
"Aku menabrak manusia di jalan tadi. Dia perempuan." Ucapnya dalam telpon.
"Kau ceroboh, sekarang dia dimana?" Seseorang menjawab dari panggilan telpon dengan nada marah.
"Ada di rumah." Jawabnya singkat.
"Bawa dia sekarang ke rumah sakit, bagaimana jika perempuan itu meninggal?" Sewot nya yang tak henti terus bicara memperingatkan.
"Aku harap tidak ada yang tahu tentang ini. Cepat bereskan!"
Telpon segera ditutup.
Sekarang hanya dia dan Ayahnya yang tahu jika dia kembali membawa manusia ke rumah, seperti biasa tidak ada masalah besar yang tidak bisa diselesaikan. Dia hanya perlu pergi ke rumah sakit membawa manusia itu, lalu pergi kembali tanpa diketahui oleh siapapun. Cukup mudah kan?
Ditatapnya lagi wajah seorang perempuan yang baru saja dia bawa, ada sesuatu yang menarik manik matanya. Sebuah benda memantulkan sedikit cahaya yang tertanam di dahinya, dan tidak ada manusia biasa dengan benda asing seperti itu.
Rasa penasaran tidak mudah memalingkan detail pengamatan yang menahan kedua matanya. Ketika tangannya memberanikan diri meraba dahi perempuan, suhu tubuh manusia normal mulai dia rasakan dan mengalir ke telapak tangannya, sekejap mata kemudian muncul bayangan yang masuk menerobos ke dalam pikiran. Beberapa orang dengan seorang perempuan tua memimpin ritual.
Bayangan yang muncul sangat singkat. Dia pikir itu adalah ingatan perempuan, seorang manusia yang membuatnya penasaran sekaligus takut. Langkahnya mundur dari tubuh perempuan yang masih tak sadarkan diri. Raut cemas mulai membayangi, sesegera mungkin tanpa sepengetahuan siapapun dia memutuskan untuk membawa perempuan itu ke rumah sakit yang disebutkan Kakaknya tadi dalam telpon.
__ADS_1
#####
Ada begitu banyak yang terjadi dan tidak ada yang tahu banyak kejadian itu, termasuk keluarganya. Benar saja, keluarganya bukan manusia. Hidup saja sudah sangat beruntung karena nyaris tak mungkin bisa hidup di tengah-tengah manusia sekarang. Ayahnya bahkan menjadi salah satu detektif, seorang polisi yang figurnya paling banyak berinteraksi dengan manusia. Sedangkan keluarga yang lain tersebar banyak, tidak ada yang tahu kehidupan mereka, semua masih berjalan normal sampai sekarang.
Ada yang berbicara padanya tentang cerita makhluk yang tak mungkin ada, seperti vampir berumur panjang, vampir yang hidup setelah malam, vampir yang memakan darah manusia, dan masih banyak lagi pemikiran itu yang dipercayai manusia. Namun sebaliknya, pemikiran mereka salah.
Pernah bertanya mengapa dia ada dalam satu tubuh manusia dengan rupa dan wujudnya sekarang. Namun dari mereka selalu ada dan membuat banyak identitas baru agar bisa terus bertahan hidup.
Sebenarnya Vampir adalah seorang roh manusia, dalam keturunannya ada kutukan yang membuat roh itu berubah menjadi vampir selama 5 tahun dengan ingatan mereka ketika hidup. Wujud vampir dengan kemampuan di luar nalar, meskipun roh mereka bisa menampakan diri. Namun dunia mereka sudah lama terkunci, tidak ada yang bisa hidup dan masuk ke dalam dimensi manusia dengan cara apapun. Hingga vampir yang masih berada di dimensi manusia adalah sedikitnya yang tersisa dan bisa kapan saja punah.
Termasuk Rai, seorang lelaki yang tak sengaja dipertemukan dengan Arin karena sebuah kecelakaan. Kini Rai sudah membawa Arin ke rumah sakit, harusnya dia sudah lega dan hanya tinggal meninggalkannya. Namun rasanya tidak mudah, ada bayangan tadi yang terus menghantuinya. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan seorang manusia ditambah dengan keanehan yang dia temukan sekaligus.
