Asyfal Dan Ainun

Asyfal Dan Ainun
-Bab 17- Pertentangan


__ADS_3

Entah apa yang dipikirkan Asyfal. Pemuda itu pulang ke rumahnya setelah Adzan Ashar.


Ia duduk di batu besar yang ada di bukit dari pagi sampai menjelang senja.


Ia segera masuk ke dalam rumah tanpa harus mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum" Ucap Asyfal lirih.


Ia tetap mengucapkan salam sekalipum tidak ada seorang pun di dalam rumah. Bagi nya mengucap salam saat memasuki semua tempat adalah sebuah 'Kewajiban' Baginya.


Asyfal baru akan naik ke tangga menuju kamarnya. Umi sudah barada di sofa yang ada di bawah tangga.


"Kamu dari mana Fal?!" Tanya Umi tiba-tiba dengan suara seperti seseorang yang tengah menyimpan sebuah amarah.


Melihat Umi yang ternyata ada di sofa. Ia segera menghampiri nya dan hendak mengulurkan tangan ingin mencium tangan Ibunya.


"Assalamu'alaikum Umi" Ucap Asyfal datar dan lirih. Lalu Ia mengecup punngung tangan Ibunya.


"Asyfal sini duduk di samping Umi!" Perintah Umi datar sembari menepuk sofa yang ia tunjukan pada Asyfal agar Ia duduk disitu.


Asyfal adalah pemuda yang penurut. Ia langsung menuruti perintah Sang Ibu. Kemudian Ia langsung duduk di samping Sang Ibu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Umi tadi. Kamu dari mana Asyfal! " Tanya Umi sekali lagi dengan nada sedikit naik.


"Asyfal.... Asyfal......" Ucap Asyfal sembari menunduk. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan Sang Ibu.


Ia tidak menyangka bahwa Umi akan bertanya perihal dari mana Ia pergi.


Karna seperti biasa Asyfal kalau pulang tak pernah ditanya Umi karna Umi tau kemana Asyfal pergi. Asyfal selalu pergi ke pondok pesantren milik Ayah nya. Atau pergi ke rumah teman-teman nya secara berganti.


Paling sering Ia pergi ke rumah Sahabat nya Andre.


Tapi Hari ini kenapa Umi bertanya Asyfal dari mana.


Apalagi kali ini Ia habis bertemu dengan Ainun. Gadis yang sangat Ia cintai tapi tidak pernah mendapat restu dari Sang Umi.


Ia melupakan nasihat Sang Ibu Dua tahun lalu sebelum Ia berangkat ke Jakarta. Bahwa Ia tidak boleh mencintai Ainun! Ia harus melupakan Ainun! Sang Ibu tidak ingin Asyfal melanjutkan hubungan yang telah terbentuk dari kecil dengan Ainun!


Sebenarnya Asyfa tidak lupa tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya.


"Cepat katakan kamu dari mana Asyfal?! " Sentak Umi.


Ya! Asyfal harus jujur tentang perasaan nya. Apalagi sekarang Ia telah mengetahii bahwa Ainun pun memcintai nya.


Asyfal mengumpulkan keberanian nya untuk mengatakan pada Sang Ibu.


"Asyfal tadi menemui Ainun" Ucap Asyfal lirih namun dapat di dengar oleh Sang Ibu.


Sudah di pastikan kini bahwa jantung Asyfal berdetak kencang tak karuan. Bagaimana pun juga Ia telah melanggar larangan Ibu nya.


Sontak Umi naik pitam.


PLAK!


Asyfal mendapat hadiah tamparan dari Sang Ibu. Atas keberanian nya mengungkapkan apa yang seharusnya tidak Ia katakan pada Sang Ibu. Dan perkataan yang tidak pernah ingin Umi nya dengar sekalipun.


Akibat tamparan yang Ia trima wajahnya menoleh ke kiri. Dengan segera Pemuda tampan itu memegang wajah maskulin yang terlihat merah bekas tamparan dari Sang Ibu.


Suasana ruangan membisu. Asyfal diam. Bukan diam biasa. Ada kebijaksanaan dan wibawa tercipta di wajahnya.


"Asyfal mencintai Ainun Mi! " Ucap Asyfal lagi.


Plak!


