Beda Dunia

Beda Dunia
Apa yang Oma lakukan?


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu lagi.


"Papa!"


"Papa!"


Rengek Viona. Arin yang berada tepat di samping Viona saat diam dan ragu bercampur membuat dia bingung harus melakukan apa. Viona mungkin berharap seseorang membuka pintunya, tapi apa daya Arin tak mungkin melakukannya kan.


"Vio kenapa? Udah ya sayang gak ada apa-apa di sana." Sarah (Ibu Arin) Berusaha membuat Viona agar tenang, ditambah suasana yang membuat semuanya panik.


Tak lama suara pintu berhenti, namun satu detik kemudian suara gerak kaki yang cepat dari atas plafon, dan riuh seperti suara benda jatuh, atau hantaman sesuatu pada dinding, semakin jelas terdengar. Entah apa yang terjadi sekarang semua orang tampak bertanya-tanya.


Sedangkan Arin hanya diam saja berusaha membuat hatinya tenang, andai saja semua hantu yang di luar menampakkan diri apa yang akan terjadi?


Tanpa diduga suara-suara tadi menjadi hening lagi, menjadi sebuah tanda tanya besar. Oma, Ibu, dan Viona juga diam tak bergeming hingga sesuatu tiba-tiba muncul dari bawah ruang pintu seperti koin yang diluar hingga membuatnya berputar beberapa saat.


Arin tak sadar, koin apa itu? Bahkan yang lainnya juga bertanya-tanya.


Oma lebih dulu berjalan, dia yang paling tidak sabar dan mendahului semua orang untuk meraih koin bulat yang tergeletak di atas lantai.


Oma berhasil membawa koin itu, matanya tampak mengamati dengan teliti.


"ARIN!" Panggilnya tiba-tiba dengan nada kesal.


Sontak mendengarnya membuat hati Arin terhenyak kaget, dia tidak tahu mengapa Oma memanggilnya dengan nada marah.

__ADS_1


Oma marah lagi dengan alasan yang tidak dia ketahui.


"Cepat ikut!" Ucap Omanya menarik lengan Arin. Ketika Sarah yang bertanya-tanya heran melihat Arin diseret dengan seperti itu. "Tunggu di sini!" Ucap Omanya singkat. Sarah tidak bertanya lagi dia langsung memegang erat Viona dan membiarkan Arin bersama Oma.


Sesuatu yang tak disangka membuat Sarah hanya bisa melotot namun dia tahu saat ini bukan waktunya untuk bertanya. Oma membuka kunci kamar dan masih tetap menyeret Arin melewati ruangan itu hingga Oma juga membuka pintu dan masuk ke dalam ruang tamu.


Arin masih bertanya-tanya, namun seperti yang dilakukan Ibunya dia juga tidak berani untuk bertanya ataupun membantah sikap Oma.


Tak lama pintu yang menuju ruang tamu juga terbuka, namun pemandangan di sana tidak akan pernah Arin bisa lupakan. Ada Mas Rendra, Wanita tadi yang berbaju serba hitam, dan terakhir seseorang yang tampak babak belur tersungkur di atas lantai.


Oma melepaskan tangannya, bahkan Oma berjalan sambil melihat semua pemandangan yang tampak di depan mata begitu tenang. Oma berjalan mendekat ke arah Rendra, tapi keduanya saling diam saja menyisakan tanya di hati Arin.


Saat Arin melihat dengan seksama kejadian tak terduga yang dia lihat sekarang, tiba-tiba sorot mata Mas Rendra kembali membuat Arin terhenyak kaget dan buru-buru menundukkan wajah.


Aaaaaaa...


Teriakkan seseorang langsung mengalihkan perhatian Arin. Sebuah teriakkan yang menyakitkan membuat jantung Arin berdegup kencang, dan betapa dia sangat takutnya saat melihat Oma tampak menempelkan koin itu ke kepala lelaki yang tersungkur di lantai hingga sesuatu terjadi, Arin tak kuasa melihatnya saat kepala orang itu menjadi lunak hingga remuk di tangan Oma.


