Beda Dunia

Beda Dunia
Awal di dunia baru


__ADS_3

"Semuanya ada di dalam buku ini, sembunyikan dari semuanya. Dan." Ohok..Ohok.. Oma langsung batuk, dadanya terasa sesak sekali. Rendra dengan sigap meraih tubuh Oma dan dia sandarkan di atas kasur.


Rendra sangat khawatir melihat kondisi Oma sekarang, apalagi di usianya dia harus menghadapi masalah. Meski sangat begitu khawatir tapi tidak ada satu ucapan kata yang dikatakan Rendra tentang perasaan cemasnya, dia tidak mungkin memberikan beban lagi pada Oma.


"Maafkan aku, aku tidak menceritakan semuanya pada Ibu mertua dan istrimu juga. Tapi tolong! Jaga Arin karena tubuhnya tak mungkin bertahan lama." Ucap Oma dengan napas yang semakin sulit dia hirup. Untuk melakukan ritual sebelumnya ternyata hampir menguras habis tenaga Oma, hingga setelah mengatakan itu Oma tidak berbicara apapun lagi. Hanya terlihat napasnya yang naik turun saja dengan mata yang terpejam.


Rendra berdiri dengan perasaan yang begitu sakit. Dia kembali ternyata bukan kabar baik, bahkan dia sendiri belum tahu sesuatu yang Oma cemaskan, apalagi tentang Arin dan arti dari ucapan Oma.


Di tangan Rendra adalah sebuah buku yang tampak usang, dia akan menyimpannya seperti yang dikatakan Oma. Selain itu Rendra harus mempelajari banyak apa yang ada di dalamnya kan. Dia adalah cucu dari keturunan keluarga pada generasi ke 7, mungkin hanya dia yang ditakdirkan untuk menanggung beban semuanya. Tapi harus bagaimana lagi, di depan matanya hanya ada pilihan itu tidak ada yang lain kan.


Rendra segera membuka portal untuk pergi ke dimensinya, di sana semua orang sudah menunggu.


#####


Di suatu tempat dimana hanya ada kegelapan, di sana di tanah yang begitu tandus dan tidak ada rona kehidupan maupun napas manusia biasa. Tidak ada sembarang orang yang bisa masuk, bangsanya adalah kutukan yang tidak pernah bisa kembali ke dimensi manusia kecuali karena suatu kesalahan yang sudah terjadi.


Di atas kasur yang begitu luas, di sepanjang kasur adalah tirai berwarna hitam dan tidak ada bangunan yang dihiasi dengan kaca apalagi di luar sana sangat gelap. Tubuh Arin yang tertidur kaku di atas kasur, karena ritual Arin tidak akan cepat bangun tapi dia harus dibangunkan dengan sebuah ritual lagi.

__ADS_1


Di samping kiri dan kanannya adalah seorang wanita berbaju serba hitam dan dua orang lelaki lain yang berpenampilan sama, salah seorang menjaga pintu dengan melafalkan mantra tanpa henti. Semuanya fokus dengan tugas masing-masing. Hingga Rendra tiba-tiba datang di luar portal, teman yang menjaga pintu langsung tahu jika di luar sudah ada Rendra yang menunggu dan sesegera mungkin mantra dihentikan agar Rendra bisa masuk. Bersamaan dengan mantra yang terhenti tampak di atas kasur tubuh Arin menunjukkan sebuah respon seperti akan cepat sadar.


Rendra melihat ke sekeliling tanpa bicara apapun, dia hanya menggerakkan jarinya menunjuk ke arah Arin menandakan jika sebentar lagi Arin akan segera sadar.


Tanpa bersuara juga Rendra menunjukkan sebuah buku yang harus dipelajari oleh semua orang, tapi dia mengisyaratkan agar semuanya ikut bersamanya kembali ke dimensi manusia ketika Arin tersadar.


Seperti yang diharapkan Arin langsung terperanjat bangun dari kasur, mulutnya segera dibungkam berharap dia tidak menimbulkan suatu kegaduhan yang mencurigakan bagi semua orang.


