Asyfal Dan Ainun

Asyfal Dan Ainun
- Bab 29 - Pembalasan Dendam Sean (Akibat Fitnah Keji )


__ADS_3

kini darah sang Ibu mendidih. Panas dari hati kini langsung menjalar naik sampai puncak ubun-ubun.


Ingin sekali Beliau memuntahkan api kemarahan bagai sang Naga api yang siap menyemburkan api nya namun saat ini keadaan Beliau sangat lemah. Jadi tenaga nya tidak akan sampai melakukan teriakan walau sekecil apapun.


Beliau hanya bisa berucap "Pergi Kau dari sini!!!" Seru Sang Ibu penuh penekanan. Dan bahasa yang di gunakan adalah bahasa yang frontal, Aku Kamu. Ucapan nya mewakili hati nya yang panas.


Ainun sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang pertama kali keluar dari mulut sang ibu adalah pengusiran untuknya.


DEEG!


Seketika Ainun tercengang. jantung milik Ainun seakan berhenti berdenyut. Hatinya terasa sungguh sangat pilu bagai tergores pisau berkarat.


"Lepaskan pelukan itu Hindarkan tubuhmu dariku!" Seru Sang ibu lagi dengan intonasi suara yang semakin tinggi.


Ingin sekali Beliau mengatakan bahwasanya Ia sudah


sangat membenci diri Anak nya sendiri. Karena Beliau tidak menyangka bagaimana bisa Anak Gadis nya itu benar-benar telah melakukan perbuatan keji.


Hati Ainun semakin terkoyak. Bentakan sang ibu membuat nyali gadis ayu itu ciut. Perlahan Ia merenggangkan pelukan pada Ibu nya.


Seketika raut wajah Ainun berubah cemas, sedih, dan takut


Dengan menahan isak tangis, Ainun bertanya pada Sang Ibu.


"Ibu? Ibu kenapa? Apa salah Ainun Bu?" Tanya Ainun tercengang.


Ainun menunggu kesadaran sang ibu. Berharap kesadaran sang ibu segera. Tapi kenapa di saat penantiannya telah tercapai, Sang Ibu malah membuat nya seperti mengalami mimpi buruk yang sama sekali tidak Ia bayangkan sebelum nya .


Air mata tanpa perlu izin sudah jatuh di pipi mulus Ainun.


"Pergi!" Bentak sang Ibu yang kini sudah menangis.


Sontak Ainun terkejut. Dadanya naik turun menahan gejolak di dada menahan ketakutan karena bentakan sang Ibu.


Karena seumur hidupnya baru kali ini, Ainun harus merasakan bentakan dari sang Ibu apalagi kali ini Ia sama sekali tidak tau apa penyebab kemarahan dari Ibu nya.


Ia masih tidak bergeming, Masih termangu dengan maksud dari bentakan sang Ibu yang sama sekali tidak Ia ketahui.


"Pergi!" Bentak Ibu Lagi, karena bentakan tadi tidak Ainun laksanakan.


"Tapi Bu..." Ucap Ainun lirih tertahan.


"Pergi!!!" Nada nya semakin tinggi namun masih tertahan karena kondisi yang masih sangat lemah pasca oprasi.


Isakan tidak dapat di tahan. Ainun menangis sejadi-jadinya karena bagi Ainun Sang Ibu mengusirnya tanpa sebab akibat. Padahal sebenarnya Ainun tidak mengetahui bahwa sang Ibu telah mengetahui kejadian bersama Asyfal saat mereka di culik. Ainun mengira Ia bisa menyembunyikan hal itu dan Sang Ibu. Namun nyatanya Sang Ibu telah mengetahui nya dari mulut orang lain. Itulah mengapa sang Ibu selalu mengusir Ainun dari hadapannya.


Serapat-rapat nya Ainun menyimpan bangkai. Lambat laun bangkai itu akan terbongkar serta tercium juga. Walaupun memang itu bukan kesalahan Ainun dan Asyfal dan itu hanya sebuah fitnah. Asyfal dan Ainun sudah di jebak oleh lelaki yang kini berlagak bak malaikat dengan membantu semua pengobatan sang Ibu, Sean.


Ainun kira kejadian nahas bersama Asyfal akan tersimpan rapat-rapat. Tapi Ainun salah, sang Ibu sudah mengetahui nya. tapi dari mulut orang lain. Dan malang nya lagi karena hal itu Ibu Ainun terkena serangan jantung. Padahal hal itu adalah murni fitnah. Ainun tidak akan melakukan hal sekeji itu walau bersama Asyfal, kecuali kalau sudah menikah itu sudah beda lagi kasus nya .


"Pergi!!!" Tegas Ibu Ainun lagi untuk yang ke sekian kali. Berharap Ainun akan meninggalkan diri nya.


