
Tak terasa air mata terus berjatuhan dan sudah membasahi kedua pipinya. Secepatnya p Sarah menyeka bekas air mata itu dengan tisu. Benar-benar berat sebuah beban dan tekanan baginya sebagai seorang Ibu, apalagi dia sendirian tanpa suami, dan sekarang tanpa Oma yang baru saja meninggalkan keluarga. Tidak ada yang menyangka tentang kematian Oma, bahkan Sarah yang tinggal di rumah tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan hingga kabar itu baginya seperti mimpi buruk. Dia tidak pernah ingin mempercayai kenyataan pahit yang sudah terjadi.
Jika diingat lagi tentang kematian Oma, dia meninggal secara tiba-tiba tentu saja tidak ada akal logika sedikitpun yang bisa menerima kenyataan itu. Oma meninggal karena seseorang diduga sudah mencekiknya sampai kehilangan napas, dan tentang Arin yang berada di kamar Oma memang terdengar seperti alasan bahwa dia yang melakukannya. Tapi sekarang Sarah sudah harus meyakinkan diri, dia yakin bukan Arin yang membuat Oma meninggal, dia tidak bisa membuat Puteri kandungnya bersalah, pasti ada sebab lain yang membuat Oma meninggal tentu saja bukan karena putrinya sendiri. Dan tentang keberadaan Arin di kamar Oma, hal itu bisa dianggap sebagai kebetulan saja.
Setiap pertimbangan itu berdebat di dalam hatinya maka secara tidak langsung batinnya ikut tersiksa. Sebagai seorang menantu dan sebagai seorang Ibu. Kehilangan Oma sudah sangat membuatnya hancur, dan alasan kematian Oma tetap saja membuat hatinya hancur. Sarah tak mungkin menerima Arin sebagai pelakunya bahkan seharusnya dia adalah orang yang tidak paling percaya akan kekeliruan yang dipandang sebelah mata itu.
Sekali lagi dia sudah melakukan kesalahan fatal Arin adalah anak kandungnya sendiri, tapi dia sudah gagal menjadi seorang Ibu dengan tidak mempercayainya. Hingga rasa sakitnya berulang, sakit karena kematian Oma dan pada akhirnya dia yang paling menderita melihat Arin tak berdaya. Rasa penyesalannya ini tidak akan pernah mudah hilang sampai Arin benar-benar sembuh dan kembali normal seperti biasanya lagi. Dan sampai polisi memberitahukan kesimpulan yang terjadi sesuai bukti di TKP.
Sepanjang perjalanan waktu yang ditempuh sudah hampir setengah jam lamanya. Selama itu Sarah tidak pernah berhenti menangis, dia tumpahkan semua kesedihannya sekarang karena tak mungkin jika di rumah nanti dia memperlihatkan sisi kelemahannya ini. Apalagi situasi saat ini, sebagai Ibu dia paham dengan perasaan Adel yang sedang membenci Arin, dia pasti akan balik membencinya tanpa alasan jika sampai tahu Sarah masih tetap peduli pada Arin.
Jika harus memilih lebih baik bukan Oma yang meninggal, bukan Arin yang mengalami kecelakaan. Dia tidak ingin menjadi orang yang paling menderita menerima kenyataan pahit yang terjadi di keluarganya secara bersamaan.
Untuk saat ini dan kedepannya Sarah tak yakin jika situasi rumah masih akan sama, terutama sikap Adel dan semuanya pasti berubah. Contoh hal kecil saja setelah kejadian itu Adel benar-benar langsung tak bisa menerima Arin dan berterus terang tidak bisa menerimanya lagi. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia akan pergi dari rumah itu karena teriakan Adel.
Rasanya kebencian Adel tidak akan mudah mereda, terutama tidak ada lagi orang yang bisa mengendalikan sikapnya, semua atas kendali Oma. Entah akan seperti apa Sarah benar-benar tidak bisa membayangkan situasinya nanti.
