Beda Dunia

Beda Dunia
Kabar duka


__ADS_3

"Mama!" Seru Viona dengan wajah senang menyambut Adel yang waktu itu baru saja duduk di ruang tamu menyandarkan tubuhnya ke sopa.


Viona berlari senang dan mulai manja memeluk ibunya. "Mama lama pulangnya. Padahal papa tadi ada." Celoteh Viona yang langsung membuat Adel tertegun.


"Papa?" Ucap Adel mengulangi perkataan Viona.


Viona mengangguk.


Adel melihat ke sekelilingnya, dia yakin jika Mas Rendra pasti sedang ada di rumah ini. "Lebih mending kalau tadi gak pulang sekalian." Batin Adel menyesal sekali karena pulang ke rumah dia tidak bisa tenang.


Edaran penglihatan mata Adel berhenti seketika, samar terdengar sebuah tangisan dari ruangan lain mungkin. "Vio, Oma sama Ibu kemana?" Tanya Adel pada anaknya itu.


Viona dengan ekspresi bingung untuk bercerita, dia malah bengong ketika ditanya.


"Tante Arin ada?" Tanya Adel mengubah bahasan pertanyaannya.


Viona mengangguk.


"Oh, ada ya." Adel kembali berusaha tenang lagi, tapi saat dia diam suara tangisan itu masih terdengar.


"Siapa yang nangis ya? Atau pendengaran ku yang salah?" Batin Adel bingung.


"Mama." Ucap Viona yang masih saja tak membahas tentang Oma dan yang terjadi di ruangan lain.


"Mama capek banget. Vio balik sama Tante lagi ya!" Perintah Adel dengan entengnya.


Viona menggelengkan kepala, tidak biasanya.

__ADS_1


"Loh kok gak mau sih? Biasanya sama Tante kan?" Adel merasa heran dengan tingkah Viona.


"Tante Arin lagi ngapain emang?" Tanya Adel penasaran.


"Nangis." Jawab Vio.


Adel hanya tampak mengangkat sebelah alisnya. "Tumben Arin nangis." Batinnya yang masih tidak menyimpan banyak penasaran.


Viona tiba-tiba menarik tangan Adel.


"Mau kemana? Mama kan capek banget, udah ya mainnya sama Tante aja." Sergah Adel yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya.


Tidak mengindahkan perkataan ibunya, Viona masih tidak melepaskan tangan Adel dan tetap menariknya.


"Udah deh Vio, pergi sana!" Entah mengapa Adel tak bisa menahan emosinya dan dengan tenaganya dia langsung melepaskan tangan Viona. Seketika ekspresi Viona berubah terlihat hampir menangis.


"Mama tuh capek, udah jangan nangis! Kalau mau pergi ke dalam Vio sendirian juga bisa kan?" Tanpa sadar Adel sudah mengubah nada bicaranya.


Sontak Adel kaget. "Kamu..."


"Kakak dari mana saja?" Dengan nada marah dan gemetar Arin bicara sebelum sempat Adel meneruskan bicaranya dia sudah lebih dulu menyerang Adel dengan emosi, meski Arin berbicara lumayan sulit karena masih sesenggukan menangis.


"Oma meninggal." Ucap Arin di sela-sela napasnya, setelah itu tak tahan dia yang semakin histeris bahkan tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya.


Adel mematung tak percaya, jika itu sebuah candaan mengapa begitu keterlaluan. "Lo, doain Oma gua meninggal? Sadar ya!" Teriak Adel yang tak terima.


Arin diam saja karena dia tak kuasa dengan perasaannya, Arin hanya terus menangis.

__ADS_1


"Apa-apaan sih orang di rumah, stress semua." Gerutu Adel yang sudah diam lagi. Tapi dia masih berusaha untuk pergi dari rumah.


"Mau kemana lagi? Oma meninggal masih aja mau keluar?" Sengit Arin dengan napasnya yang tersengal dia berusaha bisa untuk berbicara dan membentak Adel sekuat yang dia mampu.


Adel berbalik dan masih menatap heran, memandangi Arin dengan emosi. "Meninggal apa sih? Jangan ngarang!" Bentak Adel semakin tersulut emosi, tapi perasaannya goyah dia merasa jika apa yang dikatakan Arin bukan sebuah lelucon.


