Beda Dunia

Beda Dunia
Kedatangan Andre ke rumah


__ADS_3

Di rumah yang berbeda, Adel tinggal bersama Viona tidak ada yang lainnya lagi.


Adel tampak melamun sangat lama, bahkan terkadang dia juga tak begitu memperhatikan Viona.


Adel melamun membayangkan kejadian yang sedang dihadapinya sekarang, dia masih merasa itu adalah mimpi. Oma tak mungkin sudah tiada, Oma tak mungkin meninggalkannya sama seperti Rendra yang 5 tahun lebih dulu sudah pergi dari kehidupannya.


Kadang bayangan Oma yang selalu memanjakannya sekarang tampak begitu jelas diingatan, Oma yang selalu mengutamakan nya lebih dari apapun, Oma yang selalu membelanya, Oma yang selalu mengkhawatirkannya, Oma yang selalu mengerti dan akan menelponnya terus menerus, dan Oma hanya keluarga yang dia miliki sampai mimpi itu tak bisa diterimanya.


Entah sudah berapa lama Adel melamun, menyandarkan tubuhnya ke tembok rumah, duduk di sudut ruangan, dan tatapannya yang kosong.


"Apakah Oma sudah pergi?" Bak orang yang bermimpi, kata-kata itu sudah berapa kali diulangi dalam pikirannya. Selama Adel melamun dia hanya mempertanyakan satu hal, hanya itu saja.


Sekarang dia sudah benar-benar kehilangan segalanya, tidak ada Oma.


Bayangan Adel tak berhenti hanya bergelut tentang Oma. Saat Oma adalah orang tua baginya, Oma yang selalu membanggakannya.


Tak tahan hatinya terasa sesak, Adel sesekali menangis menjatuhkan air mata di pangkuannya. Namun menit berlalu dia diam lagi dan melamun seperti sudah tidak ada lagi hal yang akan dilakukannya.


Sementara itu Viona menatap Adel yang sangat sedih, melihat Ibunya menangis sendirian, meskipun masih kecil diusianya dia cukup mengerti sampai Viona tak berani sedetikpun mengganggu Adel menghampirinya dengan rengekan-rengekan yang biasa dilakukan oleh anak seusianya.


Viona diam saja, terkadang dia berlari sendiri ke ruangan lain namun hanya sampai pintu dia mundur kembali lagi ke arah Adel, entah karena takut yang membuatnya tak berani beranjak kemana pun, dia terus didekat Adel dengan sedikit jaraknya saja. Saking bosannya Viona malah ketiduran sendiri di lantai.


Padahal jika dalam kondisi seperti ini Viona terbiasa bersama Arin, dia selalu menyusahkan Tantenya itu. Arin selalu menjaganya dengan segala cara, Arin yang sangat lama menemaninya tanpa bosan. Tapi, Viona hanya bisa menatap langit-langit rumah dengan tatapan sedih, dia pun tertidur sendirian.

__ADS_1


Lamanya Adel melamun sampai dia tak sadar berapa kali orang yang terus berusaha menelponnya. Hpnya berdering berulangkali di depan mata, namun tak satu detik pun Adel melihat ke arah Hp.


"Andre."


Nama yang muncul dari layar Hp.


Adel masih diam saja, dan tiba-tiba tersadar sudut matanya bergerak melihat layar Hp yang menyala, suara dering panggilan. Tangannya meraih Hp melihat daftar panggilan yang tidak dijawabnya berulang. Ternyata Andre, nama yang dia eja. Tapi kali ini Adel hanya mematung diam dan menyimpan lagi Hp nya ke atas lantai seperti dia sudah tak ingin melakukan apapun.


Tak lama saat Hp diletakkan, dering Hp kembali terdengar membuat Adel memutar bola matanya. Dia diam sebentar membiarkan Hp nya berbunyi dan akhirnya menyerah meraih kembali Hp dengan penasaran. Panggilan masih berlangsung dengan nama penelpon "Andre." Yang muncul, dan Akhirnya Adel memilih menerima panggilan menggerakkan tombol hijau ke atas.