Wajah maskulin itu mendapat tamparan untuk yang kedua kali nya. Tapi kini wajah nya tidak menoleh karna Ia tau konsekuensi nya setelah Ia mengatakan itu maka Ia akan mendapat tamparan dari Sang Ibu.


"Apa Kamu bilang! Sudah Umi katakan Lupakan Ainun! Umi tidak suka Kamu dengan Ainun! Kamu lupa perkataan Umi Asyfal! Ha! " Bentak Umi sembari memperlihatkan plototan mata seram pada Asyfal.


"Tapi apa alasan Umi melarang Asyfal mencintai Ainun?!" Ucap Asyfal. Kini wajahnya terlihat menantang. Kini Ia memberanikan diri menatap wajah Sang Ibu.


"Kamu nantang Umi Fal! " Ucap Umi tak kalah menantang Anak Lelaki yang Ia lahirkan Dua puluh dua tahun lalu.


"Tidak Umi bukan begitu maksud Asyfal! " Ucap Asyfal mengalah. Walaupun Ia sangat marah sekarang tapi Ia masih bersikap lemah lembut dan bijaksana. Dapat terlihat di wajah bersahaja Seorang Asyfal.


"Sekarang Kamu harus nurut Umi. Lupakan Ainun!" Ucap Umi kasar. Sembari jari telunjuknya menunjuk ke suatu arah.


"Aku mencintai Ainun Mi! " Ucap Asyfal tetap halus.


"Jadi karna perempuan sok alim itu sekarang kamu menentang Umi?! Dan Ainun telah memprofokasi Kamu agar membangkang Umi! Ha!? " Ucap Umi dengan nada tinggi sambil melototkan kedua matanya dan terlihat muka nya merah padam.


"Tidak Umi! Ainun tidak bilang apa pun sama Asyfal. Ainun itu Gadis yang baik Mi" Ucap Asyfal tetap bersahaja.


"Apa?! Kamu sekarang membela Perempuan itu! Dan sekarang kamu berani menentang Umi! " Ucap Umi dengan nada yang bertambah tinggi.


"Mau tidak mau Kamu harus lupakan Ainun! " Sentak Umi.


"Tolong jelaskan sama Asyfal kenapa Umi harus melarang Asyfal mencintai Ainun. Tolong Mi jelaskan pada Asyfal!!" Ucap Asyfal dengan nada yang sedikit naik.

__ADS_1


"Sudah itu tidak penting!!" Sentak Umi.


"Dari dulu sampai sekarang pun Umi tak pernah bilang pada Asyfal alasan yang sebenarnya Umi" Ucap Asyfal datar.


"Asyfal sangat mencintai Ainun Umi" Lanjutnya.


"Maafkan Asyfal Umi. Asyfal tetap ingin mencintai Ainun sampai mati" Ucap Asyfal dengan keberanian penuh.


Plak!


Ah! Tamparan itu ahirnya mendarat juga untuk yang ketiga kalinya.


"Kamu pilih Perempuan itu atau Umi?! "Tanya Umi dengan amarah yang semakin membuncah.


"Asyfal pilih Umi tapi Asyfal tetap akan mencintai Ainun"


Ucap Asyfal.


Tangan kanan Umi siap untuk memberi hadiah atas jawaban yang sangat tidak ingin didengar yaitu sebuah tamparan untu Asyfal.


Sebelum ayunan tangan itu sampai menyakiti pipi Asyfal. Tangan itu sudaj di cekal oleh seseorang.


Pahlawan datang!


"Cukup Umi! Umi sudah sangat keterlaluan! Apa Umi nggak kasian sama Asyfal? Sudah berapa kali Umi menampar Asyfal? Abi kecewa sama Umi! " Ucap Abi yang tiba-tiba datang dan mencekal tangan Umi yang akan menampar Asyfal.


"Abi?! " Ucap Umi dengan alis berkerut. Wajah marah pun semakin terlihat.


"Abi jangan ikut campur .Biar Umi yang memberi tau Asyfal" Ucap Umi sembari mengibaskan tangan Abi yang masih mencekal tangan nya.


"Asyfal Kamu ke kamar dulu Nak" Perintah bijak Abi yang langsung di turuti Anak Lelaki tampan nya.


"Asyfal tunggu! " Teriak Umi dengn suara melengkingnya.


Asyfal menoleh dan berkata


"Maafkan Asyfal Mi! Asyfal tetap akan mencintai Ainun" Ucap Asyfal yang setelah itu kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


"Asyfal! " Teriak Umi lagi.


