
Sarah tidak tenang, di sepanjang jalan matanya terus menatap keluar jendela mobil dengan tatapan resah.
Setelah 30 menit kemudian dia baru bisa bernapas lega karena kecepatan mobil mulai normal, tidak seperti tadi. Dia berharap tepat waktu ketika tiba di kantor polisi dan Arin masih di sana baik-baik saja.
Tak menunggu lama karena jalanan yang sudah lancar akhirnya gedung kantor polisi sudah terlihat, ketika mobil terparkir Sarah segera keluar dari mobil berjalan memburu seorang polisi yang berdiri di luar.
"Atas nama siapa?"
"Anak saya, Arin." Ucapnya terburu-buru. Mata Sarah tidak diam melihat ke semua arah, berharap dia menemukan seseorang yang sedang dicarinya.
"Arin dengan nama Ibu Sarah dan tinggal di perumahan Kencana." Tutur petugas itu menjelaskan bacaan yang ditulis di buku manual.
Sarah terpana mendengarnya.
"Dia sudah keluar beberapa jam yang lalu." Terangnya singkat.
Sarah membeku, dia baru saja menerima kabar yang sebenarnya sudah dibayangkan dari tadi. Sarah tak berharap Arin sudah pulang sendirian. Kemana dia pulang?
Sarah berlalu, jalan dengan langkah yang lemah. Dipikirannya hanya Arin bayangan buruk terus menghantui. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Arin?
Terburu-buru Sarah merogoh hp di saku celana, dibukanya layar hp terkunci dan segera dia mencari nama Arin dengan jari tangannya yang gemetar.
Ketika panggilan akan dilakukan muncul nomor tidak diketahui dari layar Hp sudah lebih dulu menelpon. Beberapa saat Sarah diam, hatinya semakin was-was.
"Halo selamat sore!" Terdengar ucapan dari seseorang.
__ADS_1
"Dengan Ibu Sarah?" Tanyanya dari seberang telpon.
Dengan nada gemetar Sarah menjawabnya. "Saya sendiri, Sarah."
"Saya mau memberitahukan jika anak Ibu yang bernama Arin berada di rumah sakit Cempaka. Sepertinya belum sadarkan diri. Apakah Ibu bisa ke rumah sakit untuk mengurus administrasi nya?" Rangkaian kata terucap dari telpon.
Sarah tak bisa mengatakan apapun, bahkan telpon yang masih tersambung dia abaikan kembali menyimpan Hp ke dalam saku celana. Air mata sudah lebih dulu meluncur keluar, sia tidak tahu jika apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Arin? Bagaimana dengan Arin?
"Bu, Ibu baik-baik saja?" Seru Supir itu pada Sarah yang diabaikannya. Bola matanya bergerak membagikan tatapan kosong dengan bulir air mata yang tak berhenti keluar.
Kakinya terasa lemas, tenaga tubuhnya seakan musnah. "Bu, ayo masuk!" Ucap supir, beruntung sigapnya supir segera meraih tubuh Sarah yang limbung, di papahnya Sarah hingga benar-benar bisa duduk di dalam mobil.
Sarah masih tak mengatakan apapun. "Minum Bu!" Tawar supir sambil menyodorkan botol minum berisi air.
Sarah memalingkan wajah ke arah lain, tanpa menjawab apapun hanya tampak napasnya yang naik turun. Kesadarannya sudah jauh pergi yang terbayangkan adalah tubuh Arin yang diselimuti dengan kain selimut berwarna biru khas rumah sakit, terbaring lemah dengan inpusan yang menancap di lengan kiri.
"Bu, Ibu baik-baik saja?" Supir yang cukup cemas terus menanyai Sarah meski masih tidak mendapatkan jawaban.
"Bu, apakah Ibu mendengarkan Saya?"
"Bu."
"Bu jawab Saya!"
"Ibu bisa mendengarkan Saya?" Tanpa putus asa supir masih berusaha menyeret kesadaran Sarah.
__ADS_1
Sarah tampak menarik napas dalam. Dengan nada gemetar dia berusaha mengatakan sesuatu. "Antar saya ke Rumah Sakit Cempaka." Ucapnya lirih dan hampir tak terdengar. Beruntung karena supir di dekatnya dia bisa mengetahui kata-kata yang diucapkan Sarah.