Sean, penyebab Ainun harus di usir bahkan harus terkena kebencian yang seharus nya tidak Ainun rasakan dari sang ibu. Kini bertindak dengan anggunnya menutupi semua kemunafikan yang selama ini sembunyikan dari semua orang .


"Ainun, lebih baik kamu keluar dulu ya" Pinta Sean seraya memegang pundak Ainun. Ainun tak mampu menolak karena keadaan genting ini. Jadi Ia membiarkan Sean memegang pundak Ainun .


"Tapi...." Ucap Ainun tertahan sambil terisak.


"Sudah Ainun nanti Aku jelaskan ya?" Terang Sean menenangkan Ainun sambil berusaha membangkitkan Ainun dari duduk nya itu.


Setan ini lelaki, pikir gue!!


Melihat reaksi sang Ibu yang semakin terlihat murka. Ainun memilih mengikuti saran Sean.


Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan berdiri meninggalkan ranjang pasien sang ibu.


Baru beberapa langkah Ainun menoleh ke belakang melihat reaksi Sang Ibu, Ia harap Sang Ibu tidak benar-benar mengusirnya.


Tapi apa yang Ia pikirkan salah, saat Ainun melihat wajah sang ibu, namun Beliau malah membuang muka.


Ainun takut mengundang kembali amarah sang ibu, Jadi Ia memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sang ibu.


Dan Sean berjalan mengikuti Ainun keluar ruangan.


Setelah keluar dari ruangan sang Ibu, Ainun seperti orang linglung.


Kemudian Ia duduk di kursi panjang. Yang di ikuti Sean.


"Ainun, apa kamu baik-baik saja?"


Tanya Sean. pertanyaan yang sangat bodoh itu ternyata harus tersangkut di telinga Ainun. Jelas pertanyaan itu salah. sekarang Ainun sangat tidak baik-baik saja.


"Kenapa Ibuku membenciku?" Lontaran pentanyaan itu seketika muncul di saat raut wajah penuh keputusasaan bertengger di wajah ayu Ainun.


Mendengar pertanyaan Ainun, Sean bergeming sesaat. Seakan ragu ingin berkata sesungguhnya. Namun juga sangat ingin pertanyaan itu keluar dari mulut Ainun, hanya agar Ainun ikut merasakan kesakitan yang telah Sean katakan.

__ADS_1


"Apa Kamu memintaku berkata jujur Ainun?" Tanya Sean sedikit ragu. Ia juga tidak tahu kenapa Ia ragu untuk mengatakannya.


"Iya, katakan Sean" Jawab Ainun dengan keyakinan penuh.


"Baiklah, kalau itu yang Kamu inginkan," Ucap Sean penuh penekanan.


Sejenak Sean terdiam seperti berfikir. Entah apa yang tengah Ia pikirkan, padahal Ia sangat ingin membuat Ainun merasa sakit hati karena telah menghianatinya. Tapi di saat waktu yang tlah Ia tunggu-tunggu telah tiba kenapa malah Ia bingung sendiri.


"Kenapa? Kenapa Kamu diam Sekarang?" Tanya Ainun


Ucapan Ainun telah berhasil mengembalikan kesadaran pikiran Sean.


"Aku takut kamu...." Ucap Sean tertahan.


"Sudahlah Sean, katakan sekarang ,Aku akan mendengar apapun itu".Tutur Ainun tidak sabar untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu hingga beliau membencinya saat ini.


"Ainun sebenarnya tapi..." Ucap Sean tertahan lagi.


Entah apa maksud setan jantan ini sebenarnya. Hingga berbicara pun Ia persulit sendiri.


"Sean tolong...." Ucap Ainun memohon.


Sean mengambil nafas dan membuangnya kasar. Ia berharap kelancaran berbicara pada Ainun. Tapi kenapa sangat sulit untuk Ia utarakan. Apa Ia tidak tega menyakiti Ainun?! Entahlah, tapi kalau Ia tidak tega, kenapa Ia memfitnah Ainun sampai sejauh ini?! Apalagi Sang Ibunda harus merasakan akibat dari fitnah itu?!


Oh Sean! Kau bagai setan jantan bagi Ainun dan keluarganya!


"Sean!" Ucap Ainun sekali lagi membuyarkan lamunan Sean yang sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri.


"Oke oke ! Aku akan katakan sekarang Ainun!" Ucap Sean kalap.


Ia meyakinkan dirinya sendiri.


Sean seakan lupa kalau saat Ia tengah berada di dekat Ainun, Ia lupa siapa dirinya sendiri, diri yang jahat, bejat, sadis.


Oke! kini sisi jahat dirinya yang sedari tadi tidak muncul, terpaksa Ia perlihatkan karena desakan Ainun, permintaan Ainun.


