Beda Dunia

Beda Dunia
Pertemuan Andre dengan Viona


__ADS_3

Andre sudah masuk ke dalam mobil andalannya. Dia membaca kembali alamat yang disebutkan Adel dalam pesan yang masuk. Bukan tempat yang sulit ditemukan dia tahu dimana persisnya itu.


Tak menunggu lama lagi diinjaknya gas dan mobil melaju cepat. Sepanjang jalan masih terngiang jelas suara tangisan Adel, sesuatu yang membuat Andre bertanya-tanya tentang itu. Bagaimana dengan Adel sekarang? Dia harus cepat memastikannya.


Beruntung kemacetan bisa dihindari, mobil yang Andre bawa bebas dari kendala di jalan.


Andre menghela napas, tapi perasaannya beluk juga tenang. Dia bingung entah sejak kapan merasa khawatir seperti ini pada Adel, sejak kapan terlintas dipikirannya tentang Adel.


Sebuah rumah dengan gerbang sederhana, cukup membunyikan klakson mobil seseorang membuka gerbang rumah.


Sekarang adalah kali pertama dia menemui keluarga Adel, bahkan baru kali ini Andre tahu alamat rumah Adel. Entahlah keberanian itu tiba-tiba mendorongnya untuk datang tanpa berpikir lagi.


Setelah mobil sudah masuk dan Andre mulai sibuk memarkirkan, baru dia merasa ada perasaan gugup, kadang hatinya bertanya bagaimana reaksi keluarganya sekarang.


Mobil sudah terparkir sempurna, halaman yang sangat luas bahkan ada grasi khusus untuk kendaraannya. Andre mengintip ke balik kaca, hanya ada Adel yang berdiri di dekat pintu masuk, tidak ada yang lain.


Andre masih mengedarkan penglihatannya ke setiap arah yang langsung tampak dengan matanya, namun penasaran sekali karena tidak ada keluarga lain selain Adel yang berdiri di luar. Apakah memang sedang tidak ada siapapun?


"Masuklah!" Ucap Adel menyambut Andre yang baru saja berdiri di dekatnya. Adel masuk ke dalam rumah diikuti Andre.


"Tidak ada siapapun." Ucap Adel singkat menjelaskan situasi di rumahnya.


Entah mengapa sontak saja Andre membulatkan mata, merasa ada yang tak biasa.


Sebelum sempat bertanya namun Adel menjelaskannya lagi.


"Ibu tidak ada di rumah, adikku, dan..." Perkataan Adel terhenti.


Matanya yang sembab karena menangis tadi sekarang tampak lagi sudah dipenuhi air. Adel segera memalingkan wajah dari pandangan Andre, kedua tangannya menahan mulut yang bisa saja sebuah suara dari tangisannya terdengar.


Andre mematung melihat pemandangan itu, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bahkan Adel yang biasanya baik-baik saja, selalu ceria kini tampak menundukkan wajah menahan tangisannya.


Spontan tangan Andre bergerak untuk menepuk punggungnya, seperti yang dilakukan orang lain ketika teman/ siapapun menangis di depannya. Namun, tangannya beranjak naik ke kepala Adel, mengelus lembut helaian rambutnya.


"Kita duduk saja." Ucap Andre.

__ADS_1


Adel masih bisa biasa saja melangkahkan kakinya dan berjalan menuju kursi.


Saat Andre berjalan sudut matanya menangkap pemandangan yang membuat dia bertanya-tanya. Seorang anak kecil tertidur di atas lantai. Matanya melihat ke arah Adel namun dia ragu untuk bertanya.


Andre sudah duduk, namun Adel segera bangkit dan berjalan ke arah Viona, dia sampai lupa untuk memindahkan Viona.


Tanpa mengatakan apapun dan menjelaskannya pada Andre, Adel langsung mengangkat tubuh kecil Viona dan menidurkannya di kamar yang sudah dibersihkan.


Andre masih terdiam, dia cukup tahu diri agar tidak banyak bertanya bagaimana dengan kondisi Adel dia tahu, sampai sudah saatnya Andre akan bertanya.


Adele menatap Andre yang masih duduk di kursi, dia pun ikut kembali duduk di tempat tadi.


Entah mengapa rasa canggung terasa ada diantara keduanya, jika tidak ada yang berbicara seperti ini tentu saja membuat Andre/ Adel akan canggung.


"Anak mu kan?" Ucap Andre basa-basi.


