Beda Dunia

Beda Dunia
Adel yang berubah


__ADS_3

"Om!" Ucap Viona dengan mata yang terus menatap ke arah Andre.


Andre kaget ketika Viona memanggilnya, dia masih berharap agar Viona tidak bicara tentang dirinya dan Arin. Apa yang akan terjadi? Arin adalah adiknya Adel?


"Vio sayang, tidur lagi yuk sama Mama!" Adel segera mengalihkan perhatian putrinya dengan bertanya agar tatapan Viona kini tidak tertuju lagi ke arah Andre.


Suatu keberuntungan lagi, Andre berharap Viona masih diam dan tidak menceritakan sesuatu yang dia bayangkan.


"Aku mau nemenin tidur dulu Vio, ya!" Ucap Adel. Sikapnya memang sengaja agar Viona tidak terlalu lama dekat dengan Andre. Ada ketakutan di dalam hatinya yang tidak bisa dia ceritakan.


"Oh, ia boleh. Silahkan!" Jawab Andre.


"Vio gak mau tidur Mama." Rengek Viona.


"Loh kok gak mau, biasanya juga kan Vio tidur lagian udah waktunya tidur." Adel bersikeras agar Viona menuruti perkataannya.


Tatapan Viona kembali melihat Andre yang masih duduk di kursi.


"Udah yuk Vio tidur." Adel segera membawa Viona ketika dia menyadari tatapan putrinya itu.


Andre hanya tersenyum, meski yang sebenarnya terjadi perasaannya saat itu tidak pernah berhenti berdebar.


"Vio gak mau tidur." Ucap lagi Viona kekeh.


Adel tak memperdulikannya dia benar-benar harus membawa Viona ke dalam kamar.


"Vio nurut ya sama Mama, sekarang Viona tidur !" Perintah lagi Adel.


Alih-alih menuruti perkataan Adel yang dari tadi terus memintanya untuk tidur, Viona malah kembali memperlihatkan rengekan nya.


Menyesal rasanya dia bahkan tidak pernah merasa repot untuk menidurkannya. Ternyata sulit seperti yang tidak pernah dia bayangkan.


Sedang sibuknya mengurus Viona tiba-tiba Hp Adel berdering. Suara Hp membuat Adel dan Viona terdiam.


Dari layar Hp muncul nama "Ibu." sebuah panggilan yang masuk. Adel tidak ragu lagi segera mengangkat telpon itu.

__ADS_1


"Kenapa Bu?" Tanya Adel, sebenarnya sekarang dia berharap jika Ibu cepat pulang.


"Arin kecelakaan." Jawab Ibunya.


Adel terdiam dia tidak bereaksi ketika Ibunya menyebutkan kondisi Arin. Entah mengapa Adel bisa begitu marah dan menyalahkan semuanya pada Arin. Padahal dia sendiri belum tahu tentang kebenarannya dari polisi.


"Kamu masih di rumah?" Karena tak kunjung menjawab Sarah menggantikan topik bahasan.


"Viona udah makan belum?" Sarah masih begitu khawatir pada Viona, dia tak menyangka bisa meninggalkan mereka berdua di rumah.


"Bu. Pulangnya masih lama?" Tanya Adel tidak menjawab pertanyaan Sarah.


"Secepatnya, kamu baik-baik saja ya." Ucap Sarah. Hatinya tidak bisa bohong dia sangat mengkhawatirkan keadaan Viona dan Adel.


"Yasudah aku tutup telponnya." Adel segera menyudahi panggilan, meski Sarah tidak mengatakannya lebih dulu. Adel terkesan memang ingin segera mengakhiri telponnya saja.


"Nek?" Ucap Viona, maksudnya dia bertanya tentang Ibu. "Tante?" Tanyanya lagi tentang Arin.


Mendengar hal hang ditanyakan Viona Adel memilih mengabaikannya saja. "Cepet deh Vio tidur dong Mama kan mau beres-beres dulu." Komentar Adel dengan nada bicara yang sudah jengkel.


Adel menghela napas. "Viona tunggu di sii duku sebentar ya!" Adel memperingatkan Viona agar tidak keluar dari dalam kamar.


Seperti yang diharapkan Viona sangat mengerti dengan perkataan orang-orang padanya.


"Kenapa ya?" Ucap Adel ketika dia keluar dari dalam kamar.


