Beda Dunia

Beda Dunia
Perasaan yang sebenarnya


__ADS_3

Arin masih di dalam kamar, setelah kejadian itu dia tidak memiliki keberanian untuk keluar dari kamar, tapi apa yang akan dia lakukan mulai saat ini? Apakah teror itu akan terus berlangsung?


Dia menghela napas yang terasa berat bagi rongga dadanya. Membayangkan sebentar masalah yang dia hadapi saat itu. Sebaiknya Arin sudah memikirkan cara atau jalan keluar dari masalahnya sekarang.


Arin cukup lama dan serius berpikir, dia tidak melewatkan untuk mengingat awal kejadian di villa karena tentu saja di sana kan awal mula dari teror yang terjadi sekarang ini?


Pertama dia ingat saat pertama kali datang ke villa itu, Arin harus memikirkan sesuatu yang membuatnya curiga atau apakah dia telah melakukan kesalahan fatal di sana?


Tiba-tiba pikiran Arin melayang kembali pada kesalahan pertama yang sangat membuatnya takut sampai sekarang. Tentang guci yang pecah itu, koin kuno yang berhamburan di sana. Apakah itu penyebabnya?


Sebelum memastikan jika itu sebabnya Arin kembali berpikir apakah Viona juga sudah melakukan suatu kesalahan lain? Keanehan yang terjadi saat itu hanya tentang Viona yang selalu mengoceh tentang Kak ipar, dan entah mengapa keanehan Viona begitu tampak nyata saat di villa.


Sebelum penampakan yang dilihat Arin dia harus kembali mengingat sebab yang paling fatal.


"Arin buka pintunya! Kayak pengantin aja terus di kamar." Celoteh Omanya sambil mengetuk beberapa kali pintu kamar membuat Arin terperanjat dan segera berlari menuju pintu.


Saat pintu dibuka sudah terlihat Omanya dengan ekspresi seperti biasa, Arin lagi-lagi harus menghela napas menyadari kebencian Oma yang masih sama. Sebenarnya apa bedanya antara dia dan kak Adel?


"Mau berdiri di sana terus? Cepat bantu Ibumu di dapur jangan enak-enak sendiri!" Sindir Omanya yang tidak pernah berani Arin balas meski kata-kata itu berulangkali membuat hati Arin sakit.


Arin berjalan sambil menundukkan kepalanya, saat itu Adel sedang duduk di kursi sempat sudut matanya memperhatikan ke arah Adel tapi Arin tak mengatakan apapun.


"Arin!" Seru Kakaknya saat itu hingga Arin menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Aku ikut!" Lanjut Adel yang mengungkapkan niatnya untuk pergi bersama Arin.


Apakah Adel benar-benar ingin pergi ke dapur? Padahal tidak biasanya.


Sebelum bertanya tentang rasa penasaran itu Adel sudah menarik lengan Arin, dia sedikit berubah dan tak ingin melihat Oma yang selalu memarahi Arin lagi.


"Mau ngapain ikut ke dapur?" Serang Arin yang tak bisa diam dari rasa penasarannya itu.


"Udah deh diam aja. Sekarang aku ngapain?" Bisik Adel.


"Eh Ibu kira cuman Arin yang datang. Tumben banget kamu ke dapur?" Ucap Ibunya, lagi-lagi Adel mendengar perkataan yang sama dari orang berbeda. Apakah sebegitu anehnya jika dia kali ini sempat mampir ke dapur. Meskipun kenyataannya Adel hanya ingin merasa aman saja bukan berniat untuk melakukan pekerjaan dapur.


Adel tak menjawab perkataan Ibunya, dia memilih duduk di kursi makan yang ada di dekatnya saat itu. Dia bergeming tak berbicara meski di hadapannya Arin yang sudah sibuk membantu.


"Aku pusing banget." Keluh Adel langsung membuat perhatian Arin dan Ibunya mengarah pada Adel.


Arin segera mendekati Adel yang saat itu duduk. "Kak jangan ngomong apa-apa ya!" Bisik Arin yang langsung dimengerti oleh Adel.