Tak lama mobil sudah berhenti di depan rumah dengan pemandangan gerbang rumah yang tidak asing lagi.
__ADS_1
Sarah turun dari dalam mobil, dia menghela napas berusaha lebih meyakinkan lagi dirinya dan mengumpulkan semua keberanian di depan Adel dan Viona.
Ketika dia turun ternyata Adel sudah membukakan gerbang rumah, tampak tidak ada Viona yang ikut.
Saat gerbang terbuka lebar hingga mobil bisa masuk baru Sarah tahu Viona sudah berdiri di dekat pintu masuk, dia menunggu di sana. Tapi ternyata seketika dia langsung ingin menangis, mungkin air matanya sudah benar-benar berkumpul di kelopak matanya.
Sarah berlari menyambut Viona, sekuatnya dia berusaha menahan agar tidak menangis meski jika diperhatikan lebih dekat sembab matanya akan memperjelas tentang tangisan Sarah tadi.
Viona tersenyum senang, dia langsung melebarkan kedua tangannya dan menyambut hangat pelukan Sarah.
"Vio, maaf ya Nenek baru pulang!" Ucap Sarah pada Viona yang langsung dipangkunya dan masuk ke dalam rumah.
"Del, gak ada pembantu yang datang ke rumah?" Tanya Sarah masih dengan nada bicara yang seperti biasanya.
"Pembantu siapa? Ibu udah nyuruh orang ke sini?" Timpal Adel menjawab pertanyaan Ibunya.
Sarah tertegun sebentar. "Ibu sampai lupa." Keluh Sarah ternyata dia sudah melupakan menelpon seorang asisten yang direkomendasikan oleh tetangga rumahnya dulu. "Besok Ibu telpon lagi." Lanjutnya.
__ADS_1
Adel tak menjawab dia langsung duduk di kursi dan memainkan Hp.
"Ibu bawa makanan, coba ditanya dulu sama supir." Ucap Sarah. Tapi melihat Adel yang masih diam saja Sarah langsung berjalan keluar menemui supir bersama Viona dan membawa beberapa kantong kresek yang di dalamnya adalah makanan.
Sudut mata Sarah masih serius memperhatikan Adel yang tampak acuh tak acuh. Bahkan Adel tidak lagi basa-basi seperti yang biasa dia lakukan.
"Nek. Vio mau tidur." Ucap Viona. Sarah segera mengalihkan penglihatannya.
"Udah mau tidur? Nenek bawa makanan banyak loh." Jawab Sarah berusaha menahan Viona agar tidak tertidur.
Sepanjang membereskan satu persatu makanan ke dalam piring Sarah juga menjadi diam seperti yang dilakukan Adel. Dia tidak mau merusak suasana hati putrinya dan pasti ada saatnya nanti ketika dia secara perlahan memberikan pengertian pada Adel.
Viona akhirnya menyerah dia tertidur kembali di atas lantai rumah. Sarah sampai terkejut melihat Viona yang tertidur di lantai kotor. Segera dibawanya Viona dan pergi ke kamar.
Saat-saat berat seperti ini yang membuat Sarah mungkin akan menyerah, dia tidak bisa terus menghadapi sikap Adel karena situasi rumah menjadi tidak nyaman. Apalagi ada Viona yang lebih membutuhkan perhatian, bagaimana jadinya anak kecil seperti Viona menyaksikan semua kesalahpahaman dan emosi dari orang-orang, bukan situasi yang baik.
Sarah keluar dari kamar dan pergi menuju dapur, mengambil sapu di sudut ruangan dan mulai menyapu. Dari pada menunggu pembantu datang lebih baik dia kerjakan sebisanya, tidak nyaman hanya berdiam diri saja pikirannya akan lebih tak karuan, Sarah lebih banyak berpikir jika dia hanya melamun saja.
__ADS_1
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, ternyata setelah kematian Oma hubungan dalam keluarganya bukan semakin membaik seperti sekarang. Bagaimana untuk hari-hari selanjutnya. Dia tidak yakin bisa bertahan di rumah ini.