
"Dari mana kamu?" Tanya Arka yang sudah berdiri dari tadi tepat di depan pintu rumah menunggu Key yang tak kunjung pulang. Menyadari anaknya Key diam-diam mengendap masuk menerobos pintu rumah, namun masih berhasil bisa dia hentikan.
"Aku dari rumah sakit." Jawab Key dengan nada datar, tidak tampak seperti dia sudah melakukan kesalahan dan bahkan merasa bersalah.
Arka menatap puteranya yang angkuh. "Jangan harap kamu bisa membuat masalah lagi." Ancam Arka seketika sudah berada di hadapan Key. Arka sudah tahu apa yang dilakukan oleh Key, sebagai seorang Ayah dia berharap Key mengubah cara bicara dan sikapnya.
Seperti yang tampak meski Ayahnya tepat berada di hadapannya, Key masih bisa berani membuang wajah dan tidak membalas tatapan Ayahnya saat bicara.
Arka bisa saja marah dan melampiaskan kekesalannya, tapi dia melihat Key adalah puteranya. "Kalau terjadi masalah tanggung sendiri akibatnya." Jelasnya sekali lagi memperingatkan.
Arka belum beranjak hingga Key mulai menggerakkan kepalanya sampai dia bisa berhadap-hadapan. "Jangan berhubungan lagi dengan wanita itu Ayah, aku tahu tadi dia datang lagi ke rumah ini." Key menyinggung tentang Hera, sebuah alibinya untuk mengalihkan pembicaraan.
Arka membuang wajah merasa kesal seolah Key tak pernah bisa mendengarkan perkataannya, Key hanya membolak-balik kesalahan dan menuduhnya lagi dengan tatapan benci seolah Arka adalah Ayahnya yang paling bersalah.
Hampir saja Arka tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Tapi pada akhirnya dia tetap menelan kembali kekecewaan dan amarahnya itu.
Arka sudah berada jauh dari tempat tadi. "Kau temui kakak mu dan kita akan bicara setelah itu." Nada bicaranya berubah sedikit melunak. Sebagai Ayah Arka tak mau banyak bicara, dia mengerti dengan emosi dan ketidakstabilan jiwa puteranya. Arka menganggap sampai saat ini Key masih menganggap jika semua masalah adalah ulahnya, dia tahu jika Key tak akan terima setelah kematian Siren karena kejadian yang bagi semua orang adalah kesialan yang sama. Ditambah karena situasi tidak begitu baik percuma sekali bicara panjang lebar, Arka memilih langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
Key hanya diam saja. "Aku tahu semuanya Ayah." Gumam Key yang masih menatap Arka pergi dari hadapannya dengan tatapan benci.
__ADS_1
Key masuk ke dalam kamarnya dengan santai, perasaannya sudah berubah seolah tidak terjadi apa-apa. Namun sebenarnya di balik sikapnya yang acuh tak acuh Key menyimpan ingatan dan perasaan yang tidak bisa ia tunjukkan pada siapapun. Tidak ada yang tahu selain dirinya sampai saat ini dia masih bungkam meski tragedi baginya sudah 5 tahun yang lalu.
Setiap kejadian, rangkaian yang terjadi bahkan tempat dan waktu yang masih tergambar jelas diingatannya. Kepanikan orang-orang, sebuah kebakaran api yang melahap segalanya, bahkan orang-orang yang menjadi keluarganya yang asli tiada di waktu yang sama.
Key masih merasakan momen ketika dia benar-benar sudah menghadapi kematiannya sendiri, dan momen ketika dia hidup kembali dengan identitas yang berbeda. Bahkan rupa dan keluarga yang berbeda.
Key tahu jika dirinya sengaja dipisahkan dari keluarganya sendiri, Key masih memiliki ingatannya ketika dia hidup di masalalu. Yang membuatnya masih bungkam karena ada sesuatu yang tidak dia ketahui yaitu tentang kehidupannya yang sekarang. Key hanya tahu hidupnya hanya ambisi Arka agar bisa mendapatkan hubungan dan identitas yang sekarang. Seharusnya tidak ada klan sepertinya hidup di dunia manusia namun Arka mengubah semua itu.
