
Sang Dokter telah keluar dari ruangan UGD. Setelah memeriksa keadaan Asyfal.
Abi, Umi, dan Sista pun bangkit dari duduknya.
"Bagaimana keadaan Anak saya Dok?" Tanya Abi cemas.
"Bapak dan Ibu tidak usah hawatir. Keadaan Anak Bapak tidak terlalu serius. Hanya perlu di rawat inap beberapa hari untuk proses pemulihan. Dan obatnya harus diminum teratur." Ucap Pak Dokter.
"Alhamdulillah trima kasih Dok" Ucap Abi lega mendengar jawaban dari Dokter .
"Iya sama-sama, Oh iya Pasien terus memanggil-manggil Nama Ainun. Saran Saya agar Ainun segera datang menemani Pasien. Kalau begitu Saya permisi dulu"
Ucap Dokter, kemudian Dokter melangkahkah kakinya meninggalkan keluarga Asyfal.
"Baik Dok, Trima kasih" Ucap Abi.
"Kita harus bawa Ainun kesini" Ucap Abi pada Umi.
"Tidak! Umi tidak setuju Bi! " Tolak Umi.
"Astaghfirullah Umi, Asyfal sakit kaya gini Umi masih bisa egois?" Ucap Abi dengan nada yang sedikit naik.
"Tanpa Ainun kesini juga, Asyfal akan sembuh! " Ujar Umi sinis.
"Tapi ini adalah keinginan Asyfal Umi! " Jelas Abi dengan nada sedikit naik, karena beliau tau bahwa ini tempat umum.
"Pokoknya Abi akan tetap membawa Ainun, dengan atau tanpa persetujuan dari Umi" Jelas Abi.
"Tapi Bi!" Ucap Umi yang sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Sudah Tante, Paman, lebih baik kita masuk, kasian Mas Asyfal"
Ucap Sista menengahi.
******
Beberapa saat sebelum Keluarga Asyfal masuk ruang UGD.
Di ruangan UGD.
"Ainun... Ainun.... Ainun... Ainun.. "
Igau Asyfal dalam ketidak sadarannya.
Asyfal selalu saja memanggil Ainun.
*****
Di Rumah Ainun (Di saat Asyfal terus saja memanggil Namanya)
Pyar
Gelas yang di pegang Ainun terjatuh dan segera Ia memunguti pecahan beling agar tidak melukai dirinya maupun orang lain.
"Aduh Sst" Desis Ainun kala jari tangan nya terkena pecahan beling dan berdarah.
"Asyfal" Ucap nya lirih. Tiba-tiba Ainun kepikiran Asyfal.
DEG!
Ainun mengingat Asyfal. Penyesalan kini dirasakan Ainun karena Ia telah meninggalkan Asyfal disaat keadaan Asyfal lemah tak berdaya.
"Ya Allah, Asyfal maafkan Aku. Aku menyesal! " Ucap Ainun lirih yang di iringi buliran bening yang jatuh dari netra nya.
"Ya Allah Asyfal, Gimana keadaan kamu sekarang?" Ucap Ainun lirih.
Setelah semua pecahan gelas Ia bersihkan, Ainun bergegas menuju rumah Asyfal.
Ia tak peduli tatapan sinis, ujaran kasar, rasa ketidak sukaan yang diperlihatkan secara terang-terangan, bahkan pengusiran secara tidak sopan .Yang tentunya di lakukan oleh Ibu Asyfal.
Akan tetapi Abi Asyfal justru menyukai Ainun. Bahkan Abi merestui hubungan Ainun dengan Asyfal. Tapi karena menghargai Sang Istri, karena Sang Istri sangat tidak menyukai Ainun. Menyukai saja tidak, apalagi merestui. Karena yang menjadi kejanggalan adalah, alasan Istrinya yang tidak jelas .
Abi hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan mereka, jika memang mereka berjodoh.
Ainun bergegas menuju rumah Asfal. Sebenarnya saat ini perasaan Ainun was-was dan takut jika nantinya Ia akan bertemu dengan Wanita yang akan menjadi calon mertuanya tapi wanita itu tidak mau. hehe
"Sebenarnya Aku takut jika nantinya Aku akan bertemu dengan Umi, tapi sudahlah! Aku nggak boleh takut, lagian Aku kan menemui Asyfal bukan Umi" Batin Ainun berbicara dengan dirinya sendiri.
Sampailah diri Ainun di rumah Asyfal.
Ia sempat ragu untuk mengetuk pintu. Karena nyali yang telah Ia kumpulkan, kini lenyap setelah Ia sampai di depan rumah Asyfal. Ia ingat ketika Umi Asyfal memaki nya dulu.
Ketika Ia hendak berbalik, suara Bi Iroh memanggilnya.
"Neng Ainun?" Panggil Bibik yang kebetulan ada di depan rumah sedang menyiram tanaman.
