Beda Dunia

Beda Dunia
Apa yang harus dilakukan?


__ADS_3

Tangan Arin yang masih gemetar berhenti seketika saat meraih gagang pintu yang sama sekali tidak digerakkan nya juga. Tidak ada keberanian yang tersirat saat Arin sadar bahwa sosok Rendra semakin dekat berdiri langsung di hadapannya.


Berulangkali hatinya berusaha sekuat sebisa yang dia mampu, kembali bergulat dan memaksa pikirannya sendiri agar dia bisa sedikit bernapas lega, wajarnya dia tidak sampai merasa setengah mati ketakutan karena fakta yang dia lihat sekarang adalah sosok Rendra yang sudah meninggal 5 tahun lalu dan tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


Namun sedalam apa perasaannya, hatinya tidak benar-benar menerima apakah dia cukup yakin untuk mempercayai sosok Mas Rendra yang tiba-tiba datang?


"Tolong jangan takut! Rin, aku Rendra. Kemari dan kembali perhatikan dengan jelas apa yang membuatmu takut?" Rendra berusaha membujuk Arin meski hal itu adalah sesuatu yang mustahil tampaknya. Raut wajah Rendra mulai memperlihatkan perasaannya yang semakin gusar, dia bingung harus meyakinkan apa? Kematiannya memang sudah berlalu 5 tahun ini, cukup lama dan tak mungkin memaksa logika orang lain untuk mengakuinya.


"Aku akan pergi lagi, tolong jaga Adel!" Ucap Rendra.


Arin bisa langsung tahu jika pada detik itu Rendra sudah tidak ada di dekatnya lagi. Saat membuka mata dan mengabsen ke setiap tempat yang terlihat, sejauh itu tidak ada jejak Rendra.


Arin masih mematung memegangi gagang pintu, entah mengapa hatinya masih tidak tenang dia merasa ketakutan tadi yang mungkin masih tersisa.


Setelah menit berlalu, kesadaran Arin kembali lagi. Dia teringat dengan pesan Oma yang harus dipenuhinya segera. Dengan waspada Arin melihat lagi seisi ruangan, memastikan apakah ada sesuatu yang terlewatkan? Setelah yakin tanpa rasa sabar Arin menarik gagang pintu dan berlari bagaikan dikejar setan. Kesalahan yang dibuatnya karena dia tak sengaja menutup pintu cukup nyaring, hal itu membuat Arin terhenyak kaget dan langsung membayangkan apa yang akan dikatakan Oma padanya saat ini.


Bagaikan orang linglung, Arin merasa sesuatu tidak membuatnya fokus bahkan dia sampai lupa setelah menutup pintu kedua apakah tadi dia sudah mengunci pintu sebelumnya? Dia langsung cemas, namun jika mengingat lagi perasaan takutnya Arin tak mungkin harus kembali lagi ke ruangan sebelumnya, sangat tidak mungkin.


Alih-alih kembali memastikan, Arin memilih langsung mengunci pintu di ruangan itu dan kembali berjalan ke arah kamar, dia tidak perlu memastikan pintu di ruangan depan karena sebelumnya sudah terkunci.


"Lama banget!" Dengan wajah emosi dan berbagai macam ucapan yang bagaikan sumpah serapah baginya, Oma berdiri memaki Arin yang selalu salah dan tidak becus.

__ADS_1


Arin hanya bisa menghela napas dan mengeratkan kepalan tangannya. Tidak ada alasan lain baginya untuk membenci Oma, bagaimanapun Ibunya akan menyalahkannya juga jika dia sampai bersikap seperti apa yang dipikirkan oleh otaknya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Omanya ketika melihat Arin yang kembali berbelok memutuskan tidak jadi untuk pergi ke arahnya.


Arin masih acuh tak acuh, dia mendengarkan apa yang dikatakan Omanya namun sekarang Arin butuh sendirian karena itu Arin tak mengindahkan pertanyaan atau apapun yang dikatakan Oma padanya. Setelah tak mendapatkan respon Arin yang baik, Omanya langsung pergi kembali ke dalam kamar. Setidaknya Arin lebih baik sendirian saja duduk santai dan lupakan saja tentang Oma. Karena masalah terbesarnya bukanlah tentang sikap Oma lagi.


