
"Wah cucu Oma sudah pulang. Seru banget yang sudah habis liburan." Seru Ibu nya Arin dan Adel pada Viona yang merupakan cucu semata wayang keluarga. Viona langsung berlari dengan girang saat melihat Omanya yang berdiri di dekat pintu. Beda dengan ekspresi yang diperlihatkan Adel dan Arin, keduanya masih tampak gugup karena kejadian sebelumnya yang sudah menimpa mereka.
"Supir kita gimana?" Serang Oma Ratih saat baru saja Arin dan Adel berjalan di belakang Viona.
"Oh supir. Baik-baik saja Oma." Jelas Adel nampak bicaranya tidak lancar.
"Baik gimana maksudnya?" Oma Ratih masih bersikukuh dengan ucapan yang terdengar tidak begitu enak membuat suasana kian tegang.
"Oma, supir sudah ditangani dokter. Semoga saja secepatnya pulih." Balas Arin mengambil alih jawaban yang seharusnya dijawab oleh Adel.
"Nyusahin banget, ngapain ngirim supir ke sana. Kan akhirnya kejadian kaya gini. Padahal Adel juga kan pasti pulang kalau udah waktunya." Oma Ratih berbicara sambil sesekali matanya mendelik ke arah Sarah Ibunya Arin.
"Yuk cepat semuanya masuk!" Seru Susan pada kedua anaknya yang baru datang. Dia memang tampak sengaja dan tidak begitu meladeni ocehan Oma Ratih mertuanya.
Mendengarkan Susan berbicara pasti menambah rasa kesal Ratih kian nyata.
"Arin! Bantu dong bawa barang bawaannya, koper di mobil masih ada gak?" Serang Oma Ratih pada Arin yang memang dari awal dia terlalu membedakan antara Arin dan Adel.
Arin hanya tersenyum dan mengangguk mendengarkan Oma Ratih yang berbicara cukup keras padanya.
Sementara itu semua orang kemudian disusul dengan Oma Ratih masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mau tidak mau Arin berjalan malas ke arah mobil, dia tahu ada beberapa koper yang harus dibawa dan itu semua adalah barang yang mereka bawa, dia juga tahu jika Adel sejak tadi tidak membawa apapun kan. Tapi untuk apa mempermasalahkannya? Arin hanya terlihat menarik napas menyikapi sikap Oma Ratih yang sudah menjadi terbiasa baginya hingga sekarang ini. Dan dia adalah orang yang diajarkan untuk selalu berlapang dada, ajaran Ibunya memang tidak akan pernah salah.
Saat membuka pintu mobil sialnya bayangan tadi saat diperjalanan kembali menghantui, Arin sampai merasa bergidik ngeri dan pikirannya seolah melayang tak tentu. Buru-buru diraihnya gagang koper dan ditariknya, setelah mengunci pintu mobil terburu-buru Arin berlari sambil menarik kedua koper dengan tangannya. Tolong kejadian itu hanya sebagai kejadian yang terakhir untuknya, tidak ada lagi kejadian yang lain. Harapan Arin disepanjang dia berjalan dari halaman sampai masuk ke dalam rumah.
"Ngapain itu pintu ditutup dikunci lagi. Masih siang! Cepat buka!" Oma Ratih langsung berteriak tak terima. Andai saja jika Adel yang melakukannya mungkin Oma tidak akan sampai harus berteriak seperti itu.
Dengan terpaksa meski tangannya masih gemetar Arin kembali meraih kunci dan memutarnya kemiri satu kali hingga sekarang pintu sudah tidak terkunci lagi. Dia hanya berharap tidak akan terjadi sesuatu setelah berada di rumah.
Tapi tiba-tiba suara geruduk dari langit-langit rumah berawal dari pintu masuk sampai ke ruangan keluarga terdengar begitu jelas. Suara yang persis sama seperti di villa.