Ainun terdiam di tempat. "Iya Bi" Jawab Ainun seraya menoleh kearah Bi Iroh.
Bibi menghentikan aktifitasnya dan mematikan kran. Lalu berjalan mendekati Ainun.
"Mau cari Den Asyfal Neng?" Tanya Bi Iroh sopan. Karena Bi Iroh juga menyukai Ainun. Dari wajahnya, maupun perangainya. Entah kenapa hanya Umi yang tidak menyukai Ainun, Alasannya pun tidak ada yang mengetahui nya.
__ADS_1
"Iya Bi', Mas Asyfal ada di rumah?" Jawab Ainun. Terbesit rasa khawatir jelas tergambar di wajahnya.
"Anu, Den Asyfal" Ucap Bibi gelisah.
"Den Asyfal kenapa Bik?! cepat katakan Bi! Den Asyfal kenapa?!" Tanya Ainun gelisah sampai Ia bertanya dengan nada sedikit tinggi pada Bi Iroh.
"Den Asyfal tadi pulang ke rumah dengan keadaan babak belur, Lalu pingsan" Ucao Bi Iroh.
"Ya Allah Asyfal?!" Ucap Ainun.
Jabawan Bi Iroh berhasil membuat air mata Ainun jatuh lagi.
"Terus Den Asyfal di bawa Tuan ke Rumah Sakit" Lanjut Bi Iroh.
"Rumah Sakit mana Bi?" Tanya Ainun.
"Maaf Neng, Bibi belum tau Neng" Ucap Bi Iroh lesu. Sebab Ia memang tidak tau Asyfal dibawa ke Rumah Sakit mana.
"Tapi Bi... Yaudah Bi, kalau gitu Ainun pergi dulu ya Bi" Pamit Ainun.
"Maafkan Bi Iroh ya Neng" Ucap Bi Iroh.
"Nggak papa kok Bi" Jawab Ainun pasrah.
"Hati-hati ya Neng Ainun" Ucap Bi Iroh.
"Iya Bi" Jawab Ainun sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum" Ucap Ainun.
"Wa'alaikumslam" Jawab Bi Iroh.
"Ya Allah kasian Neng Ainun sama Den Asyfal. Mereka sebenarnya adalah pasangan yang cocok, tapi kenapa Nyonya begitu egois ckckck" Batin Bi Iroh seraya menggelengkan kepala akibat Umi Asyfa yang begitu egois.
Ainun pergi dari rumah Asyfal.
Gadis itu berjalan lirih mengikuti kemana Kakinya melangkah.
"Maafkan Aku Asyfal, Aku menyesal! " Batin Ainun yang berhasil membuat Gadis rapuh ini menangis.
Ainun lupa Atau entahlah ,Ia seakan tidak memperdulikan 'Kejadian buruk' bersama atau lebih tepatnya yang di lakukan oleh Asyfal.
Saat ini yang memenuhi pikiran Ainun adalah Asyfal! Bagaimana keadaannya?!.
Ia sama sekali tidak peduli kalau Ia menagis sepanjang perjalanan.
Toh jalana juga sepi. Jadi tidak ada yang melihat kalau Ia sedang menangis.
Karena merasa di panggil, Ainun menoleh ke belakang. Dan mendapati Andre yang memanggilnya.
Secepatnya Ainun menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.
Tapi Andre sudah terlanjur mengetahui bahwa Ainun menangis.
"Apa Kamu sudah tau Ainun" Tanya Andre.
"Iya Ndre" Jawab Ainun seraya menundukkan wajah ayu nya. Kini Wajahnya terlihat murung dan sedih.
"Kamu mau ikut Aku ke Rumah Sakit?" Tawar Andre.
"Iya! Ayo Andre! Aku mau lihat gimana keadaan Asyfal" Jawab Ainun antusias.
"Oke, sekarang Kamu ikut Aku" Ucap Andre.
Tanpa berpikir panjang, Ainun mengikuti Andre. Yang Ainun pikirkan adalan Ia harus secepatnya bertemu dengan Asyfal.
Ainun dan Andre Naik Angkot untuk sampai ke Rumah Sakit.
Di dalam Angkot Ainun maupun Andre hanya diam membisu. Tak ada percakapan antara mereka.
Karena memang biasanya Ainun tidak pernah berbicara dengan Andre, atau pun sebaliknya.
Sebab Ainun maupun Andre saling menghormati sesama muslim.
Dan menghargai satu sama lain.
Sampailah Ainun dan Andre di Rumah Sakit tempat Asyfal di rawat.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor Rumah Sakit, Ainun tak henti-hentinya menangis.
Mereka langsung ke ruang UGD.
Kemudian Ainun membuka pintu.
Tanpa memikirkan kejadian yang akan menimpanya, karena di dalam sudah terdapat Umi, Sista dan juga Kedua Orang Tua Sista.
Dan semakin bertambahlah Orang yang tidak menyukai Ainun.
