucap Steve seraya bangun dari tidur. Ia sempoyongan menuju kamar mandi.
Setelah menunggu beberapa menit akirnya mereka sudah siap untuk pergi menjalankan misi.
Keberuntungan sedang berpihak pada Bob dan Steve.
Bala bantuan sedang berada di depan mereka.
Disaat perjalanan mereka di dalam mobil. Mereka melihat pembantu rumah Asyfal dan seorang Gadis berjalan bersama nya. Gadis itu tak lain adalah Sista! Dan pembantu itu adalah Bi Iroh.
"Lihat Steve! Aku punya ide!" Ucap Bob dengan senyuman penuh kemenangan.
"Ayo ikut Aku!" Ucap Bob.
Steve hanya diam tanpa menjawab dan Ia mengikuti kemana Bob akan pergi. Mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah pembantu dan Sista.
Mereka telah sampai di depan Bi Iroh dan Sista. Bob segera melancarkan aksinya.
"Hey! apa kamu ingat Aku?!" Ucap Bob sok kenal. Ia berbicara dengan Sista.
"Maaf Aku tidak kenal!" Ucap Sista sinis. Kemudian Ia mengajak Bi Iroh meninggalkan kedua lelaki tak Ia kenal itu.
Memang benar antara Sista dan Bob tidak saling mengenal. Tapi ini memang siasat Bob.
Baru beberapa langkah Sista pergi. Tangannya sudah di cekal oleh Bob.
Bob mencekal tangan Sista mundur bebrapa langkah dari Bi iroh.
Mendengar nama itu Sista tercengan. Dan penasaran dengan Dua orang lelaki yang telah menemuinya.
Sista hanya diam. Ia tengah menimbang penawaran Lelaki tadi.
"Lebih baik Aku trima dulu tawaran mereka. Siapa tau aku yang akan di untungkan" Batin Sista. Ia tengah menimbang tawaran lelaki di hadapannya.
"Oke! Aku trima tawaranmu! Cepat katakan Apa yang kau inginkan! " Ucap Sista dengan sombongnya.
"Tulis nomor ponselmu" Ucap Bob seraya menyerahkan ponselnya.
Sista menerima ponsel yang di berikan oleh Bob. Lalu Sista menulis nomor ponselnya.
Bob adalah orang yang pandai. Setelah Ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Sista. Bob segera menelfon nya. Ia kuatir kalau Sista membohonginya.
Kring..
Ponsel Sista berbunyi.
"Bagus! Ternyata kau tidak membohongiku! " Ucap Bob puas.
"Sialan! Kau pikir aku akan menipumu! " Ucap Sista sinis.
"Hahaha! nanti aku akan menghubungimu! " Ucap Bob dengan seringaian tipis.
Kemudian Bob dan Steve pergi dari hadapan Sista.
****
Dalam perjalanan pulang, Bi Iroh hanya diam tanpa berani menanyakan tentang kejadian tadi pada Sista. Karna Ia tau bagaimana watak Sista.
***
Setelah mendapat nomor ponsel Sista. Segera Bob menghubungi Sista.
"Kamu bisa menemuiku sekarang! Aku tunggu di depan pondok milik Ayah Asyfal! Ingat! jangan sampai ada orang yang tau" Isi pesan Bob untuk Sista.
"Oke Aku kesana sekarang" Balas Sista.
Kemudian Sista pergi ke tempat yang di janjikan oleh Bob. Sista adalah Gadis yang pandai hingga Ia pergi pun tidak ada yang curiga.
Sista menaiki mobil yang di kendarai oleh Bob dan Steven menuju markas milik Sean.
Sebenarnya Sista merasa takut kalau kedua lelaki ini berniat jahat. Tapi sudah kepalang basah. Sista sudah terlanjur bersama mereka.
Tak butuh waktu lama akirnya mereka sampai di markas Sean.
Bob dan Steve masuk ke dalam markas yang di ikuti Sista dari belakang.
"Waw, Tempat ini bagus juga" Batin Sista seraya mengedarkan pandangan ke seluruh area markas Sean .
"Kamu duduk dulu" Perintah Steve seraya menunjuk sofa. Yang langsung diikuti oleh Sista.
Bob menghubungi Sang Tuan dengan menelfon nya.
"Tuan, Tuan ada dimana? Kami tunggu di markas Tuan" Ucap Steve.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari Sang Tuan ,Steve mematikan sambungan telfonnya.
"Tuan? jangan jangan mereka mau menjualku" Batin Sista.
Kini perasaan cemas seketika datang menghampiri Dirinya.
Karna reflek. Gadis itu hendak bangkit dan berlari dari markas ini.
"Eh tunggu! Jangan lari! Kamu takkan kami sakiti! Aku hanya meminta bantuanmu" Teriak Bob yang berhasil menggagalkan pelarian Sista.
"Apa Kamu sedang tidak membohongiku? Kau tidak akan menjualku kan?" Ucap Sista dengan suara gemetar.
"Hahaha! dasar gadis bodoh! Kami tidak serendah itu. Tuan kami sangatlah kaya! Jadi buat apa Ia melakukan hal serendah itu! "
Ejek Steve setelah tawa gelaknya pecah.
"Sudahlah! jangan coba-coba kabur! Tunggu saja disini! Jika kau menguntungkan bagi Tuan kami, Maka kau akan mendapat bayaran yang besar! Tenanglah! kami tak akan menyentuhmu! " Ucap Bob meyakinkan Sista.