Ditempelkannya Hp ke telinga kanan Adel untuk menjangkau suara di balik telpon yang baru saja dia terima.


"Halo! Kau baik-baik saja?" Terdengar suara dari seberang telpon yang menanyakan kabarnya.


"Adel! malah nangis, Kenapa?" Suara itu masih terdengar samar berusaha memecah tangisan Adel agar Suaranya sampai dan bisa terdengar.


Adel masih saja tak menjawab, suara tangisannya terdengar begitu jelas di balik telpon.


Andre cemas beberapa saat, dia tidak terbiasa membiarkan seseorang yang menangis sampai seperti itu. Apalagi Adel tak pernah menunjukkan sisi lainnya, Adel tak pernah berekspresi sampai menangis di hadapannya. "Sekarang sebutin kamu lagi dimana?" Tanya Andre dari telpon.


"Adel, kamu denger aku kan?"


"Jawab Chat aku saja ya!" Ucap Andre dan mengakhiri telpon karena Adel yang tidak juga menjawab beberapa suara panggilan darinya.

__ADS_1


Panggilan diakhiri, tak lama setelah panggilan telpon berakhir muncul notifikasi WA ke layar Hp. Adel bisa melihat isi Chat yang dikirimkan Andre, dia bertanya tentang keberadaannya sekarang. Untuk pertanyaan seperti itu Adel bisa menebak jika Andre mungkin akan datang ke tempatnya saat ini juga kan? Tapi dia tidak memperdulikannya.


Adel menatap ke arah jam dinding, betapa terkejutnya saat dia melihat jarum pendek yang menunjukkan angka 4, ternyata sudah beberapa jam berlalu sejak Ibu pamit pergi dan belum juga kembali.


Kemudian matanya beredar menangkap tubuh kecil meringkuk di atas lantai, Viona yang menyedihkan tertidur di atas lantai tanpa alas apapun. Adel sudah mengabaikannya sampai dia tak mendengar rengekan Viona ketika akan tidur, seperti yang biasa Viona lakukan pada Arin. Betapa merasa bersalahnya, anak sekecil Viona yang mengerti dengan perasaan Ibunya namun apa uang dilakukan Adel? Dia bersikap seolah tidak ada Viona.


Di rumah memang tidak ada siapapun selain dia dan Viona. Adel menatap seisi ruangan rumah kedua yang dulunya adalah pemberian Mas Rendra, ruangan keluarga yang sudah lama ditinggalkan beberapa tahun ini. Semua tak ada yang berubah hanya mungkin warna cat yang sudah berubah.


Adel berpikir kembali mempertimbangkan tentang Andre, apakah lebih baik dia harus memberitahunya saja? Lagipula sekarang dia benar-benar sendirian di rumah. Adel tidak tahu harus menelpon siapa lagi, dia tidak memiliki keluarga atau teman lain yang bisa diajaknya ke rumah. Dalam kondisinya sekarang tentu saja dia butuh seseorang.


[Aku di alamat ini: Jl xxx no 2 blok perumahan Cempaka]


Notifikasi pesan terkirim muncul dari layar Hp, tak ada yang dipungkiri hatinya terasa dah Dig dug. Ini adalah kali pertama dia mengajak Andre ke rumah padahal hubungannya dengan Andre jika dihitung-hitung sudah cukup lama beberapa tahun.


Sesaat pikirannya kembali menimbang, apa yang perlu dikhawatirkannya lagi? Bukankah Andre sendiri yang bersedia kesini, lagi pula Ibu tidak ada sedangkan dia butuh seseorang untuk mengurusi hal apapun di rumah, Adel tak yakin bisa mengurus Viona apalagi hal lainnya. Terdengar sebuah keputusan yang dia ambil sudah benar kan.


Tak lama ketika pesannya terkirim, dia langsung menerima lagi jawaban dari Andre.


[Tunggu]


Jawab Andre singkat.


Adel tampak menghela napas, dia tahu akhirnya seseorang akan datang juga dan itu jauh lebih baik bagi dirinya untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2