Hingga sampai saat ini Key hanya bisa memilih jalannya untuk bertahan, menutup rapat ingatannya dari siapapun, kadang menghadapi semua yang terjadi sekarang sudah sangat cukup untuk membuatnya tetap hidup dengan cara apapun.
Matanya bergerak dan mengamati suasana kamar yang sudah berubah. Melihat seprai kasur yang sudah diganti, dan aroma wanita tadi hilang tidak tercium apapun lagi. Seperti itulah hidupnya, tetap bersembunyi di balik layar. Ayah dan keluarganya bisa hidup bersama manusia karena identitas mereka tidak pernah dicurigai oleh siapapun, hingga aturan itu membuat dia terpaksa harus mengikutinya.
Sesuatu yang tidak dimengerti nya adalah tentang kehidupannya sendiri selama 5 tahun ini. Key hanya berpikir sepintas untuk mencari informasi tentang keluarganya dan kehidupannya, namun belum dia lakukan. Bahkan kehidupannya yang sulit sudah membuat dia tidak bisa berinteraksi dengan manusia seperti yang dilakukan oleh keluarganya.
Dan keajaiban itu mungkin ada, atau Key menganggapnya jika hal ini karena kejenuhannya semata. Sebaliknya Key lebih memikirkan tentang wanita yang dia bawa ke rumah sakit tadi. Seseorang yang tidak sengaja dia tabrak dan baru kali ini dia berhasil memberanikan diri masuk ke rumah sakit membawa seorang perempuan dan meninggalkannya di sana.
Tak bisa Key hindari, pikirannya benar-benar dikalahkan oleh sosok wanita itu. Bukan hanya sebagai hal pertama yang terjadi, tapi ada sesuatu yang menarik jauh pikirannya sampai dia benar-benar merasa penasaran.
Key tidak pernah melihat manusia dengan sesuatu keanehan yang dilihatnya tadi, seharusnya itu adalah reaksi seperti klannya atau klan lain. Tapi Key tidak bisa membedakan apakah wanita tadi benar-benar manusia utuh? Atau sesuatu yang lain.
__ADS_1
Di satu sisi entah mengapa perasaannya cukup risau, seharusnya dia bisa bertanggung jawab sampai memastikan jika wanita itu baik-baik saja. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Pikirnya menerka-nerka. Key merasa bersalah sudah membiarkan wanita itu di rumah sakit.
Key duduk di atas kasur dengan santai, tapi isi pikirannya tidak berubah dan hanya membuatnya semakin penasaran.
Sebelum memikirkan tentang wanita itu ada sesuatu yang harus segera dia lakukan, Key harus bicara dengan kakaknya tentang kedatangan Hera ke rumah lagi. Dia yakin akan ada masalah setelah ini dan cukup membuatnya sangat khawatir karena Ayah akan terlibat dengan Hera.
Tak menunggu lama lagi Key meraih Hp yang ada di atas lemari pakaian. Dia langsung mencari panggilan kakaknya dan dengan begitu dia akan mengobrol dulu sebelum menemuinya.
####
"Aku mau bicara." Ucap Key berharap seseorang bisa memperdulikan pertanyaannya.
"Kau membuat masalah apa lagi?" Setengah kesal nada bicara yang terdengar oleh Key.
"Tidak ada. Aku tutup telponnya." Tanpa menunggu lagi sebuah respon Key sudah mengakhiri telpon. Tadinya dia pikir untuk mengobrol dengan kakak adalah pilihan baik tapi ternyata salah. Key hanya mendapatkan sikap angkuh kakaknya.
Dia tahu bukan anggota asli keluarga, dia juga masih ingat jika dulu dia adalah manusia yang mempunyai keluarga, dan sekarang inilah nasib akhirnya. Key sangat ingat dengan semua kenangan yang tidak bisa dia lupakan sebagai manusia. Kadang dia ingat dengan keluarganya, bahkan hubungan pribadi yang sudah tidak ada artinya lagi sekarang.
Sepertinya dia butuh banyak informasi lain dari banyak orang. Pertama dia akan berusaha mengorek informasi tentang ayahnya, kemudian kakaknya, dan terakhir klan mereka di dunia manusia.
__ADS_1