Penasaran itu membuat Rai selangkah harus lebih dekat dengan gadis yang masih tak membuka matanya. Rai kembali lagi masuk ke dalam ruangan, mendekatkan diri menahan aroma tubuh gadis itu masuk ke dalam ingatannya, dia yakin tidak bisa melepaskan gadis itu karena rasa penasaran yang membuatnya bisa beberapa menit bertahan di dekat manusia.
Di luar ruangan dia memutuskan untuk pergi menjauh sebelum kakaknya datang dan menyeretnya lagi.
Dalam kejauhan, sebuah gedung rumah sakit berdiri tepat di depannya. Dalam jarak seperti ini Rai masih bisa mencium bau tubuh manusia di dalam ruangan yang jauh sekali bahkan tak terlihat oleh indera matanya.
Tenang saja, dia akan mudah menemukan lagi kapanpun dan di manapun nanti.
__ADS_1
#####
Sarah mulai mencari makanan, tangannya dari tadi hanya meraba makanan instan dalam lemari pajang. Pikirannya terus melayang jauh pada sesuatu yang hilang dari edaran matanya, setelah menit berlalu baru pertama kalinya dia kehilangan Arin, biasanya Arin selalu lama menghabiskan waktu di sampingnya.
Tak tahan dengan perasaannya, nalurinya sebagai Ibu, Sarah kembali menyimpan keranjang merah di lantai dia terus berjalan tak memikirkan apapun sampai dia kembali ke dalam mobil menemui supir dan mengatakannya akan pergi ke kantor polisi.
Sekarang perasaan khawatirnya terus mengalir tanpa henti, mengubah pikirannya menjadi bayangan Arin. Bagaimana dia di kantor polisi? Apakah Arin bisa menjawab perkataan polisi? Apakah Arin tidak menangis? Apakah dia tidak ketakutan? Bagaimana dia pulang nanti?
Tak berhenti sedetikpun Sarah mulai menerima perasaan hati yang dia rasakan sebenarnya, bodohnya dia membiarkan Arin sendirian ke luar rumah bahkan pergi ke kantor polisi, di sana tidak ada orang yang akan bicara lebih baik darinya sebagai ibu, jika Arin sampai salah mengatakan apakah dia juga akan dihukum?
"Pak cepat ya!" Sarah sangat tak sabar, matanya terus melihat ke arah depan dia sadar jika jarak dari tempatnya ke kantor polisi menjadi lebih jauh dan akan memakan waktu yang banyak, apalagi tadi dia sempat diam beberapa saat, dia juga malah pergi berbelanja, bagaimana jika Arin sudah pergi dari kantor polisi itu?
Bayangan buruk terus menghantuinya menjadi sesuatu yang tidak pernah diharapkan Sarah sebagai seorang Ibu, dia harus memastikan Arin baik-baik saja, seharusnya seperti itu dan tidak ada yang berubah.
Tak terasa air mata Sarah berjatuhan bagaikan hujan, kali ini dadanya terasa sesak karena dia merasa sudah cukup keterlaluan pada Arin, dia sudah sangat bersalah. Andaikan saja terjadi sesuatu dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, apapun itu.
"Pak, cepat Pak!" Sarah kembali memperingatkan supir agar mengambil jalan cepat. Dia sangat khawatir jika sudah terlambat.
"Macet Bu, di depan jalanan macet kita harus menunggu." Jawab supir membuat hatinya benar-benar hancur. Dalam keadaan seperti ini mengapa dia harus terjebak macet.
__ADS_1
"Pak bisa menggunakan jalan lain?" Sarah bertanya.
"Mau kemana Bu? Jika ke kantor polisi kita harus melewati jalan ini!" Jawab supir itu. Sarah benar-benar kecewa dia tidak ada pilihan lain.