Tanpa menunggu diminta lagi, supir segera membenahi posisi duduk Sarah, menutup pintu, berjalan ke arah depan untuk mengemudikan lagi mobil sesuai dengan permintaan Sarah yaitu pergi ke Rumah Sakit Cempaka.
Beberapa saat sudah berlalu, mata supir masih mengintip ke arah kaca memperhatikan Sarah baik-baik saja, walaupun Sarah masih saja diam seperti tadi. Baginya kabar tentang Arin adalah sesuatu kabar yang paling buruk, dia tak nyangka setelah kematian Oma yang belum lama dan sekarang dia harus menerima kabar buruk tentang Arin. Cobaan yang sangat bertubi-tubi.
Hatinya benar-benar tak kuasa, menangis menjerit dalam diamnya. Satu hal yang masih terngiang dan akan selalu membekas adalah rasa bersalahnya. Dia sangat menyesal, andaikan saja Arin tak pergi sendiri, andaikan saja dia membuang emosi dan rasa egoisnya, membiarkan Arin berjalan keluar dari rumah dengan perasaan yang mungkin bisa saja lebih hancur darinya, tidak ada keluarga, tidak ada seorang Ibu ketika Arin harus digiring ke arah mobil polisi.
Sekarang Sarah baru bisa membayangkan perasaan Arin ketika dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan orang asing, Arin bukanlah anak yang terbiasa berbicara dengan orang lain, dan apa yang Arin rasakan saat itu? Seberapa besar ketakutan Arin ketika harus menjawab. Dan seberapa hebat hatinya tertekan? Bahkan dia sampai mengalami kecelakaan. Rasanya Sarah sadar, dia sudah tak pantas menjadi Ibu lagi, tidak ada seorang Ibu yang lebih tega darinya. Menyesal sekali.
#####
"Tadi pasien dibawa oleh siapa?" Seorang perawat bertanya pada wanita yang menerima Pasien.
Wanita di hadapannya tampak takut sekali sampai menundukkan wajah, dia tidak tahu karena belum sempat menyelesaikan administrasinya. "Keadaannya darurat, saya panik." Ucapnya gemetar. "Dia dibawa oleh seorang lelaki." Jelasnya masih terdengar ketakutan.
"Astaga. Bagaimana jika pasien tabrak lari dan yang mengantarkannya adalah pelakunya? Kenapa kau bisa sampai lengah seperti itu? Harusnya kau tetap menjalankan tugas sesuai prosedur rumah sakit kita." Karena panik perawat itu juga masih mencari alasan apa yang akan dia jelaskan pada keluarga korban nanti. Terutama jika masalah ini menjadi besar bagaimana nasibnya.
"Aku kira kau sudah menyelesaikan administrasinya, setidaknya bisa dipastikan siapa yang bertanggung jawab atas pasien." Ucapnya masih marah di ruangan dimana Arin dirawat di sana.
Tak lama dari perdebatan itu seorang petugas datang dengan seorang Ibu yang dipapahnya.
Sarah langsung limbung tak berdaya ketika melihat Arin yang terbaring di atas kasur pasien. Tangis langsung pecah di dalam ruangan.
Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menenangkan Sarah dan membawanya ke kursi Hanga da di ruangan itu.
__ADS_1
Sarah masih lemas tak kuasa bahkan untuk bersandar pada kursi sekalipun dia akan langsung limbung. Saking hancur hatinya yang dia rasakan sampai-sampai tak keluar satu suara pun dari mulut Sarah, hanya ekspresi tangisannya saja yang sangat kesakitan.
Ini adalah kali pertama Sarah melihat Arin masuk ke rumah sakit karena dirinya, semua salahnya, orang yang paling bersalah adalah dirinya. Begitulah yang dipikirkan Sarah. Sampai kapan pun jika terjadi sesuatu dengan Arin, Sarah tak mungkin bisa hidup tenang lebih baik dia tidak hidup saja. Begitulah pikiran Sarah setelah dia mendapatkan kabar tentang Arin.