
Adel masih bingung hingga sekarang dia tidak bisa berbuat apapun selain membiarkan Arin berlari ke luar pintu seperti yang dikatakan Oma. Hatinya sebagai seorang Ibu mungkin sekarang sedang benar-benar diuji, Adel sudah menyembunyikan masalah besar hingga dia tidak tahu apa lagi yang akan dia hadapi setelah kebohongannya.
"Ibu tadi denger suara itu dan langsung berpikir kemari, kira-kira maling bisa sampai ke atap rumah kita ya." Ibunya mendekat sambil tak hentinya bicara karena dia masih merasa heran.
"Itu pasti maling, makanya sekarang kita lebih baik telpon pak satpam komplek biar segera kemari." Sahut Oma menegaskan dugaannya. "Arin lama banget kalau disuruh hal sepele juga." Timpalnya kesal lagi, memang pasti seperti itu saat Oma berbicara tentang Arin mungkin rasa kesalnya langsung menjadi.
"Aku susul dulu." Cetus Ibunya yang tidak bisa tenang. Namun sebelum berhasil keluar dari pintu tiba-tiba sosok Arin yang ditunggu-tunggu langsung muncul membuat Ibunya kembali mundur dan membiarkan Arin masuk ke dalam kamar.
"Rin, Viona ada?" Langsung tanya Ibunya sebagai orang pertama yang melihat Arin.
Adel langsung berlari tak sabar menyambut Arin yang datang sendirian.
"Viona mana? Kok kamu malah sendirian." Timpal Omanya dengan nada bicara yang seperti biasanya.
Adel langsung terdiam, perasaannya yang tak bisa dia utarakan lagi saat melihat Viona tak ada bersama Arin. Saat itu dengan perasaan sama yang pernah dia rasakan. Rasa kehilangan dan bersalah.
"Kak. Vio gak ada." Ucap Arin melemah.
"Gak ada? Kamu cari yang bener deh!" Sengit Omanya tak terima.
"Rin, kalau gak di kamar berarti Vio ada dimana dong." Timpal Ibunya yang mulai heran dan khawatir.
Adel tak berbicara, seketika pandangannya kosong dan tubuhnya ambruk lagi ke lantai.
__ADS_1
"Del, kenapa?" Tanya Omanya panik. "Bantu cepat!" Sebut Omanya berharap Arin membantu Adel hingga dia bisa berdiri.
"Pasti ini gara-gara hantu itu kan?" Ucap Adel dengan tatapan nanar ke arah Arin. "Semua salah kamu! Kamu yang sudah membawa kesialan, kamu yang bersalah dengan semua kejadian di villa, kamu Rin. Harusnya kamu bukan Vio. Harusnya kamu!" Bentak Adel seperti hilang kendali.
Arin merasa sangat tertekan dan dia memang sangat bersalah, hingga tak ada satu katapun yang bisa dia ucapkan untuk menahan kakaknya agar diam. Saat matanya berusaha meraih tatapan kakaknya, Adel sudah terlanjur tampak marah dan baru pertama kali ini Adel memperlihatkan sisi itu pada Arin.
"Sabar Adel, kenapa sih Oma jadi gak ngerti gini." Diiringi dengan tangisan Adel yang tiba-tiba langsung pecah di tengah suasana dan kebingungan orang-orang saat mendengarkan amarah Adel.
"Rin, sini!" Ucap Ibunya.
"Sekarang kamu tenang dulu dan lebih baik cerita sama Oma, semuanya. Pertama kenapa kamu bilang seperti itu." Omanya tak mengindahkan perasaan Arin, dia tidak menghiraukan Arin yang nampak syok.
Sesekali tatapan Oma memastikan ke arah Arin, tapi bukan karena rasa simpati. Sudah jelas tujuannya ingin mencari alasan tentang kesalahan yang sudah dilakukan Arin hingga membuat amarah Adel meluap.
Di sisi lain Ibunya semakin tak tenang. "Oma kita cari Viona aja sekarang!" Ajaknya.
