Beda Dunia

Beda Dunia
Teka-teki batas ruang di kastil.


__ADS_3

"Sekarang juga kau bebaskan kami semua!" Ancam seseorang yang sudah menodongkan sebuah senjata tajam ke arah Rendra.


Sudut mata Rendra bergerak dengan hati-hati, memastikan jika hanya dia seorang yang mengancamnya.


"Sekarang!" Bentaknya lagi langsung membuat Rendra terhenyak kaget.


Rendra mengangkat kedua tangannya dengan gemetar, dia kini memilih bangun dari duduknya. Tak disangka orang-orang berkumpul menghadapnya bersama orang yang mengancam.


"Jawab!" Tiba-tiba meja di hadapannya terlempar karena seseorang sudah menendangnya bersama dengan buku milik Rendra yang ikut terlempar.


Mata Rendra cukup fokus memperhatikan buku yang lebih penting dibanding apapun.


"Saya tidak tahu bagaimana caranya keluar, tapi tolong kembalikan buku itu!" Pinta Rendra ketika melihat seseorang yang sudah mengambil bukunya. Ketika sedikit saja bergerak Rendra bisa merasakan benda tajam itu dapat menggores kulitnya, tidak mungkin dia membiarkan kepalanya jatuh ke lantai karena pisau yang masih menempel di lehernya.


"Sekarang kau harus mencoba sendiri jalan di sana, baru kami tahu apakah jalannya aman atau tidak." Ancamnya yang langsung membuat Rendra membulatkan mata. Tentu saja siapa yang ingin mencoba hal gila seperti itu? Rendra tak ingin mati konyol karena jebakan di pintu kastil.


Sekuat tenaga Rendra berusaha untuk terbebas dari cengkraman orang itu, kemudian dua orang lagi malah mengunci tangan dan kakinya membuat Rendra tidak bisa melakukan apapun sampai dia benar-benar merasa hampir putus asa, merasa jika waktunya akan berakhir.


"Kau takut mati rupanya?" Senyum licik mengembang, Rendra pikir mereka tak akan berani sampai melakukan hal konyol seperti ini. Rendra tak pernah paham mengapa mereka semua nekat.


"Di depanmu adalah pintu, kau harus merasakan sendiri bagaimana jika terlempar ke sana." Kata-kata itu membuat Rendra semakin memberontak, bayangan ketika seseorang yang hancur lebur oleh jebakan itu membuat Rendra semakin jelas merasakan ketakutannya jika memang saatnya ini dia harus menghadapi kematian di depan matanya. Andai saja, sesuatu keajaiban terjadi lagi. Andai saja.


Rendra masih berusaha untuk lepas, dia harus hidup demi menyelamatkan keluarganya sendiri, ada begitu banyak yang belum diketahuinya, dan yang terakhir adalah Arin untuk masalah itu bahkan Rendra belum sempat memikirkan caranya. Lantas jika sekarang dia mati hal apa yang akan terjadi? Rendra hanya tahu jika Oma sangat khawatir tentang kehadiran bangsanya ke dunia manusia, dia hanya tahu jika Oma sangat berusaha untuk menutup kembali batas antara bangsanya dan manusia. Hanya itu saja kekhawatirannya.


Siapa sangka orang-orang tak berkutik ketika tubuh Rendra sedang diayunkan oleh 3 orang tak dikenal. Rendra menebaknya jika ketiga orang itu pasti ada hubungannya dengan wanita yang kabur tadi. Apakah ini rencananya? Rencana untuk merebut buku dan membuatnya mati terlebih dahulu?


Saat tubuhnya dilemparkan ke pintu kastil Rendra sudah kehilangan semua kemampuannya, padahal dia masih berpikir bisa melarikan diri dan menghindari pintu itu. Tapi cukup mengherankan semua kemampuannya hilang.


Rendra benar-benar terlempar ke pintu kastil, dia tidak tahu apakah kematian akan menjemputnya di detik terakhir? Rendra hanya berharap jika saja dia masih hidup, dia akan menutup semua pintu batas pada dimensi ini yang sudah terbuka, selamanya tak akan pernah berpikir andai saja jika dia bisa kembali ke keluarganya, dia tidak akan pernah mengharapkan untuk kembali ke keluarganya, Rendra hanya ingin semuanya selamat meskipun selamanya dia tidak akan pernah bisa kembali.


Bruukk...

__ADS_1


Tubuh Rendra berbenturan dengan lantai di kastil itu. Dia merasa jika tubuhnya jatuh ke bawah dan sedikit merasa sakit karena dia harus melayang dan jatuh dalam ketinggian.


