
Tak lama setelah berita kematian Oma menyebar, rumah pun dikelilingi oleh batas kuning polisi. Satu-satunya saksi mata adalah Arin anggota keluarga.
Beberapa pasang mata tampak kosong, sorot mata yang tak mencerminkan hasrat dan kehidupan.
Ibu berdiri bersama tetangga, Adel menggendong Viona, hanya Arin yang tampak frustasi harus masuk ke dalam mobil polisi. Tidak ada yang berani berkomentar, dari mulut tetangga pun polisi tak mendapatkan apa-apa karena kasus ini benar-benar tertutup.
"Ibu, kakak!" Batin Arin yang tak hentinya berteriak.
Demi kepentingan penyelidikan polisi harus membawa Arin sebagai saksi kunci dalam kasus pembunuhan ini. Begitupun Ibunya, tak menolak maupun mencegah saat Arin dibawa dan pergi ke kantor polisi.
Arin hanya bisa bersedih dalam hati, dia ingin menceritakan semuanya pada Adel namun setiap kali dia ingin bicara Adel memalingkan wajahnya dengan kesal.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Akhirnya Arin pasrah dan bersiap untuk menjadi saksi, meski hanya saksi dia benar-benar tertekan. Bukan takut karena dia dipenjara dan harus tinggal di sana, melainkan tentang keluarganya, Ibu dan kakak bagaimana isi pikiran mereka tentang nya?
"Silahkan masuk!" Pinta seorang polisi yang penuh sopan dan lembut memperlakukan Arin.
Saat turun dari mobil untuk pertama kalinya Arin melihat dengan jelas bahkan dia tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa sampai masuk ke dalam kantor polisi.
Mata Arin sangat tertekan, dia tidak tahu apapun tapi adilnya dia tetap harus memenuhi tugasnya sebagai saksi. Masalahnya bukan karena dia sebagai saksi, tapi apa yang akan dia katakan pada semua orang tentang kejadian yang sedang di hadapi oleh keluarganya.
Ruangan yang penuh dengan orang-orang sibuk, sebagai pelayan publik kantor polisi tidak seterusnya tenang dan tanpa pekerjaan, justru mereka memiliki segudang pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Kau akan bersama Pak Mario untuk melanjutkan penyidikan." Seseorang berbicara pada Arin, namun Arin tak memperlihatkan niat sedikitnya untuk menjawab dia hanya mengikuti apapun yang diperintahkan untuknya.
__ADS_1
Arin duduk di sebuah ruangan yang langsung membuat hatinya bergetar hebat, para polisi beberapa orang saja sudah cukup membuat dia gugup bagaimanapun ini adalah kali pertama dia berbicara dengan seorang polisi.
"Kau mengingatkan ku pada seseorang, mirip sekali. Sarah! Aku bisa mengingat namanya." Seru polisi yang duduk berhadapan dengan Arin. Mendengarkan kata-katanya seketika Arin langsung menoleh, dia merasa bukan lagi sebuah kebetulan jika nama ibunya disebut.
"Sarah Ibuku." Timpal Arin ragu-ragu.
"Benarkah itu? Ternyata dunia ini sangat sempit, sekarang aku bertemu lagi dengan anak dari sahabat lama." Celoteh polisi itu membuat Arin paham tentang hubungannya dengan ibu, namun Arin tak langsung percaya mungkin saja itu sebuah kebetulan.
"Dia menikah dengan Giyan, aku dengar Giyan memiliki seorang putri namanya Adel." Tak disangka polisi itu masih melanjutkan perkataannya tadi. Kali ini Arin tak boleh menolak jika polisi itu benar-benar mengenal baik keluarganya.
Sekilas mata Arin yang penuh harap memandangi polisi yang ada di hadapannya, penuh harap. Arin ingin jika polisi itu juga paham dengan apa yang dia khawatirkan, Arin berharap jika polisi itu tahu betul tentang masalah keluarganya mengenai kemunculan Mas Rendra dan hantu lain.