"Sudah Umi sudah. Biarkan Asyfal memilih pasangan hidup nya sendiri" Ucap Abi bijaksana.


"Apa Abi bilang?! Tidak bisa! Umi tidak setuju kalau Asyfal mencintai Ainun" Ucap Umi dengan nada tinggi.


"Tapi apa alasan Umi? Jelaskan pada Abi. Sejak dulu Umi tidak pernah mengatakan alasan sebenarnya Umi mengapa tidak merestui Asyfal dengan Ainun" Kata Abi dengan nada serius.


"Tapi Umi. Umi nggak kasihan sama Asyfal? Memang Ainun punya kesalahan apa sama Umi?" Tanya Abi dengan nada yang sedikit naik.


"Apa? Abi juga membela Gadis itu?!" Kata Umi dengan nada yang semakin tinggi.


"Bukan itu maksud Abi. Coba Umi jelaskan pada Abi kenapa Umi nglarang Asyfal memilih Ainun. Toh jodoh sudah di tangan Allah Umi" Ucap Abi menenangkan Istrinya.


Abi adalah sosok Suami idaman. Ia tidak ikut marah disaat Istrinya marah. Karna Beliau adalah seorang Kyai.


Maka tak heran jika sifat Abi yang bijaksana dan lemah lembut menurun pada Asyfal.


"Sudahlah Abi pokonya Umi gak suka kalau Asyfal mencintai Ainun" Ucap Umi kemudian melenggang pergi dari hadapan Sang Suami.


"Umi tunggu! Abi belum selesai bicara" Ucap Abi mengiba. Berharap mendapat penjelasan kenapa Istrinya melarang Asyfal untuk mencintai Ainun.


Setelah melihat kepergian Sang Istri. Kemudian Abi duduk di sofa.


Abi sangat bingung dengan keadaan Istri dan Anak nya.


Ia sangat menyayangi Istrinya. Tapi Ia juga tidak tega dengan Anaknya.


Kalau Ia menuruti kehendak Sang Istri. Maka Asyfal yang akan menderita


Di sisi lain kalau Ia merestui Asyfal. Maka Ia akan menyakiti kehendak Istrinya .Dan tidak menghargai Istrinya.


Saat Ini Abi sedang dilema. Beliau tengah berada dalam pilihan yang sulit.


Abi terlihat memijat kening nya yang terasa sangat pening akibat memikirkan perkara ini.


*****


Hari berganti malam.


Tok tok tok


Pintu kamar Asyfal diketuk oleh seseorang.


Asyfal pun bergegas membuka pintu itu. Dan ia melihat sosok. yang bijaksana dan lemah lembut


sedang berdiri dibalik pintu yang telah ia buka.


"Kamu ada waktu Nak? Apa Abi mengganggumu?" Tanya Abi dengan nada halusnya. Rasa kesopanan yang dimiliki sangatlah tinggi.

__ADS_1


"Tidak Bi, Asyfal tidak sibuk. Mari silakan masuk. Abi mau bicara kan sama Asyfal?" Jawab Asyfal memberi izin Abi masuk ke kamarnya.


"Nak, Memangnya kamu dari mana tadi?" Tanya Abi lembut.


"Abi tau Kamu tadi menemui Ainun kan?" Selidik Abi sembari menatap lekat wajah tampan anaknya.


"Abi tau Kamu anak Abi yang jujur" Lanjutnya .


"Iya Abi memang tadi Asyfal menemui Ainun di bukit" Ucap Asyfal tertahan.


"Ainun mengajak Kamu ke bukit?" Tanya Abi dengan seksama.


"Tidak Bi. Bukan Ainun. Tapi Asyfal yang mengajak Ainun bertemu di bukit itu" Ucap Asyfal lagi.


"Coba jelaskan lebih detail tentang hal ini pada Abi" Ucap Abi serius.


"Iya gini Abi. Kemarin Asyfal memberi surat pada Ainun untuk menemui Asyfal di bukit" Terang Asyfal.


"Oh terus" Tanya Abi.


"Tadi pagi Asyfal yang datang lebih dulu. Asyfal telah lama menunggu Ainun yang nggak datang-datang. Ternyata Ainun sudah lama berada di situ tapi Ia enggan menemui Asyfal" Ucap Asyfal jelas.


