
Arin baru saja keluar dari pintu kantor polisi, menuruni anak tangga berjalan dengan berani seorang diri, padahal Arin anti sekali berjalan sendirian.
Pandangannya bukan terpana pada setiap sudut pemandangan di sana, atau bahkan terlena dengan para polisi muda yang seumuran dan juga yang umurnya selisih sedikit tua darinya. Arin tak memperhatikan semua yang ada di sekelilingnya waktu itu, tidak ada yang lebih menarik selain semua masalah yang terngiang seolah saling berbicara ketika setiap kali dia menarik napas.
Bayangan Oma yang meninggal tidak wajar belum bisa dia lupakan satu detik pun, ditambah ekspresi Adel yang menambah hatinya tertekan.
Arin masih berusaha menyeret kakinya agar bisa berjalan entah kemana tanpa tujuan. Dia tidak tahu harus kemana, bahkan Arin tak yakin bisa diterima lagi dalam keluarganya. Yang sangat menyakitkan adalah ketika tatapan ragu dari Ibunya sendiri yang dia harapkan seorang Ibu harus lebih mengerti jika dia tak mungkin sampai sejauh itu, setidaknya berikan dia sedikit kekuatan mental ataupun sedikit saja percaya dan meyakinkan jika masalah besar ini akan segera berlalu.
Tak tahan dengan semua masalah yang membuatnya semakin sesak bahkan dia terisak sendirian bagaikan anak kecil.
Sambil berjalan Arin tetap saja menangis, sebuah tangisan yang tidak mungkin cepat mereda. Meskipun ada orang-orang di sekitarnya entah mereka memperhatikan atau tidak, hilir mudik kesana kemari tidak begitu jauh. Namun tak ada yang bisa sedikit mengurangi kesedihannya. Arin tetap menangis sambil berjalan tanpa rasa malu, tanpa memperdulikan orang-orang.
Untuk pertama kalinya dia sendirian, tidak tahu arah untuk pulang, tidak ada teman, dan menyedihkannya tidak ada cara agar dia bisa keluar dari sangkaan semua orang, itulah masalah terbesar baginya.
Hari yang awalnya cerah, namun mengapa Arin harus merasa sial ketika langit tiba-tiba menghitam dipenuhi awan dan memang hujan turun langsung deras.
Orang biasanya langsung berlindung dari hujan, jika sedang berjalan pasti akan langsung mencari tempat untuk berteduh, namun Arin masih saja berjalan sambil menangis seolah hujan tak menyadarkannya.
Sayang sekali kewarasannya kini benar-benar sedang dipertaruhkan, dia tidak bisa tetap hidup dan cukup bertahan ketika keluarganya sendiri tidak bisa mempercayainya.
Tanpa sadar langkah kakinya membawa Arin berjalan ke arah jalan raya, bagaikan orang yang nekat mencari celaka tapi bukan seperti itu. Mungkin karena memang sepi entah karena hujan, Arin tak begitu sadar jika dia tengah berjalan di jalanan sepi.
Jelas sekali saat Arin menyeberang dia tak begitu hati-hati, dengan semua masalah yang bergelut di dalam pikiran membuat dia tak memperdulikan dirinya. Hingga sebuah mobil yang datang dari jalurnya berdiri dalam jarak tertentu sudah melaju dengan kecepatan tinggi, saat lampu mobil itu sudah menjangkau tubuhnya baru saja Arin bisa sadar dan berbalik dengan wajah panik. Namun tak sempat, kurang dari hitungan detik mobil itu datang mengejutkan dan kecelakaan memang terjadi tak mungkin bisa dihindari, tubuh Arin yang sudah lemas karena kedinginan oleh air hujan tanpa reaksi lain langsung terjatuh ketika mobil menabraknya.
Sebuah mobil terhenti dan Arin yang sudah tergeletak di depan.
__ADS_1
Siapa sangka dari dalam mobil turun seseorang yang berpakaian rapih, tidak tampak khawatir karena jalanan memang sepi. Menggendong tubuh Arin dan masuk ke dalam mobil lalu mobil pun kembali melaju.
#####
"Ayah sudah katakan jangan bawa manusia kesini! Kau pikir rumah kita apa?" Teriak ayahnya memaki seseorang di dalam kamar.
