Beda Dunia

Beda Dunia
Kebijakannya sebagai seorang Ibu


__ADS_3

Dalam ruangan rumah sakit, sebuah kamar pasien yang di dalamnya hanya ada satu orang berbaring dan seorang Ibu yang menundukkan wajah sedih. Sedetikpun Sarah tak membiarkan waktu berlalu sia-sia, matanya lekat memperhatikan Arin yang masih berbaring dalam perawatan, penuh harapan agar Arin cepat pulih dan sadar. Bayangan kecelakaan Arin membuat Sarah terus merasa bersalah, meskipun dia tidak tahu bagaimana kecelakaan itu berlangsung tapi menurutnya kecelakaan yang cukup parah hingga membuat Arin tak sadarkan diri. Bahkan dokter memberikan keterangannya jika Arin butuh dilakukan pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh, diduga kepalanya mengalami benturan yang cukup parah.


Drrttt...


Suara Hp berdering memecah hening. Sarah terperanjat matanya bergerak melihat layar Hp yang menyala dengan nada dering berbunyi menandakan ada sebuah panggilan yang masuk.


Sarah sudah bisa langsung menebaknya mungkin saja Adel yang menelpon. Ragu-ragu Hp diraihnya dan sebuah nama yang muncul di layar Hp membuat Sarah semakin bingung. Pertama yang akan ditanyakan Adel adalah alasan dia pergi sudah terlalu lama. Sarah menatap Arin, dia tidak bisa membuat kedua saudara yang awalnya rukun menjadi seperti sekarang. Adel tidak akan senang jika dia mendengar dirinya pergi menemui Arin.


Tapi rasa bingung itu hilang, Sarah baru sadar jika di rumah hanya ada mereka berdua. Dia sampai melupakan Viona yang lebih membutuhkannya.


Setelah nada dering panggilan kedua Sarah langsung menerima panggilan itu tanpa berpikir lagi.


"Halo! Nenek!" Suara khas Viona menerobos ke indera pendengaran membuat seketika suasana hatinya bisa langsung berubah. Sarah sudah salah menebak ternyata suara cucunya yang menelpon.


Sarah tersenyum mendengarkan suara khas itu. "Viona telpon Nenek, kenapa ya Vio?" Tanya Sarah pada Viona dalam telpon.


"Tante cepet pulang!" Jawab Viona langsung menanyakan Arin, hati Sarah langsung kembali merasa hancur karena biasanya Arin yang paling sibuk mengurusi segala hal kebutuhan Viona, rasanya semakin tak mungkin jika Arin tega menyakiti Nenek. Perasaan bersalah itu membuat hatinya semakin sakit.


"Tante cepet pulang kok. Vio tunggu di rumah aja ya!" Jawab Sarah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bu." Suara Adel terdengar.


Sarah langsung menyambut panggilan itu dengan sepenuh hati. "Adel pasti kamu lagi bingung kan sekarang? Di rumah hanya kalian berdua?" Tanya Sarah tetap memperlihatkan perhatiannya setelah Sarah tak terima dengan sikap Adel pada adiknya sendiri yang tak lain adalah Arin.


"Adel di rumah berdua Bu." Ucap Adel singkat.


"Ibu cepet pulang kok! Gak apa-apa kan hanya 5 menit lagi?" Sarah meminta waktu untuk bersama Arin lebih dulu.


"Ia. Tapi udah malem." Seperti biasa, Adel akan langsung mengeluh tidak terbiasa mengatasi kesulitan sendiri dia terlanjur tidak pernah mengalami kesusahan apapun.


Sarah menghela napas, pandangannya tidak pernah lepas dari Arin. Mendengar hal itupun tidak akan bisa menahan Sarah, dia adalah seorang Ibu dari dua Puteri dan seterusnya tetap akan seperti itu.


"Ia Ibu pulang sekarang ya dan jaga Viona dulu!" Jawab Sarah yakin, Sarah tidak pernah membedakan kedua orang putrinya, keluhan Adel maupun Arin adalah sama, yang dia harapkan dalam hubungan mereka bisa saling melengkapi satu sama lain dan bisa tetap menghargai dan percaya. Meksi sekarang kenyataannya Adel sudah melupakan hal itu namun sebagai Ibu Sarah tidak bisa menunjukkan rasa marahnya pada Adel karena kecelakaan Arin tak lain karena ulahnya juga.