"Aku terima telponnya dulu ya, bokap biasa takut ada yang penting." Andre beralasan untuk keluar rumah dulu.


Mendengar pernyataan Andre baginya butuh waktu untuk memutar kembali kata-kata itu dan bagaimana caranya agar dia tidak begitu merisaukan rasa tidak nyamannya Andre yang masih di rumah, namun Adel juga bingung untuk mengatakan jika Andre lebih baik pulang saja.


Hingga Andre sudah berlalu keluar dari arah pintu dan Adel tidak sempat langsung menjawab pertanyaan Andre tadi.


Adel berbalik kembali masuk ke dalam kamar, saat melihat ke arah Viona dan ternyata sudah tidur sendiri, beruntung sekali akhirnya Adel bisa bernapas lega. Setidaknya sekarang dia hanya memikirkan tentang Andre.


Lagi-lagi bayangan Adel kembali menariknya jauh ke dalam masalalu yang selalu membayanginya setiap malam.

__ADS_1


Rasa bersalah itu ternyata membuatnya tidak tenang, kematian Mas Rendra juga tidak menghentikan rasa bersalah Adel pada semua orang. Tentang kebohongannya pasti tidak akan ada satupun orang yang akan menerimanya. Bahkan setelah kematian Oma, selama itu Adel masih menyimpan semua rahasia terbesarnya.


Ternyata tidak semudah seperti yang dia bayangkan, tidak ada yang sama dengan ekspektasinya. Dalam kenyataan dilemanya menghadapi Andre ketika bersama Viona membuat Adel semakin merasa bersalah dan bayangan itu langsung muncul lagi. Dia tak begitu sanggup membiarkan keduanya bertemu lagi atau bahkan sampai saling mengenal satu sama lain. Dia tidak akan pernah membiarkannya.


Dengan rencananya sekarang membuat Adel bertekad untuk mengatakan bahwa seharusnya Andre pulang, alasannya tidak sulit kan, katakan saja itu karena Ibu dan adiknya akan pulang. Semoga saja Andre menyetujuinya.


Adel membalikan badan dan berniat untuk menemui Andre untuk mengatakan rencananya.


Namun, belum sempat keluar Andre sudah tampak masuk kembali ke dalam rumah.


Seketika Adel merasakan dirinya benar-benar gugup, semua menjadi serba salah seperti sekarang.


Adel tak melepaskan pandangannya ketika Andre berjalan ke arahnya, namun jika dilihat lagi keduanya tampak bingung, ekspresi yang diperlihatkan keduanya juga sama.


"Mau di luar saja?" Ucap Andre basa-basi.


"Duduk di kursi lagi ya." Adel segera berbalik menghindari tatapan mata Andre yang di matanya membuat dia tidak bisa berpikir berani lagi seperti tadi.


Ketika duduk Adel memang tidak langsung mengatakannya, bahkan sebaliknya Andre juga masih diam saja.


Jika tidak dikatakan dari sekarang lantas kapan lagi? Naluri Adel terus saja memperingatkannya.


"Andre!" Ucap Adel, namun katanya lago-lagi Ter jeda ketika Andre menoleh dan menangkap sorot matanya.


"Ia, gimana?" Andre langsung bertanya. Tapi dia diam saja tidak memprotes seperti biasanya, misalkan tidak banyak berkomentar karena Adel hanya diam saja.


Adel menundukkan wajahnya. "Tadi aku terima telpon dari Ibu, katanya mereka pulang sekarang." Terang Adel secara perlahan.


"Jadi gitu, yasudah aku pulang saja gak apa-apa?" Andre tampak memberikan sebuah respon yang diharapkan, sampai Adel segera menengadah dan menoleh ke arah wajah Andre memastikan jika Andre benar-benar bicara tentang keinginannya itu.


"Jadi kamu pulang aja sekarang?" Adele mengulangi pernyataan Andre.


"Tapi gimana ya, kalau kamu gak mau yasudah aku tinggal di sini dulu sampai keluarga kamu pulang." Andre segera menarik kata-katanya tadi, hanya perkataannya jauh sekali berbeda dengan yang dia inginkan.


"Gak apa-apa kok. Aku di sini ada Viona, kamu boleh pulang kalau mau." Dengan nada gugup Adel berbicara.

__ADS_1


"Yasudah aku pulang saja. Kamu baik-baik ya di sini." Tak disangka jika Andre langsung menyetujuinya.


__ADS_2