Suasananya masih hening, bagi Arin dia sedang berada di sebuah ruangan yang benar-benar hanya ada dia dan seorang pembunuh.


"Jaminannya!" Terdengar kata-kata Oma di hadapan Arin.


Arin penasaran meski dia tak tahan menahan gemetar karena ketakutan tapi saat sesuatu benda terasa dingin menyentuh dahinya seketika membuat Arin terperanjat. Membayangkan apa yang akan dilakukan Oma padanya sama seperti yang Oma lakukan pada hantu tadi. Arin gemetar namun dia masih ingin hidup, sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari Oma dan tujuannya adalah melarikan diri. Namun sepasang tangan dingin bagaikan bungkusan es balok menggenggam ke dua lengannya.


Arin tak bisa pergi dengan kedua tangan yang dipegang erat, matanya melotot takut melihat Oma yang sedang menempelkan koin tadi di dahinya, Arin ingin berontak dan pergi bagaimanapun caranya.


Saat melihat Oma mulai komat-kamit di depan matanya Arin semakin berusaha agar dia cepat lepas dari hantu-hantu yang membuatnya tidak bisa apa-apa. Dan teriakkan langsung pecah seketika dari mulut Arin, dia merasa sesuatu yang sangat tajam menusuk ke dalam dahinya dan yang dibayangkan Arin mungkin sesuatu yang tajam itu berusaha akan masuk atau menghancurkan tengkorak kepalanya.

__ADS_1


Sekuatnya Arin berteriak mencerna kesakitan pada dahinya, dia tidak tahu harus apa selain hanya berteriak sejadinya.


Oma berdiri di tengah-tengah orang yang berkumpul membuat sebuah lingkaran dan saling berpegangan tangan. Tentu saja mereka bukan manusia, tapi ras berkulit putih pucat dan berambut pirang. Terlihat seperti ritual, Oma membuat koin logam itu agar bisa tertanam dengan mantra yang dia lafal kan pada Arin. Tak lama Arin ambruk di atas lantai tanpa sebuah luka apapun, meski Arin sangat kesakitan sebelumnya.


Tak sampai lama orang-orang hilang, tapi ada yang berbeda karena Oma membiarkan mereka membawa Arin dan entah kemana tujuannya.


"Oma! Boleh aku masuk?" Tanya Sarah di balik pintu.


Selama Arin berteriak ruangan menjadi kedap suara dan tidak membuat orang yang berada di luar batas lingkaran tadi bisa mendengar maupun melihat kejadian yang baru saja terjadi.


Mendengar menantunya sudah menyebut namanya, Oma langsung bersiap sedangkan yang lain langsung pergi tak terlihat.


"Masuk saja Sarah!" Jawab Oma dengan suara lantang.


Sarah tampak masuk dan sudah terlihat di ambang pintu dengan Viona yang ada dalam pangkuannya.


"Oma sendirian? Arin kemana?" Tanya Sarah yang penasaran karena sudah tidak ada Arin.


"Ah itu. Biasa anak itu pergi keluar, aku omelin sedikit saja sudah kabur." Terang Oma yang beralasan.


Tok...tok..tok


Suara pintu diketuk.


Sarah terdiam dan langsung menatap ke arah Oma.


"Itu satpam mungkin, coba buka saja!" Perintah Oma.

__ADS_1


Sarah tertegun beberapa saat, dia terus mengamati seluruh ruangan yang tampak berantakan. Hatinya pasti bertanya-tanya tapi, dia hanya bisa sekilas melihat ke arah Oma dan enggan untuk bertanya.


Sarah berjalan ke arah pintu diikuti Viona. Benar saja saat kunci dibuka satpam yang baru saja mengetuk pintu.


__ADS_2