Seketika Sarah langsung hancur bahkan sekarang dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Perasaannya masih berat dan jujur saja dia tidak bisa melepaskan Arin sendirian di rumah sakit, tidak ada keluarga lain yang seharusnya ada untuk Arin. Apalagi karena ulahnya sendiri yang membuat Arin harus masuk ke rumah sakit bukan karena pilihannya kemalangan itu datang sampai Arin benar-benar tak berdaya. Tapi bagaimana dia menyikapi Adel?


Di sisi lain adalah Adel dan Viona, Sarah adalah seorang Ibu dan dia harus tetap bisa bersikap baik dan tidak akan pernah mengubah apapun.


Viona adalah cucu semata wayangnya. Dan akan tetap seperti itu.

__ADS_1


Akhirnya dengan pikiran yang tidak tenang, Sarah menemui seorang perawat dan menjelas kan keadaanya, dia harus benar-benar pulang dan tidak bisa menunggu terus di rumah sakit. Akhirnya pihak rumah sakit memberikan perawatan dan penjagaan yang ekstra sesuai dengan permintaan Sarah. Setidaknya untuk sementara hanya itu yang bisa dilakukan Sarah sebagai seorang Ibu.


Dengan berat hati Sarah kembali menatap gedung rumah sakit ketika dia berjalan di luar, mobil sudah siap menunggunya dan beberapa waktu Sarah benar-benar membiarkan Arin sendirian lagi.


Sepanjang jalan pikirannya tetap melayang pada Arin, dia tidak pernah bisa tenang apalagi banyak bicara.


"Bu, mau antar kan kemana sekarng?" Seru supir ketika Sarah sudah masuk ke dalam mobil dan duduk.


Sarah terlihat menarik napas. "Ke rumah Pak, anak-anak pasti sedang kesulitan." Jawab Sarah pada supir. Dia tidak berniat menutupi keputusannya. Sarah tidak akan pernah bisa pergi dari sisi ketiganya. Meskipun sebesar apapun Sarah kecewa dan menyalahkan sikap Adel, tapi itu tidak bisa menghentikannya bersikap sebagai seorang ibu yang sudah lama membesarkan Arin dan Adel.


Supir tampak mengerti, dia tidak bertanya lagi dan langsung memutar kemudi melalui jalan raya untuk kembali pergi ke rumah. Orang sekilas akan berpikir banyak tentang sikapnya, tapi biarkan saja Sarah tidak membutuhkan persetujuan orang lain untuk memilih keputusannya.


Sementara ini yang diperlukan oleh kedua putrinya adalah sebuah pengertian, dia akan membicarakannya lagi sebagai seorang Ibu, berbicara perlahan dan membuat Adel mengerti jika sikapnya adalah salah termasuk kesalahan terbesarnya adalah membiarkan Arin mengalami kecelakaan itu.


Di sepanjang jalan suasana hanya hening, tidak ada cukup kata-kata untuk menjelaskan bagaimana situasi yang dia alami sekarang. Tidak ada lagi orang seperti Oma tempatnya berbagi kesulitan dan masalah. Benar saja padahal kematian Oma hanya baru beberapa jam ini dan dia harus menerima kejadian lain yang lebih membuatnya lemas, rasanya sangat bertubi-tubi.


#####


Adel menatap Viona yang sudah tenang dan sesekali membalas tatapannya. Dia baru saja menelpon Ibu dan secara tidak langsung lagi-lagi memohon agar Ibu pulang, ternyata tidak sama dengan yang dipikirkan. Adel pikir satu malam saja tidak apa-apa tanpa Ibu tapi kenyataannya tidak bisa, membayangkan jika hanya berdua saja di rumah dan Viona lagi-lagi merengek seperti tadi.

__ADS_1


Beruntung sekali Viona cukup baik, tidak ada rengekan setelah dia berhasil memastikan kapan Ibu pulang ke rumah.


Adel menatap ke arah jendela, suasana di luar sudah gelap dan jam juga menunjukkan pukul 07.20 malam.


__ADS_2