
Di suasana kamar dalam rumah ternyaman untuk keluarga yang awalnya bahagia, damai, dan baik-baik saja.
"Oma!"
"Oma!"
"Aku boleh masuk?" Teriak Sarah dari luar pintu, dia tidak berani masuk sebelum Oma menjawab. "Oma kenapa diam saja? Setidaknya Oma sangat lama di dalam kamar tidak seperti biasanya." Batin Sarah yang sangat kebingungan.
"Tidak ada Adel, Arin juga belum pulang." Dengan cemas Sarah hanya bisa berjalan ke sana kemari berbicara sendirian. Matanya sesekali menatap pintu kamar Oma yang belum juga tampak Oma keluar apalagi masih sepi saja dari tadi.
"Mama!" Teriak Viona yang berlari dari arah kamar.
Sarah berbalik dan melihat Viona yang berlari ke arahnya. Rupanya Viona sudah bangun dari tidur.
Sambil tersenyum Sarah menyambut Viona, cucunya. "Mama belum pulang. Nyenyak banget yang tidur." Ciuman gemas mendarat di pipi Viona yang sudah dipangkunya.
"Tante?" Ucap Viona yang maksudnya dia menanyakan tentang Arin.
Sarah langsung mengerti pertanyaan Viona. "Tante juga belum pulang, kita hanya bertiga dengan Oma." Terangnya. Sedikit ekspresi khawatir mulai menyelimuti, apalagi Sarah sudah tidak bisa diam menunggu lama Oma yang tak kunjung keluar kamar.
Sarah menatap lekat ke arah Viona yang menggemaskan, Viona juga kesayangan Oma. "Vio, ajak Oma di kamar ya! Biar nenek di sini nungguin Vio buka pintu deh." Bujuk Sarah berharap jika rencananya berhasil. "Oma pasti tidak akan marah jika dibangunkan oleh Viona kan?" Batin Sarah.
Viona mengangguk, tak disangka dia mengerti dengan permintaan Nenek nya itu.
Viona berjalan perlahan ke arah pintu kamar, Sarah memandanginya dengan tidak sabar. Masalahnya sudah terlalu lama bahkan Oma melewatkan jam makan siang. Sarah terus saja memandangi Viona yang berjalan menuju pintu kamar.
Aaaaaaa...
Sebuah teriakkan terdengar dari arah kamar Oma sesaat setelah Viona baru saja ingin mengetuk pintu. Seketika Sarah langsung bangkit berdiri, dia cemas dengan suara yang tak asing di telinga. Pikirannya mulai melayang kemana saja.
__ADS_1
Suara Arin menjerit dari arah kamar Oma.
"Oma! Arin! Itu kamu kan?" Sarah langsung menghampiri pintu berteriak tanpa ragu lagi, menggerakkan kenop pintu ke atas dan ke bawah dengan perasaan cemas, tapi pintu masih dikunci dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan tidak terdengar juga suara yang merespon dari dalam kamar.
"Buka pintunya ya!" Di susul dengan suara ketukan jari Sarah pada pintu yang sudah tidak bisa sabar lagi.
"Rin jawab!" Sarah semakin cemas karena tiba-tiba suara dari dalam kamar menjadi hening lagi.
Ceklek...
Suara kunci dibuka.
Tak lama pintu pun terbuka.
Detik itu juga Sarah masih merasa cemas, saat Arin keluar kamar dia langsung membulatkan mata, menatap heran dan penuh tanya dengan tangisan putrinya yang sudah banjir air mata.
"Loh, Rin?." Sarah semakin panik, rasanya tidak bisa menunggu waktu untuk menarik napas. Dia tidak berbicara banyak dan langsung menerobos masuk memastikan hal lain, karena selain Arin harusnya Oma juga keluar kamar.
Bagaimana bisa Oma sudah tampak kaku menjulurkan lidah dengan bibir yang sudah membiru. Deskripsi akal sehatnya tak bisa menerima, Sarah berharap ini hanyalah mimpi saja.
Seketika Sarah langsung ambruk di lantai, dia tak kuasa melihatnya lagi bagaimanapun Oma adalah orang tuanya di rumah ini, mereka sudah menghabiskan waktu yang sangat lama, Sarah tahu Oma pasti mempunyai masalah setelah dia pamit istirahat tadi, tapi mengapa harus seperti ini? Dan bagaimana bisa Oma meninggal dengan cara yang tidak wajar.
"Oma..." Ucap Sarah dalam tangisannya.
Bukan hanya Sarah tapi juga Arin yang mematung syok dengan air mata yang terus membanjiri pipi.
"Oma!" Teriak Sarah semakin kuat, merasa tak kuasa, dia tidak rela jika tubuh yang ada di hadapannya adalah benar Oma, itu berarti Oma sudah meninggal dunia, tak mungkin sekali rasanya. Sekarang batinnya benar-benar tersiksa, rasanya sangat hancur. Dalam satu detik Sarah bisa langsung kehilangan semua akal sehatnya, dia menangis tak peduli dengan semua yang ada di sekelilingnya entah itu ada Viona atau siapapun.
Sedangkan Viona yang bingung hanya melihat ke kedua sisi, dia bingung melihat dua orang dewasa menangis sejadinya, bahkan Viona tak mungkin sampai menangis seperti itu.
__ADS_1
"Nek!" Seru Viona spontan dia berlari memburu Neneknya yang ambruk ke lantai.
"Bu!" Teriak Arin langsung berbalik.
#####
"Mau langsung pulang?" Tanya Andre dari dalam mobil. Tidak seperti tadi sekarang Andre tampak dingin lagi tak acuh seperti tidak ingat sesuatu yang sudah terjadi.
Adel diam saja melihat Andre menyalakan sebatang rokok di tangan.
"Pulang lah!" Jawab Adel singkat. Entah mengapa dia kesal jika Andre tak memperlakukannya dengan mesra seperti tadi, padahal Andre hanya nomor sekian dari cowok yang dia temui di dalam ruangan.
"Yakin mau diantar?" Andre bertanya sesuatu yang langsung membuat ekspresi Adel berubah.
Adel berbalik dan menatap kesal saat Andre tak sengaja menemukan sorot matanya.
Tanpa bertanya lagi Adel langsung membuka pintu mobil dan kembali membantingnya sampai tertutup, dia benar-benar kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Andre.
Sedangkan Andre dari dalam mobil hanya menatap heran, dia merasa tidak ada yang salahkan dengan pertanyaannya.
Kaca mobil terbuka. "Yuk pulang, aku anterin." Seru Andre.
"Gak usah!" Jawab Adel jutek.
Tapi lagi-lagi kaca mobil tampak naik menutup dan mobil juga tak lama malah melaju berlalu meninggalkan Adel yang berdiri di samping jalan sendirian. Adel semakin kesal saja, padahal dia berharap jika dia bisa pulang dengan langsung diantar bukannya diberikan sebuah tawaran.
Sejenak Adel diam lagi, dia berusaha membuang perasaannya yang sedang kesal. Tapi memang tidak ada yang aneh biasanya dia pulang sendirian kan dan mengapa saat ini dia tiba-tiba tak terima.
Adel menggelengkan kepala, berusaha benar-benar menarik kesadarannya kembali. Setidaknya pacarnya banyak dan dia sudah terbiasa menemui banyak lelaki, dia tidak butuh harus merasa tak terima seperti tadi hanya karena lelaki seperti Andre. Memalukan sekali.
__ADS_1
Dari pada berdiri saja Adel memilih berjalan lagi sedikit menyeberang jalan dan berteduh di salah satu parkiran mobil di depannya, dia akan menelpon taxi untuk pulang.