Terdengar masuk akal dari pada mempermasalahkan sesuatu yang butuh waktu, lebih baik menggunakan waktu sebaiknya untuk mencari Viona.
"Suruh tuh anak kamu bicara sampai-sampai Adel marah gini. Gak ada rasa bersyukurnya di baik-baikin malah bikin masalah." Oma menggerutu, tapi bukan berarti dia tidak setuju untuk bergegas mencari Viona.
"Viona kemana sih membuat semua orang khawatir saja." Oma segera berdiri bersiap untuk mencari Viona.
"Emangnya kita mau cari kemana lagi?" Ucap Adel dengan nada dingin. Ucapan Adel berhasil membuat tatapan Oma fokus padanya.
__ADS_1
"Kok kamu ngomong gitu, Del?" Tanya Omanya penasaran.
"Harusnya Oma tanya dulu, hal apa yang udah dilakuin Arin di villa itu sampai masalahnya bisa sebesar ini." Tak disangka nada bicara Adel kembali naik memperdengarkan perasaan kecewanya.
Arin mematung dengan perasaan yang sangat bersalah, bahkan tangisan itu mulai meluncur dari arah matanya.
"Villa?" Tanya Omanya menegaskan. "Maksud kamu apa? Oma gak ngerti. Lalu masalah, emangnya masalah apa yang kalian tahu, coba jelaskan sekarang!" dapat didengar dari nada bicara Omanya yang menandakan mulai tertarik dengan pembahasan Adel.
Adel di dengan napas yang naik turun saat itu.
"Rin, coba kamu bicara sama Ibu. Ada apa? Kalian punya masalah sampai tidak bicara gini." Nada lembut yang menenangkan terdengar dari mulut ibunya, sebagai orang tua memang seharusnya bertanya dengan cara itu dan alangkah baiknya menjadi pendengar dari kedua sisi dan sudut pandang yang berbeda.
"Rin, kamu bisa kan kalau Ibu pinta untuk cerita." Ucap lagi sebagai Ibunya Arin yang berharap jika saja Arin memang tak melakukan kesalahan apapun.
Tatapan Oma masih begitu judes, bukan hanya akan menyalahkan tapi Oma mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang langsung marah bahkan ketika Arin masih berbicara.
"Oma, cari Viona dulu aja ya!" Ucapnya sebagai seorang menantu tentu saja akan selalu meminta izin untuk hal apapun sebagai rasa hormatnya.
"Siapa bilang kita diam aja terus. Lagian ulah siapa tapi jadinya siapa juga yang harus repot. Sampai semua orang harus kesal karena kesalahannya." Sindir Omanya yang tidak digubris sedikitpun. Satu hal yang lebih baik pada situasi itu hanya mencari Viona saja, bukan berdebat dan memang bukan saatnya menunggu Arin berbicara.
"Rin, pokoknya kamu harus cerita semua orang sudah bertanya. Kamu harus bicara." Ancam Ibunya yang kemudian berlalu meninggalkan Arin saat itu.
Adel mulai bangkit dan menyusun langkahnya menghampiri Oma. Lagi-lagi tanpa mendapatkan tatapan yang baik dari Adel, sebagai adik dia cukup sakit menerima perlakuan itu. Apalagi kesalahan yang disebut-sebut Adel bukanlah keinginannya juga. Adel hanya tidak tahu persisnya bagaimana dan langsung menuduh Arin.
__ADS_1
Arin tak ingin diam saja, betul seperti yang dikatakan Oma karena harusnya dia yang paling sibuk, dia yang paling bersalah, dan dirinya harus mempertanggungjawabkan segalanya. Tapi apakah harus karena sesuatu yang dia sendiri juga tidak tahu? Arin tak pernah berharap jika Viona benar-benar hilang meski sebabnya tak bisa diketahui dengan pasti, tapi besar kemungkinan penyebabnya karena ulah hantu itu lagi. Siapa yang bisa membuat Viona menghilang dengan sekejap mata? Jika Viona hanya berlari pasti jejak nya bisa diketahui pasti dan tidak sesingkat itu dia menghilang.