[Suara dering Hp]


Saat melamun sendirian, telinga Arin mendengar dering Hp yang dari nada deringnya langsung bisa ia tebak jika hp yang berdering itu adalah milik Kak Adel.


Bola matanya memutar mengitari ruangan sempit yang dari arah kamar tepat di belakangnya adalah kamar Adel. Mungkin sebuah panggilan yang cukup penting karena setelah dia membiarkannya nada dering hp nya berulangkali terdengar lagi.


Arin melihat ke arah pintu kamarnya, di dalam sana mungkin semua orang sedang berkumpul dia hanya perlu menemui Adel kan? Namun saat bersiap ingin berjalan ke arah kamar itu, perasaan Arin tak bisa tenang juga, sudah jelas sebabnya hal itu karena Oma. Arin tak ingin bertemu terlalu lama di hadapan Oma.


Arin langsung berjalan ke arah kamar Adel, saat membuka pintu matanya bisa langsung menemukan tempat Hp itu berdering. Tanpa ragu Arin segera meraih Hp.yang tergeletak di atas kasur.


"Andre." Sebuah nama yang tertera dari layar Hp.


Sebuah panggilan, Arin tertegun sebentar dia bingung apa yang akan dilakukannya? Apakah tidak masalah jika dia lebih dulu menjawab telponnya.


Padahal tangannya sudah bersiap menggeser layar lalu panggilan akan segera terhubung, tapi sebelum hak itu berhasil panggilan masuk tiba-tiba sudah berakhir. Bagus sekali Arin hanya tinggal menemui kakaknya sekarang.

__ADS_1


Di dalam kamar Arin, pintu terbuka sehingga terdengar bunyi pintunya. Semua mata tertuju pada kedatangan Arin. Perasaan tak menentu membuat Arin canggung, untuk mengumpulkan keberanian masuk saja sudah untung.


"Rin, Hp aku?" adel langsung menyambut Arin dengan ucapannya.


"Ia, ini Kak tadi bunyi terus." Ucap Arin canggung sambil menyodorkan hp dari tangan kanannya.


Tanpa mengucapkan apapun Adel langsung berjalan dan menerima Hp nya. Sedangkan Arin hanya diam saja sambil menundukkan wajah.


"Aku keluar lagi!" Cetus Arin tampak terburu-buru.


"Loh kemana lagi? Cepat kunci dulu pintunya!" Teriak Omanya. Mendengarkan suaranya saja membuat jantung Arin berpacu abnormal. Tanpa mengatakan apapun Arin langsung menurut saja.


Setelah itu tak ada lagi yang berbicara seolah kedatangannya bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Semua orang sibuk dengan Viona dan meskipun begitu orang-orang pasti cemas sama seperti yang dirasakan Arin. Bedanya hanya Arin dan Adel bisa tahu siapa yang menyebabkan kegaduhan di rumah, tak lain adalah pada roh jahat mungkin saja.


"Tante!" Teriak Viona langsung membuat Arin menatapnya. Namun tak seperti yang biasa dia lakukan, Arin menjadi tak berani menyambut ucapan Viona bahkan Arin tak berani sedikitpun melangkah untuk mendekat.


"Vio sama Ibu saka dulu ya, aku mau keluar dulu!" Ucap Adel di tengah orang-orang. Bisa langsung ditebak reaksi orang-orang cukup tercengang dibuatnya, padahal dalam situasi genting seperti ini mengapa Adel malah mau keluar?


"Duh mau kemana sih Del? Udah tunggu dulu sebentar saja, kamu gak boleh keluar rumah dulu!" Larang Oma lebih dulu pada Adel uang saat itu berniat pamit untuk keluar dari kamar.


"Sebentar aja nanti juga balik lagi kesini." Jawab Adel terdengar dia akan berusaha keras agar bisa diberikan izin keluar.

__ADS_1


Arin hanya diam saja, dia tak akan memberikan Adel alasan agar bisa diizinkan pergi.


__ADS_2