Tapi Abi tidak sedang berada di ruangan itu, Jika saja Abi berada disini, mungkin Abi akan membela Ainun dan mengijinkan Ainun masuk.
"Kamu! Kamu ngapain kesini?" Sentak Umi Asyfal saat Ia melihat Ainun masuk ruangan.
__ADS_1
"Ma'af Bu, Saya mau jenguk Asyfal" Ucap Ainun lemah.
Sontak Umi langsung berdiri dan hendak mengusir Ainun.
"Gak usah! pergi Kamu dari sini! " Usir Umi sambil mendorong tubuh Ainun.
"Tolong Bu, saya mau liat Asyfal Bu, Tolong ijinkan Saya" Mohon Ainun sambil terisak.
"Sana pergi! " Usir Ibu Asyfal. Masih dengan mendorong tubuh Ainun.
"Tapi Bu.. " Ucap Ainun.
"Ah! sudah pergi Kamu sekarang juga!" Bentak Umi lagi dan dorongan terakhir berhasil membuat Ainun jatuh terduduk di lantai Rumah Sakit.
Ainun menangis terisak. Dan Andre membantu Ainun untuk bangun.
"Lebih baik Kita pulang saja Ainun, Ibu Asyfal tidak mengharapkan kedatangan Kita" Ajak Andre.
"Iya , Kita pulang saja Ndre" Jawab Ainun pasrah.
Sepanjang perjalanan Ainun keluar dari Rumah Sakit. Air mata tak henti-hentinya keluar dari netra indahnya.
"Sudah Ainun, jangan menangis" Ucap Andre.
"Iya, Makasih ya Ndre" Ucap Ainun.
"Iya Ainun sama-sama" Jawab Andre tersenyum.
Kemudian Mereka pulang naik Angkot.
Akirnya Mereka telah sampai di Desa.
"Ainun ,Kamu tidak papa kan?" Tanya Andre dengan raut wajah cemas.
"Nggak papa Ndre, Trima kasih ya?" Ucap Ainun lirih.
"Iya sama-sama Ainun" Balas Andre.
"Oiya maaf Aku telah merepotkanmu" Ucap Ainun lemah.
"Nggak papa kok Nun, Aku tidak merasa di repotkan" Jawab Andre tersenyum.
"Oiya jangan Kamu pikirkan perlakuan Umi Asyfal Ya? " Lanjut Andre
"Nggak papa, Aku sudah biasa kok" Ucap Ainun.
Mendengar jawaban Ainun. Andre hanya bungkam. Ia tidak tahu harus bicara apa pada Ainun.
"Apa perlu aku antar kamu sampai Rumah Nun?" Tawar Andre sembari tersenyum.
"Nggak usah Ndre, Trima kasih. Aku hanya tidak mau terlalu banyak merepotkan mu " Jawab Ainun.
"Yaudah, kalau begitu kita berpisah disini ya" Tukas Andre tersenyum.
"Iya, Sekali lagi trima kasih ya Ndre" Ucap Ainun tersenyum.
"Iya, iya udah berapa kali Kamu bilang trima kasih, kalau Kamu bukan kekasih Asyfal juga, Aku gak bantuin Kamu Hehe" Ucap Andre tersenyum.
"Apa?" Ucap Ainun, sontak Ainun terkejut mendengar ucapan Andre.
"Oke Ainun, Aku pergi dulu ya, Asslamu'alaikum" Pamit Andre. Ia segera pergi dari pada bingung menjelaskan maksud omongan nya tadi.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Ainun .Kini senyuman terpancar dari wajah cantik Ainun.
Kemudian Ainun melanjutkan langkahnya menuju Rumahnya.
Ainun telah sampai di rumahnya.
"Asslamu'alaikum" Ucap Ainun ketika memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam. " Jawab Ibu dari dapur.
"Kamu dari mana Nak?" Tanya Sang Ibu.
Mungkin Ainun tidak mendengar pertanyaan Sang Ibu sehingga Ia langsung masuk ke kamar . Dan mengambil sesuatu. Kemudian Ia berpamitan dengan Ibu nya.
"Bu, Ainun pamit dulu ya?" Ucap Ainun seraya mengulurkan tangan untuk mencium tangan sang Ibu.
"Kamu baru datang dan mau pergi lagi? Kamu mau pergi kemana Nak?" Tanya Sang Ibu.
"Kalau Aku bicara jujur, pasti Ibu akan melarang. Maafkan Ainun Bu, Ainun terpaksa berbohong" Batin Ainun.
"Ainun mau jalan-jalan sama temen Ainun Bu, " Ucap Ainun berbohong.
"Temen Siapa Nak?" Tanya Ibu.
"Ainun pamit dulu Bu, Assalamu'alaikum" Pamit Ainun pergi keluar rumah.
"Tapi Ainun... Tunggu Ainun" Teriak Sang Ibu.
Ainun pergi meninggalkan rumah. Tanpa ijin dari sang Ibu.
__ADS_1