Beda Dunia

Beda Dunia
Rencana Hera


__ADS_3

Seorang polisi berpakaian lengkap tiba-tiba sudah masuk dan berdiri di dalam rumah. Awalnya Rendra tak bermaksud untuk langsung datang seperti itu, namun karena tadi dia merasakan kehadiran yang lain dan sama persis sepertinya jadi tanpa pikir panjang dia langsung menyergap lokasi. Tak disangka hanya ada seorang polisi di tempat itu.


Rendra masih salah tingkah, dia bingung akan berbicara apa setelah bertemu manusia dengan cara yang salah. Dalam hati dia sudah membayangkan sebuah reaksi tentang dirinya di mata orang itu.


"Maaf. Apa kau ada di sini dari tadi?" Sebuah pertanyaan menghalau lamunan Rendra. Beberapa saat Rendra tak bisa menjawab, dia mematung bingung andaikan saja jika dia langsung melarikan diri apa yang akan terjadi?


"Apa, anda bisa mendengar saya?" Tanyanya. Rendra langsung tertarik dengan pertanyaan itu, dia pikir ada yang aneh. Menurutnya orang itu tidak mempertanyakan tentang kedatangannya dengan cara seperti tadi? Apakah tidak tampak seperti masalah?


Ragu-ragu Rendra membalikan badan, sedikit mencuri tatapan ke arah polisi yang tampak bingung. Di matanya tak ada yang aneh dan tidak ada yang mencurigakan.


"Saya melanjutkan penyelidikan, anda keluarga korban? Sepertinya saya baru bertemu sekarang." Sebuah pernyataan lagi yang membuat Rendra panik.


"Saya keluarga dari korban, saya panik dan langsung datang ke rumah. Tapi sepertinya orang-orang sudah tidak ada." Ucapnya sebagai alasan. Meski Rendra gugup tapi dia tidak boleh memperlihatkannya, beruntung sekali karena kata-kata itu langsung tergambar jelas di pikirannya.


Rendra kembali berbalik berusaha menjauh untuk menghindar tatapan polisi itu. "Sepertinya saya akan memperingatkan sesuatu. Sekarang apakah Anda bisa pergi? Karena tidak baik jalan-jalan di sekitar dalam area garis polisi seperti ini." Peringatannya.


Rendra terhenyak dan tanpa berpikir apapun dia langsung pamit pergi. "Saya akan keluar sekarang. Mohon maaf, silahkan lanjutkan penyelidikannya." Ucap Rendra terburu-buru. Tanpa menunggu sebuah respon dari polisi Rendra langsung berjalan pergi keluar.


####


Sebelumnya ...


"Apa rencana mu? Sepertinya kau punya masalah dengan putra mu sendiri? Apa dia terlalu dekat dengan manusia sama seperti ayahnya ini?" Sindirnya menatap penuh selidik ke arah lelaki berseragam polisi yang hanya berdiri mengabaikannya.


"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Itu hanya kebetulan dia tidak mungkin tertarik dengan manusia kan?" Kilahnya yakin membela putera nya yang sudah membawa masuk seorang gadis dari bangsa manusia ke dalam rumahnya.


"Kau sangat yakin sekali, aku harap itu benar." Ucapnya yang tak lama sudah berpindah dan berada di luar kamar dengan seprai penuh darah tadi yang sudah ada di tangannya.

__ADS_1


"Akan aku buang ini jauh-jauh." Tegasnya yang langsung tak nampak lagi dalam hitungan detik pergi entah kemana.


Di dalam ruangan hanya ada seorang lelaki yang berdiri menunggu sambil tersenyum simpul seperti menyimpan sesuatu.


"Aku bisa tinggal di sini dengan tenang kan?" Sebuah suara dari orang yang sama terdengar lagi.


Duduk santai di antara kursi yang mengisi ruangan itu.


"Kau selalu tenang-tenang saja kan? Meski sebenarnya kau mempunyai masalah yang tidak kau ceritakan pada siapapun." Sindirnya.


Ucapan yang berhasil membuat bola mata perempuan itu memutar dan melihatnya dengan penuh arti.