"Sebenarnya tadi aku ke rumah kamu dan melihat Ibumu bersama dua wanita " Ucap Sean lancar.


Setelah itu Sean terdiam cukup lama. hingga membuat Ainun mengeluarkan gertakan lagi.


"Sean! Terus apalagi!?" Ucap Ainun tidak sabar akan pemjelasan dari Sean yang terputus-putus.


"Salah satu wanita itu memberi foto pada ibu" Ucap Sean lagi.


Terpotong lagi. Greget juga gue dengerin penjelasan dari Sean yang bertele-tele. Kayak tukang ojol kesasar aja nih orang. Gak nyampe-nyampe tujuan.


Ainun memang benar-benar lupa akan kejadian 'Zina' bersama Asyfal.


Terjangan badai berlalu. Gelombang besar menerjang. Bom waktu akan meletus kapan saja tanpa aba-aba.


"Foto apa Sean?" Sergah Ainun tak sabar.


Aduh! Gadis ini memang benar-benar polos. Sampai Ia melupakan hal sebesar itu.


"Foto di saat kamu sedang tidur bersama Asyfal dan saat kamu menemani Asyfal di rumah sakit dan kamu memeluknya?" Tutur Sean lancar tanpa hambatan seperti jalan tol.


DYAR!!!!


Bagai petir di siang hari.


Bagaikan tubuh di sambar petir.


Bagaikan jatuh tertimpa tangga pula.


"Apa?!" Ucap Ainun spontan.


Jantungnya mencuat keluar seperti di tarik paksa oleh sesuatu yang menyakitkan.


Nafsu yang tanpa sengaja telah memeluk sang kekasih dengan alasan rindu. Kini telah menjadi bumerang untuknya sendiri. Kini Ainun tidak dapat berkutik lagi, selain hanya pasrah dengan keadaan yang telah membuatnya tidak karuan.


"Tidak mungkin! itu fitnah!" Ucap Ainun lirih sedang air mata sudah mendahuluinya.


Melihat sang kekasih yang sangat Ia cintai menangis, hatinya bagai tergores ikut merasakan sedih, juga ikut merasa sakit yang telah Ainun rasakan.


Entah kenapa Ia sangat menyesal telah membuat Ainun menangis saat ini. Padahal Ia dulu sangat menginginkan sebuah balasan untuk Ainun, tapi kenapa sekarang di saat Ia telah menunaikan pembalasan untuk Ainun, Ia menyesalinya?!.


"Siapa Sean yang tega memfitnahku sampai seperti itu? Ucap Ainun lirih ditengah ketidakberdayaannya.


"Maafkan Aku Ainun, Aku yang telah membuat kamu dibenci ibumu, itu semua rencanaku, Aku yang telah memfitnahmu" Ucap Sean dalam hati. Mana mungkin Ia mengatakan kebusukan yang telah Ia simpan rapat-rapat di depan Ainun. Bisa-bisa batal rencana meminang Ainun. Bisa terbongkar kebusukan yang selama ini Ia jalani.


Disaat Sean memikirkan sesuatu, Ainun memegangi kepala yang tiba -tiba terasa sangat pening.


Seketika tubuh Ainun limbung, jika saja Sean tidak menyadari kelemahan Ainun, bisa saja Ainun jatuh tersungkur ke lantai.


Ainun pingsan untuk yang kedua kalinya. Gadis ini sungguh malang, Akibat ulah lelaki bengis yang berada di sampingnya tapi malah berlagak seperti malaikat penolong bagi keluarga dan dirinya.

__ADS_1


Sean menangkap tubuh Lemas Ainun. Dan merengkuh tubuh Ainun ke dalam pelukannya.


"Ainun" Teriak Sean panik. Kali ini ia memang benar benar sangat menyesal telah membuat Ainun syok sampai Gadis itu pingsan lagi.


Di saat Sean memeluk Ainun


Tanpa sengaja alias kebetulan.


Tapi memang itulah skenario pemilik alam, bukan atas kehendak siapa pun.


Dari jauh tampak Asyfal yang duduk di kursi roda bersama sang Ayah yang mendorong kemudi kursi roda Asyfal dari belakang.,


Sungguh tragedi yang memilukan.


Kali ini Allah sedang memberi peruntungan untuk Sean.


Samar-samar Ia melihat Asyfal bersama sang Ayah yang hendak menuju ke arah Dirinya dan Ainun.


Akal licik, bulus, bengis, kejam telah lebih dulu bersarang. Tanpa memikirkan semua itu pun, keadaan sudah sangat memihak pada Sean. Bagaimana tidak! kini Ainun berada dalam pelukannya, dan dengan keadaan pingsan, jadi kini ialah yang menjadi pemenangnya sekarang.