"Terus?" Tanya Abi mengintrogasi.


"Entahlah Bi, Asyfal juga tidak tahu kalau Ainun sudah berada di bukit itu, Dan Asyfal pun tidak tahu kenapa tiba-tiba Asyfal seperti merasa kalau Ainun berada di dekat Asyfal .Terus entah bagaimana bisa Asyfal menemukan Ainun yang tengah menangis" Ucap Asyfal.


"Kok bisa Fal? Kamu sedang tidak membohongi Abi kan Nak? " Ucap Abi seraya menatap lekat wajah Anaknya.


"Tidak Bi, Asyfal tidak membohongi Abi. Asyfak bicara apa adanya. Asyfal juga tidak mengada-ngada" Ucap Asyfal meyakinkan Ayahnya.


Abi merasa bahwa Asyfal memang jujur. Sinar matanya menunjukkan bahwa Asyfal benar-benar tidak sedang berbohong. Abi tau Asyfal dari kecil.


"Terus gimana Nak?" Tanya Abi lagi.


"Terus Asyfal bilang kalau Asyfal sangat mencintai Ainun" Jawab Asyfal yakin.


"Lalu Ainun? " Tanya Abi.


"Lalu Ainun juga bilang kalau Dia juga sangat mencintai Asyfal Bi!


Dia bilang kalau setiap hari Ia selalu mendoakan Asyfal" Terang Asyfal meyakinkan Ayah nya.


Sang Ayah yang menyimak penjelasan Anak nya. kini terdiam memikirkan tentang pertemuan tadi.


"Ya Allah begitu besar cinta mereka. Begitu tulus kasih mereka.


Bagaimana bisa Aku menolak restu untuk mereka? Aku tidak tega Ya Allah. Tolong berikan yang terbaik untuk Asyfal dan Ainun" Batin Abi mendoakan Asyfal dan juga Ainun.


"Abi percaya kan sama Asyfal?" Tanya Asyfal.


"Iya Abi percaya Nak" Ucap Abi.


"Trima kasih Abi" Ucap Asyfal yang di balas anggukan oleh Asyfal.


"Abi juga tau bagaimana Ainun" Ucap Abi lagi.


"Ainun? Maksud Abi? " Tanya Asyfal yang di iringi dengan senyum berbinar yang tergambar jelas di wajahnya.


"Abi tau Ainun adalah Gadia yang baik. Abi tau itu! Tapi entah kenapa Ibumu menolak untuk kamu berhubungan dengan Ainun? " Ucap Abi.


"Tapi kenapa Umi tidak suka kalau Asyfal mencintai Ainun Bi?" Tanya Asyfal.


"Iya Nak. Abi juga tidak tau. kenapa Dia begitu keras kepala. Padahal Abi juga tidak tau alasan sebenarnya kenapa Umi tidak merestui hubungan Kamu dengan Ainun" Terang Abi dengan suara lemahnya.


"Tapi kalau Abi?!" Tanya Asyfal


"Abi slalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Ainun. Ingat Nak! jodoh itu sudah di tangan Allah. Jangan terlalu berharap. Kamu cukup berdoa dan berusaha untuk yang terbaik di hidupmu" Tutur Abi.


"Baik Abi trima kasih. Tapi Abi mau membantu Asyfal Bi?" Tanya Asyfal.


"Sudah Nak jangan hawatir dengan hal ini, Abi selalu mendoakan mu" Ucap Abi.


Asyfal hanya menganggukkan kepalanya. Asyfal merasa tidak puas dengan jawaban sang Ayah.


"Kalau begitu Abi keluar dulu ya Nak" Ucap Abi sembari menepuo pundak sang Anak.


Kemudian Beliau beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari kamar Asyfal.


Baru mendapat beberapa langkah, Asyfal memanggilnya.


"Abi?" Panggil Asyfal.


"Iya Nak" Jawab Abi sembari menolehkan kepalanya.


"Eh nggak papa Bi" Ucap. Asyfal. Sebenarnya Ia ingin mengatakan sesuatu tapi Ia sungkan.


"Yaudah kalau kamu mau bicara

__ADS_1


lagi sama Abi. Kamu bilang aja. Abi pergi dulu" Ucap Abi kemudian melengang pergi keluar kamar Asyfal.


__ADS_2