Tak lama Adel sudah meninggalkan dapur, seperti yang sudah ditebak oleh orang-orang jika Adel masuk dapur dia tak mungkin berniat untuk memasak atau melakukan apapun kan?


"Rin, kenapa?" Tanya Ibunya.


Arin masih merasa dag Dig dug jika ditanya seperti itu. "Gak apa-apa Bu!" Jawab Arin singkat, perasaannya mulai gugup saat itu, membayangkan apa yang akan terjadi jika saja Adel keceplosan mengadu pada Oma atau Ibu tentang kejadian di Villa, karena pihak yang paling akan disalahkan tentu saja dirinya bukan Adel.

__ADS_1


Arin masih mencoba kembali fokus tentang pekerjaan di dapur, tetap memaksakan diri sebenarnya.


#####


Andre masih berjibaku dengan kesibukan dan dunianya sendiri. Dia bukan lelaki biasa, tapi lelaki yang disenangi oleh banyak wanita itu bisa dikatakan luar biasa kan?


Hidupnya memang bergantung pada pemberian hadiah dari para Tante yang dia kenali lewat beberapa orang teman atau media sosial. Tidak ada yang membuatnya khawatir sampai sekarang karena dia merasa tidak ada yang salah untuk selama itu, namun sekarang ada perasaannya yang mulai berubah. Jika awalnya Andre tak begitu tertarik dengan seorang perempuan pun, karena baginya bukan satu hal yang sulit untuk mendapatkan setiap perempuan yang meski baru saja dia kenali. Dan sesuatu sudah terjadi dengan hatinya.


Andre masih tertidur di dalam kamar yang pada kemarin malam masih dia ingat sedikit jika dia sudah menghabiskan waktu saat bersama dengan Adel. Tidak ada yang berubah di tempat itu, yang berubah hanya perasaannya saja.


Entah mengapa pikirannya selalu melayang pada sesuatu yang tiba-tiba saja mengingatkannya, maka dengan terburu-buru Andre kembali mengambil hp dan melihat profil Arin di hp nya. Memang butuh lama untuk memperhatikan Arin, entah mengapa hal itu menjadi candu untuknya. Kali ini saja Andre bisa membayangkan saat Arin berbicara padanya, bersikap jutek, cuek, bahkan saat marah. Andre tak pernah merasa penasaran seperti ini.


Arin selalu tiba-tiba saja muncul di ingatannya, entah dia sedang sibuk atau bersantai seperti sekarang. Untuk sebabnya dia sendiri juga tidak tahu mengapa berulangkali memikirkan Arin seorang wanita yang lebih biasa dari banyak perempuan yang dekat dengannya.


Penampilannya? Andre tak begitu tertarik dengan bentuk tubuh Arin jika dibandingkan dengan wanitanya. Lantas apa yang terlihat spesial? Entahlah Andre tak bisa menerka-nerka sendiri ke dalam perasaannya itu.


Tak berselang lama saat melamun Andre langsung terbelalak kaget, dia tak sengaja mengirimkan pesan singkat pada Arin. Andre langsung mengambil langkah cepat, tapi saat jemarinya ingin menghapus pesan itu dia langsung mengurungkannya lagi. Tidak apa-apa kan jika hanya sebuah pesan yang isinya hanya menyebutkan nama Arin berulangkali.


Andre langsung melempar hp nya sembarang ke atas kasur, saat ini dia akan beristirahat mungkin besok pagi dia harus bersiap untuk pulang dan menghadapi hari-hari di perkuliahan seperti biasa.


Belum sempat memikirkan hal lain, tak lama dari waktu tertidur Andre sudah benar-benar ketiduran di atas kasur. Begitu entengnya dia untuk tidur.


#####

__ADS_1


"Gara-gara si Arin jadi kena apes gini." Batin Adel sambil berjalan keluar dari rumah. Sejak kejadian itu Adel tidak bisa tenang. Jika sudah seperti ini apa yang bisa dilakukannya?


__ADS_2