Tanpa bersuara dua orang membawa Arin dan Rendra memimpin perjalanan mereka untuk kembali ke dunia manusia.


####


Rendra dan semua yang ikut dengannya termasuk Arin, berdiri menatap bangunan seperti kastil yang setengahnya sudah roboh, bahkan tembok kastil yang sudah tidak berupa lapuk di makan usia. Semuanya menatap heran, termasuk Rendra. Yang Rendra tahu hanya sebuah bangunan peninggalan leluhurnya yang sudah ada sejak belasan generasi secara turun temurun. Oma tidak pernah menceritakan tentang gedung ini, bahkan perjalananya kembali ke dunia manusia dia lakukan atas petunjuk buku saja.


Seorang wanita yang berbaju serba hitam tadi berjalan mendahului posisi Rendra berdiri, lentik jari tangannya menyentuh angin yang dalam penglihatan semua mata tidak ada batas selembar pun di sana, namun siapa sangka perempuan yang masih diam saja langsung bisa menebaknya. Dia kemudian mengibaskan selembar kain dari pakaiannya hingga kain itu terbang dan menyentuh sehelai tipis seperti benang dalam batas ruang yang kasat mata, tanpa disangka kain jatuh ke tanah sudah hancur dan sobek entah terkena apa.


Rendra yang menyaksikan tepat di belakang wanita itu berdiri, dia mematung tak berkutik dan hanya bisa membulatkan mata tanda terkejut, tidak ada yang tahu sampai sedetail itu.

__ADS_1


Arin masih ada dalam penjagaan dua orang dari bangsa mereka, tidak bisa bicara ataupun kabur kemana saja.


Termasuk yang lainnya mulai saling berbisik, apa yang mereka katakan bisa Rendra dengar meski hanya seperti bisikan saja. Orang lain mulai meragukan jika kastil itu adalah tempat aman ketika mereka berada di dimensi manusia ini.


Banyak sekali ucapan yang membuat Rendra tidak sabar lagi, seketika dia berbalik dengan tatapan tajamnya memperhatikan satu persatu wajah dari orang-orang yang ikut dengannya sekarang. Amarah saat itu sudah memuncak rasanya ingin sekali melakukan sesuatu yang membuat orang lain tidak akan lagi berpikir rendah padanya. Hingga sekali lagi, wanita yang berbaju serba hitam menghalangi langkahnya, dia berjalan mendahului Rendra merebut Arin yang tidak berdaya jatuh ke dalam tangannya.


Langkah percaya diri membuat semua orang tak melakukan apapun, jika itu hanya Arin yang direbut untuk apa mempertahankannya? Karena mereka tidak membutuhkan Arin.


Dalam genggaman tangan wanita itu, Arin yang sudah tidak mempunyai lagi tenaga untuk menolak, dia membiarkan tubuh dirinya dibawa hingga bisa menembus batas yang membuat orang-orang takut.


Ajaibnya wanita itu dan Arin baik-baik saja, dia tidak hancur setelah melewati batas yang tadinya bisa membuat kain baju saja tercabik. Sesuatu pemandangan yang membuat semua orang mematung takjub.


"Masuklah jika ada yang ingin kemari." Ucap wanita itu memimpin semua orang. Bahkan Rendra tidak mengenalnya, entah siapa dia dan mengapa wanita itu lebih banyak tahu dibanding dirinya sendiri.


Rendra tak ingin membuat orang lain kembali berpikir rendah tentang nya, dengan begitu Rendra begitu percaya diri segera melangkahkan kakinya secepat yang dia bisa sampai tubuhnya sejajar dengan Arin dan wanita itu. Padahal Rendra sempat berpikir jika sesuatu yang dia lakukan tidak akan berhasil, tapi nyatanya tidak jauh dari ekspektasi nya.


Dan seperti yang terlihat sekarang, orang-orang tanpa ragu berkumpul mendekat ke arah Rendra menjadi kumpulan orang-orang yang mungkin sudah memilih untuk bersama Rendra dan misinya.

__ADS_1


__ADS_2