"Yang penting aku tidak menyusahkan siapapun. Dan sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan ku!" Tak lama perempuan itu sudah berdiri dekat sekali.


"Sekarang ceritakan kau perlu apa datang lagi ke sini, setelah sekian lama dan itu bukan waktu yang sebentar." Tidak ada lagi basa-basi, dia seolah sudah ingin berbicara pada inti masalahnya saja.


"Tenang saja Arka aku selalu tidak meminta dan pergi tanpa memberikan sesuatu imbalan kan? Sebut saja ini adalah imbas." Terangnya yang begitu percaya diri.


"Apa kau lupa sesuatu? Kau tidak mungkin mendapatkan tubuh itu dan memiliki segalanya. Apa kau pikir aku tidak berguna?" Sengitnya yang mulai sedikit tersinggung karena kata-kata Arka.


"Aku tidak ingin keluargaku terlibat masalah, sudah aku katakan hal itu." Tegasnya tampak memberikan sedikit kelonggaran.


"Sebaiknya sekarang kau ikut aku, kita ke rumah Ratih dan mencari sesuatu yang berguna di sana." Sebutnya tanpa meminta sebuah persetujuan lagi.


Kemudian Arka hanya bisa menghela napas. "Sudah ku duga seperti itu." Keluhnya. Namun seperti yang disinggung kan Hera, dia tidak mungkin menolak keinginannya.


#####

__ADS_1


Di rumah Ratih.


"Kau sudah membantuku bisa masuk ke rumah ini." Celoteh perempuan itu pada Arka.


Sebenarnya Arka dari tadi sudah memperlihatkan ekspresi tidak suka, bahkan ketika dia dengan terpaksa harus masuk ke dalam rumah Ratih.


"Ratih sudah tiada, tidak akan ada lagi yang menghalangi ku." Ucapnya dengan bangga.


Ketika kakinya melangkah maju di dalam ruangan wajah Arka tak lama langsung berubah, sudut matanya sangat waspada, langkah kakinya menjadi hati-hati. Tepatnya karena dia merasa ada kehadiran Dari Rendra.


"Ada Rendra di rumah ini." Peringatannya cepat.


Tak sampai hitungan menit sosok yang ditebak Aria tadi langsung muncul di hadapannya. Bagaikan mimpi Arka kembali melihat orang yang bahkan kematiannya dia saksikan sendiri, kini berdiri tegak di hadapannya.


Membayangkan apa yang akan dilakukan Rendra setelah melihat lagi kedatangannya, entah sebuah kemarahan seperti terakhir dia meninggal, atau sesuatu yang kini membuat mata Arka tertarik melihat pola sikap tubuh Rendra, sebagai polisi dia mengerti postur tubuh itu dan arti dari setiap gerakkan badannya.


Aneh sekali Rendra bersikap seolah dia yang merasa takut bahkan gugup, Rendra juga melihat sikapnya yang salah tingkah.


Dengan satu pertanyaan Arka berharap bisa langsung menebak kebenaran dari Rendra.


Dan menakjubkan karena kebenaran itu membuat Arka mengerti jika Rendra tak mengingat apapun bahkan mungkin dengannya juga dia tak ingat.


Arka tak ingin memberikan waktu singkat Rendra untuk berpikir, dia tahu mungkin Rendra sudah menyadari kedatangan perempuan itu dengan begitu alasannya membuat dia langsung muncul tiba-tiba.


Aria terpikirkan sebuah alibi, dia adalah seorang polisi dan sebaiknya bersikap sebagai seorang polisi yang akan melakukan penyelidikan. Menyimpan rasa curiga pada Rendra karena kedatangannya ke tempat ini tidak dibenarkan.


Seperti itu alur cerdik yang terlintas di benak Arka. Meski dia sendiri dia sudah merasa bersalah karena dengan seperti itu secara tidak langsung dia sudah membantu perempuan itu, sebuah bantuan yang terpaksa dia lakukan dari pada Rendra kembali ingat tentang mereka.

__ADS_1


Anggap saja hal ini adalah kebaikan yang dia lakukan dengan suka rela.


Setelah Rendra berhasil pergi seperti yang sudah bisa ditebak, perempuan itu datang lagi dengan tertawaan yang khas.


__ADS_2