Napasnya seolah sangat sulit kembali diatur, Arin mematung di tempat itu sendirian karena Oma Ratih sudah masuk kembali ke ruang tengah. Bola matanya bahkan terasa kaku untuk memastikan ke segala arah, di dalam pikirannya yang terbayangkan hanya kejadian di villa.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bukan menantikan, tapi Arin ingin bersiap untuk membuat dirinya selamat pada kemungkinan yang entah akan seperti apa.
"Del. Ngapain lari-lari?" Disusul dengan kedatangan Sarah.
Ketika melihat Arin dan Adel saat itu Sarah langsung bisa menebaknya. Ketakutan uang mereka rasakan dan mungkin semua yang mereka sembunyikan.
Dengan teliti Sarah melihat kedua putrinya yang lambat laun Adel langsung menundukkan wajah begitupun Arin. Setelah sadar jika Ibunya sedang memastikan sesuatu Arin langsung menunduk.
"Ada apa ini? Suara apa tadi?" Tanya Oma Ratih yang paling terakhir datang bersama Viona.
__ADS_1
Adel tidak menjawab begitupun Arin yang sangat tidak sanggup untuk berbicara sekarang.
"Sepertinya di rumah kita ada kucing. Aku akan memanggil tukang kebun untuk memeriksa." Sarah langsung menjawab, sudah jelas usahanya ingin menutupi kedua putrinya dari serangan pertanyaan Oma Ratih, dia tidak tega jika terus-menerus Arin yang akan disalahkan.
"Ngapain kamu masih disitu?" Tanya Oma saat melihat Arin masih mematung di depan pintu.
"Cepat bawa kopernya ke kamar!" Perintah Susan pada putrinya, dia tidak ingin memberikan kesempatan pada Oma Ratih untuk berbicara dan memakinya lagi.
Arin terburu-buru menarik koper hingga berhasil melewati orang-orang. Dia langsung berlari ke dalam kamar yang ada di ruangan itu dan langsung menutup pintu.
"Yuk kita masuk lagi!" Ajak Susan segera menyentuh tangan Adel, dia sengaja melakukannya agar Adel kembali fokus dan tidak melamun.
Ratih tak bisa bersikap baik, bahkan pada menantunya juga. Kerap sekali kata-kata kasar bahkan beberapa kali kalimat yang secara tidak langsung bermaksud mengusirnya dari rumah, tapi Susan tidak pernah bisa membiarkan mertuanya tinggal sendirian di rumah pada usianya sekarang, bukan karena hubungan mertua dan menantu yang sudah putus karena kematian suaminya, tapi Susan terlanjur berjanji akan menjaga mertuanya itu apapun alasannya. Dan Arin yang selalu dia ajarkan untuk tetap sabar dan berusaha bertahan tinggal di rumah bagaimanapun caranya. Berkat dari didikannya sebagai ibu, Susan juga berhasil membuat Adel anak sambungnya dan Arin tetap menjadi saudara yang akur. Itu saja sudah cukup, karena yang terpenting adalah hubungan anak-anaknya tetap baik.
Beban setelah kepergian suaminya tidaklah sedikit, meski banyak harta yang ditinggalkan Susan tak berniat sedikitpun untuk memakainya seorang diri, dia tetap ingin memperjuangan pendidikan anak-anaknya dan membahagiakan Adel sebagai Ibu juga sebagai Ayah.
Tapi Ratih, mertuanya masih tetap tidak melihat usaha yang sudah dilakukan selama puluhan tahun, bahkan mungkin niat baiknya selalu dipandang sebelah mata.
"Susan! Makanan udah siap? Adel sama Viona mau makan." Ucap Ratih pada menantunya tanpa ragu-ragu. Padahal tanpa diminta pun Susan akan melakukannya, bahkan baru saja dia berniat untuk pergi ke dapur.
Susan mengangguk dan tersenyum menyambut perintah dari mertuanya.
__ADS_1
Langkahnya tertahan lagi setelah melihat pintu kamar Arin yang masih tertutup.
"Udah biarin! Kamu siapin dulu makannya kan nanti juga gampang tinggal dipanggil aja." Teriak Omanya menghentikan Susan yang sebelumnya berniat untuk menemui Arin memastikan keadaannya saat itu.