Memang seorang perempuan tergeletak basah kuyup di atas kasur.
"Kalau masuk ketuk pintu dulu." Anak lelaki yang sudah beranjak dewasa sigap menghalangi Ayahnya dari batas pintu kamar.
Ayahnya berusaha memastikan siapa wanita itu, dengan indera penciuman yang tajam dia juga bisa menghirup darah segar manusia. "Bereskan sekarang juga atau yang lain akan membawanya." Tegas Ayahnya yang tampak khawatir.
Tidak ada sebuah jawaban terucap pintu kamar pun langsung di tutup.
Lelaki dewasa itu kembali berjalan mengitari kasur, bola matanya yang tampak berwarna putih hanya setitik warna hitam legam bergerak mengamati tubuh Arin.
"Wow, aku sudah melihatnya." Celoteh seseorang lagi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Seketika ekspresi lelaki yang sedang melakukan aktivitasnya pada tubuh Arin langsung berubah. Dia berdiri dan tanpa berbicara apapun, langsung mengangkat tangan dan mengakibatkan lelaki yang tampak lebih muda darinya langsung kembali mundur keluar melalui pintu hingga pintu tertutup lagi.
Matanya kembali mengamati Arin dengan tatapan penasaran. Padahal dia adalah mangsa yang bagus, tapi bukan itu yang membuatnya tertarik melainkan sesuatu yang di matanya tampak bercahaya dari arah kening Arin.
Sesuatu yang sangat berharga. "Ritual nya akan merusak wanita itu sebagai manusia, lambat laun dia juga akan meninggal." Batinnya. Wajah datar tanpa ekspresi itu hanya diam saja tidak banyak yang dikatakan, apalagi karena Arin sudah pingsan.
"Rai, wanita itu akan mati jika darahnya tak dihentikan. Sebaiknya sekarang kau pergi keluar." Teriakkan yang berasal dari luar kamar. Rai tahu siapa yang berbicara, tapi memang tidak ada salahnya.
Matanya menatapnya lagi, lalu dia menghela napas. Harusnya memang sudah dibawa ke rumah sakit saja.
__ADS_1
#####
"Siapa yang dia bawa lagi?" Seorang perempuan datang entah dari arah mana, menyapa lelaki yang masih berpakaian polisi.
"Hanya mainannya saja!" Jawabnya singkat.
"Aku tahu dari baunya, dia seperti orang yang pernah aku temui." Timpal wanita itu yang penasaran.
"Tapi sebaiknya kau tetap diam, anak itu sudah aku peringatkan banyak sekali." Ingatnya lagi agar tidak ada yang berani mengganggu Rai.
"Aku belum mendapatkan apapun dan rencananya tiba-tiba gagal lagi." Ungkapnya.
"Gagal dan kau menimbulkan masalah karena telah membunuh keluarga itu lagi. Sudah ku katakan tidak ada gunanya dengan buku itu biarkan mereka menanggung masalah mereka lalu menyelesaikannya. Kau selalu ikut campur saja." Terangnya terdengar tidak terima.
"Apa boleh buat, aku hanya membunuh nenek tua itu."
"Kau juga pernah membunuh Rendra." Timpalnya lagi yang tak mau kalah.
"Sudahlah sayang yang terpenting kau masih hidup. Kau hanya ingin itu saja kan."
Tak menyenangkan tampak dari ekspresinya yang diam saja.
"Aku ingin menjadi manusia, tapi jika dipikirkan lagi manusia itu menyedihkan sekali." Sambungnya merasa tak puas.
"Bahkan kau mengambil profesi diantara mereka, itu terlalu bohong." Sergah wanita itu tak lama sudah ada di kamar Rai dengan pintu yang sudah terbuka, hidungnya memang tajam mengendus seprai kasur dan membayangkan aroma yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Sudah ku katakan jangan masuk!" Ucapnya lagi memperingatkan.
"Anakmu ceroboh sekali, lihatlah ada bekas darah dan bau manusia itu masih menempel. Kau mau membersihkannya?" Ucapnya sambil menunjukkan seprai yang penuh darah, namun dia tampak cukup senang jika menghirup aroma di tangannya.