Langkah Asyfal beserta Ayahnya pun semakin dekat.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


POV ASYFAL


Asyfal dan Sang Ayah hendak menjenguk Ibu Ainun, yang kebetulan Beliau di rawat di rumah sakit yang sama. Mereka mendapat kabar dari mana itu tidak terlalu penting.


Setelah melewati perdebatan yang tak kunjung mendapatkan kesepakatan, ahirnya Sang Ayah lah yang mengalah. Beliau mengijinkan beliau untuk menjenguk Ibu Ainun.


Mereka menyusuri koridor rumah sakit setelah mendapatkan keterangan dari resepsionis tentang kamar ibu Ainun.


Langkah mereka hampir mendekat.


Sean sedang berpura-pura tidak melihat Asyfal dan Ayahnya berjalan mendekat ke arahnya.


"Nak Sean" Sapa Ayah Asyfal. Setelah berada tepat di hadapan sean dan Ainun.


Sean menoleh ke arah suara itu. Setelah menyadari bahwa Asyfal dan ayahnya berada tepat di hadapannya.


"Eh, iya pak, Bapak hendak menjenguk Ibu Ainun?" Tanya Sean sangat sopan di sertai senyuman.


"Untung ada Bapak lo! Kalau tidak! bisa abis lo sama gue!" Batin Sean dalam hati sesaat setelah melihat Asyfal tepat di hadapannya.


Sean seakan melupakan kejadian 'Zina' bersama Asyfal di markas Sean. Atau mungkin karna menghargai orang tua Asyfal.


"Ainun kenapa Nak?" Tanya Ayah Asyfal terlihat kuatir.


"Eh tadi Ainun nangis pak sampai tertidur" Ucap Sean sekenanya.


Pandai sekali Dia bersilat lidah.


Mungkin jika Ainun sadar di saat semua ini terjadi, Maka Ainun akan berteriak histeris meminta ampun pada siapa pun yang melihat Ia sedang berada dalam pelukan Sean.


Sedang Asyfal bersikap 'Profesional' walaupun hatinya sekarang merasakan sakit yang amat sangat memilukan. Bagaimana tidak, kekasih yang sangat Ia cintai dengan begitu mudahnya memeluk Sean. Asyfa sangat cemburu.


Sebenarnya Asyfal tidak pantas mencemburui Ainun. Karena Ia tidak berhak atas hal itu. Ainun bukan miliknya. Tapi hati Ainun adalah miliknya.


"Abi, maaf! tolong antarkan Asyfal kembali ke ruangan Asyfal"


Ucap Asyfal setelah Ia terdiam sedari Ia sampai di tempat ini.


Ia menyesal telah memaksa Ayahnya, untuk mengantar ke ruangan ibu Ainun. Ya! karena Ia tidak berfikir sejauh ini, Ia pikir Ainun tidak akab pernah melakukan hal serendah itu dengan Sean.


Ia tau bagaimana Ainun. Ia ingat bagaimana saat Ia dan Ainun berada dalam satu ruangan dan Ia difitnah Sean. Lalu Ia di pukuli Sean. Setelah itu Sean mengajak Ainun dengan menggandeng tangan Ainun, tapi apa? Ainun menolak gandengan tangan Sean. Ia pikir Ainun menghargai keberadaan dirinya.


Tapi saat ini keadaan telah menjungkir balikkan pemikiran Asyfal, bahwa mungkin Ainun tidak sebaik yang Ia fikirkan.


Seakan mengerti maksud sang Anak.


"Iya nak" Jawab Sang Ayah menanggapi permintaan Asyfal.


"Maaf ya Nak Sean, Bapak tidak bisa menjenguk Ibu, Bapak pamit pergi dulu, Bapak titip salam sama Ibu Ainun ya" Ucap Ayah Asyfal dengan senyumnya.


"Baik Pak, nanti akan saya sampaikan. trima kasih ya pak?" Ucap Sean seraya tersenyum.


"Iya Nak ,Bapak pergi dulu ya" Pamit Ayah Asyfal kemudian mendorong kursi roda Asyfal meninggalkan Sean dan Ainun.


Tapi sebelum meninggalkan Sean dan Ainun, mata Asyfal masih asik memperhatikan Ainun yang masih betada di pelukan Sean.


Kesempatan emas buat sean. Di saat Asyfal melihat kearahnya.


Sean dengan liciknya, Seringaian tipis terbentuk di sudut bibirnya.


Asyfal tidak menghiraukan senyuman licik itu dan secepatnya membuang muka.

__ADS_1


"Kali ini Aku yang menang fal! Aku akan buat Ainun selamanya menjadi milikku ! kita hanya menunggu waktu saja". Batin Seab dalam hati seraya menampakkan senyum miringnya.


__ADS_2