"Kamu pergi dan lihat sendiri!" Ucap Arin singkat, pasrah karena tidak berarti memaksa Adel untuk memastikannya.


Tak ada pilihan, Adel tak mau jika apa yang dikatakan Arin itu bukan lelucon tapi dia juga akan kesal jika Arin malah membual. Tapi langkahnya yang pelan tetap membawa Adel masuk ke dalam ruangan, dari tempatnya berdiri di ujung penglihatannya adalah pintu kamar milik Oma.


Ketika melangkah semakin dekat Adel melihat pintu terbuka, hatinya mulai semakin kacau, pikirannya entah kemana mengalir tak menentu karena yang terngiang jelas sekarang adalah kata-kata Arin.


Dan semakin dekat, sesenggukan terdengar jelas itu adalah suara tangisan lagi yang langsung membuat Adel membulatkan matanya. Adel tahu jika suara itu adalah milik ibu, lantas mengapa Ibu menangis di kamar Oma?


Tepat di ambang pintu masuk, langkah kakinya mulai gemetar seiring suara tangis yang terdengar semakin jelas, perlahan wajahnya bergerak matanya beredar menyaksikan semua seisi kamar Oma. Dan saat tubuh seseorang di atas kasur langsung membuat Adel tak bisa bicara apapun lagi. Adel mematung dan menahan mulutnya dengan kedua tangan yang dia bungkam langsung.


Adel masih enggan mendekat, satu langkah kemudian dia mundur dan buru-buru bersandar pada tembok karena tubuhnya terasa limbung. Tak lama tubuhnya roboh hingga dia terduduk lemas di lantai.


Apa yang sedang terjadi? Adel melihat Oma dengan sosok terakhir yang dia lihat sekarang, entah mengapa baginya waktu terasa akan berhenti berputar saat itu juga, dia merasa sesuatu sedang direnggutnya dengan paksa, dan mengapa sekarang dia harus kehilangan semua keluarga, tidak ada yang tersisa baginya.


Dengan langkah gontai Arin menyusul berjalan dan menggandeng tangan Viona, dia pun juga sama merasa kehilangan karena sosok Oma. Meski Oma tak pernah membuatnya bisa bernapas senang di rumah ini, tapi Oma adalah orang tua dari Ayahnya kan.


Arin melihat Adel yang sudah menangis di samping pintu kamar Oma, bahkan Adel tak sanggup masuk ke dalam ruangan kamar itu.


Tiba-tiba Viona berlari mendekat pada Adel. Dengan tatapan polos anak kecil, namun hati mana yang tak akan ikut sakit ketika melihat Ibunya menangis. Naluri Viona langsung memeluk Adel yang saat itu dia sedang tak berdaya.


Suasana ini tidak pernah diharapkan oleh siapapun, terutama oleh Arin karena dia adalah orang pertama yang menjadi saksi atas kematian Oma. Arin berada di kamar Oma dia tahu siapa yang sudah membawanya ke sana, pastinya perempuan yang dia temui di hutan itu. Dan dia tak tahu apapun karena semua kesadarannya hilang saat itu, andai saja tahu jika tujuan perempuan itu akan mencelakai Oma sebaiknya dia akan berusaha mencegahnya, biar saja dia yang terluka asalkan semua orang selamat.

__ADS_1


Arin sangat tertekan, di satu sisi dia tidak tahu apapun dia sangat bersedih setelah Oma tiada, tapi di sisi lain dia adalah satu-satunya orang yang ada di kamar Oma sebagai orang terakhir. Apa yang bisa dia jelaskan pada semua orang? Seberapa besar pun dia membenci Oma, karena sikap Oma, tapi tidak pernah sedikitpun terlintas untuk menghakimi Oma dengan cara seperti itu. Arin tak mungkin. Namun masalahnya bagaimana menceritakan semua itu pada orang-orang? Bagaimana?


Semua orang di dalam rumah benar-benar berduka, bukan hanya Arin dan Adel juga Ibu, namun ada yang lain yaitu Rendra yang tahu jika Neneknya dibunuh, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya karena sudah membuat keluarganya hilang dari pengawasannya.


__ADS_2