"Oke oke! Sekarang lepasin Gue! Gue mau duduk! " Ucap Sista. Kemudian Sista duduk kembali di sofa.
Mereka menunggu kedatangan Tuan mereka.
Terdengar derap langkah sepasang kaki yang menuju ke arah mereka.
Jantung Sista berdetak kencang. Ia tengah memikirkan kemungkinan kemungkinan terburuk.
Sista menunduk setelah melihat Tuan duduk di sofa.
"Apa yang ingin kalian tunjukan padaku" Ucap Sean datar.
"Siapa Gadis ini?" Tanya Sean.
Sean bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat duduk Sista. Hingga membuat irama jantung Sista semakin kencng dan berantakan.
"Sepertinya Aku pernah bertemu dengan Gadis ini" Ucap Sean menyelidik.
Sean mendongakkan wajah Sista agar menatapnya.
"Kamu!?" Ucap Sean dengan nada sinisnya.
"Apa Tuan mengenal Gadis ini?" Tanya Steven dengan raut wajah heran.
"Iya! Dia yang waktu itu menabrak ku .Dan dia malah marah-marah
Dasar Gadis kurang ajar" Ucap Sean dengan nada sinisnya.
"Ma ma' af kan Saya Tuan. Saya waktu itu... " Ucap Sista terbata dan gugup.
"Sudahlah lupakan itu! Lanjutkan saja apa yang ingin kalian sampaikan padaku" Ucap Sean seraya kembali duduk di tempat tadi.
"Hay Gadis! Kenapa kau tinggal dirumah Asyfal? Apa hubunganmu dengan Asyfal?" Tanya Bob.
"A ak ku Sodara sepupu Asyfa" Jawab Sista terbata. Ia menjawab tanpa berani menatap wajah Tuan yang duduk di hadapannya. Karna Ia ingat kebodohannya tadi pagi setalah melihat Ainun dan Asyfal berpelukan.
"Oh iya kenapa kamu menangis saat itu" Tanya Sean sinis.
"Eh anu itu aku eng ..." Ucap Sista terbata.
"Cepat katakan! " Sentak Sean
"Sialan! Dengan Siapa aku berurusan saat ini" Gerutu Sista.
"Aku melihat Asyfal dan Ainun berpelukan" Ucap Sista to the point.
Steve sedikit menangkap perkataan Sista.
"Apa kau tidak ingin Asyfal dan Ainun bersama dan apa kamu ingin mereka berpisah saja?" Tanya Steve menyelidik.
Sista tersentak dengan ucapan Steve. Karna reflek Sista mendongak. Karna yang Steve maksud adalah keinginan hakiki seorang Sista.
"Maksud Anda? Apa hubungan Kalian dengan Asyfal dan Ainun?" Tanya Sista balik.
"Aku adalah tunangan Ainun" Ucap Sean spontan.
DEG!
Sista terkejut mendengar pengakuan dari Sean.
"Apa yang Anda inginkan dariku?!" Ucap Sista to the point.
"Aku ingin kau membantuku memisahkan mereka" Tukas Sean spontan.
"Oke! Baik Aku setuju" Teriak Sista antusias. Ia sangat bahagia mendengar ucapan sean.
Baginya ini adalah sebuah keberuntungan baginya.
Ia tak perlu repot repot memisahkan mereka.
"Kenapa Kau begitu antusias memisahkan mereka?! Padahal Kamu sepupu Asyfal bukan? " Tanya Sean.
"Oh eng nggak papa Aku hanya tidak menginginkan mereka bersama" Ucap Sista gugup. Tapi Ia masih bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan Gadis ini! Ah! sudahlah! itu tidak penting! lagipula itu bukan urusanku! " Batin Sean.
Entah apa yang akan mereka rencanakan pada Asyfal dan Ainun suatu saat nanti. Yang pasti rencana itu adalah rencana yang jahat.
Setelah selesai membicarakan rencana jahat itu. Sean menyuruh Sista pulang.
"Ini untukmu! Ambillah" Ucap Sean seraya menaruh sebuah amplop berwarna coklat tebal di meja untuk Sista.
"Trima kasih Tuan" Ucap Sista sambil mengambil Amplop yang diberikan Sean untuknya.
"Kalau begitu Saya pamit dulu Tuan" Pamit Sista seraya menundukkan kepala dengan hormat pada Tuan Sean yang telah membantunya memisahkan Asyfal dan Ainun serta memberi Ia uang banyak.
Baru beberapa langkah kaki Sista hendak keluar dari Markas Sean. Tapi Sean menghentikan langkah Sista.
"Eh tunggu dulu! ingat! Kamu tidak boleh bilang siapapun tentang apa yang kau lihat saat ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu apalagi berurusan! Jika sampai kau berani membocorkan hal ini?! Kau bisa saja Aku bunuh!!" Ancam Sean pada Sista.
Ancaman Sean berhasil membuat Sista menelan ludah. Ia terkejut dan takut bukan main. Tapi Ia juga merasa bahagia. Ada yang membantunya memisahkan Asyfal dan Ainun.
Wajah yang awalnya gembira kini telah berubah takut karna ancaman Sean.
"Ba ba ik Tuan. Saya janji nggak akan bilang sama Siapapun. Dan Saya tidak akan pernah bilang kalau Saya pernah bertemu dengan Tuan" Ucap Sista gugup dan takut.
Kemudian Sista pergi dari rumah Sean dan menaiki mobil yang disopiri oleh Steve menuju rumah Asyfal.
__ADS_1