#####


Arin menatap sayu pada orang yang sedang berusaha membawanya, entah kemana dia pergi tapi Arin sudah tidak peduli lagi.


"Kenapa kau tak mati saja!" Keluh wanita itu yang langsung menjatuhkan tubuh Arin ke tanah.


Untuk meringis karena sakit pun tak mungkin, Arin tak berdaya.


"Menyusahkan saja!" Gerutunya.


Arin melihat ekspresi wanita yang sedang frustasi di hadapannya. Wanita dengan warna kulit yang sama seperti Mas Rendra. Sempat terpikirkan, mereka itu apa?


"Sial! Bahkan aku tak mendapatkan bukunya, padahal sedikit lagi."


Arin mendengar ocehan wanita itu yang sangat kesal. Entah mengapa Arin merasa jika wanita itu memang berniat akan mencelakai dia dan keluarganya.


"Jika diingat-ingat lagi wanita itu ada kan ketika Oma membunuh hantu di rumah, lalu Oma merapal kan mantra dan membuat sesuatu yang sakit di kepalaku. Tapi wanita itu tadi sedikit berselisih dan membuat Mas Rendra kesal." Batin Arin dalam hatinya.


"Mikirin apa? Masih mau hidup? Hidup juga kau gak ada gunanya, karena akhirnya kau pasti akan mati lebih cepat." Dengan percaya diri wanita di hadapan Arin terus mengancam.


"Apa maunya dia?" Batin Arin kesal.


Aaaaa....


Teriak Arin ketika dengan sengaja rambutnya ditarik ke belakang sampai Arin merasa seluruh rambutnya akan tercabut semua.


"Gak bisa apa-apa kan? Jaga mata mu, kau kira aku wanita sama seperti manusia? Kelas kota berbeda." Ucapnya lagi. Arin semakin tak mengerti dengan wanita yang ada di hadapannya, terutama apa tujuannya membawa Arin dari Rendra dan menjauhkannya.


Dan sekali lagi Arin merasa wajahnya terbentur menyentuh lantai, cukup menyakitkan untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke nenek tua itu!" Ujarnya dan kini memaksa agar Arin yang sudah tak berdaya untuk berdiri.


Aaaaaaa....


Teriakan dua orang wanita bersamaan.


Arin maupun wanita itu melayang seperti seseorang sengaja melemparnya hingga angsung terjatuh.


Sekarang barulah menyerah, Arin tak kuasa menahan remuk badannya yang terbanting beberapa kali. Arin hanya terus meringis dengan tubuh yang sudah tak berdaya bahkan sedetik untuk menggerakkan tubuhnya lagi terasa tak mungkin.


"Ardi! Jangan bawa dia!"


Hanya suara itu yang terngiang di telinga Arin sebelum semuanya berdenging hingga perlahan dalam hitungan detik Arin sudah sepenuhnya kehilangan kesadarannya.


#####


Di rumah Oma yang tampak sepuh dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya mengatur napas di atas kasur, dan menunggu seseorang untuk datang padanya.


"Gadis cucu mu sudah aku bawa, seperti yang kau minta." Ucap seseorang langsung membuat Oma terjaga dan membuka matanya.


"Sebagai gantinya, serahkan kunci terakhir untuk membuka gerbang itu!" Ucapnya yang tampak seperti sudah melakukan suatu perjanjian.


Oma menghela napas, dia sangat sepuh dan sebaiknya memang sudah tahu pasti jika dia tidak boleh melawan anak muda yang memiliki kekuatan lebih dibanding dirinya.


"Aku tak bisa memberi mu apa-apa!" Ucap Oma terdengar lemah.


Seorang lelaki di hadapan Oma tampak mengepalkan tangan, raut wajahnya berubah kesal. "Bahkan jika kau mati?" Tanya lelaki itu pada Oma.


Oma masih jelas mendengarkan kata-kata itu, tapi dia hanya diam saja seolah Oma sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika sudah membohongi anak muda yang sudah sangat kesal padanya.


"Sudah ku katakan! Dunia ini bukan tempat untuk kalian, bahkan untuk anak cucu keturunanku." Ucap Oma semakin melemah.

__ADS_1


Seolah tak ada lagi sebuah perjanjian untuk hidup, tiba-tiba Oma merasa sesuatu sedang mencekik lehernya dan napas perlahan pergi meninggalkan paru-paru. Sulit sekali untuk bernapas serasa sebentar lagi paru-parunya akan pecah meledak bahkan detik berlalu jantungnya terasa semakin diremas kejam, sakit sekali dan barulah Oma tahu jika akhir ini adalah takdir baginya.


__ADS_2