"Ia, dia Viona." Jawab Adel. Sebenarnya Adel memang belum memperkenalkan Viona dari dulu, karena keduanya juga belum pernah bertemu.


Andre diam lagi, baru kali ini dia merasa canggung. Alhasil Andre memalingkan tatapannya hingga beredar ke arah lain untuk menutupi perasaan canggung dan gugup di hadapan Adel.


Tak lama terdengar sebuah rengekan dari arah kamar.


"Vio." Seru Adel langsung kembali menghampiri Viona yang merengek.


Adel segera memeluk Viona dan menenangkannya agar tidak lagi menangis.


"Eh ternyata ada gadis kecil, cantik lagi." Tiba-tiba ucapan Andre menghalau kepanikan Adel. Terperanjat mendengarkan suara Andre yang membujuk putri kecilnya membuat perasaannya semakin tak menentu.


Andre melihat seorang gadis yang menutup wajah dengan kedua tangannya. Merengek seperti yang dilakukan oleh anak kecil pada umumnya.


Entah mengapa ketika melihat situasi itu Andre seolah langsung terpanggil, dia bahkan tak ragu untuk mengatakan sesuatu. Apa karena anaknya Adel jadi dia tidak canggung lagi?


Adel hanya diam perlahan dia melepaskan pelukan itu, hitungan detik lagi Andre akan bertemu dengan putrinya.


"Loh. Dia anakmu?" Suara Andre terdengar aneh di telinga. Adel langsung melihat reaksinya, menatap Andre yang tampak syok ketika melihat wajah putrinya. Namun sebenarnya ketakutan terbesar diantara keduanya ada pada perasaan Adel.

__ADS_1


Adel diam saja dan memalingkan wajah, bahkan dia mulai gemetar ketika Andre bertanya tentang kebenaran putrinya, dag dig dug jantungnya terus berirama tak menentu.


Rengekan Viona bahkan mereda, Adel tetap saja memalingkan wajahnya seperti tak sanggup melihat keduanya saling membalaskan pandangan.


Sesuatu yang tidak diketahui Adel, reaksi Viona yang awalnya diam saja tiba-tiba tampak ekspresinya menunjukkan jika dia kenal dengan Andre, tentu saja seorang lelaki yang mengenal adiknya Arin. Tepat di rumah sakit ketiganya bertemu, seperti yang diperlihatkan oleh wajah Viona jika dia berhasil mengingat Andre dengan baik.


Ketika Viona akan bicara, Andre sigap segera melarangnya mengisyaratkan dengan telunjuk yang dia tempelkan di bibirnya agar diam.


"Wah, Viona cantik banget kamu kalah deh kayaknya." Ucap Andre berusaha menggantikan pembicaraannya tadi.


Viona yang pintar langsung mengerti isyarat yang dimaksudkan oleh Andre, beruntung sekali.


Mendengar pernyataan Andre membuat Adel segera berusaha untuk bersikap biasa lagi.


"Yah kalau anak sih kayaknya gimana Ibunya." Sahut Adel meladeni pembicaraan Andre.


"Kok di rumah sepi sih?" Andre langsung bertanya sesuatu yang ingin dia ketahui dari tadi.


Adel terperanjat lagi mendengarnya. Bahkan dia butuh waktu untuk mencerna kembali pertanyaan Andre.


"Oh. Itu. Ibu tidak ada di rumah, adikku juga." Jawab Adel dan ekspresinya kembali berubah.


Adel membawa Viona di gendongannya. Sambil menggendong dia juga berbicara dengan Andre.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Andre dengan nada perhatian.


Adel tampak menghela napas. "Oma. Oma ku meninggal." Dengan nada terputus-putus Adel berusaha bicara dengan tegar.


"Meninggal? Oma mu? Kapan?" Tentu saja Andre kaget mendengarkan suatu kabar yang tidak biasa.


"Oma meninggal tadi." Jawab Adel singkat.


Ketiganya duduk lagi di kursi tadi. Viona juga masih anteng dan diam saja mendengarkan pembicaraan.


Andre tidak bertanya lagi, sebenarnya dia mulai khawatir sekarang. Setelah melihat Viona tentu saja dia ingat dengan Arin. Bagaimana jika Arin langsung memergoki dia di rumah bersama Adel? Apa yang akan dipikirkannya.

__ADS_1


Namun di satu sisi Andre cukup bingung ketika harus buru-buru pulang, apalagi Adel bercerita tentang kabar dukanya.


__ADS_2