"Aku akan membantu mu, tenang saja! Kau hanya perlu menceritakan semuanya pada ku!" Tegas polisi itu memberikan sebuah ketenangan pada Arin sekaligus membuat harapan Arin pupus. Arin terlalu banyak berharap.
"Apakah kau bisa membicarakannya sekarang?" Tegasnya lagi karena melihat Arin yang hanya diam saja dengan bola mata yang berputar ke kiri dan ke kanan seperti sedang memikirkan banyak hal.
Arin terperanjat dia sadar karena terlalu banyak bergelut sendiri dengan hatinya. Sebagai tanda persetujuan Arin menganggukkan kepala.
"Kau seorang mahasiswa bukan anak.kecil lagi, dan sebaiknya kau tahu jika pembicaraanmu terbukti bohong maka statusmu sekarang tidak menjamin kau bisa lolos dari hukum." Terang polisi itu berniat memancing pembicaraan.
Arin diam mendengarkan, tapi sejujurnya dia sangat gugup mentalnya benar-benar dipertaruhkan saat itu, yang ada dalam pikiran Arin sepenuhnya tentang kematian Oma, saat Oma meninggal dengan posisi tubuh dan keadaan terakhirnya. Bayangan itu membuat Arin gugup, sampai dia tidak tahu apa yang dipikirkan untuk menjawab pertanyaan dari orang yang terus berusaha mengajaknya bicara.
Dari tatapan Arin dia benar-benar belum siap untuk bicara, kematian Oma sudah memukul mentalnya ditambah ancaman pidana jika ada bukti dia yang sudah membunuh Oma, dan jika diam saja tak membela diri itupun juga salah.
Bukan keinginan Arin jika dia hanya bisa diam saja mendengarkan tanpa menjawab setiap perkataan yang masuk ke dalam indera pendengarannya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja? Apakah kau baik-baik saja?" Dengan panik polisi itu berusaha menarik kesadaran Arin yang tampak dari sorot matanya kesadaran itu sudah jatuh, Arin tampak dalam kondisi dimana mental dan pikirannya benar-benar hancur.
Polisi berdiri dan menggoyahkan tubuh Arin yang tak merespon. Arin tampak membuka matanya namun dia tidak merespon apapun, dan hitungan detik Tiba-tiba tubuh Arin limbung sampai terjatuh dari kursi.
#####
"Kak!" Seru Arin dengan sisa tangisan yang masih membanjiri pipi. Arin berjalan ke arah Adel dengan tatapan bingung.
"Siapa yang sudah membunuh Oma?" Tanya Adel tanpa basa-basi ketika Arin mendekat.
Arin diam tak bisa menjawab, dia terkena serangan panik sampai tak bisa berkata-kata.
"Siapa yang bunuh Oma?" Bentak Adel terdengar nada tinggi dari perkataannya.
Seketika Arin terhenyak, dia semakin tertekan namun masih dalam kondisi dimana Arin masih tidak bisa mengatakan apapun.
"Rin!" Panggil Ibunya yang berjalan lemas dari arah kamar, Ibu keluar dan menatap Arin dengan sorot mata kesedihannya.
"Kamu yang bersama Oma kan? Sekarang ceritakan ya sama Ibu ada apa?" Tanya Ibunya membuat Arin langsung merubah ekspresi wajahnya saat itu. Arin merasa jika Ibunya tak begitu percaya dan menganggap jika kematian Oma adalah karena ulahnya.
"Jadi, kamu sama Oma tapi Oma meninggal?" Tak tahan dengan emosi yang meledak Adel seolah tak bisa mengontrol emosinya sehingga Adel masih berbicara dengan nada tinggi dan penuh amarah.
Arin terdiam syok, matanya mengabsen ke arah Ibu yang memperlihatkan kesedihannya, kemudian berbalik ke arah Adel yang begitu sangat marah padanya.
Bukan untuk menjawab bahkan Arin tak sanggup hanya sekedar membela diri, padahal jelas tidak ada yang salah dari kenyataan yang sebenarnya tapi Arin mengalami kesulitan, dia yang sangat ketakutan begitu Kelu untuk bicara.
__ADS_1